Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 10. Perasaan Aneh


__ADS_3

...Biasakan Vote sebelum membaca ๐ŸŒฟ...


.........


...Terkadang, cinta bisa datang kapan saja. Namun luka pun sama, ia akan datang. Mungkin tidak sekarang, tetapi ia tetap berpaku pada kata 'akan.'...


...๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚...


Manisha mengayuh pedal sepedanya sembari tersenyum bahagia. Hari ini Manisha membawa sepeda ke sekolah, karena mama nya tidak bisa mengantar. Ada urusan mendadak di rumah sakit, katanya.


Ratih adalah seorang dokter kandungan. Jadi wajar ada panggilan tiba-tiba seperti itu. Manisha pun memakluminya.


"Na ... na ... na ...."


Manisha bersenandung kecil. Hari ini sangat cerah, Manisha suka musim panas. Baginya, musim panas adalah kehangatan. Ya iya kali, masak dingin!


Gubrak!


Entah dosa apa yang sudah dibuatnya tadi pagi, sehingga sekarang ia harus tiarap di dalam got dekat pos satpam sekolah. 'Sial!' Manisha berdecak kesal.


Dengan muka sedatar tembok, ia bangkit. Mata nya menatap tajam siluet seorang lelaki yang kini melihatnya dengan raut mengejek.


"Mau Lo apa, sih!" Manisha mengepalkan tangannya.


Lelaki itu terdiam sejenak. "Lo."


Lelaki itu langsung pergi dari sana. Manisha menggerat giginya. Ia tersenyum miris.


"Lo kira gue kayak cuci tangan plastik yang ada di rumah Lo? Kalaupun gue plastik, setidaknya lo adalah korek apinya, lo yang bakar gue. Dan pasti lo tahu, kalau plastik udah dibakar pasti akan hangus. Dan enggak akan keliatan kalau lo pengen lihat bekas bakaranya."


Manisha menatap seragam sekolahnya dari atas sampai bawah. Ia memutar bola matanya kesal.


"Alfa sialan!"


Manisha mengambil sepedanya. Rantai sepedanya putus. Ia menghela nafasnya sembari mencengkeram erat gagang sepeda. Benar-benar mantan yang tidak berperasaan! Entah kesambet apa dulu Manisha mau berpacaran dengan Alfa.


"Mau saya bantu?"


Manisha berbalik saat mendengar suara seseorang di belakangnya.


"Enggak usah, gue bisa sendiri." Manisha menolak tawaran orang yang ternyata abang dari pacarnya, Raga Alvino Dwipaga.


"Ya sudah."


Setelah mengucapkan kalimat yang terdengar ajaib di telinga Manisha, Raga pergi dari sana. Manisha tidak habis pikir, ini orang niat enggak sih bantu gue!

__ADS_1


Manisha berdecak. "Abang sama adek kelakuan enggak ada bedanya. Sama-sama kurang asam!" Manisha mulai mendorong sepedanya. "sama-sama gila!" lanjutnya.


Raga menahan senyumnya mendengar gerutuan Manisha yang samar-samar. Gadis aneh, pikirnya. Tadi pura-pura menolak saat ia ingin menolongnya, sekarang setelah ia pergi, gadis itu malah marah-marah dan mengumpatnya. Raga benar-benar tidak mengerti!


Dari jauh, Atlas melihat Manisha mendorong sepedanya dengan seragam yang sangat kotor. Ia melihat apa yang terjadi.


Ia penasaran apa status lelaki yang mendorong Manisha. Apa tujuan Alfa melakukan ini semua. Atlas berinisiatif menanyakanya nanti.


.


.


.


"Lea, pena gue mana yang warna merah? Gue pengen gambar wajah bebeb gue."


Sia menarik-narik ujung lengan seragam Lea. Lea kembali mendegus, sebab kegiatanya menyalin tugas terganggu karena orang yang ada di sampingnya saat ini.


Lea berdecak, sebaiknya iya menyerahkan pena itu daripada Sia mengganggunya terus menerus. Lea merogoh kotak pensil nya, kemudian menyerahkan pena merah bergambar hello kitty pada Sia.


"Makasih, Sayang," ujar Sia sembari mengecup pipi Lea.


Lea bergidik ngeri. "Jijik tau enggak!"


Bergegas dihapusnya bekas kecupan Sia di pipinya dengan tangan. "Jorok Lu!"


Sia kembali ke kursinya dan mulai menggambar. Dimulai dari mata, kemudian hidung, mulut, lalu kepala. Gambarnya mulai membentuk sesosok lelaki.


Sia tersenyum-senyum sendiri. Seolah-olah yang digambar nya itu nyata.


Namun, itu benar-benar nyata! Lihat, sekarang gambar itu sudah membentuk wajah yang sangat familiar. Wajah seorang Raga Alvino Dwipaga.


"Lo gambar wajah Bayu?"


Sia meletakkan pena nya di atas meja. Ia melihat Manisha yang berdiri di sisi kursinya.


Sia tersenyum. "Bukan, dia Raga."


Manisha menatap jahil ke arah Sia.


"Lo suka Raga, ya?" ejeknya sembari mengedipkan matanya.


Wajah Sia memanas. Tanpa ditanyai lebih lanjut pun, Manisha sudah tahu jika sahabatnya ini memang suka Raga. Namun melihat hal itu, entah kenapa ada sebagian dari diri Manisha yang tidak rela.


Manisha hanya tersenyum, kemudian duduk di kursinya.

__ADS_1


Lea menoleh saat handset nya dicabut dari telinganya. Lea manyun saat melihat siapa dalangnya.


"Lo dari mana aja sih, Sha? Gue nungguin Lo dari tadi." Lea bertanya sambil memperhatikan baju seragam olahraga yang dipakai sahabatnya. Memang hari ini ada pelajaran olahraga?


"Lo kok pakek seragam olahraga? Hari ini enggak ada jam nya, 'kan?" tanya Lea dengan heran.


Wajah Manisha kembali masam saat mengingat kejadian di depan gerbang sekolah tadi. Ia menatap Lea.


"Lo tau enggak, tadi gue di dorong Alfa di depan pos satpam. Dan yang lebih parahnya lagi, gue masuk got. Lo tau 'kan got yang di samping pos satpam itu?" Manisha menceritakanya sembari meremas-remas kertas yang ada di tangannya.


Lea menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan satu-satunya mantan Manisha itu. Padahal dia sendiri yang menelantarkan Manisha, sekarang malah kembali mengejar Manisha. Padahal semua orang tahu, kalau Manisha adalah pacarnya Bayu.


"Terus dia bilang apa lagi?"


Manisha menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dia langsung pergi gitu aja! Taik sapi tau enggak."


"Ya bagus lah kalo dia pergi. Emangnya Lo pengen dia nolongin Lo?" balas Lea menantang.


"Ih! Amit-amit!" kata Manisha bergidik ngeri.


Bicara soal 'menolong' Manisha jadi ingat Raga. Orang yang mau menolongnya tadi, namun ia tolak mentah-mentah. Manisha tersenyum sendiri.


Lea aneh melihat sahabatnya tersenyum-senyum. Apa kepalanya terbentur paralon got?


Puncuk dicinta ulam pun tiba! Raga memasuki kelasnya. Manisha yang melihat hal itu salah tingkah sendiri. Bergegas ia pura-pura memainkan handphone nya.


Sia melakukan hal yang sama di kursinya. Ia pura-pura main game, padahal jantungnya sedang maraton saat ini.


Sedangkan Lea, ia ingin kembali menulis tugasnya. Ia mengernyit saat tidak melihat kertas tulisnya di atas meja. Ia menoleh ke arah Manisha.


"Sha, Lo liat kertas jawaban gue enggak?" tanyanya.


"Kertas?" Manisha merasa bingung saat ditanyai. Namun, matanya membulat seketika. Ia langsung tersenyum manis, kemudian merogoh sesuatu di dalam laci mejanya.


Lea menatap curiga ke arah Manisha. Matanya membulat sempurna melihat sesuatu yang diletakkan Manisha di hadapannya.


"Gue ke toilet dulu, ya? Kayaknya gue perlu semprot parfum dikit di baju gue, bau got nya masih terasa."


Manisha tersenyum canggung. Secepat kilat ia menghilang dari sana.


"MANISHA! JAWABAN GUE UDAH AMBURADUL GINI! TANGGUNG JAWAB!"


Masih berjalan cepat, dari jauh Manisha terkekeh mendengar teriakan sahabatnya yang tengah murka itu. Ia merasa bersalah.


"Sorry, Lea. Sorry ..." kekehnya pelan sambil memegang perutnya.

__ADS_1


+TBC


Tinggalkan jejak berupa vote, kritik dan saran, ya? Agar penulis bisa semangat melanjutkan ceritanya.


__ADS_2