
Bahagia adalah pilihan. Dan kebahagiaan akan di dapatkan dengan mudah apabila kita menganggap positif semua hal yang ada di bumi.
🍃🍃🍃
"Wihh... cantik banget nona muda Elevanova pagi ini?"
Manisha berdecak kesal. Cantik darimana nya. Lihat wajah aja enggak, sok-sokan mengatakan dirinya cantik. Sebab sekarang Manisha sedang menutupi wajahnya dengan rambut dan hodie abu-abunya. Cuaca yang panas tidak membuat Manisha melepaskan hodie itu, ia harus merahasiakan wajahnya, kan?
"Sha, Lo enggak kepanasan, ya? Ini lagi enggak hujan, loh," ucap laki-laki itu sambil menatap aneh ke arah gadis yang sedang berjalan menunduk di sampingnya. Laki-laki itu Alfa.
Grep!
Manisha memegang tangan Alfa yang berusaha membuka topi hodie itu. Ia menatap tajam Alfa.
"Pergi sana. Suka-suka gue dong!" usir Manisha paksa. Ia masih kesal pada Alfa yang tidak menghargai privasinya.
Alfa mengernyit saat melihat sekilas pipi Manisha yang membiru. "Pipi Lo kenapa?" tanya Alfa curiga. Apalagi saat melihat Manisha berusaha menutup wajahnya rapat-rapat begitu mendengar pertanyaan nya.
"Bukan urusan Lo."
Manisha pergi begitu saja dari sana. Takut jika berlama-lama nanti Alfa akan semakin curiga.
Padahal dengan kepergiannya yang tiba-tiba itu, malah semakin membuat Alfa curiga. Alfa mengepalkan kedua tangannya. Ia menebak satu hal. Papa Manisha. Alfa yakin seratus persen, pasti itu perbuatan papa nya Manisha.
.
.
.
'Untung aja' ucap Manisha dalam hati.
"Selamat pagi Indonesia tercinta dan gadis-gadis cantik di dalamnya!"
Sebuah teriakan seseorang mengejutkan Manisha. Vian? Ia kira suara siapa yang berteriak memekakkan telinga di belakangnya. Namun ketika berbalik ternyata Vian, sang sahabat gila pacarnya yang berasal dari SMA Musical Strata Bangsa. Tetapi, kenapa laki-laki itu ada disini?
"Ngapain Lo disini?" tanya Manisha akhirnya. Ia kembali menunduk. Memegang rapat-rapat hodienya, takut jika nanti Vian melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Alfa.
Vian tersenyum ceria. Belum memiliki perasaan curiga sedikitpun dengan hodie yang dipakai Nisha.
"Gue pindah dong...uhuy...."
Vian mengucapkan hal itu dengan wajah sumringan yang kentara. Ia tiba-tiba menatap Manisha kesal saat Manisha tak kunjung mendongkak.
"Hoy! Gue di depan Lo. Bukan dibawah. Lo kira gue semut apa!" Vian berdecak.
Vian menyipitkan matanya saat melihat Manisha malah semakin menunduk dalam. Tanganya terulur ingin meraih hodie yang dikenakan Manisha, namun--
"Sha, ayo ikut saya." Raga datang.
Manisha menghela nafasnya lega. Ia bersyukur di dalam hati. Mereka berdua pun pergi dari sana, meninggalkan Vian yang mengumpat kesal di tempatnya.
"Bangke! Kalau tahu gini, enggak akan gue nurutin mau Lo Bayu!" Vian berdecak kesal. Ia langsung melihat ke arah Bayu yang ternyata juga berdiri di sana. Di tembok pas di depan kelas Dua Belas IPS Satu.
Bayu hanya tersenyum manis. Kemudian menepuk bahu Vian pelan, lalu langsung pergi dari sana tanpa sepatah katapun. Lagipula, Manisha lebih penting sekarang, Bayu curiga pada apa yang disembunyikan Manisha di balik rambut berbalut hodienya.
Vian yang kembali ditinggal menendang tembok yang ada di sampingnya, bekas sandaran Bayu. Beberapa siswa dan siswi disana melihat Vian aneh. Namun ada juga yang kesal, sebab yang ditendang Vian adalah dinding kelas mereka. Padahal Vian berstatus murid baru di sana, namun sudah kurang ajar.
Ya! Vian pindah sekolah. Namun bukan berasal dari hatinya. Ia sangat mencintai sekolah lamanya. Sekolah musik. Namun, karena permintaan Bayu, ia terpaksa pindah ke sini. Dan sekarang, Vian menyesal sudah mengabulkan permintaan sahabat orok-nya itu.
"Enggak ada akhlak!" Vian pergi dari sana dengan perasaan dongkol tidak terkira.
.
.
.
__ADS_1
"Buka."
Manisha mendongkak saat mendengar suara Raga yang menyuruhnya membuka hodie yang dikenakannya. Ia menggeleng. Malah semakin merapatkan hodie itu.
Raga menghela nafasnya. Ia akhirnya menarik Manisha ke UKS. Raga tahu apa yang disembunyikan Manisha di balik hodie itu. Manisha yang ditarik begitu saja membuat jantungnya berdegup kencang. Ia takut ketahuan.
Hodie Manisha dibuka paksa oleh Raga. Raga hanya menghela nafasnya untuk kesekian kali saat melihat luka membiru yang tercetak di pipi Manisha. Sedangkan Bayu yang baru saja tiba membeku di tempat.
"Gue kepeleset" cicit Manisha pelan.
Siapapun orang mendengar alasan bodoh Manisha pasti tidak ada yang percaya. Hal ini berlaku juga bagi Raga dan Bayu yang tentu saja menolak alasan gila gadis itu.
"Sha. Saya tidak bodoh. Saya tahu luka apa itu. Apa ulah papamu lagi?" desak Raga meminta penjelasan. Sedangkan Bayu terduduk tak berdaya di samping brangkar UKS.
Manisha menatap Raga dengan mata berkaca-kaca. Tanpa dijelaskan pun, Raga sudah tahu jawabanya saat melihat Manisha yang terisak pelan.
Direngkuhnya Manisha sambil menepuk pelan bahu gadis itu. "Sabar, Sha..." ucap Raga berusaha menenangkan Manisha.
Brak!
Pintu UKS yang di dorong tiba-tiba terpaksa membuat Manisha menolehkan pandangannya ke sana. Manisha menyeka air matanya saat melihat Lea berserta Sia--yang mematung di tempat. Ada sorot kekecewaan yang terpatri di salah satu wajah sahabatnya itu. Manisha tahu alasannya, namun ia memilih diam.
Lea melangkahkan kakinya ke arah Manisha, lalu merengkuh Manisha dengan erat. Persis seperti Raga. Manisha kembali menangis, sesekali ia meringis pelan saat luka biru tidak diperban itu tergesek oleh bahu Lea.
"Lo kenapa, Sha?" tanya Lea ikut menitikkan air mata. Ia tidak menyangka jika sahabatnya itu menyembunyikan sebuah rahasia besar yang penuh dengan luka. Lea tidak akan tahu jika saja Alfa tidak memberi tahunya barusan di kelas. Itupun karena laki-laki itu khawatir dengan mantanya--Nisha. Oleh sebab itu ia menyuruh Lea dan Sia untuk menyusul Manisha ke UKS. Awalnya mereka sempat bingung, namun Alfa yang menjelaskan semuanya berhasil membuat kekhawatiran Lea timbul secepat turbo.
Lea melepas pelukannya, lantas ia berjalan ke arah kotak P3K yang tergantung di dinding. Mengambil salep memar yang biasa digunakan anak basket jika terjatuh, beserta kain kasa, plester dan alkohol dari dalam sana.
Lea mulai membersihkan memar itu dengan alkohol. Ia sempat menyeka air mata Manisha yang masih mengalir dan meminta sahabatnya tersebut untuk jangan menangis lagi. Dengan telaten jari lentik Lea mengobati wajah itu, ia juga ikut meringis mengikuti Manisha yang meringis sebab merasakan perih pada pipinya.
"Lebih baik lo enggak masuk, ya Sha. Gue yang izinin sama Bu Tika. Bilang kalau lo lagi sakit dan istirahat di UKS," saran Lea sambil menepuk-nepuk pelan bahu sahabatnya.
Lea mengalihkan pandangannya pada Sia. Menyenggol lengan gadis itu agar mengucapkan beberapa kata untuk Manisha. Sia menghela nafasnya, ia ikut menepuk pelan bahu Manisha dengan malas. "Cepat sehat." Kemudian langsung memundurkan langkahnya dan keluar dari UKS.
Manisha menatap kepergian Sia dengan sedih. Terbesit perasaan bersalah di hatinya. Namun, ia bisa apa. Jika hanya tubuh itu yang mampu menenangkannya. Sebab tubuh itu milik Bayu bukan Raga. Sedangkan Lea menatap Sia dengan mata membulat sempurna. Tidak menyangka jika Sia lebih mementingkan perasaanya ketimbang sahabat dekatnya sendiri. Lea geleng-geleng tidak percaya.
"Gue duluan, ya?" ucapnya lagi lalu pergi dari sana. Ia sempat melihat ke arah Raga yang melihat brangkar begitu fokus. Mungkin melamun, pikir Lea positif.
Setelah kepergian Lea, Manisha menundukkan kepalanya kembali. Ia takut dua orang itu akan menjauhinya. Manisha tidak punya siapa-siapa lagi sekarang, dan Manisha sangat sayang pada dua sahabatnya itu. Manisha belum siap jika harus kembali kehilangan.
Klek!
Manisha kembali mendongkak untuk melihat kepergian Raga dari UKS tanpa pamit padanya. Ia menatap nanar ruang UKS yang bercat putih. Ia meringis pelan, lalu menyandarkan tubuhnya pada bantal yang tergeletak pasrah di atas brangkar.
Ting!
Ponselnya berbunyi. Tanganya terulur meraih benda pipih yang tersimpan elok di dalam tas nya.
Sha, semangat. Hidup itu enggak kejam. Tetapi, kebetulan aja sedang bertukar posisi dengan orang lain. Ingat aja semua akan segera baik-baik aja.
-SA.You
Manisha mengernyit dalam membaca pesan itu. Darimana lagi SY itu tahu apa yang terjadi padanya? Sebenarnya siapa, sih!
Manisha menatap ragu ke arah ponselnya, antara memilih membalas atau tidak. Akhirnya ia memilih pada opsi pertama. Membalas pesan itu.
Lo siapa ya? Kok tahu semua tentang gue?
Send!
Belum lama pesan itu terkirim, sebuah balasan kembali datang.
Kamu enggak kenal aku? Belum tahu juga maksudnya. Aku kira kamu udah tahu.
Apa maksudnya Manisha tahu? Dia bukan detektif yang akan menyelidiki sampai ketemu jika penasaran. Ia hanya Manisha, yang mengatakan akan mencari tahu tetapi buktinya sampai saat ini bergerak pun belum. Hanya niatnya saja yang sudah.
Enggak usah sok-sokan misterius gitu, deh. Tinggal bilang lo itu siapa pakek acara ribet.
__ADS_1
Send!
Manisha membalas pesan itu lagi dengan bibir berdecak kesal. Tinggal jujur aja ribet, pikirnya marah.
Aku Rian, Sha.
Balasan pesan yang cukup singkat itu membuat Manisha mengernyitkan kening dalam. Rian? Setahunya ia tidak pernah memiliki teman bernama Rian.
Ting!
Manisha membuka pesan yang kembali masuk.
Kenal?
Manisha harus jawab apa? Jujur ia tidak tahu siapa Rian. Ia juga ingat jika teman sekolahnya dulu juga tidak ada yang bernama Rian. Namun-- tunggu. Jangan bilang Rian yang dimaksud adalah teman SMP nya yang tiba-tiba pindah ke luar kota bahkan tidak sempat berpamitan pada Manisha.
Manisha menyipitkan matanya. Mengetik sesuatu di ponselnya.
Rian Utama?
Manisha mengirim pesan itu walaupun dengan keraguan yang terpendam.
Nah, udah tahu 'kan? Iya Rian Utama. Sang ganteng SMP Klasik Piano. Ingat, 'kan?
Benar tebakannya. Ternyata Rian gila itu, sahabat karibnya dari SMP. Memang dulu Manisha sangat enggan berteman dengan anak perempuan. Sebab menurutnya perempuan itu ribet, berisik dan menyebalkan. Oleh sebab itu Manisha lebih memilih bersahabat dengan laki-laki sejak SMP bahkan sampai SMA. Sahabatnya hanya dua orang, Rian si sok ganteng di SMP Klasik Piano dan Atmaji si pintar di SMA Dua Belas Sabang.
Jangan bilang kamu lupa sama orang paling ganteng se sekolah ya, Sha. Enggak terima aku!
Manisha terkekeh melihat pesan yang baru sampai padanya itu. Mana mungkin ia lupa dengan sahabat kurang asamnya yang pergi tanpa pamit itu.
Maaf, siapa ya? Enggak kenal. Setahu saya Rian di luar kota. Kamu salah sambung.
Manisha terkekeh setelah mengirim pesan itu. Baru beberapa detik ia mengirim, kini sahabatnya itu menelepon.
"Kamu kurang asam, ya Sha. Bercanda 'kan?!" ucap suara di seberang sana begitu teleponnya diangkat Manisha.
Manisha menahan tawanya. Enggak sopan, ucapnya dalam hati. Kaget juga dengan suara Rian yang nge-bass, padahal dulu suara anak itu layaknya tikus kecepit daun pintu.
"Assalamualaikum" sela Manisha begitu saja. Membuat sang empu suara yang ada di seberang sana berhenti berbicara.
"Waalaikumussalam"
Manisha kelepasan tertawa mendengar nada jutek dari Rian yang sepertinya sangat kesal sekarang. Manisha juga bisa menebak bagaimana raut wajah Rian saat ini disana, pasti memerah gelap. Dan kuping Rian, pasti sudah mengeluarkan asap.
Mereka terus berbincang di telepon. Manisha bahkan lupa jika tadi menangis sesenggukan. Lupa jika Sia sedang marah padanya. Yang jelas, saat ini ia sedang ingin tertawa mendengar hal gila yang diucapkan oleh Rian.
Dilain tempat, Raga sedang duduk di mejanya sambil memperhatikan Bu Tika yang mengajar di depan. Sesekali ia menguap di tempat, merasa bosan dengan apa yang diajarkan oleh ibu gurunya itu.
Raga menoleh ke sudut kelas. Ia melihat Bayu berdiri di sana. Memperhatikan Bu Tika dengan tatapan kosong. Raga tahu, Bayu sedang memikirkan Manisha.
Bukanya Raga jahat tidak mau menerima permintaan Bayu untuk tetap menjaga Manisha. Namun, bagaimana pun ia tetap harus masuk ke kelas, ia juga perlu belajar. Raga tahu, waktu baginya untuk merasakan semua ini tinggal sebentar. Raga ingin menikmati waktu yang sedang ia jalani sekarang.
Bayu masih termenung di tempat. Memerhatikan ibu Tika yang kejam sedang mengajar di depan. Bayu menghela nafasnya kasar. Ia mentap tajam Raga yang ternyata juga melihat ke arahnya. Bayu berdecak, mengalihkan kembali pandanganya ke depan. Ia masih kesal dengan Raga. Bukan tanpa alasan Bayu meminta bantuan Raga agar tetap berada di UKS. Namun arwahnya mengikut kemana tubuhnya di bawa, kecuali malam. Jika saja arwahnya bebas kemanapun pergi, pasti ia masih bersama Manisha sekarang. Meskipun gadis itu belum bisa melihatnya.
"Raga maju, jelaskan nomor sepuluh!"
Bayu menahan tawanya saat melihat wajah Raga yang kaget di tempat. Bukan hanya dirinya sebenarnya, melainkan beberapa murid di kelas itu juga tampak menahan tawa.
"Dasar bodoh, siapa suruh tidur di meja" ucap Bayu dengan kebahagiaan yang tidak terhingga saat melihat abang satu-satunya itu berjalan pasrah ke depan, lalu menatap papan tulis dengan bingung. Bayu dapat menebak jika Raga tidak mengerti sedikitpun tentang apa yang dijelaskan Bu Tika.
Bayu merasa menang sekarang.
Rasain tuh, karma! decak Bayu tertawa sumringan.
+TBC
Tinggalkan jejak berupa vote, kritik dan saran, ya? Sebab penulis tidak akan berhasil tanpa adanya pembaca. Terima kasih. 😊
__ADS_1