Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 1. Sok Kegantengan


__ADS_3

..."Gue gak mau sok jual mahal liat cewe cantik, kalo gue suka, ya bilang suka."...


...-Bayu Alvano Dwipaga-...


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Dengan tubuh tegap dan wajah pede seantaro raya, cowok berseragam SMA itu berjalan dengan santai memasuki sekolah. Tangan kanan dan kiri masuk ke dalam kantong celana abu-abu. Dagunya yang runcing ia naikkan, seperti pria sombong yang memasarkan wajah tampannya. Walaupun, tanpa dipasarkan pun ada saja murid perempuan yang melirik-lirik padanya layaknya stalker handal. Padahal, menurut setengah siswa laki-laki di SMA Dwiyana Muda Bangsa, cowok itu tidaklah bisa di definisikan tampan.


Bruk!


Tiba-tiba ia terjatuh. Terungkup di parit kecil depan Kelas Sebelas MIPA Dua. Semua murid berbisik-bisik, ada juga yang tak acuh. Giginya bergemeletuk. Wajahnya merona. Sungguh! Ini membuatnya malu!


Cring!


Mata elang cowok ber-name Tag Bayu A.D itu melirik sinis seorang murid perempuan yang barusan menabrak dirinya, gadis itu tampak tengah mengusap-usap lutut yang sedikit lecet.


"Biasa aja mata Lo."


Bayu terkesiap. Merasa takjub saat siswi yang di tatapnya tajam itu berani melawannya. Siswi itu mendongkak dan berdiri. Menepuk-nepuk rok seragamnya yang sedikit kotor.


"Apa Lo lihat-lihat!" ketus murid perempuan itu sembari menunjukkan kepalan tanganya. Kemudian pergi meninggalkan Bayu yang ternganga di tempat. Mungkin jika ada lalat, sang lalat memiliki peluang untuk masuk kedalam.


'Wih... Cewek ajaib' batin Bayu tertarik.


.


.


.


Lonceng sudah berbunyi sejak dua jam yang lalu. Namun hingga sekarang, tidak ada guru yang masuk. Jika kelas lain sedih saat tidak ada guru yang masuk, berbeda dengan Kelas Dua Belas IPS, ini merupakan momen yang paling menyenangkan. Selain bisa bermain Game, mereka juga bebas bergosip.


Kelas langsung sepi begitu suara sepatu guru yang paling dikenal mereka terdengar sampai ke kelas. Bu Antartika, guru galak dengan make up menor namun bahenol. Sebenarnya nama guru itu bukan Antartika, tapi Bu Tika. Namun galaknya si ibu yang tidak ketulungan, membuat semua murid ingin membuangnya jauh-jauh ke Antartika. Sayangnya Antartika itu jauh, jadi mereka terpaksa menyebut Bu Tika dengan Antartika.


"Ehem!" Tika berdeham. Kemudian menatap murid-muridnya.


"Anak-anak, kita kedatangan murid baru sekarang. Silahkan masuk, Nak." Tika menatap pintu dan menyuruh murid baru itu untuk masuk.


Semua murid berbisik-bisik begitu melihat anak baru memasuki kelas. Apalagi para cowok, langsung ternganga melihat betapa manisnya siswi di depan. Khususnya cowok yang duduk paling pojok, bukanya terpukau, ia malah kaget.


Berbeda hal nya dengan murid baru itu, ia bahkan tak acuh walau ia tahu jika cowok tadi pagi yang ditabraknya berpijak di kelas yang sama.


"Kenalkan diri kamu, Nak." Murid baru itu menoleh ke arah Bu Tika. Lalu mengangguk.


"Kenalin nama gue Manisha Elevanova, gue pindahan dari SMA Dua Belas Sabang. Salam kenal semuanya."


Manisha melambai-lambaikan tangannya sembari tersenyum manis. Semua murid di kelas membalas sapaan Manisha tak kalah ramah. Tanpa Manisha sadari, ada seorang cowok yang terbius dengan senyumnya. Jantungnya berpacu hebat.


'Fix, gue suka sama dia' teriak Bayu dalam hati sambil memegang jantungnya yang berdegup maraton.

__ADS_1


Dugaan kita salah, ternyata Manisha tahu jika ada orang yang memperhatikan dia intens sejak tadi.


Manisha mendengus, sebab ia menyadari kalau cowok sombong tadi pagi itu pelakunya.


'Ngapain sih dia merhatiin gue gitu banget, risih tau gak!'


.


.


.


Manisha memakan batagornya lahap. Tentu saja ia tidak sendiri, ia bersama kedua temanya yang baru di kenalnya tadi. Sia dan Lea.


Dup!


Mata tajam Manisha langsung mengarah ke sebuah sosok yang ada di hadapannya. Tusukan garpu pada batagor semakin dalam. Sungguh demi apapun, Nisha paling benci diikuti cowok tengik yang duduk di depannya.


"Ngapain lo duduk disitu!" cecar Nisha.


Cowok itu tersenyum manis, "Gue cuman pengen kenalan. Lo belum tau gue 'kan?"


Sambil kambali memakan batagornya, Nisha menjawab. "Gak penting."


"Wihh, seriusan lo gak mau tau nama gue? gue ganteng gini loh." Bayu menyisir rambut cepaknya dengan jari-jari. Hal ini berhasil membuat beberapa murid perempuan di SMA itu heboh. Berbeda dengan gadis yang sedang di ajak bicara oleh Bayu, ia malah menatap tajam ke arah Bayu dengan sorot setajam pisau cutter.


Nisha berdecih, "Bodo, pigi sana!"


"Nih, kalo lo pengen tahu nama gue."


Bayu memilih pergi dari hadapan Manisha dengan kedua tangan di dalam kantong dan dagu di naikkan.


Prang!


Manisha membanting garpu yang di pegangnya ke piring. Mengabaikan teguran dari mbok kantin yang terlihat kesal. Lagipula, perasaanya lebih parah saat ini. Dengan wajah dongkol, ia meraih kartu yang disodorkan cowok sinting itu.


"Bayu Alvano Dwipaga" Manisha berdecih, lalu membuang kartu itu setelah sebelumnya berteriak, "gue gak mau kenal sama lo!"


Sia dan Lea terkekeh melihat Nisha. Tawa mereka menggelegar. Hiburan tersendiri bagi mereka saat melihat Bayu, yang notabenenya Raja sekolah ditolak cewe. Namun mereka langsung bungkam saat tatapan tajam Nisha menuju ke mereka.


.


.


.


"Nisha, pernah pacaran gak?"


Manisha memejamkan matanya begitu mendengar pertanyaan yang 'kesekian kali sama' dari murid laki-laki asing yang suka sekali mengganggunya sejak berpijak di SMA Dwiyana Muda Bangsa. Sudah satu SMA, satu kelas pula! Ya Allah... dosa apa yang hamba lakukan di masa lalu sehingga harus berhadapan dengan laki-laki sok kegantengan yang ada di hadapanku sekarang! gerutu Manisha dalam hati.

__ADS_1


"Pergi sana!" usir Manisha begitu Bayu mendudukkan dirinya di bangku taman belajar di sebelah Manisha.


"Jawab dulu," ucapnya lagi. Mengabaikan 'pengusiran' tak beradab dari Manisha.


"Rese banget sih lo! Ganggu tahu enggak!" Manisha berdecak kesal. Rasanya bom akan segera meledak begitu Manisha mendapati Bayu sedang tersenyum sok manis padanya. Bahkan berani mengabaikan usirannya barusan.


"Lo punya telinga 'kan?"


"Maksudnya?"


"Kalau lo punya, berarti lo tahu maksud gue!"


Kali ini Bayu geleng-geleng kepala. "Kita baru ketemu dua kali loh. Eh, bukan tapi tiga kali sama yang di kantin. Lo seharusnya bersyukur bisa jumpa sama gue, gue taksirin lagi 'kan?"


Manisha langsung menatap sewot ke arah Bayu begitu Bayu selesai dengan kalimatnya. "Sial iya kali!"


Bayu terkekeh. Rasanya ia semakin dibuat penasaran dengan sosok seorang Manisha Elevanova.


"Tiga kali ketemu 'kan?" tanya Manisha tiba-tiba. Bayu langsung mengangguk antusias.


"Kalo udah tahu baru tiga kali ketemu, kenapa sok akrab? Sok SKSD banget sih lo, pergi sana!" ujar Manisha kejam. Ia bahkan mendorong Bayu dari kursi bundar. Mau tidak mau, berhasil membuat laki-laki malang itu terjatuh ke tanah. Tentu saja hal ini tidak luput dari pandangan murid sekolah. Ada yang bahagia, ada juga yang memberi Manisha tatapan membunuh.


Bayu langsung bangkit dari tanah. Tidak mau terus-terusan melihat tatapan bodoh dari Manisha yang tercengang di hadapanya. Mungkin kaget, tebak Bayu dalam hati. Bayu tahu, Manisha tidak mungkin sengaja mendorongnya hingga jatuh.


"Hoy!" panggil Bayu begitu tubuhnya sudah berdiri tegak. Akan tetapi gadis yang ada di hadapanya malah tidak merespon apa-apa. Masih setia dengan wajah bodohnya.


"Hoy! Hoy!" ulang Bayu lagi seraya menahan tawa begitu melihat Manisha sadar dan tidak bisa menyembunyikan keterkejutanya.


"Apaan sih lo!" ketus Manisha begitu menyadari sikap konyolnya yang sempat di perlihatkan pada Bayu. Dasar bodoh! pekiknya kesal dalam hati.


"Nyesel?"


"Hah?"


"Nyesel karena gak sengaja dorong gue sampe jatoh?" tanya Bayu seraya menaikan kedua alisnya.


Manisha berdecak. "Yang ada nyesel karena gak berhasil bikin kepala lo nyium tanah duluan."


Usai mengatakan hal itu, Manisha langsung pergi dari sana. Ia benar-benar kesal setengah mati. Lagipula, ia tidak tahan di ganggu oleh mahluk astral sok kegantengan itu, dan juga tatapan monster yang ditujukan para fans si mahluk astral kepadanya. Benar-benar mengerikan! ucapnya dalam hati.


Sementara Bayu yang di tinggal, terkekeh di tempat. Tidak menyangka jika kejadian memalukan berhasil menimpanya tiga kali hari ini.


Pertama, jatuh di got depan kelas Sebelas MIPA Dua. Kedua, ditolak Manisha di hadapan dua manusia, eh lebih tepatnya manusia-manusia yang sedang makan di kantin. Dan yang ketiga, di dorong Manisha dari atas kursi taman bundar dan berhasil jatuh ke tanah. Kurang malu apalagi dirinya? Komplit sudah.


Akan tetapi--


"Gue enggak mau sok jual mahal lihat cewek cantik, kalau gue suka, ya bilang suka. Perihal menyatakan perasaan itu, enggak perlu jaim kalau mau di cantol. Sok jaim adalah cara terbodoh yang digunain manusia untuk memikat lawan jenis."


Bayu tersenyum miring. "Dan gue enggak mau jadi salah satu dari orang bodoh itu."

__ADS_1


+TBC


Yeay! Part pertama udah selesai. Gimana pendapat kalian tentang cerita ini? Yuk di komen. ๐Ÿ˜™


__ADS_2