Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 23. Baikan


__ADS_3

"Lebih sakit mana, pura-pura enggak kenal padahal dulunya akrab. Tetapi karena terjebak friendzone, akhirnya memilih menjadi manusia asing yang seolah-olah baru pertama kali bertemu?"


Manisha meneguk ludahnya kasar. Ia menatap tajam ke arah Atmaji yang juga menatapnya sama.


🍃🍃🍃


"Lo tau, At?"


Atmaji mengangkat alisnya. Menatap bingung ke arah Manisha yang menundukkan wajah. Terlihat enggan menatap dirinya.


"Apa?" tanya Atmaji akhirnya.


Manisha menghela nafasnya. "Lo tahu alasan gue pindah ke SMA Dwiyana Muda Bangsa? Padahal banyak SMA yang lebih baik dari SMA ini yang ada di Jakarta?"


Mendengar Manisha bertanya tidak jelas begitu, Atmaji menjadi semakin bingung. Ia menyipitkan matanya, berharap tebakannya salah.


"Kenapa?" tanya Atmaji benar-benar penasaran.


"Karena Lo, At...." Manisha menjawab lirih.


Benar perkiraan Atmaji. Manisha pindah ke SMA ini karena dirinya. Tapi untuk apa? Bukankah Manisha menyuruh dirinya untuk menjauh?


"Kenapa, Sha?"


Manisha mengernyitkan kening saat mendengar Atmaji bertanya begitu. Ia geleng-geleng kepala.


"Lo tau 'kan di SMA Dua Belas Sabang gue cuman bisa deket sama Lo? Dan Lo belum paham juga kenapa!" Manisha mencebik kesal. Ia mengacak-acak poninya.


Atmaji terdiam. Berusaha mencerna maksud dari perkataan Manisha. "L--lo... suka gue?" tanya Atmaji akhirnya. Terbesit sedikit kebahagiaan di dalam hatinya.


"Iya, At. Gue suka sama Lo," jawab Manisha tanpa keraguan. Toh memang benar adanya.


Jantung Atmaji berdetak dua belas kali lebih cepat. Apa benar yang dikatakan gadis itu? pikirnya. Jadi kenapa dulu Atmaji menjadi pihak yang seolah-olah mencintai gadis itu sendirian?


"Kalo itu bener, kenapa Lo nyuruh gue jauh-jauh? Kenapa Lo bilang kita enggak usah berteman lagi? Wajah Lo waktu itu serius, Sha...." Atmaji tidak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran Manisha. Atmaji masih dalam keadaan abu-abunya. Bingung yang tidak terkira.


"Itu... karena gue... gue...." Manisha bingung harus mengatakan alasannya atau tidak. "gue belum yakin dengan perasaan gue sebenarnya," cicit Manisha akhirnya.

__ADS_1


Atmaji melongo untuk sesaat. Ia menghela nafas kasar, lalu mengacak-acak rambutnya yang tersisir rapi. Atmaji memerhatikan Manisha dalam, gadis itu tampak lebih kurus.


"Apa masih ada kesempatan buat gue perbaiki semuanya?" Manisha mendongkak saat mendengar Atmaji berucap lirih.


Manisha menggelengkan kepalanya. Ia kembali menunduk.


"Maaf, At. Lo cuman masa lalu gue. Dihati gue sekarang cuman ada Bayu. Cuman Bayu, At. Maaf."


Baru saja Manisha menerbangkannya ke lintas cakrawala, namun sedetik kemudian Manisha kembali menjatuhkannya ke tanah. Sakit. Itu yang dirasakan Atmaji.


"Tapi dia hilang, Sha."


Atmaji belum menyerah. Ia berpikir masih ada kesempatan. Namun gelengan kepala Manisha berhasil membuat hatinya mencelos. Andai Atmaji bisa memutar waktu.


"Gue paham, Sha. Tapi, apa bisa kita berteman baik lagi?" tanya Atmaji penuh harap. Manisha kembali mendongkak. Sedetik kemudian ia mengangguk, hal ini membuat lengkung sabit di wajah Atmaji muncul tanpa tahu malu.


Atmaji bersyukur. Sebab Manisha masih mau berteman dengannya. Setidaknya, Atmaji tidak jauh lagi dari gadis itu. Andai saja dulu Atmaji tahu jika Manisha akan pindah ke sekolah ini, tentu ia tidak akan pindah ke SMA Nusa.


"Jadi kita baikan, 'kan?" Atmaji menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Manisha seraya tersenyum bahagia. Manisha ikut tersenyum, lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking Atmaji. Manisha jadi ingat dulu ketika di SMA Dua Belas Sabang mereka sering seperti ini jika marahan dan janjian.


.


.


.


Manisha mengangguk santai. Berbeda dengan  Sia dan Lea yang menatap bingung ke arah mereka. Dua orang itu langsung berjalan ke bangku Manisha saat melihat Atmaji sudah kembali ke bangku nya.


"Sejak kapan Lo sama Atmaji akrab?" tanya Lea penuh selidik. Manisha hanya mengangkat bahunya sebagai respon atas pertanyaan sahabatnya.


"Ish. Nyebelin banget, sih!" cebik Lea dan di angguki setuju oleh Sia.


Manisha menghela nafas. Ia memutar tubuhnya menghadap Lea. Meninggalkan tugas geografinya yang belum selesai.


"Le, dia dan gue dulu satu sekolah. Gue sahabatan sama dia dari dulu." Manisha kembali memutar tubuhnya setelah menjawab rasa penasaran Lea.


"Lo enggak suka dia, 'kan?" tanya Lea curiga. Manisha mengernyitkan kening mendengar pertanyaan Lea yang menurutnya aneh. Manisha menggeleng pelan, "enggak. Gue punya Bayu."

__ADS_1


"Sukur deh kalau gitu hehehe...."


Benar pikiran Manisha. Lea suka Atmaji. Untung saja Manisha keburu tahu, ia pun mengurungkan niatnya untuk menceritakan segalanya pada Lea. Bisa berabe nanti, pikirnya.


Manisha menatap intens kepergian Lea dan Sia yang kembali ke kursinya. Manisha menghela nafas. Kenapa jadi semakin rumit saja!


Manisha berbalik saat merasakan kursinya di tendang-tendang kecil oleh seseorang. Orang itu Raga. Raga akhirnya berhasil duduk di belakang sebab bertukar kursi dengan Randu, anak basket sekolah. Bagaimanapun, Raga bukanlah Bayu yang suka duduk berhadapan dengan guru.


"Pinjam pena. Punya saya ketinggalan," tuturnya pelan, masih fokus dengan buku yang ada di atas mejanya.


Manisha mengambil salah satu pena nya. Ia menyerahkan pada Raga.


"Jangan lupa dibalikin, ya? Awas aja kalo Lo ilangin lagi." Manisha berkata ketus. Pasalnya bukan kali ini saja Raga meminjam pena padanya, dan Manisha masih malas jika kali ini Raga kembali menghilangkan benda penting itu.


Raga hanya merespon Manisha dengan mengangkat bahunya tidak peduli. Toh pulpen seharga seribuan, pikirnya. Padahal walaupun harganya cuman seribu, Manisha perlu menyisihkan uang jajan untuk membelinya. Dan uang jajan yang diberikan Andra pada Manisha tidaklah banyak. Hanya sepuluh ribu sehari. Oleh karena itu, Manisha juga sudah jarang ke kantin.


Manisha memilih melanjutkan pekerjaanya. Bisa gawat kalau tidak selesai, bisa-bisa ibu Fatma akan mengamuk dan memberikan nilai C untuk mata pelajaran geografi.


Manisha mencoba memutar otak saat melihat pertanyaan yang cukup sulit terdapat di kertas. Ia menghela nafas kasar, ia tidak bisa mengerjakanya.


Bagaikan malaikat, seseorang tiba-tiba menyodorkan kertas jawaban yang sudah terisi ke hadapan Manisha. Manisha mengangkat kepalanya untuk melihat siapa dalang dari binar mata yang ada di netra Manisha.


"Atmaji?" ucapnya seolah pertanyaan. Atmaji mengangkat bahunya. "jawab aja, Lo gak paham juga, 'kan? Lo kan enggak pinter."


Wajah Manisha berubah datar setelah mendengar perkataan Atmaji yang mengejeknya. Ia memang tidak pintar, namun tidak perlu diperjelas juga dong! Malu-maluin. Manisha menggerutu dalam hati.


"Makasih." Singkat, padat dan jelas.


Manisha menerima kertas itu. Manisha akan menyalin semuanya, biar saja saja. Lagipula Manisha percaya jika jawaban Atmaji itu benar semua. Atmaji kan mantan juara umum di SMA mereka dulu.


Atmaji mengerjab tidak percaya saat melihat Manisha malah menyingkirkan jawaban asli miliknya dan mulai menyalin jawaban Atmaji dimulai dari nomor satu. Atmaji jadi menyesal menyerahkan kertas itu pada Manisha.


Atmaji memutuskan kembali ke bangkunya saat mendapat tatapan kemenangan dari seorang Manisha Elevanova. Gadis itu! decaknya kesal.


Sementara dari kursi depan, Lea tengah memerhatikan interaksi antara Atmaji dengan Manisha. Lea ragu jika Manisha dan Atmaji tidak ada hubungan apa-apa. Lea jadi kesal sendiri. Ia memutuskan berbalik badan, masih setia dengan wajah cemberutnya.


+TBC

__ADS_1


Tinggalkan vote, kritik dan saran ya? Sebab penulis tidak akan pernah berhasil tanpa adanya pembaca. Terima kasih 😊


__ADS_2