
Biasakan Vote sebelum membaca.
....
Meghilangnya kamu membuat aku belajar, bahwa setiap kelakuan yang kelewat, pasti ada penyesalan.
🍂🍂🍂
Para pelajar SMA Dwiyana Muda Bangsa tampak sibuk mengemas peralatan sekolahnya. Alasnya sebab bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu.
Di ruang kelas XI.MIPA.II, Manisha dan teman-temanya juga melakukan hal yang sama.
"Sha, nanti jangan lupa taruh buku paketnya di loker, ya? Soalnya nanti sore kayaknya bakal gue ambil." Lea memasukkan peralatan sekolah terakhirnya ke dalam tas, sebuah penghapus.
Manisha berdecak. "Iya. Kenapa enggak Lo bawa sekarang aja, sih? Ribet banget pakek acara-acara ke loker."
Lea meringis. Ia memiliki alasan tersendiri, jadi Manisha tidak boleh tahu.
"Gue pulang duluan, ya. Daa...."
Saat Lea akan pergi, Manisha memegang pergelangan tanganya. "Ett ... Lo enggak boleh pergi. Tungguin gue, kek! Nebeng, ya?" pinta Manisha seraya tersenyum manis.
Lea tersenyum, kali ini lebih manis dari Manisha. Lesung pipi nya pun sampai terlihat. "Enggak bisa."
"Lah, kenapa emangnya? Biasanya juga Lo mau nebengin Sia, giliran gue yang minta, Lo enggak mau!"
Manisha jadi kesal sendiri dengan kelakuan Lea. Benar-benar jahat. Padahal baru kali ini ia meminta tolong untuk diantar pulang!
"Maaf ya, Sha. Bukanya enggak mau, tapi gue mau kencan. Jadi gue e--"
Belum sempat Lea meyelesaikan kalimatnya, Manisha sudah heboh duluan. Inilah alasan kenapa Lea enggan memberitahu Manisha. Bikin malu! Saat ini saja mereka sedang ditatap oleh beberapa siswa yang masih ada di kelas.
"Sha, Lo jangan teriak-teriak bisa enggak? Malu tahu! Liat tuh, mereka pada liatin kita!" bisik Lea sembari menutup wajahnya dengan tas.
Manisha menyengir tak berdosa saat menyadari kesalahannya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sorry," katanya kemudian.
"Yaudah, ah! Gue pergi duluan, ya. Awas kalo enggak Lo taruh tu buku di loker." Lea berlari sembari memperlihatkan tangan kanannya yang mengepal.
Manisha terkekeh. Luar biasa sahabat ajaib. Namun walau begitu, menurutnya Sia adalah sahabat ajaib yang lebih ajaib lagi dari Lea. Setidaknya, Lea masih ada IQ-nya. Kalau Sia ... mungkin otak monyet lebih pintar. Beruntung sekali ya Sia memiliki sahabat seperti Manisha, Manisha orang yang jujur.
Manisha langsung memakai tas punggungnya. Ia merogoh sakunya, mengambil benda pipih berwarna putih.
__ADS_1
Ting!
Satu pesan masuk kedalam handphone-nya.
'Sha, sekalian masukin buku yang ada di laci gue juga, ya. Itu buku tabungan gue. Gue kelupaan ambil soalnya. Makasih, Sha.'
Lea ... Lea. Untung yang diminta pertolongan adalah Manisha. Jika itu Sia, mungkin buku penting yang dimaksud Lea akan berada di dalam tas ajaib gadis itu. Dia terlalu malas untuk menyimpan barang yang bukan miliknya.
Manisha melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan dekat dengan lapangan basket. Loker berada di sana. Cukup jauh dari kelas Manisha, tapi demi sahabatnya, Manisha rela melakukanya. Lagipula, jalan kesana tidak memerlukan bensin, paling hanya seteguk air putih.
Manisha memerhatikan buku yang berada di genggamannya. Hanya sebuah buku tua yang judulnya cukup menarik. Novel lama tentang cinta.
Huft!
Manisha menghela nafasnya saat buku itu sudah ditaruhnya di loker Lea. Ia kembali mengunci loker itu dengan sandi.
Suara langkah kaki yang mendekat membuat Manisha mengalihkan pandangan ke samping, dilihatnya Raga berdiri sembari membaca halaman terakhir dari novel berjudul tentang rasa.
"Ngapain Lo disini?"
Raga tidak merespon apapun. Ia tetap membaca. Manisha dibuat geram sendiri.
"Woy, gue tanya ngapain Lo disini? Lo past--"
Manisha menatap Raga tidak percaya. Ia jengkel.
"Bodo amat lah! Serah lu!" Manisha memilih pergi.
Raga melihat Manisha menjauh pergi.
Ia geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa Bayu tahan dengan gadis seperti itu? Kasihan sekali adiknya.
...
"Kok bisa ya, ada manusia yang diciptain Tuhan kayak gitu bentuknya. Ganteng sih iya, tapi kalo mulut kayak cabe, mending musnah aja!"
Sepanjang jalan pulang, Manisha tidak henti-hentinya menggerutu. Selalu merutuki Raga yang luar biasa ajaib.
"Gue kasian sama kekasih gue! Kok bisa gitu punya abang yang songong banget kayak dia!" Manisha berdecih.
Kekasih? Sejak kapan Manisha mau menganggap Bayu kekasihnya? Bukankah dulu Bayu selalu menjadi orang pertama yang berjuang? Manisha menyadari itu. Ia menyesal sudah memperlakukan Bayu seperti tidak ada, padahal kalau dipikir-pikir, Manisha menyukai Bayu juga. Namun ego yang tinggi membuat ia tidak mau mengakuinya. Dan sekarang, ego itu sudah menjatuhkanya, menenggelamkannya di dunia dimana tidak ada seorang Bayu Alvino Dwipaga.
__ADS_1
Manisha tersenyum kecut, sesaat ia menunduk dan berhenti berjalan. "Bayu, kamu dimana? Aku rindu." Manisha berucap lirih.
Manisha kembali berjalan dengan wajah yang masih menunduk. Tiba-tiba--
Bruk!
Ia terjatuh. Manisha meringis saat melihat darah keluar dari lututnya. Manisha mendongkak untuk melihat tubuh siapa yang tidak sengaja di tabraknya.
Pak Atlas!
Manisha cengo. Ia nyengir tidak enak hati. Bergegas ia bangkit.
"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja." Manisha melihat Atlas sembari menyapu debu kotor yang menempel di rok nya dengan tangan.
Athlas menatap Manisha dari atas sampai bawah. "Kamu kenapa? Kenapa belum pulang?"
Manisha meneguk ludahnya kasar. "Saya tadi ke loker dulu, Pak. Ada yang harus saya letakkan di sana." Manisha mencoba menjelaskan.
Athlas hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Lebih baik sekarang kamu pulang," perintah Atlas pada muridnya.
Manisha tersenyum. "Baik, Pak."
Manisha pun bergegas meninggalkan Atlas, ia sebenarnya sedikit takut dengan bapak guru olahraganya itu, sebab setiap kali Manisha bertemu dengan guru itu, pak Atlas selalu saja menatapnya dengan tatapan berbeda. Manisha agak risih.
Di sisi lain, Atlas masih melihat Manisha dari jauh. Ia menghela nafasnya. Seharusnya ia tidak begini. Seharusnya perasaan itu tidak boleh ada di antara murid dengan gurunya. Namun Atlas tidak bisa menempik, jika ia suka murid perempuan itu. Manisha Elevanova.
Manisha mampu mengubah segala sesuatu yang ada. Dengan melihatnya saja, Athlas merasa dingin. Manisha sangat cantik dan berbakat. Sejak anak itu ada di sekolahnya sebagai murid pindahan, ia sudah suka.
Atlas ingin memiliki Manisha, ia tidak peduli tentang umur yang berbeda jauh. Yang jelas, jika Manisha mau menerimanya, maka semuanya akan lebih mudah.
Dari jauh, Raga dapat melihat bagaimana tatapan suka yang diberikan gurunya kepada kekasih adiknya, Manisha. Buktinya, sejak Manisha pergi dari hadapan guru itu, guru itu tidak bisa mengalihkan pandangannya.
"Bayu, maaf, kamu tidak bisa untuk muncul sekarang, walaupun nanti kamu menyesal. Saat kamu kembali, Manisha sudah menjadi kekasih orang lain." Raga berbicara sendirian.
Raga benar-benar minta maaf. Hanya ini jalan satu-satunya. Akan tetapi, Raga berjanji akan menjaga Manisha saat Bayu tidak ada. Namun, ia tetap merasa kasihan jika nanti pak Atlas, guru olahraga mereka berhasil merebut Manisha dari adiknya.
Jujur, siapapun yang melihat pak Atlas, pasti tidak akan mengelak jika ia tampan. Perempuan mana yang tidak mau dengan Atlas yang masih berumur 23 tahun, berwajah tampan dan sudah mapan. Siapapun pasti mau menjadi dambaan hati pak Atlas.
Raga memilih pergi dari sana. Hari pertama sekolah tidak begitu buruk, pikirnya. Ia kira, banyak orang yang tidak akan menerimanya seperti di luar negeri dahulu. Namun disini, karena nama seorang Bayu, adiknya. Ia menjadi ikutan famous. Bahkan banyak gadis-gadis fans Bayu dahulu yang berpindah haluan ke arahnya, sebab ia masih single. Sedangkan Bayu sudah memiliki Manisha.
__ADS_1
+TBC
Tinggalkan jejak berupa vote, kritik dan saran. Itu akan sangat membantu penulis untuk semangat menulis ceritanya. Jangan lupa, ya? :-)