Dua Ti Saraga

Dua Ti Saraga
Part 7. Sesakit Itukah? (II)


__ADS_3

...Benci itu boleh-boleh aja, tapi kalau sampai rasa benci itu membuat tentang kita seolah enggak pernah ada, aku enggak tahu lagi mau bilang apa....


...🍂🍂🍂...


"Ma--maksud kamu apa?"


Manisha menatap intens Bayu, ia benar-benar tidak menyangka, hanya karena masalah ini, Bayu sengaja pura-pura lupa.


Memang Manisha akui ia keterlaluan. Tapi lelucon Bayu kali ini sama sekali tidak lucu.


"Kamu enggak usah ngelawak ya Bayu, enggak mungkin kamu enggak kenal aku. Oke, aku akuin aku keterlaluan sama kamu dan sekarang aku mau minta maaf, jadi kita baikan, 'ya?" jelas Manisha.


"Sorry, saya enggak kenal kamu."


Respon Raga dan kembali membaca novelnya.


Ekspresi tidak terduga yang diberikan Raga seolah menjatuhkan Manisha ke tempat yang  paling curam. Kenapa Bayu bisa sebercanda ini kepadanya?


"Bercanda boleh kali, tapi jangan keterlaluan juga. Hah!"


Manisha belum menyerah. Ia harus membuat Raga--yang dikira Bayu-- memaafkannya, apapun akan dia lakukan agar hubunganya dengan Bayu kembali baik-baik saja.


Raga meletakkan novelnya di atas meja. Diperhatikan nya gadis yang ada di depannya intens. Ia mendegus, entah kenapa, ia sedikit tidak menyukai gadis yang ada dihadapannya.


"Saya tidak bercanda."


What! Saya? Sejak kapan gaya bahasa Bayu jadi se-formal itu? Manisha menatap aneh ke arah Bayu. Apa kelakuan gue yang ngebuat dia berubah?


"Saya memang tidak kenal kamu."


Raga kembali mengatakan kalimat yang sangat-sangat tidak mau didengar oleh Manisha. Manisha ingin mendengar ia memaafkan kesalahannya, namun memang Manisha ada salah apa dengan Raga?


Raga menghela nafasnya, ia mengambil novel yang ada di atas meja dan beranjak pergi dari sana.


Setelah beberapa langkah dari tempat Manisha duduk, Raga berhenti.


"Kalau kamu kira saya adalah Bayu, kamu salah. Saya Raga, saudara kembar Bayu. Saya enggak tahu persis bagaimana wajahnya, tapi melihat kamu berbicara mengenai Bayu kepada saya, saya rasa wajahnya sangat mirip dengan saya, karena itu kamu mengira jika saya... adalah Bayu."


Raga kembali melanjutkan langkahnya. Ia meninggalkan Manisha yang jantungnya seakan terdapat sekat yang membuat sesak.


Mirip? Ya jelaslah mereka mirip, kan mereka kembar. Orang bodoh macam apa yang mengatakan orang kembar tidak mirip, kecuali mereka beda jenis kelamin.


Manisha benar-benar tidak percaya ini, Bayu tidak pernah mengatakan bahwa ia memiliki saudara kembar. Bagaimana bisa Bayu melakukan ini padanya? Dan... kemana Bayu jika yang dilihatnya tadi adalah saudara kembar Bayu, Raga.


"Bayu, kalau kamu benci sama aku, tolong jangan buat aku kayak gini. Kamu menghilang, dan aku tahu kalau saudara kembar kamu ada di sekolah ini pasti untuk menggantikan kamu, 'kan? Kamu jahat, Bayu!"


Manisha memegang dadanya yang sesak. Ia sangat kesal pada Bayu lantaran tidak pernah ke sekolah lagi. Manisha kira, Bayu menghindarinya.


Manisha marah pada dirinya sendiri. Apa sesakit itu perbuatan Manisha pada Bayu, sehingga kini ia harus menanggung rindu sendirian. Entah apa alasan Bayu pergi, apapun itu pasti karenanya.


Manisha beranjak dari duduknya. Ia akan ke kolam belakang sekolah, dengan langkah lemas, ia meninggalkan perpus.


...

__ADS_1


Wuss....


Angin yang berhembus membuat Manisha menggigil. Cuaca hari ini mendung, persis menggambarkan suasana hati Manisha.


"Kamu dimana, Bayu?" Manisha berucap lirih.


Sudah lima menit lamanya ia berdiri di sini. Sudah lima menit juga ia berucap lirih dengan kalimat yang sama.


Manisha menatap arloji yang ada di tangannya, sebentar lagi bel masuk berbunyi.


Manisha menghela nafasnya. Ia pun memilih pergi dari sana.


Di sisi lain, seorang pria dewasa tampak berdiri di samping pohon damar yang batangnya menjulang besar. Pantas sejak tadi ia tidak ketahuan!


Pria itu menatap intens Manisha yang mulai menghilang sosoknya di balik tembok bekas ruang kelas.


"Saya enggak tahu apa hubungan kamu dengan Bayu, tetapi melihat kamu seperti ini, pasti dia seseorang yang amat special. Saya bisa pastikan, kamu tidak akan melihatnya lagi, kamu hanya untuk saya."


Setelah mengatakan hal itu, pria itu pun pergi.


.


.


.


Cinta itu emang rumit, ya? Sabar aja. Semua pasti akan ada akhirnya.


-S.A You


"Siapa sih!"


Manisha mendegus. Ia benci teka-teki, apalagi kejutan tidak terduga. Manisha tidak sadar, jika dia memang sudah masuk kedalam teka-teki itu. 


"Nih, buku Lo."


Sia menyerahkan buku tulis Manisha yang dipinjamnya. Ia menatap aneh ke arah Manisha. Ada apa lagi dengan sahabatnya? Pikirnya.


"Lo kenapa? Gue liat muka Lo asem-asem mulu dari tadi?"


Dari balik pintu kelas, tiba-tiba Lea memperlihatkan wujudnya. Ia berjalan ke arah kursi Manisha.


"Kenapa muka lo? Asem banget kayak asam Jawa."


Lea mempertanyakan pertanyaan yang sama. Manisha menghela nafasnya untuk kesekian kalinya.


"Bayu ngehindarin gue."


Kalimat singkat itu membuat kedua sahabatnya bersitatap.


"Wajar sih kalau dia marah sama Lo, jangan nyerah dulu kali, Sha! Entar dia juga akan maafin Lo kok."


Lea mencoba menyemangati sahabatnya.

__ADS_1


"Bukan gitu...." Manisha berkata lirih.


"Lah, terus?" tanya Lea dengan kening mengerenyit.


"Dia enggak kenal sama gue."


Tubuh Manisha kembali lemas ketika mengatakan Bayu pura-pura tidak mengenalnya lagi. Ia sedikit sulit menerima kenyataan!


Dua sahabatnya yang mendengar merasa aneh, lantas siapa yang sering masuk ke kelas kalau bukan Bayu?


"Lo jangan becanda deh Sha."


Lea masih mencoba menyangkal. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Manisha.


"Gue serius"


Kata-kata Manisha kali ini membuat Sia yang sejak tadi diam saja kini menjadi sibuk sendiri. Ia mengatakan jika ini salah Manisha, sehingga contekan nya hilang lah, kunci jawabannya hilang lah. Masih banyak lagi yang dikatakan Sia dan enggan di dengar Manisha. Sebab, apa hubungannya Bayu yang pura-pura tidak kenal dengan lupa ingatan sehingga tidak akan ada lagi contekan?


"Gue mau penjelasan Lo lebih detail!"


Lea menatap tajam ke arah sahabatnya, kemudian duduk di mejanya saat guru bahasa inggris memasuki kelas. Sedangkan Sia berlagak jadi murid teladan, ia memegang buku tulis dan pena sembari pura-pura menulis sesuatu.


Dan Manisha... ia menatap kosong ke arah kursi Bayu yang tidak ada empunya. Manisha baru sadar, jika Bayu sudah tidak pernah masuk kelas sejak satu hari yang lalu. Salahkah Manisha?


Manisha tersenyum kecut. Akhirnya Ia mengalihkan pandangannya dari kursi Bayu dan mulai mendengarkan penjelasan Bu' Regis.


Semua murid dan Regis melihat ke arah pintu saat mendengar ketukan.


Remaja laki-laki itu masuk. Ia menyerahkan sesuatu kepada Regis,  guru bahasa Inggris itu pun mengangguk.


"Perkenalkan diri kamu" perintah Regis.


Remaja tampan itu melihat teman-temanya. Dan semua orang cengo saat mendegar ia mengatakan--


"Pagi. Saya Raga Alvano Dwipaga. Semoga bisa berteman baik."


Singkat, padat dan jelas. Raga langsung berjalan ke arah kursi kosong, kursi milik Bayu. Namun, ketika akan duduk, seseorang menahannya. Itu Manisha.


"Ini kursi Bayu." Manisha berkata ketus.


"Dia enggak akan kembali. Jadi saya boleh duduk di kursinya."


Manisha terdiam. Sedangkan Raga langsung duduk di kursi itu.


Apa maksudnya?! Apa lagi ini? Ya ampun... sakitnya.


.


.


.


TBC...

__ADS_1


Tinggalkan Kritik dan saran, ya :)


__ADS_2