
Kaysan memasuki pintu rumah setelah ia baru saja turun dari mobil mewah miliknya, mengedarkan pandangannya ke mana mana mencari seseorang yang sering membuat mood-nya berantakan, ya Mama Dina yang selalu ia ingin hindari. Tak melihat keberadaan Wanita paru baya itu, kaysan menerbitkan senyum cerah nya Namun detik itu juga senyum itu hilang mana kala samar samar terdengar suara tawa dari arah belakang, suara tawa yang sangat ingin ia hindari.
Kaysan Menarik nafas dalam-dalam Lalu ia beralih melangkah kedapur mencari sesuatu yang bisa membuat tenggorokannya terasa lebih segar.
Belum habis ia meneguk air minum yang baru saja ia ambil di dalam kulkas Suara mama Dina mengangetkan nya dari arah belakang hingga kaysan merasa tersedak minuman sendiri..
huk..uhuk.. Suara batu kaysan membuat kaira jadi panik melihat suaminya tersedak minuman
"Kakak..baik baik saja?" Panik kaira melihat suaminya yang masih batuk
"Tidak Apa apa sayang." kaysan membelai rambut panjang istrinya dengan sayang lalu melayangkan tatapan teduh kearah mamanya, seolah mengatakan permohonan agar mama Dina tidak memisahkan mereka lagi.
"Jangan menatapku seperti itu, itu hukuman jika kamu masih tidak bisa mengontrol dirimu. Mama benar benar akan bawa kaira dari sini" Ancam mama dina menatap sengit kearah putranya
Begitu selesai mengatakan itu mama Dina berlalu begitu saja, dari hadapan mereka dengan membawa senyum manis seolah senang bisa mengerjai Anaknya itu.
"Kay..!! Ingat. " Teriak mama Dina seakan mengingatkan kaysan
lagi lagi kaysan mendengus kesal menatap punggung mamanya yang semakin menghilang dibalik pintu, kaysan tak habis pikir dengan sikap mamanya itu.
"Kakak kenapa, " Panggilan kaira membuyarkan lamunan kaysan,
__ADS_1
kaysan hanya tersenyum seraya menggeleng kan kepalanya, kemudia ia lantas membawa istrinya kekamarnya sebelum mamanya berubah pikiran.
*
*
*
*
*
Sementara Asisten pribadinya yang sedari tadi berdiri didepannya merinding sendiri, ia tau betul kekejaman tuannya, tidak akan mengampuni siapa pun yang akan mengganggu ketenangannya.
"Kau urus perempuan itu jangan sampai dia menyentuh sedikitpun kaira, perketat lagi penjagaan untuk kaira.
"Baik tuan.! Setelah mengatakan itu Asisten pribadinya meninggalkan kamar pribadi yang sudah beberapa hati ini Abigail menempati nya disebuah hotel mewah.
Bigail menghela nafas berat berusaha menetralkan kembali gemuruh di dalam dadanya. Matanya terpejam Seraya menyandarkan punggungnya ke sofa yang ia duduki, pikirannya berputar kembali ke masa dimana Ayahnya memohon agar ia menuruti semua keinginannya, "ini semua demi keselamatan mama dan Adikmu" Ucapan papanya kala itu masih terngiang di telinganya.
jika saja Ibu tirinya saat ini tdk mengincar mama dan Adik Nya mungkin saat ini ia sudah menyelamatkan Adiknya dari penyakit yang dideritanya.
__ADS_1
Tapi ketahuilah selama ini Abigail diam diam menampatkan beberapa orang untuk menjaga Adiknya itu secara diam diam.
Abigail kembali menghela nafas panjang lalu menghempaskan. ia lantas bangkit dari duduknya, ia berencana untuk Menemui Mama dan Adiknya setelah sekian lama tdk ketemu.
Abigail meraih ponsel diatas meja kemudian menelpon Adik iparnya. jangan tanyakan dimana ia mendapat nomor ponsel kaysan, sangat mudah baginya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Hallo." sapanya saat sambungan telpon terhubung.
Sementara kaysan di sebrang sana menatap layar ponselnya dengan wajah menerka Nerka siapa Yang menghubunginya malam malam begini.
"Dengan siapa! "Tanyanya dengan wajah bingung
"CK.. Abigail berdesis 'Bagaimana mungkin aku menyerahkan Adikku dengan orang sepertimu. Kau payah! " Cibir Abigail
" Ada apa kau menelpon ku malam malam "Ketus Kaysan merasa jengkel dengan Kakak iparnya yang selalu mencibirnya
"Aku ingin menemuinya Tanpa ada orang yang tau. kita lakukan dengan sembunyi-sembunyi, Aku yakin Anak buah Ibu tiri ku saat ini sedang mengintai pergerakan kita.
Setelah mengatakan itu Abigail langsung memutuskan sambungan telponnya Tanpa menunggu jawaban dari kaysan.
kaysan terus menggerutu kesal dengan sikap kakak iparnya yang selalu seenaknya..
__ADS_1