
Diujung koridor Rumah sakit kaysan meremas ujung kemejanya yang sudah tak terbentuk lagi sejak kaira tak sadarkan diri ia sudah tidak ada waktu hanya untuk sekedar mengganti pakaiannya. Rasa takut kaysan kian menyelimuti hatinya saat ini, Tangannya meremas kuat, pikirannya sangat kacau, Tak dapat dipungkiri saat ini hanya keselamatan Istrinya yang utama.
Lututnya seakan tak mampu lagi untuk berdiri ia terus menundukkan kepala sembari berdoa dalam hati untuk kesalamatan Istrinya,
"Kaysan, "Panggil Mama Dina Namun kaysan tak menanggapi panggilan mamanya seluruh akal sehatnya dikuasai oleh rasa takut.
Sejak kaira Memasuki ruang operasi sampai detik ini kaysan hanya diam ditempatnya Menatap kearah pintu ruangan itu berharap operasinya berjalan lancar.
"Kay.."Panggil Mama Dina sekali lagi.
"Kaysan hanya mendongakkan kepalanya menatap sendu kearah Mama nya.
" Sabarlah nak jangan seperti ini kau bahkan belum makan Apapun. percaya istrimu akan baik baik saja. " Ujar Mama Dina berusaha menenangkan putranya
"Mama,.," Kaysan pun larut dalam kesedihannya sedari tadi berusaha untuk menguatkan dirinya Namun nyatanya ia tak bisa kini ia Hanya bisa mencurahkan segala perasaan kepada Mamanya.
__ADS_1
Keysan memeluk erat tubuh Mamanya Tidak mempedulikan orang disekitarnya yang menganggapnya apa yang ada dipikirannya saat ini hanya keselamatan Istrinya.
*****
Tak jauh beda dengan wanita paruh baya yang sejak tadi duduk di kursi panjang didepan ruang operasi, keringat dingin mulai membasahi keningnya Bagaimana tidak, Kedua Anaknya sedang berjuang di dalam ruang operasi. Hingga detik ini mama Risa belum berkata Apa apa .
Hingga Tatapan Nya tertuju pada ujung lorong Melihat pria paru baya sedang mengatur Nafasnya karna telah berlari. Begitupun dengan papa Danu, kaysan dan Mama Dina kini tatapannya beralih menatap pria itu.
Dengan langkah Tertatih pria itu melangkah kearah Mama Risa yang hanya diam mematung ditempatnya, seluruh tubuhnya terasa bergetar hebat, ia Beringsut Kebangku terdekat sebelum jatuh , keringat menyengat mataku dan ia menyeka wajah dengan tangannya Hampir saja ia terjatuh.
"Mas. Gerry..!" panggilnya lirih dengan suara pelan Hampir tak terdengar, Matanya Terpejam hanya untuk menguatkan dirinya, Lalu ia kembali menatap Suami yang selama ini ia Anggap sudah mati.
Mama Dina datang memberikan sedikit ketenangan pada Besannya itu. Yang matanya sudah dipenuhi Oleh Air mata
" Maafkan Aku Risa.." Sesal pria itu kini kelopak matanya sudah berembun melihat Wanita yang sudah ia rindukan selama ini.
__ADS_1
"kaysan tidak ingin mengganggu kedua mertuanya saat ini, Biarkanlah ia menyelesaikan masalahnya sendiri yang di pikirannya saat ini hanya istrinya" Pikir Kaysan
Kini Mereka berdua sudah berada di lorong rumah sakit yang tak ada orang satupun, mereka butuh waktu untuk berdua menyelesaikan masalahnya. Hingga 10 Menit berlalu Baik mama Risa Maupun pria itu hanya diam menunduk dibangku panjang di lorong rumah sakit itu
Mama Risa duduk sambil menundukkan kepalanya tangannya terus meremas kuat ujung jarinya, Ayah Gerry datang menghampiri dan menggenggam kedua tangannya hingga tatapan merekapun bertemu. detik itu juga Mama Risa memalingkan wajahnya rasanya masih belum percaya dengan semua ini
"Maafkan Aku RIS.Bukan maksud aku untuk..
Belum juga selesai ucapan pria itu Mama Risa langsung menyelanya.
" Sudahlah mas. Aku tau Mas juga sangat menderita selama ini, Kini Mama Risa merubah posisi duduknya menghadap suaminya, Menatapnya lekat lekat Ada perasaan yang sulit ia jabarkan perasaan yang selama ini masih tumbuh di dalam dirinya.
pandangan merekapun bertemu, tatapan penuh kerinduan yang selama ini mereka pendam, Mama Risa tidak mau membohongi dirinya, Saat ini ia benar benar sangat merindukan Pria itu, Pria yang masih berstatus suaminya.
Merekapun berpelukan meluapkan segala kerinduan yang selama ini mereka pendam, tangisan pilu Mama Risa bergema di lorong rumah sakit...
__ADS_1