
" Ini, ini ,ini dan ini " Ucap Rendi dengan menyebarkan lembaran foto-foto ke meja. " Ini kau kan ! " Tambahnya dengan menunjuk orang dalam foto tersebut.
Risa hanya terdiam sambil melihat ke lembaran foto yang berada di atas meja.
" Cihhh, ayolah mengaku " Ucap Rendi dengan mendorong dirinya ke belakang, dia sudah mulai kesal.
" Hanya karena orang dalam foto tersebut mirip denganku bukan berarti aku pelakunya "
" Ciisss, masih juga tak mengaku " Ucap Rendi yang sedang menahan amarahnya. " Fuhhh... kau mau kopi? " Tanya Rendi.
" Tidak terimakasih "
" Baiklah " Rendi pun beranjak dari kursinya dan melangkah ke pintu, Saat dia membuka pintu dia berkata pada Risa. " Jangan kemana-mana " setelah itu, Rendi pergi keluar.
Risa hanya terdiam tak menanggapinya apapun. Dia terus menunduk kebawah dengan ekspresi yang hambar.
***********
Di rumah sakit, seorang lelaki berjas putih dan ditemani tiga orang berjas hitam layaknya bodyguard, mereka sedang berjalan di koridor.
Seorang lelaki berjas putih ini memiliki fisik yang kurus, rambut panjang berwarna putih diikat kebelakang, wajah normal di kisaran usia pengakhiran 20-an, ditangannya dia membawa sebuah kotak kado kecil berwarna krem dengan pita merah
Lalu untuk tiga orang dibelakangnya, salah satu dari mereka memiliki badan yang kekar, kepala botak dengan kacamata hitam yang dipakai.
Satu orang lagi, seorang wanita dengan celana panjang, sepatu pantofel, jas hitam dan rambut diikat.
Satu orang lagi, seorang pria berperawakan kurus namun terlihat macho, wajah tampan ditutupi kacamata hitam.
Mereka sedang berjalan di koridor rumah sakit. walau mereka mengundang perhatian, tetapi dengan santainya mereka mengabaikan semua orang mengarah pandangan.
Hingga beberapa menit kemudian, lelaki berjas putih itu berhenti di salah satu kamar pasien yang dirawat.
Dia langsung membuka pintu kamar itu lalu masuk, diikuti tiga orang bergaya bodyguard tadi.
Saat mereka masuk, langsung mereka disuguhkan dengan satu orang pasien lengkap dengan peralatan medis yang menempel di kedua tangannya.
Lelaki berjas putih itu lalu menyimpan kotak kado berwarna krem pita merah itu ke meja sebelah ranjang pasien tersebut.
Terlihat disini pasien tersebut, dia adalah Aldi yang sedang dirawat di rumah sakit yang sama dengan dirawatnya Coal.
Setelah dia menaruh kotak kecil itu, mereka langsung putar balik pergi dari ruangan sana.
Siapkah dia?, Apakah dia mengenal Aldi, ya' tentu saja. Mungkin jika Aldi sadarkan dia pasti tahu siapa dia.
Saat mereka berempat keluar dari pintu, sudah ada lelaki berbaju kaos abu dan celana hitam panjang berdiri di pinggir pintu. Dia adalah Heru.
Walaupun terlihat biasa saja, namun itu membuat perhatian pria berjas putih tersebut.
Heru hanya tersenyum ke pria berjas putih tersebut. Melihat itu, pria berjas putih membalasnya dengan senyuman kembali.
"Kau masih awet muda, Heru" ucap Pria berjas putih tersebut.
"Kau juga, Fajar" ucap Heru. Jadi nama Pria tersebut adalah Fajar.
Kita panggil dia nanti Pak Fajar saja ke dia.
Lalu Pak Fajar pergi meninggalkan Heru disana, diikuti oleh tiga bodyguard dibelakangnya.
Setelah Pak Fajar pergi, Heru masuk ke ruangan Aldi. Dia berjalan hingga berada di pinggir Aldi yang masih tak sadarkan diri.
( Treengg... Treengg... ) Bunyi ponsel Heru.
Heru langsung mengambil ponselnya itu lalu menekan tombol hijau, berarti mengangkatnya.
" Yo ada apa? " Ucap dia.
" Mwnsuissnveishsb " ucap tak jelas dari telpon.
" Apakah harus aku? " Sepertinya Heru paham apa yang dia katakan.
" Tentu saja, jika aku dibayar untuk itu " Ucap Heru.
" Baiklah, siap " Tambahnya sebelum dia mematikan telpon tersebut.
__ADS_1
" Oke "
Dia lalu melakukan peregangan, tak lama kemudian dia membuka jendela kamar itu.
Sungguh mengejutkan, Heru langsung loncat dari jendela tersebut hingga ke bawah. Padahal jarak antara jendela tersebut dan tanah adalah tiga lantai.
Setelah dia melakukan itu, tak ada hal apapun yang terjadi di tubuhnya, bahkan minimal sakit dibagian kaki karena benturan hal itu tak ada.
Dia lalu bejalan dengan santainya ke motor CBR 150R dan menaikinya, lalu dia menyalakan motor.
( Bbrrrroooommmm ) bunyi suara motor yang menyala.
Lalu, Motor CBR150R itu langsung melaju dengan cepatnya meninggalkan rumah sakit. Motor itu melaju di tengah-tengah kota yang normal ramainya.
Dia melewati setiap kendaran yang menghalangi jalan dengan lincahnya. Kota Agharta memang sangatlah bagus untuk melakukan pamer motor.
Jalan yang lurus, aspal halus dan juga lampu-lampu jalan yang bersusun cantik, membuat kota Agharta memang cocok disebut kota impian.
***********
(Bukkk...) Seorang tak sengaja menabrak Pak Fajar dari depan.
Saat Pak Fajar dan tiga orang dibelakangnya sedang berada di lobi rumah sakit, seorang anak laki-laki tak sengaja menabrak dia di depan.
Melihat itu, anak yang tadi menabraknya langsung ketakutan saat melihat Pak Fajar yang terlihat seperti psikopat berambut putih.
Tentu saja, Pak Fajar ini memiliki wajah yang seram mirip psikopat itu pasti akan membuat siapa saja ketakutan.
Pak Fajar hanya tersenyum dan menghampiri anak laki-laki tersebut. Melihat itu, anak laki itu mundur dengan memasang wajah ketakutan.
Saat Pak Fajar sudah ada didepan anak tersebut, dia lalu jongkok dan mengelus rambut anak laki-laki itu.
"Kau imut sekali. Lain kali hati-hati saat berlari disini, Ya" ucap Pak Fajar tersenyum dengan mengelus-elus rambut anak laki-laki tersebut.
Tak lama datang seorang wanita, dia memanggil nama anak itu, "Ali!" Itu yang disebutkan oleh dia ke anak tersebut.
Wanita itu memakai baju putih dan berkerudung dengan warna yang sama. Sudah dipastikan dia adalah ibu dari anak tersebut.
Saat dia menghampiri anaknya dia melihat Pak Fajar yang sedang berdiri di depan anak yang dipanggilnya Ali ini.
"Maafkan anak saya" ucap ibu ini, dia berfikir kalau Pak Fajar adalah pria pengusaha, terlihat dari penampilannya ini berjas putih lengkap dengan dasi putih juga.
"Tak perlu dipikirkan, lagi pula ini bukan sebuah sebuah masalah" ucap Pak Fajar.
Dia kembali melihat anak itu, sepertinya dia tidak asing dengan wajah anak itu, Ali.
"Ngomong-ngomong, aku seperti tidaklah asing dengan dia" tanya Pak Fajar dengan menunjuk ke anak itu.
"Oh. Ayahnya sering tampil di TV, mungkin anda seperti tidak asing dengan anakku karena suami daya sering ada disana" ucap Ibu itu yang terlihat menyombong. "Dia itu mirip sekali dengan ayahnya" imbuh dia setelah melihat ke Ali.
"Hmmm begitu" Pak Fajar menganggukkan kepalanya. "Nama ayahnya Tono, bukan?" Tanya Pak Fajar.
"Iya benar, bagaimana mana anda bisa tau?" Tanya Ibu itu.
"Umm bukankah dia sering masuk di TV" jawaban Pak Fajar. "Oke kalau begitu" imbuh Pak Fajar sebelum dia melangkah melewati mereka dan keluar dia sebuah Garasi.
Saat mereka sudah sampai di garasi, salah satu asistennya yang perempuan berbicara padanya.
"Pak 30 menit lagi rapat akan dimulai" ucap wanita itu.
"Oke. Kita akan berangkat ayo cepetan" ucap Pak Fajar setelah dia berjalan dengan cepat ke tempat mobilnya yang terparkir.
Saat dia sudah ada di depan mobilnya itu, seseorang memanggilnya dengan nada lantang.
"Fajar!!" Panggil seseorang bersuara berat. Berarti dia seorang pria.
Pak Fajar menoleh ke arah sumber suara tersebut, seorang pria berpakaian kasual sedang berdiri beberapa meter dari dirinya.
"Iya ada perlu apa?" Tanya Pak Fajar.
"Jangan pura-pura tak tau kau bedebet!!" Ucap pria itu dengan nada tetap lantang, terlihat dia sangatlah marah kepada Pak Fajar.
"Hah?" Pak Fajar tak mengerti maksud dari pria itu.
__ADS_1
Karena kesal, dia lalu menghampiri Pak Fajar, dia mengepal tangannya itu dan mengangkatnya untuk siap diluncurkan ke muka Pak Fajar.
Saat kepalan tangannya sudah dekat dengan kepala Pak Fajar, sebuah tangan langsung menahan kepalan dari pria tersebut. Salah satu Asistennya yang bertubuh kekar dan botak lah yang menahan tangan tersebut.
"Ciss, minggir kau!" Ucap Pria tersebut.
Namun, dia langsung didorong kebelakang oleh Asistennya lalu setelah itu dia melipat kedua tangan pria tersebut dan menjatuhkan ke bawah.
(Plak... plak...) Tepuk tangan Pak Fajar mengisyaratkan sesuatu.
Asisten lelaki satunya lagi pergi ke bagasi mobil dan kembali dengan sebuah kursi lipat, dia membukakan kursi tersebut dan menaruhnya dibelakang Pak Fajar. Pak Fajar lalu langsung duduk disana.
"Dasar kau jabingan Fajar!!" Teriak Pria itu ke Pak Fajar.
Namun, Pak Fajar tetaplah tenang bahkan dia duduk dengan santainya melihat Pria tersebut.
"Jadi apa masalahmu?" Tanya Pak Fajar.
"Ciss, kau masih belum tak tahu juga, hah!?" Ucap Pria tersebut.
"Tidak" ucap dengan polosnya Pak Fajar. "Aku akan tahu jika kau menceritakannya" imbuh dia.
"Hiii, kau kan yang memberikan kami misi tersebut, menyuruh kami untuk menangkap Dzarl laba-laba beberapa hari yang lalu dan ternyata kau ingin menjadikan kami sebagai santapan dia" ucap dia. Lalu dia menceritakan semuanya, penyebab dia langsung mengamuk ke dia.
Jadi, beberapa hari yang lalu Pria ini bernama Basari dan satu temannya Tono. Mereka diberikan tugas oleh Pak Fajar untuk menangkap Dzarl laba-laba, namun saat mereka sedang mencoba untuk menangkap Dzarl laba-laba sebuah kesalahan terjadi, Temannya Tono harus menjadi santapan Dzarl laba-laba tersebut, Pak Tono langsung ditarik dan diikat hingga dia terlihat seperti kepompong.
Pak Basari ini mau tak mau harus meninggalkan temannya itu, karena sudah tak mungkin dia akan selamat Jiak menyelamatkan temannya itu.
"Hahahaha" mendengar cerita Pak Basari membuat Pak Fajar tertawa. "Aku tak memaksa kalian untuk melaksanakan tugas ini, lagi pula tak ada sanksi jika kalian menolak misi ini" ucap Pak Fajar.
"Tak ada yang lucu disini" ucap dengan penuh amarah pak Basari.
"Ya ampun, bukankah kalian sendiri yang bilang kalau kalian ini sanggup, tapi buktinya kau malah menyalahkan ku atas kesalahan kalian sendiri" ucap Pak Fajar. "Kan aku hanyalah memberi kalian peluang pekerjaan bukankah begitu?" Imbuh Pak Fajar.
"Ciss, dasar kau sialan bedebet jabingan!!" Pak Basari mencoba lebas dari cengkraman lelaki kekar ini, namun dia tak bisa karena kekuatan dari Prie kekar ini jauh lebih kuat.
"Pak rapat akan dimulai 25 menit lagi, kita harus cepat" ucap asisten wanita.
"Oh iya iya, kita harus cepat" dia lalu berdiri dan kursi itu langsung diambil oleh asisten lelaki dibelakangnya. "Bob, hajar dia" imbuh dia dengan menyuruh untuk menghabisi Pak Basari.
(Bak...bak...bak...) Suara bogem mentah menimpa wajah Pak Basari.
Tak sampai satu menit, Pak Basari sudah ko, Pria kekar itu lalu bangun dan kembali ke posisi berdiri di belakang Pak Fajar.
Disana Pak Fajar mengeluarkan dompet dan mengambil sesuatu dari sana. Sebuah kartu ATM biru yang dikeluarkan oleh Pak Fajar ini, dia lalu melemparkannya ke Pak Basari.
"Ambillah" ucap Pak Fajar setelah melemparkan kartu tersebut.
Tak berselang lama dia langsung masuk kedalam mobil begitu juga dengan ketiga asistennya.
Mereka lalu menjalankan mobil, dan pergi. Disana pak Basari bangun lalu mengambil kartu tersebut. Dengan mengejutkan dia langsung mematahkan kartu itu dan menginjak-injaknya dengan keras.
"Uang tak bisa menggantikan manusia" teriak Pak Basari.
Jendela mobil dibuka, dan Pak Fajar berkata.
"Isinya seratus juga disana" ucap Pak Fajar.
Mendengar itu, Pak Basari langsung memungut potongan kartu tersebut dan mencoba untuk menyatukannya kembali.
Pak Fajar hanya tersenyum melihat itu, dia tahu bagaimanapun Pak Basari butuh uang.
Not : jadi, Pak Tono itu adalah gate Dzarl laba-laba yang ada di chapter 2 itu. Dan juga tambahan, kalau ibu dan anak yang Pak Fajar temui di lobi rumah sakit itu adalah istri dan anak si Pak Tono ini.
Thank you.
-
-
-
-
__ADS_1
-