Dzarl : After 800 Year'S

Dzarl : After 800 Year'S
Chapter 11 : Takdir untuk bertemu lagi


__ADS_3

Kembali ke alam bawah sadar Rian. Dia sedang terkejut dengan apa yang dia lihat.


" A... Apakah itu adalah masa laluku ? " Tanya Rian tak percaya.


" Ya " jawab dia.


" Umm, begitu " Rian lalu hanya mengangguk-angguk kepalanya dengan mengekspresikan mengerti.


" Tunggu, kau tidak terkejut? " Tanya laki-laki itu.


" Iya, aku terkejut " Jawab Rian dengan menoleh ke laki-laki itu.


" Tapi ekspresimu itu seperti kamu itu tak terkejut "


" Memangnya aku harus berekspresi seperti apa? " Tanya Rian.


" Sudahlah lupakan " ucap dia dengan kecewa. " Sudah kalau begitu, dadah " imbuhnya.


Laki-laki itu lalu pergi dengan melambaikan sebelah tangannya.


Setelah itu terjadi, tiba-tiba kepala Rian langsung terasa pusing, lama kelamaan penglihatannya langsung memburam.


Dia lalu tersadar dari pingsannya, saat dia melirik ke sebelahnya sudah ada seorang pria berjas sedang berdiri menghadap ke jendela.


" Akhirnya kau bangun juga, Wirianata Syarif " Ucap lelaki berjas itu sebelum dia membalikan badan.


Saat pria berjas itu membalik badan, Rian langsung terkejut.


" Bapaknya, Ray " Ucap Rian.


" Ya, itu saya " jawab pria berjas itu.


Seorang pria itu sama dengan orang yang menyuruh Aldi untuk mengirimkan jam tangan ke Rian, dia adalah CEO perusahaan H.Y Corp, Haryana Stiawan atau kita sebut Pak Haya.


Oh iya.


Jadi seperti ini. Ray atau nama panjangnya adalah Raihan Haryana, dia adalah anak dari Pak Haya CEO H.Y Corp. Makanannya Rian memanggil dia, bapaknya Ray. Begitu.


" Apa kabarmu, Yan? " Tanya Pak Haya.


" Alhamdulillah " jawab Rian yang bingung.


" Saya kemari memiliki maksud " Ucap Pak Haya.


" Umm, apa itu? "


Pak Haya lalu menarik nafasnya, lalu menghembuskannya kembali.


" Delapan ratus tahun yang lalu seorang raja iblis yang jahat nan serakah sudah menguasai lebih dari setengah bumi- " belum selesai Pak Haya berbicara, dia langsung terpotong oleh Rian.


" Suhh, Pak bosen saya udah denger ceritanya " Sela Rian.


" Oh begitu, baguslah "


" Jadi ada apa? Dan mengapa bapak bisa tau tentang itu " Tanya Rian.


" Begini, saya adalah salah satu keturunan dari salah satu pelayan dari tuan Raja iblis "


Mendengar itu Rian masih kebingungan.


" M-maksudnya gimana, ya ? "


" Begini, kalau secara sederhana. Saya, Ray, dan yang sekeluarga lainnya adalah pelayan dari tuan Raja iblis itu "


" Ohh, begitu " Rian menganggukkan kepalanya.


" Jadi bagaimana pendapatmu tentang jam tangan yang kau pakai itu? Bagus kan "


" Ohh ini, ya bagus sekali " Rian lalu melihat jam tersebut lalu mengusap-usapnya.


" Itu adalah jam serba guna. Bagaikan sistem di novel-novel yang dapat membuat si MC menjadi Op. Ini juga membuat penggunanya menjadi Over power, jam ini adalah alat untuk pemuas kebutuhan. Kau hanya perlu pikirkan saja apa yang kau inginkan. Contohnya, saat kau kesurupan itu, yang ada di benakmu adalah Katana, oleh karena itu yang keluar adalah katana yang kau pikirkan " Ucap Pak Haya menjelaskan.


" Wow, keren sekali " Ucap Rian yang terlihat tertarik dengan hal itu.


" Dan selamat kau adalah Beta tester kami ke dua, selamat "


" Kedua? Berarti sudah ada pengguna selain aku " ucap Rian. '' siapa dia? " Tambah dia menanya.


" Saya beri tahu pun kau tak akan kenal, dah pokoknya selamat " Ucap Pak Haya.


"Ah iya iya "


" Kalau begitu, katanya kau boleh pulang sekarang "


" Ma-maksudnya, memangnya sudah berapa lama aku tak sadarkan diri "


" Beberapa menit yang lalu "

__ADS_1


" Lah terus kenapa pake kata yang kayak gitu "


" Sudah jangan pedulikan hal tadi, ini dari dokter " Pak Haya lalu memberikan obat ke Rian.


" Ahhh iya terima kasih "


" Mau diantar? " Tanya Pak Haya.


" Nggak perlu Pak, makasih " Rian lalu pergi dari sana untuk pulang.


***********


Kembali ke Heru yang sedang mengendarai motor.


Tak jauh dari sana Heru lalu berhenti di depan kantor polisi, dia langsung memarkirkan motornya dan setelah itu dia masuk ke dalam.


Saat dia didalam, suasana sedang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


" Permisi, mau ada keperluan apa 'A? " Tanya seseorang dari belakangnya.


" Akarina Risa " Ucap Heru dengan menoleh kebelakangnya. Dia adalah Rendi yang sudah membeli kopi.


" Akarina Risa? Ahhh iya, mari 'A " Rendi lalu mengajak Heru ke tempat Risa.


Mereka sampai di meja Rendi, disana sudah ada Risa yang sedang duduk.


Rendi lalu duduk di bangkunya. Risa sadar kalau ada yang datang dari belakangnya, dia menoleh ke pinggir. Seorang lelaki berbaju abu dia Heru.


Namun, tak lama kemudian dia kembali ke posisi menatap ke bawah.


" Jadi begini 'A, Risa ini tertangkap kamera sedang mencuri di lab. FOUNDATION. Jadi kami interogasi dulu dia, mengapa dia harus mencuri benda tak penting baginya "


" Mana coba 'Mas liat fotonya "


Rendi lalu menyodorkan foto-foto yang tadi dia sebarkan di mejanya.


" Ini " Ucap Rendi.


Heru lalu melihat foto-foto tersebut, wajahnya terlihat sangatlah serius saat memeriksa foto.


" Bukan dia 'Mas " Ucap Heru.


" Lah kok bisa, udah jelas ini Risa " ucap Rendi.


" Jelas apanya, burik gini " Ucap Heru. " Terus nggak mirip lagi "


" Ya udah gini aja, kita tanya langsung aja ke orangnya. Risa kamu ngelakuin nggak "


Risa tak menanggapinya apapun, bahkan satu kata pun.


" Dasar bodoh, mana ada maling ngaku "


" Siapa yang kau sebut bodoh, hah! "


" Ya udah jelas lah "


" Oh gitu ya "


" Apa mau gelud, hayu lah By One " Ucap Rendi yang langsung berdiri dari bangkunya.


" Yo "


" Hayok "


Mereka lalu berantem, namun itu tak berlangsung lama setelah akhirnya Risa dibebaskan dengan tebusan.


" Risa, ni ada telpon dari tuan Raja " Heru menyerahkan ponselnya.


Risa lalu menerimanya, dan lalu menaruh ponsel ke telinga.


" Apa yang sudah kau lakukan, hah! " Suara keras langsung terdengar dari dalam ponsel.


" Maafkan saya "


" Maaf kau bilang... jika semua masalah bisa hilang dengan maaf aku pasti langsung memaafkanmu " Suaranya sangatlah keras bahkan itu seperti mendengarkan musik nu metal dengan volume full.


" Sudah berapa kali kau membuat masalah yang merugikan ku!! "


" Aku minta maaf " hanya itu yang terus dilontarkan dari Risa ke tuan Raja itu.


Dia terus menyalahkan semua masalah ke Risa, bahkan masalah kecil sekalipun.


Berjam-jam Risa di marahi olehnya. Hingga sebuah air mata mengalir di pipi Risa.


" Ya ampun " Heru lalu langsung mengambil ponselnya lalu, dia mematikan daya.


" Dasar cerewet, dia seperti perempuan saja " Heru lalu melirik ke arah Risa.

__ADS_1


Disana Risa sudah mengeluarkan air mata yang cukup banyak.


" Hmmm baiklah, aku duluan " Heru lalu meninggalkan dia.


***********


Beberapa jam setelah itu...


Hujan turun, orang-orang lalu membuka payung mereka, beberapa orang berlarian kesana-kemari untuk mencari perlindungan dari hujan.


" Hahhh sudah diduga oleh ramalan cuaca, pasti hujan di malam hari " Ucap Rian sesudah dia membuka payungnya.


Dia kini sedang berada di trotoar jalan, dia juga memakai jaket hitam, di tangannya terdapat kantong kresek, di telinganya terdapat earphone bluetooth putih.


Dia berjalan dengan santainya menikmati hujan yang menghantam tanah.


Langkahnya terhenti saat dia melihat seseorang sedang berdiri kehujanan di bawah tiang rambu lalu lintas.


Seorang gadis basah kuyup oleh hujan yang turun kepadanya. Dia adalah Risa yang sedang kehujanan.


Melihat itu Rian lalu menghampiri Risa dan memayunginya.


Dari sisi Risa, tiba-tiba air tidak jatuh tubuh Risa lagi, seolah ada yang melindungi dirinya dari hujan.


Diapun menengok keatas, di atasnya sudah ada payung biru gelap siap melindunginya dari tetesan hujan.


Setelah itu dia menengok ke pinggir, sudah ada Rian yang memegangi payung itu.


" Hai, kita bertemu lagi " Ucap Rian dengan tersenyum.


" Rian? "


" Ya itu namaku " ucap dia.


Rian lalu mencabut salah satu earphone-nya, lalu memasangkan ke telinga Risa.


" Hhh? "


" Kau nampak sedang sedih, katanya kalau kita sedang mood jelek, musik adalah salah satu solusi untuk menenangkan pikiran " Ucap Rian.


Mereka lalu mendengarkan musik bersama, mereka saling terdiam menikmati musik.


" Hey, ini adalah musik kesukaanku " Ucap Rian. " Judulnya itu... Eee "


" Kiseki, dari Green " Ucap Risa.


" Nah itu, tunggu kau tau lagu ini? " Ucap Rian yang kaget karena Risa mengetahui juga lagu ini.


" Ya, begitulah aku juga sering mendengar lagu ini " gumam Risa dengan suara kecil dan lembut.


(Buat yang nggak tau lagu apa itu, silahkan cari di google.)


" Ohh begitu " Rian hanya menganggukkan kepalanya. " Ini " imbuhnya dengan menyerahkan kantong kresek, menyuruhnya untuk memegangi itu.


Rian melepas jaketnya dan memakaikannya ke Risa.


" Kenapa? " Risa terkaget dengan apa yang Rian lakukan.


" Kau terlihat keinginan " Ucap Rian. Dia lalu mengambil kembali kresek tersebut dan menyodorkan payung.


" Ini " Ucap Rian dengan menyerahkan payung. " Tak perlu kau kembalikan " imbuhnya dengan langsung berlari menyebrang jalan.


" Tunggu, Risa! " Ucap Risa.


" Iya? " Rian lalu menoleh ke belakang.


" Akarina Risa, itu namaku. Bukankah aku belum sempat memperkenalkan diri tadi sore " Ucap Risa.


" Ahhh iya, salam kenal. Aku pasti akan mengingat namamu " ucap Rian.


" Apakah kita akan bertemu lagi? " Tanya Risa.


" Entahlah, aku pun tak tahu. Tapi, walaupun kita saling berjauhan jaraknya, jika kita ditakdirkan untuk bertemu lagi, ya itu pasti akan terjadi " ucap Rian. Setelah mengatakan itu, Rian lalu pergi berlari menghindari air hujan.


Rian sudah jauh tak terlihat oleh penglihatan Risa. Disana Risa tersenyum mendengar apa yang dikatakan Rian tadi.


" Hmmm, apaan tuh " gumam Risa dengan tersenyum mendengar apa yang Rian katakan. Pipinya memerah saat mengingat hal tadi, seakan itu adalah hal yang penting, Risa tak ingin melupakan hal itu tadi.


-


-


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2