
Aldi kini sudah benar-benar sekarat. Jangankan berdiri, jari-jarinya saja sudah mati rasa karena sudah patah.
" Aku heran, kenapa manusia seperti kalian mau mengambil pekerjaan yang taruhannya nyawa. " Ucap Pak Supir. Dia sedang melangkah menghampiri mobil taksi nya. Saat sudah ada di sana dia seperti mengambil sesuatu. "Sungguh konyol." tambah dia.
" Alasanku mengambil pekerjaan ini adalah.... Sebab kalian! " Ucap Aldi yang kini hanya bisa melontarkan kata walaupun lirih. "Kau kata ini adalah hal konyol?! Itu karena kalian tak pernah menjadi manusia." tambah dia.
" Kalian tak pernah tahu apa artinya kehilangan. Menghabisi manusia dengan mudahnya, kalian adalah monster di dunia ini!!" Ucap Aldi.
" Hah ? " Sambil mengelap tangannya yang terkena darah dengan lap yang tadi dia ambil di mobil, dia menoleh ke Aldi tak paham maksudnya.
" Ingatkah, kalian telah menghabisi teman-temanku!? Panti asuhan MERAK PUTIH, kalian ingat!! Setelah hal itu, yang terjadi padaku adalah kesepian dan kesedihan selalu mengitari diriku! " ucap Aldi.
Pak Supri menghampiri Aldi, terlihat dia kesal mendengar ocehan dia. Dia langsung menjambak rambut Aldi dan menariknya.
"Kau pikir hanya manusia yang merasa kehilangan karena mereka dimangsa oleh kami. Kalau begitu, bagaimana dengan Dzarl tak bersalah yang harus dibunuh oleh kalian?!" Tanya dia dengan menjambak rambut Aldi.
" Aku tak paham maksudmu, menurutku manusia lah monster sebenarnya. " setelah menjambak rambut Aldi, dia melepaskannya.
Pak Supri kembali mengubah tangannya menjadi runcing, tetapi kini kedua tangannya. Dia mundur beberapa langkah dari Aldi.
Dengan menunjukan urat-urat lehernya dia berlari sambil berteriak menghampiri Aldi. Disana Aldi sudah pasrah, menerima takdirnya yang akan mati beberapa detik lagi.
Saat Pak Supri sudah dekat jaraknya dengan Aldi, Aldi hanya bisa menutup matanya untuk menerima ajalnya.
Sudah sekitar sepuluh detik lebih. Namun, tak terjadi apa-apa padanya. Aldi pun memberanikan dirinya untuk membuka mata.
Saat dia buka matanya, dia melihat kaki seseorang didepannya. Diapun mencoba untuk melihat keatas, seorang lelaki berbaju abu, dengan celana hitam sedang menahan serangan dari Pak Supri dengan mencengkram menggunakan tangan kosong.
" Kau...? " Aldi seperti pernah melihatnya. Dia mencoba melihat wajah lelaki itu, namun tak bisa karena orang itu berada di balik cahaya.
" Ayolah kita sudah bertemu sebelumnya." Ucap Heru dengan melirik ke arah Aldi.
Dia lalu menendang Pak Supri dengan sebelah kakinya, itu membuat Pak Supri terdorong mundur namun tak jauh.
" Dasar kau! " Pak Supri berlari menghampiri Heru.
Heru tetaplah tenang, dia hanya menghindari serangan tersebut, tak berhenti disana Pak Supri kembali menyerangnya dengan cepat, namun Heru hanya cukup menghindarinya saja.
"Aklarasi berat." bertepatan dengan ucapannya itu dia menjentikkan jari dan menyentuh punggung Pak Supri, tiba-tiba badan Pak Supri kaku tak bergerak, tidak lebih tepatnya melambat.
Setelah itu Heru membalikan badannya ke Aldi, disana Aldi baru sadar kalau dia adalah Heru.
"Heru..." Ucap Aldi.
Heru tersenyum mendengar itu, seolah dia menemukan hal lucu disini.
"Ya itu namaku." balas Heru. Dia lalu jongkok di depan wajah Aldi. " Setelah apa yang mereka perbuat dimasa lalu, apakah kau akan tetap menjadi selemah ini... " tambah Heru.
Aldi yang mendengar ucapan Heru, dia langsung teringat masa lalunya. Semua temannya sudah dibantai oleh Dzarl yang jahat.
" Apa keinginanmu... " Tanya Heru.
" Aku... " Dia terus mengingat semua hal yang terjadi pada masa lalu. Kecewa, kesal, kesepian, kaget, takut semua tercampur dalam sebuah satu emosi.
" Kudengar kau adalah satu-satunya korban yang selamat dari pembantaian di panti asuhan MERAK PUTIH. Bagaimana, apa kau akan tetap diam saja atau kau ingin melawan untuk membalaskan semua rasa emosimu? " Tanya Heru dengan mencoba memanasi Aldi. " Lalu untuk apa tujuanmu untuk masuk organisasi PaPDI? " Tambah dia.
" Tujuanku masuk organisasi ini ? " Aldi terus mengingat apa yang terjadi dimasa lalunya, dan dia juga mencari tahu alasan mengapa dia masuk ke PaPDI.
Alasan Aldi masuk ke organisasi PaPDI adalah, dia ingin membalaskan dendam kepada Dzarl yang membunuh semua temannya tiga belas tahun yang lalu.
__ADS_1
" Tujuanku memasuki Organisasi PaPDI adalah untuk membalaskan dendam mereka dan juga apa yang aku inginkan adalah.... " Aldi berhenti sejenak untuk mengambil nafas mencoba menyakinkan diri sendiri.
" MEMILIKI KEKUATAN UNTUK MEMBASMI SEMUA DZARL DI DUNIA INI !!! " ucapnya dengan nada lantang.
" Menarik." Heru pun tersenyum, dia juga mengorek sakunya, setelah itu dia mengeluarkan sebuah satu bulu merak dari sakunya itu. " Ini untukmu. Ingatlah balas dendam bukanlah cara untuk membalaskan sesuatu. " setelah Heru mengucapkan itu dia memberikan Aldi sebuah bulu merak tersebut.
Tanpa mendengarkan perkataan yang terakhir dari Heru, Aldi langsung mengambil bulu merak itu dari tangan Heru, walaupun jari tangannya sudah patah, dia tetap memaksakan meraih bulu merak tersebut. Saat dia mengambil bulu merak itu.
Tiba-tiba bulu itu berubah menjadi sebuah serpihan cahaya kuning yang langsung mengitari Aldi.
Disana penampilan Aldi yang sudah bonyok berdarah-darah dengan jari-jari tangan yang patah, menjadi sembuh hilang, luka luka menjadi bersih dan kembali sehat, hal yang paling aneh adalah, sebuah jubah terbuat dengan sendirinya Langsung sudah dikenakan oleh Aldi.
Jubah itu memiliki motif batik merak hijau dengan sebuah dedaunan yang sebagai percantik motif, panjang jubah itu menutupi dari pundak hingga lutut Aldi, batik itu juga memiliki beberapa tulisan aksara Sansekerta.
Sungguh itu benar-benar sangatlah indah dan jubah itu juga menjadi pendukung penampilan Aldi menjadi lebih keren.
Tak hanya itu, sebuah pedang muncul didepan Aldi. Pedang itu memiliki sebuah ukiran merak di bagian samping besi pedang, bagian pembatas antara besi dengan gagang memiliki bentuk merak yang bagian buntutnya menjadi gagang pedang tersebut.
" Apa ini? " Tanya Aldi dengan melihat dirinya yang sudah memakai sebuah jubah lengkap dengan satu pedang.
" Kekuatan sebenarnya dari dirimu. " Jawab Heru yang sambil berdiri ke hadapan Aldi.
" Ke–kekuatan? " Aldi kebingungan
" Ya, setiap makhluk memiliki sebuah kekuatan besar yang terpenjara dalam tubuh mereka masing-masing, dan inilah kekuatan sebenarnya dirimu. " ucap penjelasan dari Heru.
" Hah? "
" Dengan kekuatan ini aku yakin kau dapat mencapai keinginanmu untuk membasmi para Dzarl. "
Mendengar itu diapun membulatkan tekadnya. Melihat Aldi yang sudah bersemangat, Heru menghampiri Pak Supri, disana dia langsung menendang perut Pak Supri hingga dia tersungkur ke belakang.
Pak Supri kembali dapat bergerak semula, karena badannya yang ditendang hingga dia tersungkur ke belakang dan juga kondisinya masih tak bertenaga, membuat dia tak memperhatikan sekitarnya.
Dengan memanfaatkan saat itu, dari sana Aldi langsung menyerang dengan sebuah tebasan ke arah Pak Supri. Membuat dia terlempar ke belakang dan menabrak langit-langit terowongan.
Tanpa ampun Aldi menyerang Pak Supri, disana Pak Supri tak memiliki kesempatan untuk membalas serangan Aldi.
Tak seperti sebelumnya, kini Aldi sudah berkali-kali lipat hebatnya dari pada yang sebelumnya. Mungkin karena dia sudah memiliki tekad yang lebih bulat.
" Aaakkkkhhhhhh!!! " hingga akhirnya Pak Supri sudah tidak tahan lagi dengan semua serangannya Aldi.
Perutnya sudah tekena serangan pedang hingga dia terjatuh tak berdaya dengan semua darah goresan atau tusukan ditubuhnya. Setelah dia terjatuh, dia mencoba untuk kabur dengan merangkak.
Usahanya untuk kabur sia-sia, dengan Aldi yang sudah ada dipinggir Pak Supri, dia langsung menusukan pedangnya tepat dibagian bawah leher Pak Supri. Tak hanya satu kali dia menusukkan pedang ke Pak Supri, berkali-kali dia terus menusuk dengan pedangnya.
[ Srruuukkkk....srruuukkkk.... ] Suara tusukan yang berkali-kali menghantam Pak Supri.
Hingga akhirnya.
" AAAKKKKHHHHHH!!! " terisak Pak Supri kesakitan hingga akhirnya dia tewas ditempat. Darah mengalir dari luka tusukan yang dihasilkan Aldi.
Disana Heru hanya tersenyum puas dengan apa yang sudah terjadi. Heru tidak pergi dia hanya menjauh dari arena pembunuhan. Ya, ini memanglah lokasi pembunuhan, tepatnya adalah Aldi yang berhasil menghabisi Pak Supri.
Beberapa saat kemudian Sebuah sirine terdengar di terowongan. Benar, beberapa mobil box datang dan berhenti di dekat mobil taksi yang sudah rusak. Disana Heru langsung pergi.
Saat mereka turun, semua dikagetkan dengan Aldi yang sudah berada di atas mayat Pak Supri.
Pakaiannya kembali ke sebuah jas hitam yang sudah banyak lusuh sobek, darah dari hasil pukulan linggis ke kepala Aldi kembali muncul, beberapa lecet kembali, Kini Aldi sudah kembali berpenampilan kotor.
__ADS_1
Seperti sebuah ilusi, bahkan Aldi tak mengerti kenapa tiba-tiba dia kembali ke penampilan sebelumnya.
#
Setelah beberapa saat, semua sudah diurus oleh tim yang ada disana, mayat Pak Supri dibawa ke ambulans, mobil taksi diderek oleh mobil derek dan pergi, disana Aldi sudah diobati luka-lukanya.
" Hai Aldi, kita bertemu lagi." seseorang menghampirinya, dia adalah Pak Fajar.
" Hai juga Pak. " jawab Aldi dengan menunduk.
" Berikan tanganmu." Pak Fajar langsung menarik tangan Aldi dan melihat jam pemberiannya itu, setelah itu dia memeriksa sesuatu dengan mengotak-atiknya.
" Oke, jadi begitu 'ya. " Pak Fajar Kembali keposisinya yang berdiri lalu pergi.
" Heh? " Dia masih bingung apa yang sebenarnya tadi Pak Fajar lakukan.
" Baiklah... " Aldi lalu mengodok saku celananya.
Tak lama kemudian dia mengodok saku baju sebelahnya, lalu mengodok saku celananya, wajahnya Langsung kaget dan mencoba meraba-raba bajunya, dia sepertinya sedang mencari sesuatu yang tadi dia simpan di sakunya.
" Mencari apa? " Tanya Nia yang menghampirinya.
" Kunci motorku. " Aldi sambil mencari-cari ke bawah.
" Mungkin masih ada di mobil. " ucap Nia, maksudnya taksi.
Dia terus mencari di daerah sekitarnya, di setiap tempat yang dia ingat merabanya.
Tak berselang lama, akhirnya dia menemukan kunci motornya tergeletak diatas aspal, karena cahaya yang gelap, membuat kunci itu terlihat menyerupai seperti batu jalanan.
Dia langsung mengambil kuncinya itu, tak jauh dari sana, terlihat sebuah persegi kecil berwarna hitam.
Karena penasaran, Aldi mengambilnya. Ternyata itu adalah sebuah buku catatan kecil entah milik siapa, atau mungkin itu terjatuh tak sengaja.
Karena dia ingin tahu itu milik siapa, Aldi lalu membuka halaman pertama buku itu. Tertulis nama, " Rikka Anisa ".
Setelah itu dia membuka halaman selanjutnya lalu membaca buku itu. Wajahnya langsung menunjukan perasaan tersentuh. Apa isi dari buku itu, tentu saja itu masih misteri.
-
-
-
-
-
∆\=\=\=∆
Mohon maaf jika ceritanya terlalu rumit, sulit dimengerti atau juga nggak jelas.
Mohon maaf juga jika ada banyak kekurangan.
Jika ada penulisan yang typo mohon maklum.
Jan lupa like jempolnya, share bagikan, tinggalkan komentar anda dan kalau bisa vote serta jadikan favorit.
Follow juga.
__ADS_1
Ya.
Terimakasih banyak.