Dzarl : After 800 Year'S

Dzarl : After 800 Year'S
Chapter 18 : Sebelum terjadi.


__ADS_3

Tiga jam sebelum kejadian. Jam. 17.26.


Dirumah Aldi. dia sedang menggolerkan diri diatas sopa coklat berukuran dua orang. Dia sedang menonton acara televisi, dengan sesekali mengambil kripik dari kaleng di atas meja depan sopa tersebut.


Wajahnya terlihat masam, sesekali dia menghela nafas. Selain acara televisi yang terlihat seperti reality show yang kurang menarik dan membosankan dengan candaan garing.


Sesekali dia melihat sudah jam berapa sekarang, lewat Jam pemberian dari Pak Fajar yang ia pakai di tangan kirinya.


Sepertinya sudah terjadi sesuatu padanya beberapa hari lalu yang membuat dia menjadi seperti saat ini. Wajah masam dan juga kemageran untuk kesana-kemari.


[Drrrreeet.......Drrreeett...] Deringan ponsel Aldi yang berada dibawah meja depannya.


Mendengar itu, Aldi meraba-raba sekitaran bawah meja. Setelah dia mendapatkan ponselnya, ia langsung melihat layar ponsel dengan ingin tahu siapa yang menelponnya.


Tertulis nama ' Komandan Sandy' di layar ponsel itu.


Melihat nama itu Aldi langsung buru-buru bangun duduk, dan merapikan posisinya. Setelah itu dia langsung menekan tombol ikon hijau dan menempelkan hpnya di telinga.


" Assalamualaikum, iya Pak! "


[ Waalaikumsalam, Di. Kamu nanti ba'da Maghrib pergi ke kantor, ada sesuatu yang harus diomongin. ]


" Tapi... " Belum selesai dia berkata, Pak Sandi langsung menyelanya.


[ Ada apa ? ] Ucap Pak. Sandi dengan nada tegasnya walau ucapannya adalah tanyaan. [ Sudahlah datanglah kesini, Laksanakan. ]


" Siap Pak ! "


[ Kamu 'lah...make nanya siapa. ]


" ? " Tanggapan Aldi yang tak paham.


Not : 1. Ba'da artinya sesudah, jadi ba'da maghrib adalah sesudah maghrib.



Kata "Siapa" dan "Siap pak" memiliki pengucapan yang sama. Jadi yang Pak Sandi ucapakan tadi adalah lawakan. Namun, Aldi yang tak paham maksudnya membuat lawakan itu menjadi garing ( walaupun itu memang sudah garing )



#


Sesudah maghrib.


Aldi pun pergi ke kantor dengan motor Vario merahnya. Suasana jalan sudah sepi, hanya ada tiga mobil (mobil kol buntung, dan dua mobil xenia putih), beberapa orang sedang berjalan di trotoar, baju yang mereka kenakan adalah baju koko yang berarti mereka pulang dari shalat di masjid.


Setelah beberapa menit, Aldi pun sampai di sebrang depan gerbang kantor pusat.


Disana, Aldi sudah melihat Pak sandi sedang ada didepan pos penjaga gerbang duduk sambil mengobrol dengan satpam yang berada didepannya, didepan mereka juga ada dua gelas kopi dan juga bungkus rokok dan masing-masing memegang rokok yang sedang mereka hisap.


Pak satpam yang melihat Aldi sudah berada di sebrang jalan, menyadari itu ia langsung memberi tahu Pak Sandi. Pak Sandi lalu menoleh ke belakang ke arah Aldi.


Setelah Pak Sandi menoleh ke arahnya, Aldi langsung menyebrang dengan motornya itu ke arah masuk gerbang.


" Yo, Aldi. " sapa Pak Sandi.

__ADS_1


" Assalamualaikum Pak. " setelah melepas helmnya Aldi langsung salam ke-kedua orang tersebut, dengan sedikit membungkukkan badan dan tersenyum ke arah mereka.


" Gimana kabar kamu setelah cuti kan satu minggu? " tanya Pak Sandi menghampirinya.


" Nggak enak pak? " ucap Aldi, sebenarnya hal yang membuatnya menjadi bosan tadi adalah, dia cuti karena kejadian beberapa hari yang lalu.


" Ini. " Pak Sandi menyerahkan lembaran kertas yang sudah di stempel.


" Apa ini Pak. " Ucap Aldi, dengan menerima lembaran kertas itu.


" Ini tugas kamu."


" Tugas, tugas apa ? " Kebingungan Aldi.


" Kau tak akan tetap diam diposisi ini 'kan, kamu paati mau naik pangkat ! "


" Ahhh 'iya. " Ucap Aldi yang langsung Ingat dengan ajuan untuk naik pangkatnya.


" Jika kamu bisa bisa menyelesaikan tugas ini, kau akan naik pangkat. Jadi mau nggak ? "


" Tugas pribadi ya, aku lupa kalau naik pangkat itu harus menyelesaikan tugas dulu. " Aldi lalu berfikir sejenak.


" Jadi mau nggak !? " Ucap Pak Sandi. " Kita juga sedang bekerjasama dengan polisi dalam kasus ini, Jadi mungkin akan mudah kamu untuk dipromosikan. " tambah Pak Sandi.


" Ahhh, iya-iya mau. " Aldi menganggukkan kepalanya. Setelah itu pun ia langsung membuka dan membaca-baca tulisan di lembaran itu.


Saat dia melihat uang bayarannya dia langsung terkejut dengan nominalnya. " Ini serius 10.000.000 cuma buat hal ini ? " Tanya Aldi.


" Justru ini kecil ukurannya, biasanya kalau kasusnya lagi viral jadi lebih besar bayarannya, tugas kamu adalah mendapatkan informasi dari semua orang-orang yang kemungkinan terlibat atau menyaksikan kejadian itu. "


Setelah mendengar penjelasan itu, Aldi lanjut membacanya.


" Kenapa ? "


" Kan tahap awal kau harus naik taksi, salah satu supir kemungkinan adalah saksi penghabisan nyawa itu. " ucap Pak Sandi.


Setelah itu Aldi memasukan motornya kedalam. Dia langsung memulai kasus pertamanya dengan antusias, ia langsung berjalan ke lokasi yang direncanakan.


#


Saat dijalan dia melorak-lirik ke kanan dan kiri. Karena dia sedang berjalan di sebuah bendungan Jatiluhur, Purwakarta. Atau kini berubah menjadi bendungan AGHARTA.


Sebuah bendungan yang terkenal di Agartha City.


Pemandangan disana sangatlah indah dengan angin malam sepoi-sepoi, dia seperti menikmati jalan kakinya itu.


Dia terus berjalan dengan mata tertutup, hingga tak sengaja dia bertabrakan dengan orang yang berada didepannya.


Orang itu sedang membawa dua eskrim di kedua tangannya, satu eskrim tak sengaja mengenai dan mengotori baju orang itu.


Dari penampilannya tak asing, orang yang seumuran dengan Aldi, memakai baju abu polos dan celana panjang hitam. Dia adalah Heru.


Kali ini dia sedang membawa es krim pada saat malam hari. Wow...sungguh aneh.


" Ehhh, Maaf 'A. " ucap Aldi meminta maaf. "Kau..." Saat Aldi melihat wajah dari orang itu dia langsung teringat beberapa hari yang lalu di rumah sakit.

__ADS_1


" Ck, tak apa, ini bukan masalah. Ini untukmu. " Heru memberikan satu lagi eskrim nya ke Aldi. Dengan kebingungan dia malah menerimanya.


" Namaku Heru, salam kenal. "


Setelah itu, Heru pergi lagi meninggalkan Aldi.


" ... Namaku Aldi, salam kenal juga! " Teriak Aldi setelah beberapa saat dia terdiam, dia pun berteriak karena Heru sudah cukup jauh.


Diikuti oleh dia, setelah melihat Heru yang pergi begitu saja diapun ikut pergi.


Saat Aldi sudah berjalan cukup jauh dari sana, langkah Heru berhenti dan dia menoleh kebelakang. Dia lalu tersenyum melihat Aldi yang sedang berjalan dari arah sebaliknya.


"Selamat kembali, Pahlawan." ucap Heru sembari melihat Aldi.


Dia lalu melangkah ke pagar batas trotoar dan bersandar di sana sambil menikmati pemandangan kota Agharta City sembari menjilati es krim.


"Mmm, Vanila aku menyukainya." ucap Heru setelah menjilati es krim tersebut.


"Tak sangka setelah kematian mu, kau menjadi seorang laki-laki naif. "ucap Heru berbicara sendiri. "Tapi..." Tambahnya dengan tersenyum dahulu.


"Aku yakin dia adalah orang yang mirip denganmu"


(Kring... kring...) Bunyi suara ponsel milik Heru.


Heru lalu meraih ponselnya yang berada di dalam saku celana, dia melihat ponselnya dan tertulis nama Ghanifah atau kita sering menyebutnya tuan raja.


"Yo. Tuan" sapa Heru.


"Aku harus ikut berpartisipasi untuk apa?" Tanya Heru. "Ya. Baiklah, acaranya seminggu lagi kan!?" Imbuh dia.


"Ya. Yaudah" Heru lalu menutup panggilan.


Dia lalu kembali melihat bendungan AGHARTA Purwakarta yang indah dengan lampu-lampu yang terpasang beberapa sudut bendungan itu.


-


-


-


-


-


∆\=\=\=∆


Mohon maaf jika ceritanya terlalu rumit, sulit dimengerti atau juga nggak jelas.


Mohon maaf juga jika ada banyak kekurangan.


Jika ada penulisan yang typo mohon maklum.


Jan lupa like jempolnya, share bagikan, tinggalkan komentar anda dan kalau bisa vote serta jadikan favorit.


Follow juga.

__ADS_1


Ya.


Terimakasih banyak.


__ADS_2