Dzarl : After 800 Year'S

Dzarl : After 800 Year'S
Chapter 12 : Demam


__ADS_3

" Huuuaaaccchhhuuu "


Keesokan harinya Rian demam. Hidungnya meler, matanya merah, badan panas dingin.


Dia terus terbaring di kasur, tadi pagi dia sudah minum obat dan mengukur suhunya.


Semua ini terjadi kerena Rian memberikan payung kepada seorang gadis yang kehujanan kemarin malam.


( Tingtung... Tingtung... ) Suara bel yang ditekan depan pintu rumah Rian.


" Siapa? " Suara Rian sengaja di keraskan.


Namun, tak ada jawaban yang menyahutnya. Walaupun sedikit malas, namun Rian harus bangun untuk mengecek siapa yang ada didepan pintu.


Dia lalu mencoba untuk bangun dari tempat tidur dan mencoba berdiri, setelah itu dia menyeret tubuhnya dengan badan di sandarkan ditembok. Dia terus menyeret badannya mencoba untuk pergi kedepan pintu.


Setelah beberapa saat, dengan susah payah akhirnya dia pun sampai di depan pintu.


" Ayah kan punya kunci sendiri, kenapa harus dibukain, sih pintunya " ucap Rian dengan memutarkan gagang pintu dan membukanya, dia mengira kalau itu adalah ayahnya.


Setelah pintu itu dibuka, Rian langsung terkejut dengan apa yang dia lihat didepannya.


Seluruh badannya langsung kaku, matanya yang membesar terus melihat objek yang berada didepannya itu, seolah tak percaya.


Seorang gadis cantik, rambut hitam panjang, Hoodie hitam, dan rok mini biru gelap dipadukan celana ketat hitam.


Seorang gadis yang kemarin malam Rian berikan payung kepadanya.


Dia, Akarina Risa.


***********


2 Minggu yang lalu.


" Ini formulirnya saya sudah melengkapi semua " Serah sebuah formulir dari Risa ke seorang pria berjas ala kantoran.


Pria itu menerima kertas dan membuka, melihat-lihat tulisan tangan yang sudah dijawab.


Pria yang berada di depan Risa itu memakai kemeja biru gelap dipadukan jas hitam dan juga celana panjang hitam. Pria itu memiliki kisaran usia pengawalan 40 tahun-an.


" Oh, baiklah. " Pria itu lalu memasukan kesebuah map berwarna krem.


" Ngomong-ngomong, Kau tau gaji untuk guru privat ? " Tambahnya sekaligus menanya.


" Di tahun 2016, Sekitar 5 juta/bulan " Jawab Risa.


" Aku akan membayarmu 2 kali lipat dari itu"


" Apa!? " Risa langsung Terkaget dengan hal itu, dia tak percaya jika dia akan dibayar sebanyak itu.


" Tapi dengan syarat " Ucap Pria itu dengan serius.


" Apa syaratnya " Risa lalu menanggapinya dengan serius.


" Kau harus ajari dia hingga dia mendapat peringkat nomor satu di kelas tidak tapi di sekolahnya "


" Baik, saya paham " jawab Risa.


Pria itu lalu memberikan foto dan nilai rapot Rian. Pria berjas itu sebenarnya adalah Ayah Rian, dia sedang merekrut Risa menjadi guru privat baru Rian.


Sebenarnya dua Minggu yang lalu, Ayah Rian memanggil Risa untuk mengajari Rian agar dia menjadi peringkat nomor satu disekolahnya.


Ayah Rian mendengar kalau Risa adalah murid berprestasi, dia selalu mendapat peringkat nomor satu di sekolahnya, dari nilai akademik dan non-akademik. Dia juga memiliki pekerjaan sampingan yaitu guru privat


Setelah itupun Ayah Rian berencana menjadikan Risa sebagai guru privat Rian. Agar mungkin dapat membuat Rian menjadi lebih akrab dan lebih mudah belajarnya.


*****


" Hai, kita... bertemu... lagi " ucap Risa gugup dengan mendongak kearah Rian.


" Oh, iya begitu... " Ucap Rian datar, walau dia terkaget. " Ayo silahkan masuk " tambahnya dengan nada yang lemas karena kondisi yang demam.


Dia lalu membukakan pintu dengan lebar, menyuruh Risa untuk masuk.


" Kau baik-baik saja? " Tanya Risa dari belakang.


" Ya " Ucap Rian. " Ngomong-ngomong untuk apa kau kesini? Kan sudah kubilang tak perlu mengembalikan payungku " imbuhnya.


" Bukan begitu, tapi... " Risa mencoba meyakinkan dirinya. " Aku adalah guru privat barumu " tambahnya dengan yakin.


Mendengar itu Rian terkaget dan tercengang, dia menjadi guru privat baru untuk dirinya. Apakah mungkin hal itu bisa terjadi. Bahkan sejauh aku membaca novel, aku belum menemukan hal seperti ini.


Sementara itu penglihatan Rian mulai kabur dan lama kelamaan dia hanya melihat warna hitam yang ada di penglihatannya.

__ADS_1


Kemudian dia terbangun lagi di latar putih kembali.


" Hah? Tempat ini lagi " ucap Rian yang terbangun di posisi sedang terbaring di lantainya.


" Entah mengapa kita akan bertemu lagi Rian " ucap lelaki berjubah hitam itu lagi.


" Lah, terus kenapa akau ada disini? " Tanya Rian. " Dan kenapa rasa panas dingin ku hilang disini " imbuhnya dengan menggerakkan badannya.


" Sudah kubilang aku pun tidak tahu " ucap lelaki berjubah putih itu. " Oh iya, aku punya satu pertanyaan " imbuhnya.


" Apa itu? "


" Mengapa kau tidak terkejut dengan kenyataan takdir dirimu? "


" Aku terkejut "


" Ya sih, tapi nggak... Nggak terkejut banget gitu, Kenapa? "


" Nggak yakin 'sih, tapi aku kayaknya nggak asing gitu sama cerita itu "


" Wajar sih, karena kamu mungkin pernah mendengar tentang cerita ini dari ingatanku"


" Apa? "


" Ah tidak jadi "


" Kalau begitu yasudah " ucap Rian.


Setelah dia mengatakan itu, tiba-tiba tempat berlatarkan putih itu berubah.


Matanya langsung terbuka. Dia langsung disuguhkan atap putih dan dia sudah ada di kamarnya terbaring di kasur.


" Kau sudah bangun " ucap Risa dengan suara yang dikecilkan karena masih malu.


" Hah? " Dia langsung melirik ke arah Risa dengan kebingungan. " Jadi itu bukan mimpi " gumam Rian.


" Aku membuatkan bubur untukmu " ucap Risa. " Yang aku pikirkan hanyalah membuat bubur jika ada orang sakit " imbuhnya dengan wajah menunduk.


" Ahhh, terimakasih tidak usah repot-repot " jawab Rian dengan lemas. " Baiklah ayo kita mulai belajarnya " Imbuh Rian dengan mencoba bangun dari kasur. Walau dia masih tak percaya, tapi dia mencoba untuk percaya.


" Kau tak usah memaksakan diri " Ucap Risa.


" Tak apa, kau sudah jauh-jauh kesini, kan? " Ucap Rian.


" Maaf "terlihat wajah Risa yang memperlihatkan menyesal.


" Karena kau memberikan payung padaku, oleh karena itu kau sakit "


" Hah? Sudahlah tak perlu pikirkan itu " ucap Rian terkekeh.


" Apa kau menyesal? " Tanya Risa.


" Ya, memang terlihat bohong, tapi sungguh aku tidak menyesalinya " jawab Rian.


Risa sedikit tak enak kepada Rian, gara-gara Rian memberikan payung padanya, Rian menjadi sakit karenanya.


" Apa kau mau kuambilkan bubur? " Tanya Risa.


" Ahhh, terimakasih "


Risa lalu pergi, tak lama kemudian dia kembali dengan membawa mangkuk berisikan bubur.


" Terimakasih " Ucap Rian yang mencoba meraih mangkuk itu.


Namun, Risa tak memberikannya, dia malah berjalan hingga dia duduk di kasur samping Rian berada.


Risa lalu mengaduk-aduk bubur dengan sendok dan setelah dia mengambil sesendok bubur, dia meniup bubur itu. Saat itu pipi Risa mulai memerah.


" Buka mulutmu " ucap Risa malu-malu.


" Hah? Aub" satu sendok bubur masuk ke mulut Rian. Padahal dia belum siap.


" A-apa itu rasanya enak? "


" Rasanya aneh " jawab Rian sebelum menelan bubur di mulutnya.


" Tentu saja, aku tak pintar dalam memasak " ucap Risa yang kembali mengaduk bubur.


" Ummm " Rian menganggukkan kepalanya.


' tidak maksudku adalah, rasanya aneh padahal ini hanyalah bubur biasa tetapi rasanya ada sesuatu hal istimewa didalamnya ' ucap dalam hati Rian.


" Ngomong-ngomong, kau benar seorang guru privat? " Tanya Rian.

__ADS_1


" Ya. Memangnya kenapa?" Tanya balik ke Rian.


" Sepertinya kita seumuran, berapa usiamu? " Tanya Rian.


" Tahun ini 15 " jawab Risa.


" Wah, memang benar kita seumuran " ucap Rian. " Tapi mengapa kau bisa menjadi seorang guru? " imbuhnya dengan heran.


" Aku memiliki sertifikat prestasi, begitu saja "


" Oh begitu, hebat sekali kamu " Ucap Rian. " Pasti orang tuamu bangga denganmu " imbuhnya.


Saat mendengar kata orang tua, disana wajah Risa berubah menjadi terlihat sedih.


" Kenapa? "


" Orang tuaku sudah lama tiada " ucap Risa.


" Hmmm, maaf mengatakan itu "


" Umm, tidak apa " Ucap Risa menggelengkan kepalanya.


" Baiklah, pindah ke topik lain " Ucap Rian. " Ngomong-ngomong bukankah kemarin aku melihat rambutmu itu berwarna merah, kenapa sekarang kau kini rambutnya berwarna hitam? "


"Ini adalah Wig, rambut asliku aku sembunyikan " Ucap Risa dengan memegang rambutnya. " Aku membenci rambut asliku yang berwarna merah itu "


" Kenapa? Menurutku rambut merahmu bagus "


" Benarkah? "


" Umm " Rian menganggukkan kepalanya.


" Kalau begitu... " Risa lalu melepas wig-nya dam memperlihatkan rambut aslinya " Benarkah, ini menurutmu bagus? "


" Iya, itu kerena untukmu " ucap Rian.


Pipi Risa mulai memerah, dia tersipu oleh Rian karena hanya dia yang memuji rambutnya itu, sebelumnya belum ada orang yang memuji rambut dia atau dia sering dijauhi dan ditakuti oleh orang lain, oleh kerena itu dia membencinya.


" Kau mau makan bubur lagi " untuk menghindari dari ke geer-an itu, Risa langsung mengubah topik.


Dia mengaduk-aduk bubur dan mengambil sesendok bubur lalu meniupnya, setelah itu dia menyuruh Rian untuk membuka mulutnya.


" Buka mulutmu " perintah Risa.


Rian membuka mulutnya, bubur lalu dimasukan ke mulut Rian.


" Walaupun buburnya tak enak, kau harus memakannya agar kau sehat " Ucap Risa.


Disaat yang bersamaan, sebuah tangan mendarat di atas kepala Risa. Dia adalah Rian, dia mengelus-elus rambut Risa berwarna merah itu.


Saat Rian mengelus-elus rambut Risa itu, rambutnya sangatlah lembut bagaikan sutra, aromanya manis mungkin itu dari sampo yang dia pakai.


" Ahhh, maaf " Rian tersadar, dia lalu melepaskan tangannya dari rambut Risa. Saat Rian akan melepaskan tangannya dari rambut Risa, tangannya langsung di tahan.


" Tidak apa-apa, aku... Menyukainya " Ucap Risa yang terlihat sudah memerah wajahnya.


Tangan Rian kembali mengusap-usap rambut Risa yang halus dan lembut itu.


( Tinngg... Tinngg... ) kembali bel berbunyi.


Mereka langsung saling menatap satu sama lain, siapa itu yang menekan bel.


" Ahhh, maaf " Ucap Rian yang langsung melepas tangannya.


" Ummm " Risa hanya menganggukkan kepalanya.


Mereka langsung saling berjauhan menjaga jarak karena malu, tak lama kemudian Rian akan berdiri untuk membukakan pintu.


" Biar aku saja " ucap Risa. Diapun langsung pergi kedepan membukakan pintu.


Setelah dia sudah memutarkan gagang pintu, pintu itupun terbuka. Dia langsung diperlihatkan didepannya seorang lelaki seusia sedang berdiri didepan pintu.


Lelaki itu memiliki penampilan yang rapih, rambut hitam rapih, mata coklat, dan kulit putih serta berperawakan kurus terurus. Ditangannya dia memegang sebuah kotak nasi berwarna ungu.


" Ada rian-nya? " Ucap lelaki tersebut.


Dia adalah teman Rian, tidak salah lagi dia adalah Rayhan Haryana Atau kita panggil Ray.


-


-


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2