
" Trriiinggg "
Bel berbunyi disebuah sekolahan SMP, jam menunjukan pukul 14.45, pertanda saatnya pulang.
Semua murid langsung berlarian dengan tas mereka masing-masing melewati gerbang sekolah untuk pulang.
Beberapa murid masuk ke parkiran pinggir sekolah untuk mengambil motornya.
Murid yang memiliki bagian piket mulai membersihkan kelasnya masing-masing, walau ada beberapa murid laki-laki yang memiliki bagian piket kelas, tapi langsung kabur.
Namun, dibalik suasana itu. Ada seorang siswa baju putih biru tetap duduk di bangku paling depan, ia sedang menulis huruf-huruf yang ada di papan tulis di depannya ke buku tulisnya.
Dari bagian bawah pundak kanan orang itu tertulis kelas IX E, yang berarti dia dari kelas sembilan bagian E. Wirianata Syarif tertulis di name tag nya.
Dia tetap menulis tanpa memperdulikan keadaan sekitar yang sudah mulai sepi dan hanya ada beberapa murid piket yang akan selesai membereskan kelas.
Dari pintu depan kelas itu masuk seorang siswa lainnya. Dari tampangnya dia seumuran dengan siswa yang sedang menulis itu. Di bawah pundaknya tertulis IX A. Raihan Haryana tertulis di name tag nya. Kita panggil saja Ray.
" Pantesan tadi nggak liat kamu di gerbang, ternyata kamu disini, Rian " Ucap Ray
" Hmm " jawab singkatnya dengan anggukkan kepala.
"Mendadak kamu jadi rajin" ucap Ray sambil melihat Rian sedang menulis.
"Mmm, inikan pelajaran yang aku paling jelek nilainya, makanya aku tulis biar bisa dihapal, dan juga kan bentar lagi UNBK. " Ucapnya yang masih tetap menulis.
" Ohhh "
" Kamu udah nentuin mau dilanjutin SMA kemana? " Tanya Rian
" Belum sih tapi kata Ayah aku mau diterusin ke sekolahan SMA elit. " Jawab Ray.
" Oh " jawab singkatnya. Menurutnya hal itu wajar, karena asal kalian tau saja Ray ini adalah anak dari CEO dari perusahaan berpengaruh besar di kota Agharta ini, yaitu H.Y Corp.
" Kalo kamu mau dilanjutin kemana? " Tanya balik Ray.
" Nggak tau belum nemu "
" Mending samain aja ke sekolahku. "
" Nggak ah, sekolah elit tu mahal dan aku yakin murid disana hanyalah mereka orang-orang yang suka berpamer harta "
" Kebanyakan nonton film, loe " Sangkal Ray dengan tertawa.
" Oke, aku dah selesai nulisnya. " dia langsung menutup buku tulisnya dan memasukan buku ke tas.
" Oke, ayo!" Ucap Ray sebelum dia melangkah keluar kelas.
__ADS_1
Rian lalu merangkak dari kursinya untuk menyusul dia. Dia mengambil tas dan menggendongnya lalu menyusul dia. Mereka berdua pun pergi pulang bersama.
Aku dan Ray adalah sahabat dekat sejak kecil hingga saat ini. Tidak, kurasa tidak hingga saat itu tiba.
Hingga saat sebuah Katana berkali-kali menusuk dada Ray. Hingga ia tewas. Pada 26 Mei 2021 mendatang.
Kejadian itu akan terjadi sekitar empat bulan lagi dan aku sangat tak menginginkan hal itu akan terjadi.
***********
Kembali ke Pak Asep yang telah berubah menjadi Gate Dzarl.
Dia berubah menjadi Dzarl berbentuk tikus tanah dan di ujung moncong berbentuk bintang laut dengan sisinya yang tajam.
Dia langsung memotong semua rumput-rumput liar di sana. Kurang dari tiga puluh menit, setengah dari kebun itu telah rapih terpotong rumputnya oleh dia.
Dibalik keasikan Pak Asep yang sedang memotong rumput-rumput liar disana, lelaki dengan kemeja putih diadukan jas hitam berdasi juga itu hanya bisa melihatnya dari kejauhan.
" Menarik. " Ucap lelaki itu
" Terima kasih atas kerja samanya, jika ada keperluan dengan kami. Silahkan anda datang kesini. " Imbuhnya lelaki itu dengan menunjukan kartu dan lipatan kertas lalu menaruhnya ke dalam tas milik Pak Asep.
Setelah mengatakan itu, ia lalu pergi meninggalkan Pak Asep sendirian dengan senyuman jahat.
***********
Mereka sedang berada di trotoar pinggir jalan, tak ada siapapun yang sedang berjalan disana, hanya mereka berdua dan kendaraan motor atau mobil berlalu lalang di jalan sana.
Trotoar itu dibatasi oleh pralon yang berisi beton pasir dan tingginya hanya setinggi sikut mereka saja.
" Dimana? " Tanya Ray yang langkahnya pun terhenti karena Rian.
" Disekolah, Aku harus balik dulu ke sekolah, kamu duluan aja. " Ucap Rian ke Ray.
" Yo, ya udah. " Ray lalu melanjutkan jalannya.
Setelah mendengar jawaban itu, Rian Langsung balik arah ke sekolah dengan berlari cukup cepat.
" Jangan lupa besok! " Teriak Rian karena jarak dia sudah cukup jauh.
Ray hanya menanggapinya dengan mengangkat tangan nya ke atas sambil tetap berjalan.
Rian berlari dengan terburu-buru saat ia sedang berlari, saat itu dia tak memperhatikan jalan.
Oleh karena itu, di tengah jalan ia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
(Bruk...)
__ADS_1
" Hmmmph, hati-hati saat berjalan nak. " Ucap orang itu sambil membenarkan kerah jas hitam yang kusut karena tabrakan tadi. Dia maju beberapa langkah kebelakang dari sisi Rian.
Tatapannya mengarah kedepan setelah membenarkan kerahnya. Orang yang bertabrakan dengan Rian itu adalah orang yang sama dengan yang mengubah Pak Asep menjadi Gate Dzarl.
" Maaf pak. " Ucap Rian yang berbalik arah orang tersebut dan langsung menundukkan kepalanya ke bawah.
" Aku paling benci jika disebut Pak, jangan panggil aku itu. " Ucapnya yang masih tetap memasang pandangan ke depan.
"?"
Orang itupun berbalik ke belakang dan melipat kedua tangan yang disimpan kebelakang.
" Panggil saya, Heru. " Ucap dirinya.
Sebenarnya dia mencoba memperkenalkan dirinya kepada Rian, tapi gagal karena itu kurang tepat diekspektasinya.
" Dan siapa nama mu? " Tambahnya menunjuk ke arah Rian.
" Ehh ? Rian, namaku Wirianata Syarif" jawab Rian yang kebingungan.
" Itu namamu, ya. Suatu hari kita pasti bertemu lagi. "
Setelah mengatakan itu diapun kembali ke posisi depan dan pergi.
" Hehhh?? " Rian bingung dengan perkataan Heru itu." Tunggu aku harus cepat sebelum gerbang ditutup " Rian pun langsung pergi lari dengan tak memperdulikan Heru.
Seseorang yang bernama Heru itu melirik ke belakang ke arah Rian dan tersenyum jahat.
"Hai, Raja Iblis"
Raja iblis? Kenapa dia memanggil Rian dengan sebutan itu? Apa maksudnya, ya.
Setelah itu, dia itu diapun kembali pandangan dan kembali berjalan santai dengan kedua tangan dilipat kebelakang.
Dia juga sempat berpapasan dengan Ray, namun karena mereka tak saling mengenal, jadi itu tidaklah terlalu penting.
Rian terus berlari, dia masih bingung kenapa pria itu memperkenalkan dirinya dan kenapa dia menanyakan namaku.
Tak berselang lama, dia akhirnya sampai di gerbang sekolah. Terlihat gerbang itu sedang didorong oleh seorang pria paruh baya berseragam hitam. Dia adalah satpam sekolah itu.
"Tunggu mbah" Rian mencoba menghentikan Pak satpam menutup gerbang.
"Ehh... Dek Rian" ucap Pak satpam tersebut yang langsung berdiri menghentikan mendorong gerbang. "Ada apa kembali lagi?" Tambahnya menghampiri dia, Suara pak satpam itu sangatlah lembut, ya karena memang dia terlihat sudah tua.
"Bentar,Mbah. Ada sesuatu yang ketinggalan" balas Rian yang suaranya pun ikut lembut.
"Ya udah, aku tunggu" kemudian Pak satpam itu duduk di pos pinggir gerbang.
__ADS_1
"Makasih Mbah, permisi dulu" dia lalu menundukkan kepalanya dengan melangkah pelan dihadapan Pak satpam itu, tak jauh kemudian dia kembali berlari.