Dzarl : After 800 Year'S

Dzarl : After 800 Year'S
Chapter 44 : Bu Eri Pt. 2


__ADS_3

"Kau pikir siapa yang sedang kau hadapi hah?" Ucap Pak Fajar.


Bu Eri tak menanggapinya dia malah bangun dari jatuhkan, membersihkan debu-debu yang menempel di bajunya. Namun, tak beberapa lama setelah Bu Eri langsung menyerang Pak Fajar dengan Pusaka tangan belalang sembah miliknya.


(Sringgg....) Suara kibasan Pusaka.


Namun, teryata Pak Fajar sudah tak ada di sana. Bu Eri baru menyadari kalau Pak Fajar sudah berada di atasnya. Melihat itu dia terkaget, bagaimana bisa dia melakukan gerakan itu dalam sekejap.


Pak Fajar mendarat tepat di belakang Bu Eri, wajahnya tersenyum sombong melihat gerakan Bu Eri yang mudah ditebak olehnya.


(Srriingg...) Suara kibasan Sabit.


Tangan Pak Fajar langsung memunculkan sebuah sabit merah yang berukuran kecil. Entah dari mana dia mendapatkannya, tapi setelah dia memegang sabit itu ia langsung mengibaskannya ke arah Bu Eri.


Melihat itu Bu Eri langsung menghindari serangan dengan berpindah ke pinggir. Saat dia sudah menghindarinya, ia berbalik untuk melihat Pak Fajar.


Saat dia berbalik ia terkejut, di belakangnya tak ada keberadaan Pak Fajar disana. Dia lalu melorak-lirik kanan kiri mencari Pak Fajar.


"Disini." Ucap Pak Fajar di belakang.


(Bukk...)


Pak Fajar langsung memukul kepala Bu Eri dengan pentungan, dengan begitu Bu Eri langsung jatuh dan pingsan.


***********


(Kleek...) Suara pintu yang dibuka.


"Assalamualaikum." Salam Rian.


Dia baru saja dari luar membeli bahan makanan, dia lalu menaruh barang belanjaannya di meja dapur. Setelah itu, karena dia penasaran keadaan Salsa, dia langsung saja pergi ke kamarnya melihat keadaan Salsa.


Saat dia sudah didepan pintu kamar, langsung saja dia membuka pintu. Saat dia membuka pintu, dia langsung terkejut melihat Salsa. Begitu juga dengan Salsa, ia juga kaget dengan Rian yang langsung masuk.


"Aaaaa...!" Teriak kaget Rian. Dia langsung menutup kembali pintu.


Ternyata, yang dia lihat adalah, Salsa yang sedang menyantap makanan. Sebenarnya dia terkejut bukan karena Salsa sedang makan manusia, tapi karena dia melihat Salsa yang makan dengan bersimbah darah mau di mulutnya atau di bajunya.


"Sebentar..." Ucap Salsa.


"A-apa aku boleh masuk?" Tanya Rian.


"Iya."


Setelah dia mendengar itu, Rian pun langsung membuka pintu. Disana dia melihat mangkuk makanan sudah ditutup dengan kain, dan juga Salsa pergi menghadap jendela.


"Bukankah ini aneh." Ucap Salsa.


Rian mendongakkan kepalanya ke atas melihat Salsa yang sedang berdiri menghadap jendela.


"Padahal yang kami makan itu hanyalah daging manusia, sedangkan manusia memakan segalanya. Tapi, kenapa malah kita yang dianggap Monster oleh orang lain." Ucap Salsa.


"Hmm, kurasa itu tak benar." Jawab Rian.


Mendengar itu Salsa menoleh kebelakang melihat Rian dengan tatapan bingung. Dia juga terlihat menunggu maksud dari perkataan Rian itu.

__ADS_1


"Memang banyak orang menganggap kalau kalian itu adalah monster, tapi menurutku tak sedikit juga yang menganggap kalian itu adalah makhluk hidup biasa." Jelas Rian.


"Hah? Maksudnya, manusia juga menganggap kami makhluk hidup." Tanya Salsa.


"Umm." Angguk Rian.


"Memangnya kau punya bukti akan hal itu?" Tanya Salsa.


"Ada, yaitu Aku." Jawab Rian.


"Benarkah itu?"


"Ya. Aku tak pernah menganggap kalian adalah sebagai monster tapi aku juga tak menganggap kalian sebagai manusia."


"Maksudnya?"


"Umm, gimana ya." Rian bingung menjawabnya.


Disela-sela kesibukan Rian untuk menjelaskan apa yang dia katakan, tiba-tiba Salsa mengendus-endus sesuatu. Dia lalu berbalik untuk mengikuti aroma tersebut.


"Ada apa?" Tanya Rian melihat Salsa pergi dari kamar.


Salsa tak menjawabnya, dia tetap melangkah mengikuti aroma tersebut. Karena penasaran Rian lalu mengikutinya dari belakang.


Salsa terus mengendus-endus bau yang sedari tadi dia ikuti, bau itu tak jelas asalnya. Hingga Salsa keluar pun bau itu tak kunjung dia temui asalnya.


Rian hanya terus mengikuti Salsa dari belakang, dia bingung dengan apa yang sedang Salsa cium, Rian bahkan tak merasakan bau apapun dari tadi mengikuti Salsa.


#


Mereka sedang berada di jalan setapak sepi dan tak jauh dari sana ada lorong dari kolong jembatan besar yang terdapat seorang ibu-ibu duduk lemas di temani empat orang berjas.


"Ibu..." Ucap lirih Salsa.


"Ada apa." Melihat Salsa yang seperti itu Dia langsung menoleh ke arah tatapan Salsa.


Saat di menoleh ke arah depan, disana sudah ada Bu Eri ditemani Pak Fajar di belakangnya dan tiga bodyguardnya.


Melihat itu Rian langsung menarik badan Salsa ke tempat aman, Rian sudah mengetahui kalau Bu Eri kini sudah ditangkap. Dan mungkin bau yang Salsa ikuti adalah bau dari darah Bu Eri ini.


Karena, Rian melihat Bu Eri yang sudah berlumuran darah di sekujur tubuhnya itu. Menurut informasi kalau Dzarl bisa mengendus bau darah milik dari keluarganya, itu juga mungkin berlaku untuk Salsa.


Rian menarik Salsa ke balik mobil bekas yang terparkir disana, dia tak mau kalah mereka ketahuan ada disana. Dan juga mungkin ini adalah rencana Pak Fajar untuk memanggil Salsa.


"Siapa mereka?" Tanya Salsa dengan pelan, kondisinya sudah benar-benar syok.


"Tidak tahu, tapi mungkin mereka adalah pemburu Dzarl." Jawab Rian.


******


Disisi Pak Fajar.


"Sudah lima menit, tapi anaknya belum kunjung datang juga, Pak!" Ucap Pria berjas.


"Tidak, dia bukan tidak datang tapi pasti ada yang menahannya untuk tidak kemari. Ku yakin dia sudah ada disini." Jawab Pak Fajar.

__ADS_1


Dia terus melorak-lirik mencari keberadaan Salsa si anaknya itu. Tapi, tak beberapa lama dia menghela nafasnya.


"Fiuhh, lakukan sekarang!" Ucap Pak Fajar berbalik ke arah Bu Eri.


Pria berjas itu lalu menghampiri Pak Fajar dan langsung memberikan koper kecil lalu membukanya. Saat koper dibuka, disana terdapat satu kotak botol plastik berwarna putih berukuran kecil.


Pak Fajar lalu mengambil botol tersebut. Setelah itu dia langsung membukanya dan menjatuhkan satu butir pil yang ada didalam botol tersebut.


Setelah dia mengambil pil tersebut, tanpa basa-basi ia langsung menelannya. Sempat ada tersedak saat dia menelan obat tersebut namun berikutnya berjalan lancar.


(Jeleb...) Sebuah jarum langsung menusuk leher Bu Eri.


Jarum itu berasal dari Pak Fajar yang baru saja menghempaskan sebuah jarum dari tangannya, entah itu berasal dari mana kenapa Pak Fajar bisa melakukannya.


"Itu..." Rian terkejut saat melihat sebuah jarum yang muncul dari tangan Pak Fajar.


'apakah dia juga Dzarl yang sama dengan Risa, tapi jika ya mengapa dia memburu Dzarl.' batin Rian.


"Ahhkk..." Bu Eri merintih kesakitan.


"Waktumu hanya sekitar tiga menit." Ucap Pak Fajar tersenyum puas. Dia lalu mendekat ke Bu Eri dan berkata. "Kata-kata terakhir...!?"


Satu Pria mendekati Pak Fajar dan memberikan satu pacul, Pak Fajar lalu menerimanya. Dan dia kembali menoleh ke Bu Eri.


"Cepat katakan, anakmu sudah menunggu dari tadi." Ucap Pak Fajar.


"Ma-maafkan Ibu yang tak bisa menemanimu lagi... Untuk kau... Terimakasih untuk topengnya... Dan juga... Sudah menyemangati... Ku... Untuk...anakku... Jadilah orang yang mandiri... dan jangan... menyimpan dendam untuk mereka... Karena..." Belum selesai dia menyelesaikan perkataannya.


"Sungguh kasian, sayangnya aku tak punya simpati untuk kalian makhluk hina." Ucap Pak Fajar.


Setelah itu, Pak Fajar mengangkat pacul yang dia pegangi itu ke atas. Melihat itu Salsa dan juga Rian langsung terkejut.


"Ib..." Mulut Salsa langsung dibekap oleh Rian.


(Crrekk...) Bunyi pacul yang langsung menghantam ke kepala Bu Eri.


Melihat itu, Salsa sudah tak tahan, dia mencoba melepaskan cengkraman dari Rian. Namun, Rian tak mengalah, bagaimanapun Salsa jangan kesana itu akan membahayakannya.


"Lepaskan..." Salsa melawan, mulutnya dibekap jadi suara tertahan.


"Maaf, maafkan aku, maafkan aku." Terlihat Rian sudah gemetaran.


"Wahh, lihat hujan nih." Ucap Pak Fajar menunjuk ke luar.


Benar adanya, hujan tiba-tiba muncul dan langsung membasahi daratan. Salsa dan Dia langsung terguyur hujan disana.


Salsa melemaskan tenaganya, dia langsung terjatuh ke bawah. Dia sudah benar-benar terlihat sedih dan syok akan kejadian ini.


Jika dilihat juga Rian, dia terlihat menyesal akan hal ini, dia benar-benar terdiam kaku tak mengherankan apapun.


Saat di rasa penyesalannya itu, tiba-tiba muncul perkataan Salsa saat di rumah.


"... Tapi, kenapa malah kita yang dianggap Monster oleh orang lain." Perkataan itu langsung muncul dibenak Rian.


"Ayo." Ucap Pak Fajar dengan santai meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2