
Terdapat beberapa anak-anak sedang bermain di taman. Mereka benar-benar sangatlah gembira, senyuman terpancar dari setiap wajah mereka.
Mereka semua mengenakan baju dan celana putih, dan itu adalah baju seragam mereka.
" Kenapa kamu sedih? " Tanya salah satu anak, usianya sekitar sembilan tahun-an. Dia menghampiri seorang anak laki-laki yang sedang menangis menghadap danau jernih.
" I-ibu meninggalkan ku disini-wuuuaaaaaaa... " anak itu langsung menangis dengan keras yang membuat yang lainnya ikut menghampiri anak laki-laki itu.
" Kamu kenapa? " Ucap salah satu anak yang menghampirinya tadi.
" Aku ingin pulwaannggg... " anak itu kembali menangis bahkan lebih keras.
" Cup...cup...cup... " Ucap anak yang pertama menghampirinya. Dia mengelus-elus punggung anak laki-laki itu.
Anak laki-laki itupun menoleh ke Nagisa " Kenapa kau mengelus punggungku ? "
∆\=\=\=∆
Author : agar kita tidak bingung dengan bagian ini, jadi langsung saja ke namanya.
Nagisa : anak yang pertama menghampiri Hailal.
Hailal : anak laki-laki yang menangis itu.
Mama : orang yang mengurus mereka.
∆\=\=\=∆
" Kata Mama, jika ada teman kita sedang nangis, kita harus membuat senang."
" Terus kenapa kamu mengelus-elus punggungku ? "
" Kalo aku nangis mama suka ngelus-ngelus punggung aku. "
" Bukan itu maksud mama, maksudnya ajak main biar nggak sedih lagi. " ucap Hailal
" Ohhh gitu. "
" Tapi nggak perlu buat aku senang. "
" Kenapa ? "
" Ibuku mengantarkan ku kesini, lalu aku ditinggalkan. Kenapa Ibu sangatlah kejam padaku." tangannya langsung di kepalkan, dan terlihat wajahnya yang marah.
" Udah kamu jangan marah, masih mending kamu punya ibu. Lah, Kami dari lahir nggak tau siapa ibu kami."
" Kalian sejak lahir nggak nggak punya ibu. " Hailal melihat mereka semua yang sedang mengerubungi dia.
" Emm, kami punya ibu cuma nggak tau siapa." Jawab Nagisa.
" Kalian kasian sekali, tapi tidak kini aku juga sudah tak ada bedanya dengan kalian. " diapun ikut bersedih. " Tapi, karena dia bukan ibuku lagi, suatu hari nanti aku pasti akan kembali ke ibuku dan menghajarnya. "
" emm, itu tak boleh. Bagaimanapun dia adalah ibumu. Tak peduli kamu anggap dia sejahat apa tapi, pasti dia melakukan itu karena dia menyayangimu. "
" Sayang ? "
" Ya ! Kata Mama, ibu itu adalah orang yang sangat menyayangi anaknya. "
" Benarkah?"
" Iya." Sambil menganggukkan kepalanya. " Jadi kau janganlah dendam, ayo main barengan " tambah Nagisa mengulurkan tangan.
" Hmm. " Hailal pun menerima uluran tangannya. " Tunggu siapa nama kalian "
" Aku no.53. " ucap Nagisa.
" Aku 46, aku 64, aku 79... " dilanjutkan anak-anak yang lain.
" Bukan, maksudku nama kalian bukan nomor."
" Kami nggak punya nama, tapi nomer itu adalah nama kami. "
" Yah kalau gini gimana ? " Hailal pun berfikir sejenak. " Ah aku tau, bagaimana kalau aku yang menamai kalian. "
" Ahhh ide bagus. " jawab Nagisa.
__ADS_1
" Apa ya... " Haikal pun berfikir dengan menggaruk-garuk kepalanya. " Bagaimana dengan Nagisa, bagus kan "
" Nagisa ? "
" Ya, aku pernah mendengarnya di acara anime, kata 'Nagisa' artinya 'pantai, tepi laut, atau air yang menepi
' bagus 'kan. "
" Ehmm tak buruk, baiklah bagaimana dengan namamu."
" Aku sudah punya nama sih, tapi aku boleh minta tolong nama baru. "
" Baiklah. " Nagisa pun melihat-lihat sekitar, mencoba untuk mencari referensi nama yang bagus. " Bagaimana dengan Hailal. "
" Hailal, oh bukankah itu dari kata " Haikal" yang artinya "pohon pengampunan" kalau tak salah seperti itu, baiklah terimakasih. "
" Bagaimana dengan kami." ucap salah satu yang sedang mendengarkan mereka.
" Baiklah, satu persatu ya. " mereka berdua pun menamai semua anak-anak disana.
Panti asuhan MERAK PUTIH, adalah sebuah tempat tinggal para anak-anak yang terlantarkan, baik ditinggalkan oleh orang tua mereka, maupun mereka adalah anak-anak korban dari sebuah insiden yang tragis.
Panti asuhan itu terletak sangatlah jauh dari pemukiman desa, tepatnya di tengah hutan belantara di pulau Jawa.
Para anak-anak diasuh dengan kasih sayang, mereka juga diberi ilmu pelajaran, diberi penganutan agama, dan lain-lain. Mama, itu sebutan untuk mereka yang mengasuh anak-anak, walaupun hanya para pengasuh, mereka semua dianggap menjadi keluarga oleh anak-anak.
#
Suatu hari. Para anak-anak sedang bermain di taman seperti biasanya.
" Sekarang bagian kamu Nagisa yang jaga. " sebuah permainan sedang dimainkan oleh mereka, sepertinya mereka sedang memainkan permainan petak umpet. Kali ini Nagisa bagian jaga dan mencari mereka yang akan bersembunyi.
" baiklah." Nagisa pun membalikan arah ke depan pohon besar dan menutup matanya. " Satu, dua, tiga, empat, lima, ... " Dia terus menghitung hingga akhirnya selesai dibagian nomor 99. " Siap tak siap harus siap." ucap Nagisa sambil membalikan badan.
Diapun langsung mencari mereka semua, kedalam sebuah kandang ternak, perkebunan, hingga sela-sela tak terlewatkan oleh dia. Namun, dia tetap tak menemukan seorang pun.
" Kemana mereka ya ? " Nagisa terus mencari mereka Walaupun sepertinya dia sudah mulai kesal tak menemukan seorang pun temannya.
Hingga akhirnya dia mulai kelelahan mencari mereka, dia kembali ke pohon besar tempat dia jaga dan duduk disana.
Langit sudah menunjukan ke orennan, sore mendekati malam. Akhirnya Nagisa pun terbangun dari tidurnya itu.
" Huaaahhh.... Ternyata aku ketiduran. " diapun berdiri dan melorak-lirik melihat sekitar apakah ada temannya yang terlihat, namun tetap saja dia tak menemukannya. " Kemana mereka ya." Ucapnya sambil menggaruk kepalanya.
Karena melihat langit yang sudah berubah menjadi oren diapun berjalan pulang dengan berfikir mereka sudah ada di asrama.
Diapun sudah sampai didepan pintu masuk asrama. Tanpa ragu-ragu dia langsung membuka pintu itu.
Saat dia sudah membuka pintu, dia langsung dikejutkan dengan satu pria tua dan empat orang wanita yang sedang memakan sebuah daging mentah. Orang dewasa itu adalah, Ayah ( kepala panti asuhan ), dan Mama ( pengurus mereka ).
Bercak-bercak darah sudah mengotori Ruangan luas yang sudah acak-acakan, bangku dan meja yang terbuat dari besi sudah tak beraturan berserakan bahkan tak sedikit juga sudah patah, rak buku dan buku-buku yang berada biasa ada di setiap sudut ruangan kini sudah berserakan juga, ada juga baju putih yang biasa mereka anak-anak pakai tergeletak dilantai dengan kondisi sobek-sobek.
Darah sudah melumuri mulut mereka berlima, ada juga darah yang menempel di baju mereka.
" A–apa yang sudah terjadi? " Tanya Nagisa gemetar, dia benar-benar terkejut dengan apa yang terjadi disana.
" No. 53 ini tidak seperti yang kamu lihat, tetap tenang. " ucap salah satu Mama yang mencoba menenangkan Nagisa.
" Mereka semua...mereka semua. kenapa Ayah, Mama... " Keluar sebuah air mata membasahi pipi Nagisa. Dia tahu kalau yang dimakan oleh mereka adalah temannya.
" Tunggu no 53, kau harus tetap tenang. " Mama menghampiri Nagisa dengan perlahan.
Karena takut Nagisa langsung membuka pintu dan pergi lari menjauhi tempat itu. Dengan keadaan menangis Nagisa berlari terus tanpa arah, dan kini dia tak sengaja berlari masuk hutan.
[ Siiiiuuunnnnng ] sebuah roket tiba-tiba muncul dibalik hutan dan mengarah ke arah asrama.
Roket itu meluncur dan jatuh di atas asrama. Hanya perlu 3 detik, roket itu langsung meledak disana, menghancurkan asrama bersama isinya.
Nagisa yang melihat itu langsung terkejut dan berlari lebih cepat mengarah kebalik hutan mengarah ke seseorang yang mengirim roket tersebut.
Setelah sampai disana, dia melihat para tentara berbaju hitam sudah siap dengan senjata mereka, berbaris dengan rapih. Salah satu orang melihatnya, dia lalu menghampiri Nagisa.
" Kau pasti orang yang selamat ya!? " salah satu orang menghampirinya.
Seorang lelaki berambut putih yang bagian belakang diikat dan bagian depannya dijadikan poni didepan, dan juga dia memakai kacamata rabun, tubuhnya kurus, dengan tinggi sekitar 180 cm, dia juga memakai jas putih ala profesor juga celana biru tua.
__ADS_1
Sudah tak diragukan lagi, dia adalah Pak Fajar, wajahnya tak memiliki perbedaan dengan saat Aldi bertemu dengannya di 13 tahun mendatang ( di Chapter sebelumnya ) .
Dia tersenyum kearahnya dan langsung menggandeng Nagisa. Disana Nagisa hanya bisa menuruti gandengan Pak Fajar.
" Ayo. " dia membawa Nagisa masuk ke mobil sedan, Pak Fajar memutar masuk ke bagian supir.
" Ayo kita berangkat." Ucap Pak Fajar sebelum dia menancap gas.
Saat ditengah perjalanan, masih di hutan, Pak Fajar memperlambat laju mobilnya Sambil menikmati kilau-kilau cahaya perkotaan dari jauh.
Jarak yang jauh dari perkotaan sungguh pas untuk menikmati kilau-kilau cahaya perkotaan dari sana.
" Siapa namamu? " Tanya Pak Fajar. " Tunggu, aku lupa dia pasti tak memiliki nama. " gumamnya.
" Namaku Nagisa. " jawab Nagisa.
" heh? " Pak Fajar langsung menengok kearah Nagisa dengan terkaget, tak menyangka kalau dia mempunyai nama. " Hahahaha, kupikir kau tak punya nama. " tambahnya dengan tertawa.
" Temanku yang menamai dan aku juga yang menamainya. "
" Ohhh, begitu. " Pak Fajar diam sejenak dan kembali lanjut berkata. " Apa kamu mau nama baru. "
" Tidak." jawab secara terus terang.
" Sungguh kejam, langsung ditolak. " Dia langsung terkaget seolah dia tak akan ditolak.
" Kau cukup berani untuk berbicara dengan orang asing." tambah dia dengan mengubah topik.
" Tidak juga, hanya saja aku rasa anda adalah orang baik. " ucapnya sambil menundukkan kepala.
" Ppfftt, orang baik apanya, aku sering disebut ilmuan gila oleh orang-orang. " Pak Fajar tak percaya akan ada orang yang berkata bahwa dia orang baik.
" Tentang kasih nama, anda boleh menamaiku. " Ucap Nagisa.
"Benarkah?! baiklah... Tadi namamu kan Nagisa bagaimana dengan Ardiansyah "
" Ardiansyah ? "
" Ya, Nagisa itu artinya kan " tepi laut ", bagaimana kalau dengan Ardiansyah itu artinya lebih besar, yaitu" dunia"." ucap Pak Fajar.
" Ardiansyah 'ya. tak terlalu buruk, malah sedikit keren juga." Ucap Nagisa.
" Bagaimana, kamu mau? "
" Hmmm, baiklah. "
Merekapun mulai membicarakan tentang nama baru Nagisa yang kini namanya berubah menjadi Ardiansyah. Mereka juga mulai membicarakan hal lain.
" Kita sudah hampir sampai. " ucap Pak. Fajar Setelah itu dia tersenyum, bukan senyum ikhlas namun ini lebih terlihat senyuman jahat penuh arti.
Inilah masa lalu yang dialami Aldi tiga belas tahun yang lalu.
-
-
-
-
-
∆\=\=\=∆
Mohon maaf jika ceritanya terlalu rumit, sulit dimengerti atau juga nggak jelas.
Mohon maaf juga jika ada banyak kekurangan.
Jika ada penulisan yang typo mohon maklum.
Jan lupa like jempolnya, share bagikan, tinggalkan komentar anda dan kalau bisa vote serta jadikan favorit.
Follow juga.
Ya.
__ADS_1
Terimakasih banyak.