
Hari yang sama di sore hari.
"Huaah..." Aldi menguap terbangun dari tidur di sofanya. Dia juga sempat meregangkan otot-ototnya.
Dia mengambil ponsel miliknya untuk melihat sudah jam berapa. Saat dia melihat layar, samar-samar terlihat notifikasi di ponselnya itu.
Disana dia melihat panggilan tak terjawab dari Pak Sandi. Sontak itu membuatnya terkaget.
Dia langsung menekan notifikasi tersebut dan menekan tombol bergambar telpon, dia akan menelpon balik Pak Sandi.
Setelah beberapa menit dia memanggil balik Pak Sandi, akhirnya itu dijawab. Suara Pak Sandi terdengar.
"Assalamualaikum Pak." salam dari Aldi.
"Waalaikumsalam, Di." jawab salam Pak Sandi.
"Eem, ada keperluan apa bapak menelpon saya?" Tanya langsung Aldi.
"Ohh, gini Di. Kan udah beberapa hari kita menyelidiki kasus ini, jadi kamu udah menemukan bukti apa saja tentang Pak Supri?" Tanya Pak Sandi menanyakan laporan.
"Saya sudah menemukan sebuah cincin yang ternyata itu adalah obat yang kemungkinan merubah Pak Supri menjadi monster." lapor Aldi.
"Terus?"kembali menanyakan laporan lainnya.
"Eee, cuma baru segitu Pak. Saya masih belum menemukan bukti lain." Kata Aldi dengan sedikit malu.
"Oh iya udah nggak papa, tapi usahakan secepatnya untuk mendapatkan bukti!" Ucap Pak Sandi terdengar hambar.
"Iya Pak, Siap." jawab Aldi. Setelah itu panggilan diakhiri.
"Fuhhh." Aldi menghela nafas. Dia tak menyangka akan sesulit ini untuk menangani kasus.
(Tokk...tokk....tok...) Bunyi ketukan pintu pertanda ada tamu datang.
Aldi tak tahu siapa itu, ada keperluan apa dia bertamu ke rumahnya. Aldi lalu beranjak dari sofa untuk menghampiri pintu dan membukanya.
Saat dia sudah sampai, dia langsung membukakan pintu. Saat pintu itu dibuka, dia terkaget.
Seorang laki-laki berkaos abu dan celana panjang hitam. Dia adalah Heru yang datang kerumah Aldi.
"Hai. Assalamualaikum." salam hangat dari Heru.
"Waalaikumsalam." jawab singkat Aldi.
Tanpa permisi Heru langsung masuk ke dalam, hal ini tentu membuat Aldi kesal. Memang sejak awal dia merasa akan ada yang mengganggunya lagi.
Heru berjalan di hingga kedalam, ke dapur rumah. Dia mengambil gelas dan mengisikan air dan dia minum.
"Ahhh..." lega Heru.
"Kenapa kau kemari?!"tanya dengan suara kesal.
"Hei ayolah kau hanya sendiri hidup disini. Hanya satu gelas saja tak akan membuat kamu harus kerja dua kali." jawab Heru.
"Kenapa kau kesini, ku tanya?!" Tanya Aldi.
"Kau mau ke tukang cukur?" Tanya Heru.
"Tidak." jawab langsung Aldi.
"Ayok." ajak Heru yang langsung menarik kerah baju Aldi.
"He-hei tunggu" kerah bajunya ditarik membuatnya menjadi tercekik.
Heru lalu mengambil jaket yang menggantung di atas meja dan mengambil helm. Dia langsung memberikannya ke Aldi.
"Untuk apa?" Tanya Aldi.
"Ayolah ikut saja." ucap Heru.
__ADS_1
"Tidak!" tolak Aldi.
"Kau tahu, tukang cukur itu masih ada hubungannya dengan Pak Supriyadi."ucap Heru.
"Hah?" Aldi berbalik.
"Ya. Dia kemungkinan ada sangkut pautnya dengan motiv Pak Supriyadi. Akan ku ceritakan dijalan." tawar dari Heru.
Aldi lalu berbalik, pergi ke motornya, memakai jaketnya dan memasang kaos tangan lalu duduk di motornya itu, Vario merah.
"Awas kalau kau bohong." ancam Aldi. Dia lalu memakai helm.
Heru lalu menghampiri Aldi. Saat dia sudah berada di depannya, tanpa alasan dia langsung mengambil kunci motor milik Aldi.
"Hei!!" Aldi kesal.
"Kau jangan membawa motormu, itu akan berbahaya." ucap Heru. "Kita tidak tahu akan sebahaya apa disana"
"Memangnya ada ap-, hah lupakan. Lalu aku pakai apa ke sana?" Tanya Aldi.
"Naik ke motorku, kita boncengan!" ucap Heru.
"Hah?"
"Sudahlah, ayok." ajak Heru yang pergi menaiki motornya itu. CBR 150R.
"Ini." Aldi memberikan jaketnya dan helm.
"Terimakasih." Heru lalu menerimanya. "Berikan tanganmu!" Imbuh dia memerintahkan.
"Apa?" Aldi menuruti perintah Heru.
Heru lalu memutar-mutar jam yang Aldi pakai. Tak beberapa lama, Heru lalu melepaskan tangannya dari jam tersebut.
[Jaket and helmet. Confirm!] Keluar suara dari jam tersebut. Bersamaan dengan itu, muncul sel mengitari Aldi, lalu beberapa saat kemudian berubah menjadi jaket dipakainya.
Di kepala muncul juga hal yang sama, dan itu juga berubah menjadi sebuah helm.
"Dahlah, ayok!" Ajak Heru.
Tanpa banyak tanya, Aldi menaiki motor dan motor itu langsung melaju.
Yang tadi itu adalah sistem dari jam tangan yang dipakai Aldi. Itu adalah jam serba guna, jam bisa mengeluarkan apa saja dari sana.
#
Setelah beberapa lama, mereka sampai disebuah barber shop. Heru memarkirkan motornya dan kemudian mereka berdua turun.
"Tukang pangkas rambut?" Aldi bingung kenapa Heru membawanya ke sana, bahkan dia tak mengatakan sesuatu saat dijalan.
Mereka lalu masuk ke dalam pangkas rambut tersebut. Dua orang sedang mengobrol disana, satu adalah pencukur, satu lagi adalah pelanggan.
Saat masuk, mereka langsung disambut oleh tukang cukur. Seorang pria botak berkumis, usianya sekitar 30 tahun-an.
"Kebetulan sekali tak ada pelanggan." gumam Heru dengan suara kecil.
"Hah?" Aldi tak mendengar kata Heru tadi, jadi dia ingin tahu apa yang tadi Heru katakan.
"Tidak." Heru. "boleh minta waktunya nanti dibelakang?" Tanya Heru.
"Iya, bisa. Tunggu ya!" Respon pencukur itu menyuruh mereka untuk menunggu.
#
Beberapa saat kemudian tukang cukur selesai mencukur, dia lalu menghampiri Heru dan mengajaknya ke belakang. Diikuti oleh Aldi dari belakang.
Saat mereka sudah sampai, tanpa ragu Heru langsung menggaplok tukang cukur itu. Oh iya, nama dia adalah Noerdin.
"Kau ingat benda ini?" Heru memperlihatkan amplop kuning yang waktu itu.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Tanya tak paham Pak Nurdin dengan memegangi sebelah kepalanya yang terkena gaplok.
"Sudahlah mengaku saja!"
"Aku tak mengerti maksudmu itu?" Ucap dia yang terlihat berbohong.
Sementara itu Aldi hanya bisa melihat mereka berdua dari tengah-tengah.
Heru langsung menarik tangan Pak Nurdin dan memutarkan tangannya itu.
"A-aaaaaaa, sakit." Pak Nurdin merintih kesakitan.
"Ngaku atau ku patahkan tanganmu!" Ucap Heru memberikan dia dua pilihan.
"Aaaaaaaaaa, iya-iya itu aku yang memberikannya ke para pembeli, tapi itu bukanlah aku yang menjualnya Aku hanya mengedarkannya saja."jawab Pak Nurdin.
"Siapa itu?" Tanya Heru dengan menambah memutarkan tangan Pak Nurdin.
"Aaaaaaa, iya-iya. Sebuah geng yang berada di tempat pembuangan sampah mobil" ucap Pak Nurdin.
"Kau kenal Pak Supriyadi?" Tanya Heru.
"Aku mengingatnya, dia adalah salah satu pembeli beberapa hari yang lalu, kalau tidak salah." jawab Pak Nurdin.
"Dimana kalian bertransaksi saat itu?"
"Di rumah kosong dekat stasiun kereta api." jawab dia.
Heru lalu melepaskannya, dia lalu menghampiri Aldi. Disana dia terlihat menyombongkan diri.
"Itu adalah orang yang memberikan Pak Supriyadi obat tersebut." ucap Heru. "Sama-sama, tak perlu berterima kasih." imbuh dia.
"Hah?"
"Oh iya kemungkinan, bukti transaksi masih ada dirumah Pak Supriyadi. Cari itu cepat sebelum benda itu hilang!" Ucap Heru memerintahkan Aldi.
"Hmmm, kalau begitu baiklah" ucap Aldi. Dia lalu akan pergi. "Tunggu, ayo. Her" tambah dia menoleh kebelakang.
"Her?" Heru terkaget.
"Iya namamu Heru, kan!"
Heru lalu tersenyum, tak disangka nama dia akan dipanggil. Sudah sekitar ratusan tahun dia tak pernah dipanggil namanya. Apalagi dengan singkat, seperti "Her".
Heru lalu menghampiri Aldi, wajahnya masih tersenyum tentang hal tadi. Dia tak menyangka hal itu.
"Ayok."jawab Heru.
-
-
-
-
-
∆\=\=\=∆
Mohon maaf jika ceritanya terlalu rumit, sulit dimengerti atau juga nggak jelas.
Mohon maaf juga jika ada banyak kekurangan.
Jika ada penulisan yang typo mohon maklum.
Jan lupa like jempolnya, share bagikan, tinggalkan komentar anda dan kalau bisa vote serta jadikan favorit.
Follow juga.
__ADS_1
Ya.
Terimakasih.