
"Anda sedang terluka, ayo bergegas ke rumah sakit untuk obati anda." Ucap Rian mengulurkan tangannya.
"Hah?" Wanita itu bingung.
Dia hanya bisa melihat tangan Rian yang diulurkan untuknya sembari masih kebingungan.
"Ayo." Ucap Rian.
"Tidak, aku tidak bisa." Tepis tangan Rian dari dia. "Bukankah aku ini adalah Dzarl, akan bahaya jika aku ada di sana." Tambahnya.
"Hmm, benar juga ya. Tapi kalau begitu bagaimana kita obati lukamu?" Tanya Rian.
Wanita itu hanya terdiam, dia sepertinya ada saran untuk Rian tapi takut mengatakannya.
#
Singkat cerita mereka bertiga, Rian, wanita, dan anaknya sudah berada di rumah Rian.
"Kau yakin ini tak merepotkan?" Sungkan wanita itu.
"Tenang saja." Jawab Rian sembari mengobati pergelangan tangan wanita itu dengan obat merah.
Tangan wanita itu sudah tumbuh semula, tapi masih ada luka ringan seputaran pergelangan tangan dia.
"Terimakasih atas kebaikan kamu, nak." Ucap terimakasih wanita itu.
"Umm, tidak masalah, Bu." Jawab Rian.
"Bu?"
"Bukankah Anda sudah memiliki seorang putri, dan juga kurasa kurang sopan jika aku memanggil dengan kata "anda"." Ucap Rian.
"Mmm, begitu ya. Kalau begitu panggil saya Bu Eri karena nama ibu adalah Erina Ani." Ucap Bu Eri.
"Lalu ini adalah putri saya, namanya Salsa Dariki, panggil saja Salsa." Tambah dia dengan menunjuk ke putrinya Salsa.
"Saya Wirianata Syarif, panggil saja Rian." Perkenalan Rian.
"Salam kenal." Bu Eri menundukkan kepalanya.
"Salam kenal jug- ehh, kenapa kita melakukan ini." Rian menjauh.
Bu Eri hanya terdiam, dia menoleh ke arah putrinya dan tak lama kemudian dia menoleh ke Rian.
"Kalau begitu, kami akan permisi dulu." Ucap Bu Eri berdiri dari sofa ia duduk, dan disusul oleh putrinya. Mereka lalu melangkah ke pintu keluar.
"Terimakasih atas kebaikan anda. Kami akan selalu berhutang kepadamu." Ucap Dia.
"Emm, tidak apa-apa." Jawab Rian.
Setelah membuka pintu mereka pergi dari keluar dari sana.
"Fiuhh, kukira aku akan dihabisi." Ucap lega Rian.
__ADS_1
Dia lalu bangun dari sofa untuk pergi kebelakang. Saat dia baru saja mengangkat kotak P3K. Seseorang mengetuk pintu rumah.
(Tokk...tokk...tokk...) Suara ketukan pintu.
Mendengar itu Rian langsung berjalan ke pintu, membukakan pintu dan ingin tahu siapa disana.
Saat dia sudah membukakan pintu, disana sudah ada Salsa berdiri. Ekspresi dia memancarkan kepanikan.
"Ada apa?" Tanya Rian.
"I-ibu, kumohon tolong ibuku." Ucap dia sembari menunjuk ke arah kanan.
Mendengar itu, Rian langsung keluar dan menghampiri tempat Bu Eri ini berada.
Saat dia sudah sampai disana, dia melihat Bu Eri sudah terkapar tak sadarkan diri di aspal.
"Anda baik-baik saja. tsk, tentu saja tidak." Rian panik, dia mencoba membangunkan Bu Eri dengan menggoyang-goyangkan badannya.
"Gimana nih. Kerumah sakit, tidak itu akan membahayakan... Lalu gitu terus gimana..." Rian terus bergumam memikirkan Bu Eri ini akan di bawa kemana.
"Rian...?"
Mendengar ada seorang memanggilnya, Rian langsung menoleh ke belakang, melihat siapa itu.
"Risa... Hah, benar juga." Rian langsung bangun.
Dia menghadapi Risa, wajahnya seperti sedang menemukan solusi ini.
"Membantu?"
"Hmm, kau bisa mengobati dia 'kan. Kalau tidak juga tolong lakukan sesuatu." Pinta Rian. "Karena hanya kau saja yang bisa aku minta tolong." Tambah dia.
"Hanya aku? Kenapa tidak dibawa saja ke rumah sakit saja?" Tanya Rian.
"Akan bahaya jika dia dibawa ke rumah sakit, dia itu bukan manusia." Jawab Rian.
"Bukan manusia, jangan-jangan..." Risa langsung maju ke belakang Rian, dan mengeluarkan darah miliknya itu yang sudah langsung berubah menjadi jarum besar.
"Hati-hati dengannya, ini mungkin tipuan Rian." Ucap Risa masih siap siaga.
"Sudahlah, ayo kau bisa lakukan sesuatu kan?" Tanya Rian yang mundur menghadap Risa.
"Aku tak mau, tapi karena kau yang meminta mungkin aku akan melakukan." Gumam Risa.
"Yasudah." Rian langsung menggendong Bu Eri di punggungnya.
"Ayo." Ucap Rian dengan melangkah maju.
Setelah dia melewati Risa, Risa lalu menyusulnya dari belakang.
' Entah apa yang kau pikirkan, kenapa kau peduli dengan dia yang bahkan bukan siapa-siapa dirimu.' batin Risa.
#
__ADS_1
"Ini..." Akhirnya Bu Eri membuka matanya.
Dia akhirnya sudah siuman setelah pingsannya tadi. Saat dia membuka matanya, disana sudah ada Rian dan Salsa dipinggir.
"Apa anda sudah baikan?" Tanya Rian.
Bu Eri tak menjawabnya dia mencoba bangun, tapi karena tenaganya belum pulih dia malah terjatuh.
"Ibu jangan memaksakan diri." Ucap Salsa.
"Emm." Rian mengangguk pertanda setuju.
"Anda sudah bangun." Ucap Risa menghampiri Dia.
Bu Eri mendongakkan kepalanya ke arah Risa melangkah kepadanya.
"Anda mengalami pendarahan, tapi aku berhasil menghambatnya." Ucap Risa. "Lambung anda yang kosong membuat juga pendarahan ini semakin parah." Tambah dia duduk disampingnya.
"Aku sudah membuatkan anda makanan untuk anda. Jadi makanlah, agar tak terjadi lebih buruk lagi." Ucap Risa.
Risa menoleh ke Rian. "Dia akan makan." Ucap dia.
"Baiklah, kebetulan aku juga ada keperluan diluar." Jawab Rian yang mengerti. Dia lalu berjalan keluar dari sana.
"Terimakasih, nak." Ucap Bu Eri. "Lalu gitu, kami makan dulu."
Mereka lalu mengambil sendok dan memulai makannya yang sudah disediakan di meja.
Sedangkan Risa, dia hanya berdiri di jendela memperhatikan Rian yang sedang berjalan berjalan pergi dari tempat itu.
Bu Eri hanya memandangi Risa dari sana sembari makan, tapi tak lama kemudian dia menghela nafasnya dan kembali fokus ke makanan.
"Aku melakukan ini hanya karena pinta Rian, jadi jangan sok akrab kepadaku." Tambah dia.
"Hmm, baiklah." Jawab Bu Eri.
Setelah itu, Risa langsung pergi ke belakang, tanpa memperdulikan Bu Eri dan putrinya itu.
***********
"Ini." Ucap Pak Sandi menyerahkan USB.
"Apa?" Aldi bingung dengan itu, USB tentang apa ini.
"Kau punya kasus baru yang harus ditangani." Jawab Pak Sandi.
"Beberapa hari lalu, distrik kita berhasil menangkap Dzarl tingkat atas. Andhika Dariki, 39 tahun, pekerjaan kuli bangunan atau juga buruh. Dia berhasil di tangkap oleh Danu Kurniawan.
"Sekarang tugasmu adalah mencari informasi tentang dia dari orang terdekatnya, menurut informasi dia tinggal di pinggir kota Agharta, mungkin juga disana tempat keluarganya berada. Informasi lebih jelasnya ada di sini." Pak Sandi menunjuk ke USB yang sudah dipegang oleh Aldi.
"Baik, laksanakan." Jawab Aldi.
Setelah itu, Aldi memberikan hormat dan pergi dari sana setelah berpamitan pergi.
__ADS_1