
Aldi hanya memasangkan wajah senyum ke arah gadis itu. Dia terkagum dengan apa yang dia lihat itu, ternyata gadis yang ada di ceritakan dalam buku catatan itu benar adanya, dia sangatlah cantik, polos, dan juga lembut seperti salju.
"Paman siapa?" Tanya gadis itu dengan suara yang lembut.
Aldi pun membungkukkan badan ke arah gadis itu. "Aku adalah kenalannya ayahmu. yah, Kurasa begitu." jawab Aldi.
"Paman temannya ayahku?"
"Iya." Aldi mengangguk.
Setelah mendengar itu, gadis itupun membuka pintu dengan lebar, dan mempersilahkan Aldi masuk. "Silahkan Paman."
"Iya. Assalamualaikum." Aldi melangkah masuk.
Diapun masuk ke rumah, sebuah ruangan tamu yang berukuran sekitar 4×3 luasnya. Saat dia masuk tepat dia ruang tamu, diatas meja tamu terdapat buku yang berserakan.
Setelah dia masuk, gadis itu lalu menutup pintu dan setelah itu, dia pergi kebelakang, tak lama kembali dengan ceret, gelas dan satu bungkus kopi. Setelah menaruhnya di atas meja, dia menurunkan buku yang berserakan, dia kembali kebelakang dan kembali membawa termos.
Gadis itu lalu menyeduhkan kopi untuk Aldi, dan setelah dia sudah melakukannya, dia pergi ke sudut lain dengan membawa buku. Disana Aldi hanya melihat anak perempuan itu pergi ke sudut lain.
Sudah beberapa menit dari kedatangan Aldi ke rumah Pak Supri. Suasana masihlah sepi, mereka masih saling diam dan memfokuskan ke masing masing. Rikka fokus ke belajarnya sedangkan Aldi sedang ke mencari topik pembicaraan.
" Namamu Rikka 'kan! " Dengan suara canggung.
" Iya." hanya itu jawaban dari Rikka.
" Namaku Aldi."
" Oh. Salam kenal Paman Aldi." Ucap dia datar.
Suasana pun kembali sepi, mereka kembali saling diam. Aldi kembali memikirkan topik pembicaraan.
Dia terus berpikir sambil melihat-lihat sekitaran, tak ada hal yang unik, hanya ada beberapa foto berbingkai terpajang di tembok dekat pintu ke ruangan lain.
" Cuaca cerah,ya."
" Tapi, yang aku dengar sekarang akan ada turun hujan. " sangkal Rikka.
" Ekhh, yah begitukah? " Aldi mulai bingung.
Dia pun bangun dari duduknya. Dia berdiri dan melangkah ke Rikka.
" Rajin sekali." ucap Aldi dengan menghampiri Rikka dan duduk disebelahnya. Saat dia melihat apa yang Rikka sedang pelajari.
" Tunggu, inikan pelajaran untuk kelas enam SD. " kebingungan Aldi." Kau sudah mempelajarinya? "
"Ya begitulah."
" Kau paham?"
" Aku tidak bisa sombong. " dengan nada seperti menyombongkan diri.
"Tapi kamu terlihat menyombong." ucap Aldi dengan tersenyum.
Tiba-tiba tercium bau aneh, seperti ada yang terbakar.
" Tunggu aku lupa, mematikan kompor. " Rikka langsung pergi berlari ke belakang, diikuti oleh Aldi.
Saat Aldi sampai disana, di dapur dia melihat sebuah panci yang sudah dipenuhi kebulan asap.
" Uhuk...uhuk.... " Aldi pun terbatuk dengan asap yang mengebul, itu juga berlaku dengan Rikka.
Saat Rikka akan menurunkan panci itu, ternyata bagian bawah panci meneteskan air dari dalam dan itu langsung mengenai kaki Rikka.
Karena reflek, Rikka langsung melepaskan panci tersebut, dan Itu menyebabkan panci langsung lepas dan jatuh kebawah. Air dari dalam panci tersebut juga ikut tumpah dan mengenai kaki Rikka.
" Akkkhhhhh... Aku benar-benar ceroboh." Rikka terlihat merintih kesakitan dan mencoba menahannya.
" Kau tidak apa-apa ? " Aldi langsung masuk ke kamar mandi dan kembali dengan membawa seember air. " Ini." Kaki Rikka langsung dimasukan ke ember itu.
Rikka yang sedang merendamkan kakinya sementara Aldi lalu membereskan panci yang tadi terjatuh.
" Maaf, jadi merepotkan paman." ucap Rikka.
" Tak apa-apa ini bukan masalah. " balas Aldi dengan senyuman.
__ADS_1
[ Kruuuukkk.... ] Tanpa sengaja perut Rikka berbunyi.
" Kau lapar ? "
" Tidak."
" Sudahlah jujur saja."
" I–iya aku tadi sedang memanaskan air untuk memasak nasi tapi malah menjadi gosong. " ucap Rikka dengan menunduk.
" ya sudahlah, kau mau makan apa, sebelum itu kita punya kotak P3K? " Tanya Aldi.
Rikka hanya menggelengkan kepalanya pertanda tidak mempunyai kotak itu.
" Yasudah sekalian kita pergi ke apotek beli obat, sekalian juga kita pergi cari makan di luar. "
" Apa itu boleh? " tanya Rikka malu-malu.
" Tentu saja, jadi apa yang ingin kau makan hari ini ? "
" Paman yakin? "
" Hmmm " Aldi menganggukkan kepalanya.
" Nasi Padang "gumam Rikka yang kurang terdengar dari Aldi.
" Hmm, apa ? "
" Aku belum pernah makan nasi Padang, jadi aku ingin memakannya... kalau boleh ? " Ucap Rikka malu-malu.
" Ya tentu saja." jawab Aldi.
" Tapi. Aku tidak tau harganya, bagaimana jika itu terlalu mahal."
" Tenang saja aku tau harganya. "
" Benarkah. Terimakasih paman. " Rikka pun terdengar antusias.
" Sebaiknya kau jangan panggil aku paman, itu terasa aku jauh lebih tua darimu." ucap Aldi.
" Ya. Memang sih, tapi itu terasa aneh bagiku." ucap Aldi dengan menggaruk-garuk kepalanya.
" Kalau begitu aku harus panggil apa ? "
" Yaa. Mungkin kakak atau Aa, karena kita ada di Sunda. " ucap Aldi.
"Baiklah, Aa?" Ucap Rikka yang terdengar malu mengatakan itu. Hal itu juga membuat wajah Rika menjadi imut.
Aldi hanya tersenyum kearahnya, dia mendapatkan sebuah kesempatan sekali seumur hidupnya untuk melihat malaikat tersenyum.
#
Setelah beberapa saat kemudian, mereka sampai di rumah makan Padang. Disana Aldi dan Rikka langsung duduk di meja.
"Kamu mau mesen apa?"tanya Aldi.
"Terserah..."jawab Rikka. Dia mengatakan itu sebenarnya karena ia tak tahu menu yang ada di sana.
"Permisi!"Aldi mengangkat tangannya. "Semua menunya satu porsi!" Ucap dia setelah di tanggapi oleh pelayan rumah makan.
Rikka terkaget dengan apa yang Aldi katakan. "Kenapa?" Tanya dia bingung.
"Kan katanya terserah, jadi aku beli semua menunya." jawab Aldi. "Dan juga kamu kan belum pernah makan makanan nasi padang dan lauk pauknya."
"Umm." Rikka anggukkan kepala.
Tak beberapa lama, menu yang dipesan pun datang. Disana terdapat semua menu lauk pauk nasi Padang dalam satu porsi.
"Nah, ayo makan." setelah Aldi mencuci tangan dia langsung akan memakannya. Namun saat dia melihat Rikka yang menyatukan tangan untuk berdoa, dia terdiam.
"Ehemm, Bismillah..." Aldi berdehem lalu ikut berdoa.
Setelah itu mereka langsung memulai melahap makanannya, Aldi hanya memakan beberapa lauk agar Rikka dapat memakan dan merasakan semua lauknya, dan juga sebenarnya Aldi tak terlalu suka akan nasi padang.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka selesai makan. Sendawa keluar dari mulut mereka berdua, membuat mereka berdua tertawa bersama-sama.
__ADS_1
"Terimakasih, A Aldi." pernyataan terima kasih dari Rikka.
"Iya, sama-sama." jawab Aldi.
Karena tak memiliki pembicaraan lagi mereka kembali terdiam, Aldi terlihat sedang berfikir untuk membuat pembicaraan.
Saat Aldi sedang berfikir itu, Rikka tiba-tiba mengatakan sesuatu.
"Apakah kakak memang benar teman Ayahku?" Tanya Rikka.
"Ya, begitulah..." Jawab Aldi yang terdengar ngambang.
"Apa yang kalian lakukan jika bersama? sejak kapan Kakak mengenal Ayahku? Bagaimana sifat Ayahku itu?" Tanya bertubi-tubi dari Rikka ke Aldi.
"Ya..." Aldi berfikir sejenak, dia mencoba menjawabnya dengan apa yang saat itu dia lihat dari Pak Supri agar tak dicurigai.
"Aku sering berbicara dengan ayahmu tentang kehidupannya, untuk meminta saran darinya." jawab Aldi dari pertanyaan pertama.
"Aku mengenalnya belum terlalu lama, ya... Begitu, belum terlalu lama." jawab pertanyaan yang ke dua. Kemudian dia akan menjawab pertanyaan yang terakhir, sejenak dia mengambil pernafasan dulu lalu tak beberapa lama di mengeluarkannya kembali.
"Tentang bagaimana mana sifatnya itu... Hmm, aku juga belum terlalu tau. Tapi, aku rasa dia itu orang yang sangatlah mencintai anaknya. Ya. Aku yakin begitu..." jawab Aldi sembari mengingat semua yang tertulis dalam buku catatan.
"Umm begitu." Rikka lalu menundukkan kepalanya. Dia terlihat seperti sedang sedih, entah alasannya.
"Ada apa Rikka?" Tanya Aldi.
"Tidak ada apa-apa." sangkal dia menggeleng kepala. Dia masih terlihat sedih.
"Katakanlah jika ada sesuatu, ya!" Kata Aldi, dia lalu beranjak dari kursinya.
"Sebenarnya, beberapa hari yang lalu Ayah berprilaku aneh." Rikka secara tiba-tiba mengeluarkan suara. Aldi langsung menoleh kebelakang melihat Rikka.
"Apakah ayah telah melupakan aku?" gumam Rikka terlihat sedih. "Ayah selalu tidak ada untukku." tambah dia.
"Jika ayah menyayangiku, kenapa dia tidak ada."
Aldi lalu berjalan menghampirinya, dan langsung jongkok dibawah Rikka.
"Itu tidaklah benar. mungkin ada sesuatu hal yang tak bisa dia beritahu padamu." ucap Aldi.
"Begini saja jika kau merasa kesepian, tenang saja aku akan ada menemanimu." tambah Aldi dengan memberikan kartu identitas.
"Umm" Rikka anggukkan kepala.
Aldi lalu beranjak pergi untuk membayar, diikuti dengan Rikka yang beranjak dari kursi, dia lalu mengikuti Aldi dari belakang.
Setelah membayar mereka lalu keluar dari rumah makan Padang tersebut. Saat akan menaiki motor, Aldi menoleh kebelakang dan berkata.
"Aku akan setiap hari pergi rumahmu agar kau tak kesepian." ucap Aldi. "Kalau begitu, Ayok. " tambah dia setelah Rikka duduk dibelakangnya. Mereka lalu pergi melaju untuk kembali ke rumah Rikka.
-
-
-
-
-
∆\=\=\=∆
Mohon maaf jika ceritanya terlalu rumit, sulit dimengerti atau juga nggak jelas.
Mohon maaf juga jika ada banyak kekurangan.
Jika ada penulisan yang typo mohon maklum.
Jan lupa like jempolnya, share bagikan, tinggalkan komentar anda dan kalau bisa vote serta jadikan favorit.
Follow juga.
Ya.
Terimakasih
__ADS_1