Dzarl : After 800 Year'S

Dzarl : After 800 Year'S
Chapter 43 : Bu Eri Pt 1


__ADS_3

Keesokan harinya.


Kini Bu Eri sudah bersiap-siap, dia sudah mengenakan baju tempur. Stelan jaket kulit berwarna hitam dan celana traning abu, ditambah lagi sepatu sniker berwarna hijau dan putih.


"Ini dariku, mungkin akan membantu." Ucap Rian dengan memberikan topeng berwajah Cepot.


"Ini..." Bu Eri menerimanya.


"Jika anda sedang di kesulitan ingat topeng ini, aku dan Salsa akan selalu menunggu anda pulang." Ucap Rian.


"Umm." Bu Eri menganggukkan kepalanya dengan semangat.


"Kalau begitu, Aku pergi dulu."


"Umm, hati-hati dijalan. Semoga berhasil." Ucap Rian menyemangati.


Setelah itu Bu Eri lalu membuka pintu dan pergi dari sana, dengan semangat yang bergejolak. Dia bahkan sudah terlihat antusias akan hal ini.


***********


"Dimana aku..." Ucap Aldi lirih.


Baru saja dia membuka matanya, dia langsung disuguhkan dengan pohon yang rindang di atasnya.


"Kau sudah bangun." Ucap seseorang.


Mendengar itu, Aldi langsung bangun dan menoleh ke arah suara. Disana sudah ada Heru berjalan menghampirinya, tentu saja tak terlewatkan juga dengan senyumannya.


"Kau... Dimana aku." Ucap Aldi.


"Hmm, aku yang membawamu kesini." Jawab Heru. "Aku menemukanmu sedang tergeletak tak sadarkan diri di lantai." Tambah dia dengan menurunkan kantong kresek yang dia bawa.


"Hmm, begitu. Terimakas-, tunggu dimana motorku?" Tanya dia melorak-lirik ke kanan kiri.


"Itu." Heru menunjuk ke satu arah dibelakangnya.


Setelah dia melihat motornya baik-baik saja diapun lega. Dia menghela nafasnya, dia juga menoleh ke kantong kresek yang baru saja Heru jatuhkan di depannya.


"Bagaimana bisa aku disini dan dimana kita." Tanya Aldi.


"Aku yang membawamu, dan kita ada di hutan tak jauh dari rumah tempat aku menemukanmu tergeletak." Jelas Heru.

__ADS_1


"Hmm, sudah berapa lama aku pingsan-"


"Terlalu banyak tanya, aku males menjawabnya tau." Ucap Heru melangkah mendekat ke kresek.


"Ini, makanlah." Heru memberikan satu bungkus nasi lengkap dengan sendok yang ada didalam ikatan karet.


"Aa-, terimakasih." Aldi menerima nasi bungkus itu.


Dia lalu membuka bungkus nasi, lalu memakannya. Dia langsung menyantap makanannya dengan lahap. Tapi saat dia melihat Heru yang diam saja tak ikut makan, Aldi memberhentikan makannya.


"Bagaimana denganmu, kau tak makan?" Tanya Aldi. Sebenarnya dia berfikir kalau mungkin Heru tak membeli dua karena Heru kurang uang.


"Maksudmu makan? Hey, yang benar saja. Setelah kau melihat kemampuanku kau belum menyadarinya." Ucap Heru.


"Kau bukan manusia?" Ucap Aldi ragu.


"Mengapa kau mengatakan secara ragu." Ucap Heru. "Makan saja jangan pedulikan aku, lagi pula aku tak menyukai makanan manusia, beberapa."


Setelah itu, Aldi kembali lanjut menyantap makanan. Dengan begitu, tak ada pembicaraan mereka lagi yang sedang dibahas.


#


Singkat cerita akhirnya Aldi selesai makan, dia langsung mengepal bungkus nasi dan memasukannya ke dalam kantong kresek sedangkan sendok dia tetap memeganginya.


"Hmm, apa?" Sahut Heru.


"Tentang dirimu, aku sudah mencari tahu. Dari hasilnya, kau ternyata memiliki banyak identitas, hal itu juga membuatku kebingungan mencari informasi." Jelas Aldi.


"Ya. Memang aku memiliki identitas yang banyak. Ada hal lain yang kau tahu?" Tanya Heru.


"Hmm, sebenarnya aku bingung dengan semua identitas milikmu itu. Setiap KTP memiliki tahun kelahiran yang berbeda-beda, dan semua itu berturutan tahunnya." Jelas Aldi.


"Hmm, aku tak mengharapkan informasi ini, lagi pula aku sudah tahu." Ucap Heru.


"Bukan itu yang aku ingin katakan, aku ingin bertanya kepadamu." Ucap Aldi. "Siapa kau sebenarnya? Dan berapa usiamu?" Tambah Dia menanya.


"Ya, memang benar sih, hanya melihat identitas ku yang begitu banyak saja pasti akan membuat orang-orang bertanya-tanya." Ucap Heru.


"Oke baiklah, mulai dari siapa sebenarnya aku. Jadi, aku tak memiliki nama pasti, tapi panggil saja aku "Heru" yang berasal dari kata "Hell" yang artinya "Neraka". Oke lanjut,


Jadi aku ini adalah salah satu dari ke-12 Dzarl bulan tingkat atas, aku berada di peringkat ke-8. Jadi aku sebenarnya benar-benar kuat sekali Lo, aku bisa disebut Over Power atau lebih singkatnya "OP".

__ADS_1


Tentang usiaku, hmm mungkin kau takkan percaya tapi usiaku sebenarnya adalah 1000 tahun, Jadi aku jauh lebih tua darimu. Tapi jangan panggil aku dengan sebutan kakek.


Ya, begitulah. Aku sudah menjawab pertanyaannya, mau kau percaya atau tidak itu terserah dirimu." Ucap Heru panjang lebar.


"Aku percaya." Ucap Aldi.


"Hah? Semudah itu."


"Ya. Setelah melihatmu selama ini, kurasa aku bisa mempercayainya. Dan juga kau terlihat jujur dari sinkronisasi tubuhmu sewaktu mengatakannya." Jawab Aldi.


"Jujur...?" Seolah tak mengerti apa yang Aldi katakan barusan. Tapi setelah itu dia malah tersenyum kembali.


Heru lalu mengangkat tubuhnya, dia berdiri dan lebih mendekat lagi ke Aldi. Dia juga mengangkat jari telunjuknya, lalu menempelkan ibu jari didepan jari telunjuknya.


(Tekk...) Bunyi jentikkan jari.


Heru menjentikkan jarinya dan langsung membuat Aldi perlahan menutup matanya terus tertidur. Melihat itu Heru hanya memandangi Aldi yang sudah tergeletak tidur.


"Aku harus melakukan ini, jika tidak identitas ku akan terbongkar." Ucap Heru.


"Lupakanlah apa yang aku katakan tadi yah. Selamat tidur kembali, tidur yang nyenyak." Tambah dia.


***********


"Jadi disini, ya. Rumah si Pak Dariki ini." Ucap Pak Fajar yang baru saja turun dari mobil.


Dia sudah sampai di tujuan di rumah Pak Dariki. Saat dia sudah menampakkan kaki disana, Pak Fajar langsung sekitarnya yang hanya seperti rumah biasa pada umumnya.


"Oke kita lanjut ke dalam. Lets Go!" Ucap Pak Fajar antusias.


Saat dia baru saja melangkah beberapa kaki, langkahnya langsung terhenti dan dia langsung menoleh kebelakang.


Disana ada sesuatu yang melesat dengan cepatnya ke arah Dia. Namun, karena sangatlah cepat Pak Fajar tak sempat untuk kaget.


Lesatan itu tak berlangsung lama, kakinya langsung ditahan oleh Bob si pria kekar dan botak. Karena kaki lah yang disengaja diarahkan kepada orang itu ke Pak Fajar.


"Hah? Kau pikir bisa menendang mukaku dengan mudah, hah?" Ucap Pak Fajar meledek.


Seorang yang melesat itu ada seorang berjaket hitam dan topeng berwajah Cepot, sudah tak salah lagi dia adalah Bu Eri. Dia sudah sampai dirumahnya, kebetulan juga dia langsung bertemu dengan Pak Fajar dan harus menghadapinya.


Bu Eri langsung mencoba melepaskan cengkraman kakinya itu dari Bob. Namun, tanpa aba-aba Bob juga langsung melempar Bu Eri dengan kuat hingga ada bunyi saat bertubrukan dengan tembok.

__ADS_1


"Serangan dadakan berupa tendangan dari tempat tak terjangkau oleh mata kita. Mmphh, kau pikir siapa yang kau hadapi hah!?" Ucap Pak Fajar meremehkan.


__ADS_2