Dzarl : After 800 Year'S

Dzarl : After 800 Year'S
Chapter 31 : Menghadapi Gate Dzarl


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu...


Seseorang sedang berjalan disebuah gang sempit. Sembari dia melihat potongan kertas, dia mencari lokasi yang tertera di kertas tersebut.


"Gang mawar. Berjalan sampai sekitar 10 meter, nah disini kayaknya" dia berhenti di jalan setapak yang sepi. Dia melihat-lihat sekitaran, mencari orang yang dijanjikan.


"Asep Sunandar?" Ucap seseorang yang ada di belakangnya.


Pak Asep terkejut, dia lalu menoleh ke belakang. Seorang lelaki berbaju kaos abu dan celana panjang hitam, tak salah lagi dia adalah Heru.


"Kamu!?" Pak Asep menunjuk Heru. Dia tak asing dengan Heru, karena Heru lah yang membuat pak Asep menjadi Gate Dzarl.


Lihat chapter 2.


"Ya, kita bertemu lagi, Pak Asep Sunandar" Ucap Heru dengan senyuman jahat.


"Kau..." Pak Asep terlihat kesal dengan Heru, tentu saja dialah yang menjadikan Pak Asep ini menjadi monster.


"Sudah, kita tak punya waktu. Aku memiliki peluang untukmu" ucap Heru.


"Peluang?"


"Kau kuberi peluang untuk menghabisi nyawa seseorang" ucap Heru dengan memberikan sebuah kertas rapih berukuran A4.


Pak Asep menerimanya, dia bingung apa itu. Saat dia melihatnya, ternyata itu adalah CV dari seseorang.


"Apa ini?" Tanya Pak Asep.


"Orang yang akan kamu habisi" jawab Heru.


"Hah? Kau gila, tentu saja aku tak ingin membunuhnya. Lagi pula siapa kau? Kenapa tiba-tiba kau menyuruhku menghabisi nyawa seseorang?" Tanya Pak Asep.


"Bukan menyuruh, tapi aku hanya memberikan peluang kepada orang. Ngomong-ngomong bayarannya bersar Lo" goda Heru. Dia lalu menunjukan saldo rekening Heru, tertulis angka yang amat besar..


Pak Asep menoleh saldo itu, disana tertulis angka yang amat besar. Itu adalah bayaran jika pak Asep melakukan apa yang diperintahkan itu.


"Ini adalah bayaran jika anda melakukan peluang ini, semuanya menjadi akan milik Anda" ucap Heru.


"Oh iya, Akhir-akhir ini anda sedang mengalami krisis ekonomi kan, dan juga kudengar anakmu belum bayar spp sekolah, anda pasti pusingkan memikirkan hal itu, mungkin uang ini bisa digunakan untuk membayar tagihan sekolah tersebut" Tambah Heru membisik ke Pak Asep.


Pak Asep disana terkaget, bagaimana dia tahu tentang hal itu. Mendengar itu, memang Pak Asep berfikir untuk bayar tunggakan anaknya dan juga untuk kebutuhan sehari-harinya.


" Jika kau menolak tidak apa-apa, aku akan memberikan peluang ini ke orang yang mau" Haru lalu melangkah pergi, namun sebuah tangan tiba-tiba menahannya.


"A-aku akan melakukannya, asal janji itu seluruhnya milikku, tak ada potong pajak darimu" ucap Pak Asep dengan gemetaran, dia menahan tangan Heru untuk menunggu jawaban.


"Iya, lagi pula aku tak menginginkan uang itu" ucap Heru yang langsung menarik tangannya dengan paksa.


"Baca dengan seksama, lalu lakukan apa yang diperintahkan di halaman terakhir" ucap Heru melangkah pergi dari sana. "Dan juga kau harus siap konsekuensinya"

__ADS_1


Pak Asep lalu membaca kertas itu, disana tertulis semua tentang target dan beberapa peraturan serta konsekuensi jika dia membocorkan rahasia atau terjadi kesalahan.


Tak beberapa lama, Pak Asep mengerti itu, dia menutup kertas itu lalu pergi juga dari sana.


***********


Kembali ke sekarang, di mall.


Risa sedang menghadapi Gate Dzarl itu, dengan semua gerakan bertarung khas nya itu dia mengahadapi Gate Dzarl.


Karena Gate Dzarl itu cukup kuat, itu membuat Risa kewalahan. Namun, Risa bukan orang biasa, dia orang yang sudah biasa dalam bertarung, membuat Gate Dzarl itu juga kewalahan.


Pertarungan sedang terjadi, banyak orang-orang yang menonton mereka yang sedang bertarung, ada juga beberapa orang mengabadikannya di kamera ponsel mereka dan dipasang ke Media sosial.


(Buk...) Risa menubruk tiang penyangga dan jatuh.


Dia terlihat menahan sakit, lalu setelah itu dia bangun dan mencoba menyerangnya dengan sebuah lemparan jarum ke tubuh Gate Dzarl tikus itu.


Dzarl itu terdiam kaku saat jarum milik Risa menusuknya, saat itulah dia memanfaatkannya, dia berlari ke Dzarl itu dan melompat.


Disaat itu juga, Risa mengeluarkan darahnya, kali ini cukup banyak. Dia mengubah darahnya itu menjadi sebuah pedang.


Dia sudah siap menebas Dzarl tersebut disaat yang tepat. Namun sebuah kesalahan rencana terjadi.


Gate Dzarl itu berhasil dapat bergerak lagi karena racun dari dalam darah Risa tak terlalu kuat untuk mengunci dia dalam waktu yang diinginkan.


Gate Dzarl itu menoleh ke atas, dengan sigap dia langsung menendang Risa sangat keras. Dia terlempar hingga masuk ke dalam toko menabrak barang-barang disana.


"Risa!" Rian mencoba mencari-cari keberadaan Risa yang sudah di kubur oleh gerabah. Jadi toko yang Risa masuk itu adalah toko gerabah.


Terlihat Risa bangun keluar dari 2 tumpuk lemari dan pecahan gerabah yang tadi dia tabrak. Dia bangun dan kembali bertarung dengan Gate Dzarl itu.


Rian terus melihat Risa yang melanjutkan bertarungnya dengan Dzarl, dia masih kaget kalau Risa bukanlah manusia, dia juga khawatir kepada Risa yang sudah tak berdaya untuk bertarung lebih lama lagi.


Namun, alangkah daya dia tak bisa membantu Risa disana, minimal melindunginya saja dia tak bisa.


Dari lantai yang sama dengan Rian, hanya dibagian sebelah baratnya, seorang sedang sedang berdiri dengan wajah gembira, itu sudah terlihat dia sejak awal. Dia sedang memakan sate sambil menikmati tontonan gratis yaitu Risa dengan Dzarl itu bertarung.


Dia adalah Heru yang sedang ada disana, namun entah mengapa Rian seperti tak mengenal dia, mungkin Rian terlalu fokus ke Risa yang bertarung, walaupun mereka pernah bertemu sebelumnya, tapi sepertinya Rian memang benar tak mengenali Heru.


Saat Heru menyadari keberadaan Rian, dia tersenyum kebawah, lalu dia melangkah menghampiri Rian dari sana.


Saat Heru sudah dekat dengan Rian, dia menepuk bahu Rian. Disana, Rian menoleh ke pinggir, melihat Heru.


"Kau ingin membantunya?" Tanya Heru.


"Hah? Maksudnya?" Rian tak faham maksud Heru, tiba-tiba dia datang dan menawarkan untuk membantu.


"Jawab saja, kau ingin membantunya?" Desak lagi Heru.

__ADS_1


Rian mengangguk mengiyakan. Heru tersenyum ketika melihat Rian mengangguk. Dia lalu menyuruh Rian memberikan tangan kirinya, tangan yang memakai jam.


"Berikan tanganmu" pinta Heru.


Walau masih bingung, dia tetap memberikan tangannya. Heru langsung menarik tangan Rian dengan sedikit kencang.


Dia seperti sedang mengotak-atik jam yang Rian kenakan itu, yang pemberian dari Pak Haya. Setelah beberapa saat dia menekan sesuatu, sebuah keajaiban terjadi.


Mendadak tubuh Rian yang semula memakai baju kaos, kini berubah menjadi kemeja putih lengan panjang. Celana yang semula memakai berwarna putih, kini berubah menjadi celana panjang hitam yang mirip biasa di pakai Heru. Alasnya yang semula memakai sendal Eiger, berubah menjadi sepatu Sniker.


Rian terkaget dengan hal yang baru saja terjadi, pakaiannya semula berubah menjadi baju kemeja dan celana hitam.


"Itu bukanlah pakaian biasa" ucap Heru. "Baju dan celana serta satu set lainnya itu sudah dirancang untuk bertarung dan juga itu anti peluru dan tebasan. Baju itu mungkin terlihat seperti biasa, namun itu masih memiliki keunggulannya tersendiri" tambah dia dengan memasukan tangan ke saku celana.


Rian melihat-lihat pakaian yang dikenakannya itu, itu sangatlah terlihat keren untuknya. Dia terkagum dengan model baju itu.


"Kau tak akan berlama-lama lagi, kan!" Ucap Heru menyadarkan Rian yang sedang terkagum dengan pakaian.


"Ahhh iya" Rian lalu akan pergi kebawah, membantu Risa disana.


"Ehh, tunggu" Heru menghentikan langkah Rian. "Ini, kau tak bisa menunjukkan identitas dirimu" Heru memberikan sebuah topeng, bentuk dari topeng itu adalah wajah Cepot.


Note : Silahkan cari di google kalau tidak tau apa itu Cepot.


Rian lalu menerima topeng itu, dia mengambil topeng itu lalu memakainya.


"Itu juga sama, bukanlah topeng biasa, pokoknya begitu" ucap Heru yang langsung mendorong Rian kebelakang, menyuruhnya untuk mulai.


Setelah memakai topeng itu, dia pergi ke bawah untuk membantu Risa disana.


Oh, iya. Saat Rian berubah, sebuah Katana yang sama dengan saat di chapter 8 juga keluar, dan kini Rian membawanya di tangan kanan nya.


Saat dia sudah menginjakan kaki di tangga eskalator, dengan lantang dia berteriak.


"HEI MONSTER!!"


Sontak semua yang ada disana menoleh ke Rian termasuk Risa dan Gate Dzarl, Mereka melihat seorang pria yang sedang menaiki eskalator untuk turun kesana, penampilannya bertopeng dan juga berjas putih membuat mereka mengira itu adalah pembunuh.


Tunggu, eskalator?


Yang benar saja, emang ada pahlawan datang dengan eskalator.


Biar lah, ini ide yang belum pernah ada kan.


Keren kan.


Makanannya Jan lupa like jempolnya suka, share bagikan, tinggalkan komentar, dan kalau bisa buat jadi favorit serta vote novel ini agar saya menjadi lebih semangat mencari idenya.


Oh iya satu lagi follow me.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2