Dzarl : After 800 Year'S

Dzarl : After 800 Year'S
Chapter 5 : Kilas balik


__ADS_3

" Akarina Risa " panggil seorang wanita yang menggunakan kemeja putih dan rok pendek, gayanya seperti seorang sekretaris.


Dia memanggil seorang di balik jeruji besi, orang itu adalah seorang gadis yang sedang merenung.


" Iya. " Jawab dia yang terdengar hambar.


Jeruji itupun dibuka lalu gadis itu berjalan keluar dari jeruji penjara tersebut.


" Ayo. " Ucap wanita itu sebelum dia melangkah pergi. Wanita itu berjalan ke balik arahnya yang tadi, di ikuti dengan seorang gadis itu dibelakangnya.


Mereka berdua berjalan di lorong yang penuh sel jeruji besi dengan lentera yang menempel di setiap sisi sel tahanan itu.


Risa hanya bisa tertunduk ke bawah sambil mengikuti langkah kaki wanita itu dari belakang.


Setelah mereka menaiki tangga ke atas, Merekapun sampai di sebuah aula luas seperti GOR lapangan futsal yang kosong.


Disana terdapat tiga orang, dua wanita yang mirip dengan orang yang ia ikuti tadi, satu lelaki dengan jas batik merah dan emas, dia duduk di sebuah kursi mewah dengan gaya seorang raja.


Mereka bertiga berada di atas, di tempat duduk untuk penonton pertandingan futsal.


Saat Risa dan wanita itu keluar dari lorong dan muncul di lapangan futsal, mata mereka bertiga langsung mengarahkan pandangan ke arah Risa.


" Lama tak berjumpa. Risa " Ucap seorang yang bergaya raja itu.


" Bagaimana kabarmu? " Imbuh pria itu.


" Tidak baik-baik saja " jawab Risa dengan terdengar kesal.


Mendengar itu, pria berjubah membisikan sesuatu ke salah satu sekretaris disebelahnya.


Lalu sekretaris itu menganggukkan kepala, lalu wanita itu menengok ke arah satu wanita sebelahnya.


Dua sekretaris itu pergi masuk ke sebuah ruangan dan keluar kembali dengan membawa satu ember air yang terisi penuh.


Lalu kau tau apa yang akan dilakukan oleh dua wanita tersebut.


Mereka berdua langsung membanjur Risa.


( Gyurr ) suara air yang dibanjurkan ke Risa. Badan Risa pun basah kuyup karena itu.


" Hahahaha " tertawa dengan keras Pria berjubah itu.


Setelah itu dia pergi kebelakang dan muncul di balik pintu bawah.


Dia berjalan dengan wajah yang masih tertawa, hingga dia berada di depan Risa, ekspresi wajahnya berubah seperti kemarahan.


Disana dia langsung menampar wajah Risa dengan keras.


" Kau pikir kau layak berkata seperti itu padaku, hah! " Ucap dia.


Dia lalu melangkah mundur, lalu tak lama kemudian dia memberhentikan langkahnya.


" Kau masih mengingat kejadian 10 tahun yang lalu " Pria itu tetap memperhatikan Risa, wajahnya masih terlihat kemarahan.

__ADS_1


" Aku turut berduka cita atas kematian seluruh keluargamu " Ucap Pria itu dengan wajah yang pura-pura sedih dengan maksud menghina.


" Eist, tapi boong. Hahahaha " Pria itu lalu tertawa terbahak-bahak.


Dia lalu berjalan ancang-ancang kaki ke arah Risa, seperti bersiap untuk menendang sesuatu.


Benar, saat jaraknya sudah dekat dengan Risa, dia langsung menendang Risa hingga dia terhempas cukup jauh. Risa terhempas dan terguling di lantai, mulutnya mengeluarkan darah begitu juga hidungnya yang sama mengeluarkan darah.


" Kau itu tak memiliki siapa-siapa, jadi jangan berani-beraninya kau melawanku " Ucap dia sebelum dia menghampiri Risa dan menarik tudung Hoodie milik Risa.


Pria itu menarik Risa hingga ke tiang gawang lapangan, lalu setelah itu dia mengikat Risa dengan sebuah tali tembang yang baru saja diberikan oleh salah satu sekretarisnya.


" Kau tidak lain hanyalah peliharaanku " Ucap dia sembari mengikat leher Risa dengan kuat.


Risa tercekik karena ikatannya yang terlalu kuat, nafasnya jadi sesak karena itu. Dia mencoba menarik-narik tali yang terikat di lehernya itu.


" Keringkan tubuhmu dengan kekuatan mu itu " Ucap Pria itu. Setelah itu dia berdiri dan pergi, diikuti ketiga wanita berkemeja itu.


Risa ditinggalkan begitu saja. Tanpa memperdulikan itu, dia lalu mengeluarkan kekuatannya.


Dia menarik semua air yang membasahi sekujur tubuhnya keluar, lalu mengumpulkan air itu dihadapannya dengan membentuk bola, Setelah itu dia membekukan air tersebut menjadi seperti kaca.


Lalu, dengan kesal dia melemparkan bola kaca ke pintu tempat Pria berjubah itu keluar tadi.


Dia terlihat sangatlah kesal, bukan karena dia disiksa dan dianggap sebagai peliharaan, tapi karena dia tak bisa melawan ke si pria itu.


Setelah dia melemparkan bola itu, dalam sekejap dia menangis atas semua yang terjadi. Dari keluarga yang dibantai dan hanya dia sendirian yang tersisa di ras-nya, dia diambil oleh organisasi pembunuh bayaran berkedok panti asuhan, dan dia harus menjadi anak buah dari orang gila berjubah raja itu.


Dan juga sepuluh tahun lalu, tepatnya saat Risa berumur lima tahun. Ras mereka yang bernama, Rayblood. Telah dibantai habis-habisan oleh Ras Needell, ras yang dipimpin oleh Pria berjubah tadi.


***********


Beberapa Minggu kemudian.


" Risa!... Risa!...RISSA!! " Teriak seseorang dari sebuah ponsel yang sedang ditempelkan di telinga kiri Risa.


Risa kini sedang berada di sebuah gang sempit dekat trotoar jalan yang sama tadi Ray dan Rian lewati.


Dia berpenampilan, memakai kemeja putih dan sebuah jubah kecil berwarna hitam dengan beberapa garis berwana emas.


Lihat chapter 1.2. ilustrasi Risa.


Dia sedang bersembunyi dibalik tembok rumah di pinggir trotoar jalan.


Tangan kirinya menggenggam ponsel yang menempel di telinga kiri. Dia seperti sedang memantau dan menunggu seseorang lewat disana.


" Ahhh, iya tuan. " Jawabnya Risa.


Risa memanggil orang itu adalah tuan, sudah dipastikan dia adalah seorang yang bergaya raja waktu itu.


Kita belum tahu siapa namanya dan siapa dia, tapi kita panggil saja dia tuan.


" Apa yang sedang kau lakukan, aku sudah memanggilmu berkali-kali tapi kau tak menjawab, Haa! " Ucap orang itu dengan suara yang keras dan terdengar marah.

__ADS_1


" Maafkan saya, Tuan " jawab Risa dengan nada yang amat terbalik, suaranya terdengar amat lembut.


" Sudah! apakah kau sudah bertemu dengan dia!? " Tanya Tuan dengan sedikit mengecilkan suaranya, walau masih terdengar keras.


" Belum, tapi sepertinya sebentar lagi dia akan lewat sini. "


" Baiklah kabari aku jika sudah selesai. " Tanpa meminta jawaban apapun, orang itu langsung mengakhiri telponya.


" Baik. " Jawabannya walupun telpon sudah dimatikan.


Risa pun memasukan ponselnya ke saku roknya. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya orang yang ia tunggu mulai terlihat, dia sedang berjalan dengan terlihat seperti sedang ngedumel.


Orang itu menggunakan jas hitam dengan warna sama dengan celana panjang yang ia kenakan. Dia adalah, Heru.


" Haaahhh, kenapa gua harus pake ini. " Gumam Heru yang melihat tangan, pinggang, dan juga kaki yang memiliki ukuran baju ketat.


Dia masih terus berjalan, tak lama saat sudah dekat dengan Risa, dia langsung menghentikan langkahnya. Dia tahu kalau ada orang yang akan menyerangnya secara mendadak.


" Ternyata aku akan ditemukan disini. " Ucapnya dengan kedua tangan dimasukan ke saku celana.


Seolah dia sudah tau akan keberadaan Risa, matanya melirik ke arah tempat Risa yang sedang bersembunyi.


Risa pun keluar menampakkan dirinya, kepalanya menghadap kebawah, kedua tangannya disimpan ke belakang.


" Hmmm, aku sibuk! " Keluh Heru dengan kepala yang menghadap Risa lemas.


" Tapi ini perintah dari tuan Raja "


" Kalau nggak mau, gimana? " Tanya Heru.


" Kalau begitu, aku akan memaksamu "


Setelah mengatakan itu, Risa langsung menyerang Heru dengan tangannya yang mencoba menyerang wajah Heru.


Namun, itu bukanlah kejutan baginya, dia langsung mudur menghindar dari serangan sederhana itu. Tak sampai disitu, Risa yang gagal menyerang Heru langsung mengangkat tangan kanan nya dan tangan kiri menggenggam pergelangan tangan kanan lalu mengarahkannya ke arah Heru.


" Eits. " Heru langsung mengangkat kedua tangannya keatas, seolah ia takut akan apa yang dikeluarkan dari tangan kanan Risa.


Namun, itu hanyalah tipuan. Heru langsung mengeluarkan serangan dadakan yaitu sebuah larian yang langsung melesat cepat ke arah belakang Risa.


Secara mengejutkan, Heru sudah ada dibelakang Risa dan juga kedua tangan miliknya sudah digenggam erat oleh satu tangan Heru.


Tangan Heru sebelahnya ada di rambut Risa, dia mengelus-elus lembut rambut merahnya itu.


" Kau pikir kau bisa mengalahkan ku... " Ucap Heru dengan suara lembut, dia tetap mengelus-elus lembut rambut Risa.


Risa mencoba melepaskan tangannya dari Heru, namun dia tidak bisa melakukannya seolah tenaganya mulai berkurang.


Ternyata usapan dari Heru itu adalah kekuatan penyerap miliknya. Sebenarnya Heru sedang mengambil energi Risa melalui usapannya itu. Tak lama kemudian, Risa langsung tak berdaya, kekuatan melemah.


Kedua tangan milik Risa dilepaskan oleh Heru, membuat Risa langsung jatuh tergeletak kebawah tak berdaya.


Perlahan kesadaran Risa memudar, penglihatannya mulai dipenuhi kegelapan, tak lama kemudian dia pingsan.

__ADS_1


__ADS_2