
Setelah eskalator membawanya ke bawah, dia langsung berlari menuju Gate Dzarl itu dengan Katana yang diangkat ke atas mengarah ke Dzarl.
Semua orang memandangi dia, namun Rian tak memperdulikan mereka. Ada juga beberapa orang sedang merekam Rian yang sedang berlari.
Setelah Rian sudah ada dekat dengan Dzarl tersebut, dia langsung mengibaskan Katana nya itu ke arah Gate Dzarl.
Hal itu berhasil, Gate Dzarl tertampar kepalanya oleh Katana. Setelah itu Rian langsung berlari hingga berhenti di depan tempat Risa yang kini sudah setengah badan ada diluar tumpukan lemari dan pecahan gerabah.
"Siapa kau?" Tanya Risa memandangi Rian.
"Menurutmu..." Jawab Rian.
"Rian?!" Ucap Risa tak yakin.
Rian hanya mengangguk kecil pertanda iya.
"Apa yang kau lakukan, cepat pergilah dari sini!" Ucap Risa menitah.
"Tak mau!" Bentak Rian. "Aku tak bisa membiarkanmu terus kalah." Tambah dia.
"Tentu saja tidak..." Gumam Risa. "Aku melakukan ini demi melindungimu." Tambah dengan gumaman.
"Ya sudah, biarkan aku." ucap Rian yang sudah memegang erat-erat Katana, siap untuk melawan Gate Dzarl yang sudah mulai berjalan ke arah mereka.
"Huuaaaa!!" Teriak Rian berlari ke Gate Dzarl dengan Katana yang ada di depan dada mengarah ke Dzarl.
Namun dengan mudah Gate Dzarl menangkis serangan Rian dengan menubruknya hingga Rian terpelanting ke atas dan menabrak dinding lantai dua.
"Ahkk..." Rian merintih kesakitan setelah jatuh kebawah, tapi saat dia memegang punggungnya yang menabrak dinding dia terkaget, tak ada rasa sakit disana, rintih itu hanyalah perasaan Rian semata.
Itu mungkin adalah fungsi dari setelannya yang dipakai, bukankah itu anti serangan, mungkin itu juga berperan di bagian tubrukan juga.
"Tunggu ini tak sakit?" ucap Rian keheranan.
Rian tak diam saja, dia langsung bangun dan berlari ke arah Gate Dzarl dengan Katana yang diangkat seperti tadi.
Gate Dzarl menangkisnya dengan tangan, kini Rian hanya terdorong oleh tenaga Gate Dzarl tersebut.
Dia kembali menyerang Gate Dzarl, dengan tebasan. Namun, perutnya langsung di tubruk oleh kepala gate Dzarl.
Membuat Rian jatuh tersungkur ke lantai. Dia kembali bangun dan mengambil Katana yang terhempas tadi.
Gate Dzarl langsung berlari ke arah Rian, dalam beberapa detik.
Bukk...
Bunyi tubrukan Gate Dzarl ke perut Rian hingga dia terpelanting ke atas menabrak dinding lantai dua lagi.
Brukk. Rian jatuh ke bawah.
"Rian..." Risa langsung berlari ke Gate Dzarl itu. Dia kini sudah bebas dari tertindih lemari gerabah.
Dia mengeluarkan darahnya lagi dan merubahnya menjadi jarum. Lalu melemparkannya ke Gate Dzarl tersebut.
Gate Dzarl itu langsung terdiam kaku setelah jarum menusuk punggungnya.
Risa berlari menghampiri Rian yang sudah tengkurap dilantai.
"Kau tak apa-apa?" Tanya Risa khawatir.
"Hmm... Aku baik-baik aja." Jawab Rian yang mencoba bangun walau suaranya lirih.
Saat dia sudah berdiri, dia menengok ke kanan-kiri mencari Katana yang tadi terlempar.
"Ini." Risa menyodorkan Katana.
__ADS_1
"Terimakasih." Ucap Rian. Saat dia akan menerima pedang itu.
Tangan Risa tak memberikannya ke Rian, namun lebih tepatnya dia mengatur posisi Katana yang ada di genggaman tangan kanan.
Di tangan kirinya, Risa mengeluarkan darahnya lalu mengubahnya menjadi pedang, setelah itu menodongkannya ke Dzarl tersebut.
(Tak...tak...) Risa berlalri kearah Gate Dzarl itu.
Risa langsung menyerang Gate Dzarl. Dia kembali bertarung dengan Gate Dzarl, namun kini dia terlihat berbeda. Kali ini gaya dia bertarung sangatlah gesit dan cepat, bak assassin profesional.
Walaupun dia menggunakan pedang yang berbeda, tapi dia tak terlihat kesusahan menggunakannya. Dia terus menggunakan dua pedang itu bergantian.
Di arah kiri menebas horizontal, lalu di arah kanan dia menebas arah miring ke atas.
Setelah beberapa saat, Gate Dzarl itupun mulai kelelahan. Dengan kesempatan itu pula Risa memanfaatkannya.
Dia langsung mengeluarkan jurus terakhirnya, seperti sebelumnya, yaitu melemparnya jarum hingga menusukkan tubuh Gate Dzarl, jarum itu lalu membuat mangsanya menjadi kaku.
Dengan begitu, Risa langsung melompat kearah Gate Dzarl itu. Dengan cepat Risa memutar badannya seperti gasing.
Dalam beberapa detik, Risa menebas leher belakang Gate Dzarl itu dengan gaya memutar bagai gasing.
Gate Dzarl itupun kalah, dia tewas dihabisi Risa. Disini terbukti bahwa Risa bukanlah gadis biasa.
Gate Dzarl itu kembali ke wujud asli manusianya, tepatnya Pak Asep.
Tak berselang lama, Risa terjatuh ke bawah karena tak kuat menopang tubuhnya lebih lama.
"Kau tak apa-apa?" Rian berlari ke arah Risa.
Terlihat Risa sudah lemas dengan nafas terengah-engah karena capek.
"Kau masih bisa bangun?" Ucap Rian mengulurkan tangannya.
"Su-sudah!" Jawab salah satu dari mereka.
"Baguslah." Ucap Rian.
Setelah itu diapun menuntun Risa pergi, semua orang-orang menepi saat Rian berjalan ke arah mereka.
Dari atas Heru hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Tak beberapa lama setelah itu, dia menoleh ke luar.
"Sepertinya mereka akan segera datang." Ucap Heru.
Benar adanya, terdengar suara sirine polisi yang sudah cukup dekat. Itu adalah PaPDI dan ambulans yang datang ke sana.
Mendengar itu Heru tersenyum. Dia lalu meloncat kebawah, dari lantai dua ke lantai satu.
Setelah dia ada di bawah, dia langsung menghampiri Pak Asep yang sudah tergeletak. Dan dia langsung membawa tubuh Pak Asep lalu pergi berlari dari sana.
Bertepatan dengan Heru baru keluar dari sana, tim PaPDI pun baru sampai ke sana. Ada tiga mobil PaPDI disana dan dua ambulans.
Setelah para anggota keluar, mereka langsung mengevakuasi korban dari kejadian ini.
Disana ada juga anggota tim Pak Sandi seperti, Rendi, Nia, Danu, dan anggota lainnya terkecuali Aldi yang masih menjalani misinya itu.
"Pak kami tak menemukan Gate Dzarl tersebut!" Ucap Rendi.
"Cari dengan benar, kemungkinan dia masih ada disini." Ucap Pak Sandi.
"Apa kalian melihat Gate Dzarl itu pergi ke mana?" Tanya Pak Sandi ke mereka yang masih ada mengerubungi.
Mereka semua hanya menggelengkan kepala pertanda tidak tahu.
Pak Sandi lalu pergi untuk memeriksa cctv, karena kemungkaran ada rekaman dia kemana.
__ADS_1
Setelah dia sampai di ruangan pantau cctv, dia langsung memeriksa rekaman.
Tak perlu beberapa lama, mereka langsung menemukan rekaman Heru yang membawa Pak Asep itu pergi.
"Cari tahu tentang dua orang didalam rekam ini!" Ucap Pak Sandi lewat walkie talki, menyuruh untuk mencari tahu.
"Baik!" Jawab satu anggota dalam mobil, dia langsung membuka laptopnya dan mencari identitas dari kedua orang tersebut.
Tak beberapa lama, dia menemukan identitas mereka berdua.
"Ketemu...
Pria yang berbaju merah, bernama Asep Sunandar (34), no NIK. : 321***826,
Alamat : Jl. Taring Ghoul, .....
Agama : Islam.
Status pernikahan : sudah menikah.
Pekerjaan : Buruhn
Gol darah : O
Kewarganegaraan : WNI.
Dan Pria berbaju abu, bernama Heru (23), tunggu.
Ada banyak identitas dengan foto kemiripan yang sama.
Setiap statusnya selalu diperbaharui setiap tahun, kemungkinan ini palsu.
Maaf pak untuk pria berbaju abu kita tak mendapatkan hasil siapa dia." Ucap anggota itu.
"Apa?!" Pak Sandi terkaget.
Pak Sandi lalu memfokuskan ke foto bagian Heru. Dia terus bertanya-tanya siapa dia itu.
"Aku merasa ada yang aneh dengan pria ini." Ucap Pak Sandi. "Cari pria bernama Pak Asep ini dan tangkap dia!" Perintah Pak Sandi.
"Baik!! Laksanakan." ucap anggota lain.
-
-
-
-
-
∆\=\=\=∆
Mohon maaf jika ceritanya terlalu rumit, sulit dimengerti atau juga nggak jelas.
Mohon maaf juga jika ada banyak kekurangan.
Jika ada penulisan yang typo mohon maklum.
Jan lupa like jempolnya, share bagikan, tinggalkan komentar anda dan kalau bisa vote serta jadikan favorit.
Follow juga.
Ya.
__ADS_1