
" Ahhh, dimanaaa! " Arif terus mencari benda miliknya itu.
Dari raut wajahnya, dia sudah mulai kesal karena tak menemukan benda itu. Dia terus mencari, dari setiap kolong meja disana, hingga bagian terselap disana sekalipun.
Setelah berselang lama, akhirnya dia menemukan benda miliknya itu di salah satu bangku di sana. Sebuah Bros bunga berwarna biru.
" Akkhirnyaaa!! " Rian kegirangan karena telah menemukan barang yang tertinggal itu.
Setelah itu pun, dia langsung bergegas pergi ke luar. Dengan wajah yang telah berubah menjadi kegirangan dia terus berlari dengan senyuman yang menyelimutinya.
"Permisi, Mbah" dia melewati gerbang, disana masih ada Pak satpam yang menunggunya.
Larian dia tak bertahan lama, setelah cukup jauh dia kembali ke jalan santai biasa, masih ada senyuman kecil di wajahnya.
Dia berjalan dengan santai, sesekali dia melihat langit, jalanan dengan senyuman.
Dia juga melihat masjid besar yang sering dijadikan pemberhentian kendaraan yang datang dari jauh.
Masjid besar itu sudah mulai melantunkan adzannya, banyak orang berdatangan ke sana . Rian juga berbelok arah ke masjid tersebut.
Dia masuk ke gerbang dan melihat sudah banyak mobil yang terparkir di halaman masjid.
Rian tak memperdulikan itu dan langsung melepas sepatunya dan pergi untuk melaksanakan ibadah.
Setelah selesai, Rian kembali memakai sepatu dan tas ransel hitam miliknya.
Disana, langit mulai melihatkan senja yang berarti sudah jam setengah empat sore. Namun Rian tetap pergi dengan santai dan bukan berlari.
Saat ditengah jalan, dia melihat seseorang sedang berjalan dengan sempoyongan.
Orang itu adalah seorang gadis berambut merah dengan baju kemeja putih berjubah kecil.
Dia adalah Risa yang sudah sadarkan diri dari pingsannya.
" Kau tidak apa-apa? " Rian khawatir, dia lalu berlari menghampirinya.
" Untuk ... apa ... kau ... peduli. " Dibalas Risa dengan nada yang lemas.
" Disini kalau tidak salah ada rumah sakit. " Ucap Rian yang menuntun Risa.
" Sudahlah untuk apa kau peduli. " Risa langsung mendorong tubuh Rian kepinggir.
Namun, Rian tak memperdulikan itu dan dia malah langsung menggendong Risa dipunggung dan dibawa ke rumah sakit.
" Untuk apa kau melakukan ini. " Tanya Risa dari belakang punggungnya mencoba turun.
" Sudahlah diam. " Jawab Rian.
Risa hanya bisa terdiam menunduk ke bawah setelah mendengar ucapan maksudnya bentakan Rian itu.
***********
Di tempat lain, disebuah perusahaan terkenal di kota yaitu H.Y Corp.
Ada seorang lelaki berjas hitam, badannya agak gemuk, ada beberapa kerutan keriput dan ada uban putih di rambutnya, kisaran usianya sekitar pertengahan 50 tahun-an.
Dia adalah seorang CEO perusahaan H.Y Korp, namanya adalah Haryana Stiawan.
Kita panggil saja Pak Haya.
Dia sedang berdiri tepat didepan jendela yang luas juga langsung mengarah ke kota dari atas.
Ditangannya ada sebuah rokok yang dicapit ditengah jari tangan kanannya. Ada sebuah koper abu berbentuk kotak di pinggir kaki kanannya.
Dia berada disebuah ruangan putih dan ada sebuah poster rokok ( tempat merokok kantor ).
__ADS_1
Dia terus melihat keluar jendela hingga saat seseorang mengetuk pintu. Seorang lelaki berkaos hitam dan celana yang berwarna hitam juga, dia tak terlalu tinggi untuk lelaki seusianya namun tidak terlalu pendek juga, rambutnya hitam rapih dan dia cukup tampan ukurannya, Dia adalah Aldi pasukan PaPDI.
" Permisi Pak. " Aldi dari luar ruangan putih tersebut.
" Iya silahkan masuk. " Jawab Pak Haya.
Aldi lalu membuka pintu dan masuk keruangan serbaputih itu. Disana hanya ada Pria atau CEO yang sedang ngembat.
" Bapak memanggil saya? " tanya Aldi dengan sedikit menunduk kearah Pak Haya.
" Sudah delapan ratus tahun sejak kematiannya. Sungguh terasa itu adalah waktu yang lama. " Ucap Pak Haya tetap di posisinya mengarah ke luar jendela melihat kota.
" Eh? " Aldi mengangkat kepalanya karena bingung.
" Ini ada paket yang harus kau antar " Ucap Pak Haya dengan mengangkat sebuah koper abu yang tadi ada di pinggir kaki kanannya.
" Oh saya harus antar kemana? " Dengan kebingungan kedua tangan Aldi menerima koper tersebut.
" Berikan ponselmu "
Dengan masih kebingungan Aldi menuruti perintahnya. Dia menyerahkan ponselnya itu ke Pak Haya, Pak Haya lalu mengotak-atik ponselnya dan memberikannya kembali ke Aldi.
" Ini, kamu harus mengantarkannya ke lokasi ini. " Pak Haya menunjuk ke sebuah titik di go*gle map bertuliskan Rumah Sakit Dr. Ridwan.
Pak Haya juga mengambil sesuatu dari sakunya, sebuah selembaran kertas berwarna merah dan ternyata itu adalah uang.
" Ini " Pak Haya lalu memberikan uang tersebut ke Aldi.
" Nggak perlu. Pak " ucap Aldi menolak.
" Udah ambil aja " Pak Haya Langsung memasukan uang itu ke genggaman Aldi.
" Oh. Ya udah pak, makasih " ucapnya dengan menunduk. " Baik, permisi Pak. " Tanpa tanya Aldi pun melangkah keluar dari pintu.
Lalu dia meninggalkan gedung perusahaan dan pergi ke titik yang diperintahkan.
***********
Saat tadi Risa diperiksa, ternyata dia mengalami kecapean, dehidrasi dan juga kekurangan nutrisi dalam tubuhnya.
Oleh karena itu, selain karena Rian yang lapar, dia mengajak Risa untuk makan agar kembali membuat dia sehat.
Disana Rian mentraktir Risa, apa yang ingin dia makan Rian belikan.
Saat mereka sedang makan, Rian terus melihat Risa yang menurutnya aneh.
' Dia memiliki rambut yang keren dan indah sekali ' ucap dalam hati Rian.
" Melihat seorang dengan tatapan seperti itu, sangatlah tidak sopan " Ucapnya karena merasa terusik.
" Ahhh... Iya, maaf " Rian lalu mengalihkan pandangannya ke makanan dan melihat-lihat tempat kantin tersebut.
Sebuah kantin itu outdoor, hanya ada tiang untuk penyangga atap, meja-meja disana semua berbentuk persegi panjang, ada beberapa anak tangga di setiap sisi untuk keluar dari kantin.
Di bagian belakang kasir, ada sebuah kotak Pandora, sebuah kotak untuk penyaluran listrik e-trash.
Sebuah energi listrik tenaga sampah , teknologi ini masih baru dan masih dikembangkan.
Perusahaan H.Y Korp lah yang membuat teknologi ini, dan beberapa perusahaan pendukung.
Lihat selengkapnya di chapter 1.4.
" Terima kasih atas makanannya " ucap Risa.
" Ahhh iya, sama-sama " Jawab Rian.
__ADS_1
Dia lalu berdiri lalu menundukkan badannya.
" Kalau begitu aku pamit dulu "
" Iya, hati-hati dijalan " Jawab Rian yang masih memakan makanannya.
Risa pun lalu pergi meninggalkan Rian yang masih duduk di meja kantin. Saat dia hendak menginjakan kaki ke anak tangga, entah mungkin dia tak fokus, dia malah terjatuh dari tangga tersebut.
Disana Rian yang melihatnya langsung menghampiri Risa.
" Kau tidak apa-apa? " Tanya Rian yang langsung menghampirinya.
" Ahhhkkk... " Risa merintih kesakitan, terlihat sikutnya ada luka di sana.
" Tunggu sebentar " Rian lalu pergi dan tak beberapa lama dia kembali dengan membawa plester dan obat merah.
Saat Rian sampai, dia langsung mengobati Risa, mengoleskan obat, dan memasang plester di siku Risa.
Risa hanya bisa melihat Rian yang sedang mengobatinya. Disaat itu juga dia langsung teringan masa lalunya.
Saat itu dia terjatuh dan luka, lalu ibunya datang membawanya dan mengobati lukanya.
Tak terasa, ternyata Risa mengeluarkan air mata karena mengingat masa lalunya itu.
" Ehh, kau menangis " ucap Rian saat melihat itu.
" Aku tidak menangis " Risa langsung mengelap air matanya.
" Yosh... Yosh... Sudah jangan menangis lagi " Rian lalu mengusap rambut Risa.
Risa hanya menunduk diam tak berkutik apapun dengan pipi yang memerah. Setelah itu, Rian lalu duduk di sebelah Risa.
" Oh iya, kita belum berkenalan " Rian lalu memberikan tangannya. " Namaku Rian siapa namamu? "
" Aku, namaku ... "
Belum selesai menyebutkan namanya, tiba-tiba bel alarm darurat berbunyi.
Banyak orang berlarian dengan berteriak histeris.
" Aaaaaaaaaa. Ada monster " teriak salah satu orang.
Mereka berdua lalu berdiri dengan melihat ke arah para orang-orang yang keluar.
Benar ada Dzarl gate muncul disana. Dzarl itu memiliki perawakan manusia namun kepalanya berbentuk kuda.
" Tetap di belakangku " ucap Risa yang akan mengeluarkan kekuatannya.
Namun, itu gagal karena tangan Risa langsung ditarik oleh Rian.
" Ayo, disini berbahaya " ucap Rian yang langsung berlari dengan menarik tangan Risa.
" Tapi... " Kalimatnya langsung terhenti.
Dari kejauhan, seseorang sedang melihat mereka. Tempatnya di antara para orang-orang yang sedang berlarian. Dia tersenyum dan tak lama kemudian dia pergi.
Seorang lelaki berperawakan kurus, baju kaos abu, celana panjang berwarna hitam. Dia adalah Heru yang melangkah pergi karena sudah menyelesaikan misinya.
-
-
-
-
__ADS_1
-