
Risa sudah berada didepan pintu rumah Rian, dia berbolak-balik mengumpulkan keberanian untuk mengetuk pintu.
Dia mencoba mengetuk pintu, namun gagal karena belum siap. Dia terus berbolak-balik di depan pintu rumah.
Tak beberapa lama kemudian, akhirnya dia merasa sudah mempunyai keberanian untuk mengetuk pintu.
Saat tangannya sudah diangkat siap mengetuk.
(Kleek) pintu rumah tiba-tiba dibuka.
Terlihat Rian yang ada dibalik pintu itu. Dia memakai baju kaos hijau marun dan celana sepanjang bawah lutut berwarna putih, walau sederhana namun itu terlihat modis di dirinya. Ditangannya dia memegang tas kecil yang akan dipakai di pinggangnya.
Saat dia menoleh ke depan, disana sudah ada Risa yang berdiri didepan pintu.
"Ehh, kebetulan sekali. Aku tadi ingin mengajakmu." ucap Rian. Dia lalu keluar dari pintu dan menutupnya lalu tak lupa mengunci pintu itu.
"Kalau begitu, ayok." ajak Rian yang langsung melangkah melewati Risa.
Diikuti dengan Risa, dia mengikuti Rian dari belakang. Penampilan Risa seperti pada saat dia dipanggil dijeruji besi.
Memakai Hoodie hitam, rok pendek dan celana ketat hitam. Hanya saja tak seperti saat itu, kini dia memakai wig rambut hitam panjang.
Mereka berjalan di trotoar jalan, banyak mobil dan motor berlalu lalang disana. Mereka berjalan tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Selain Risa yang pendiam, Rian juga tak bisa mencairkan suasana.
"Apa kau yakin tidak sibuk hari ini?" Tanya Rian.
Risa hanya menggelengkan kepala pertanda ia tidak sibuk hari ini.
"Hmm..." mereka kembali diam satu sama lain.
Angin sepoi-sepoi berhembus ke mereka, Rian yang ada disebelah Risa langsung mencium wangi parfum yang Risa pakai. Aroma Cerry.
Wanginya sangatlah melekat dari pada sebelumnya, membuat Rian nyaman sekaligus sedikit enek karena dia tak terlalu menyukai wangi wangian.
"Risa, kamu wangi banget, mandi pake parfum, ya?" Tanya Rian.
Mendengar itu, pipi Risa merona dan langsung sedikit menjaga jarak antara Rian dengan dia.
"Iya..." Jawab Risa dengan malu-malu.
"Oh."hanya itu tanggapan dari Rian. Dia tak mengomentari apapun.
"Apa kau terganggu?" Tanya Risa yang masih sedikit malu.
"Tidak aku menyukai baunya, walaupun sedikit berlebihan" ucap Rian jujur.
Risa memperlambat laju jalannya, dia mulai tidak enak ke Rian.
"Hei, ayolah." Rian memperlambat jalannya yang membuat mereka sejajar berjalan. "Sedikit lebih cepat, jangan pedulikan hal tadi." tambah dia dengan menarik lengan Hoodie Risa. Dia hanya bisa menuruti perintah Rian.
Mereka lalu berhenti di halte bus. Tak lama setelah itu bus datang, dan mereka masuk kesana.
Singkat cerita mereka sampai ditempat tujuan dan turun dari sana.
Terlihat diseberang ada gedung mall terbesar di Kota AGHARTA. Itu adalah mall hasil dari kolaborasi banyak perusahaan terkenal di kota, perusahaan ayah Rian termasuk salah satunya.
Setelah lampu hijau, mereka lalu menyebrang di zebra cross. Saat sudah masuk, dia langsung disambut dengan satpam yang sedang duduk didepan pos.
"Hei, dek Rian, kan? Tumben kesini." Ucap pak satpam.
"Iya pak." jawab Rian, dia tak mengenal pak satpam itu, tapi ya mungkin dia kenal Rian karena ayahnya itu.
Saat mereka sampai didepan pintu mall, langkahnya terhenti. Rian tak habisnya terpesona akan besarnya gedung itu.
Ukiran dari gedung itu sekitar tiga atau empat kali lipat dari stadion gelora bung Karno. Itu sangatlah besar, Rian benar-benar ingin tahu apa saja isi di dalamnya.
"Kenapa kamu mengajakku kesini?" Tanya Risa.
Rian belum menjawab pertanyaan dari Risa, dia langsung menarik lengan Hoodie hitam milik Risa. Mereka lalu masuk ke dalam mall tersebut.
Tentu itu membuat Rian tak habis-habisnya terpesona lagi. Disana banyak sekali orang-orang berlalu lalang.
Dia lalu memendekkan kepalanya. "Aku belum pernah ke mall seumur hidupku ini." ucap Rian.
'Hah? Benarkah, bukankah dia anak dari orang kaya' batin Risa.
"Ayahku menyuruh diriku untuk memakan makanan yang sehat. Jadi mungkin saja kamu bisa merekomendasikan sayur atau buah-buahan untuk diriku." ucap Rian.
"Hah? Tapi kenapa harus aku?" Tanya Risa, suaranya masihlah lembut.
"Karena yang aku pikirkan hanya kamu." ucap Rian.
Deg.
Disana wajah Risa langsung memerah, bisa-bisanya dia mengatakan hal itu dengan mudah ke Risa.
Rian tidaklah salah, saat dia berfikir tentang makanan sehat yang terpikirkan olehnya adalah Risa, karena Rian melihat Risa adalah orang yang mandiri, jadi mungkin saja dia tahu tentang hal ini. Soal Rian, dia tak tahu banyak tentang sayuran atau buah-buahan.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Rian melihat Risa yang wajahnya memerah.
"Tidak aku tidak apa-apa." jawab Risa yang langsung menjauh dari Rian.
"Kau yakin?" Rian khawatir.
"Umm..." Risa mengangguk.
Mereka lalu kembali berjalan ditengah-tengah ramainya orang disana. Rian masih terlihat terkagum-kagum dengan pesona mall.
__ADS_1
Sebegitunyakah dia karena tak pernah ke mall. Sungguh itu tak sama sekali mencerminkan seorang anak dari orang kaya.
Berbeda dengan Risa yang terlihat tidak terlalu terpesona, ya walaupun dia juga terkagum dengan besarnya tempat itu, tapi dia pendam di dalam.
Mereka sampai didepan eskalator, disana langkah Risa terhenti. Rian langsung menoleh kebelakang.
"Kenapa?" Tanya Rian.
"Tidak, hanya saja..." Risa sedikit malu mengatakannya.
"Jangan bilang kau takut dengan eskalator." Rian terkejut dengan Risa yang menganggukkan perkataannya itu.
"Kalau begitu, apakah disini ada tangga tak bergerak?" Mereka lalu pergi ke tempat lain, mencari tangga manual yang bisa mereka naiki, dan setelah mereka berjalan tak jauh dari sana, ada tangga manual yang mereka berhasil lihat.
Rian lalu menarik tangan Risa dan menyeretnya hingga naik ke atas lantai dua.
Setelah menaiki tangga, terlihat Rian capek berbeda dengan Risa yang biasa saja. Mereka terus berjalan dengan Rian yang antusias disana menarik lengan Hoodie Risa pergi ke toko yang dituju.
Mereka sampai ke toko sayuran, Rian melihat-lihat sayuran yang dijual disana.
"Jadi apa rekomendasi darimu?" Tanya dengan antusias.
"Kau mau sayuran seperti apa?" Tanya balik Risa.
"Bebas." jawab Rian. Risa lalu berfikir sejenak, tak beberapa lama dia menunjuk ke sayuran yang diikat dengan irisan bambu kecil, itu adalah kangkung.
"Bagaimana kalau ini?" Risa menunjuk ke wadah kangkung.
"Kangkung, ya aku juga cukup suka sih?" jawab Rian.
"Kamu ternyata tidak terlalu buta tentang sayur." Kata Risa.
"Bukan itu, aku tak tahu banyak tentang sayuran yang kurang dikenal."
"Ohh, seperti itu. Kau tahu sayuran apa itu?" Risa menunjuk ke wajah sayur, untuk memastikan.
"Itu...bayam?" Ucap Rian kurang yakin.
"Bukan, itu caisim atau nama lainnya Sosin." ucap Risa.
"Oh itu, cuma beda dikit." ucap Rian dengan santai.
"Dikit, itu bahkan tak sama." gumam Risa.
"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Rian karena gumaman Risa bersuara kecil.
"Tidak lupakanlah." Risa. Dia lalu berjalan ketempat lain.
Mereka kembali mencari sayur lainnya.
"Jadi apa lagi?" Tanya Rian.
"Tidak, lanjut ke rekomendasi lain." Ucap Rian yang langsung menolak membeli timun.
"Kenapa?" Tanya Risa menoleh ke arahnya bingung.
"Ya... Begitulah, aku tidak suka timun." jawab Rian. Dia lalu mencari sayuran lain. "Oh! bagaimana dengan itu. " Rian menunjuk ke sayuran lain, dia lalu melangkah ke arah wadah tersebut, namun sebuah tangan menahan dia.
"Tidak baik memilih-milih makanan, kamu harus membelinya." pinta dengan lembut Risa. Suaranya sangatlah lembut, membuat Rian akan melakukan apa yang diperintahnya, bahkan untukmembeli timun itu.
"Untuk apa, nanti malah mukbazir." ucap Rian yang langsung sadar.
"Cepat beli, sayuran itu baik untukmu. Kamu harus memakannya walau hanya satu buah." Ucap Risa. "Jika tidak habis kau bisa membaginya kepadaku." tambah Dia.
"Hmmm, baiklah. Berapa biji, tiga, lima, atau berapa?" Tanya Rian mengiyakan, dia memegang-megang timun yang ada di wadah.
"Satu kilo." ucap Risa. Ucapnya itu membuat Rian terkaget, satu kilo? Yang benar saja.
"Hah? Banyak banget, nggak ah." Tolak Rian, dia lalu akan pergi ketempat lain. Namun lagi-lagi tangannya ditahan oleh Risa.
"Lakukan." pinta Risa, wajahnya seperti sudah memelas walau tak terlihat.
"Baiklah." Rian lalu mengambil beberapa timun dan diserahkan pada tukang dagang, dia menambahkan lagi karena kurang.
Setelah selesai membeli berbagai sayuran dan bumbu rempah, mereka memutuskan memilih diam mencari toko yang akan dituju selanjutnya.
"Terus kita akan kemana lagi?" Tanya Risa.
"Ayok." Rian menarik lengan Hoodie Risa.
Mereka lalu sampai ke konter hp, disana banyak sekali pelanggan yang sedang di layani. Mereka duduk di kursi menunggu salah seorang selesai bertransaksi.
Saat salah satu orang selesai melayani, dia melihat Rian dan Risa sedang duduk disana. Dia langsung memanggilnya.
"Ehh, Rian." ucap orang itu.
Rian lalu menghampirinya, Rian dan orang itu saling mengenal. Dia adalah pegawai konter, namanya Kak Ro.
Kak Ro pergi kebelakang lalu tak beberapa lama dia kembali dengan membawa tas belanja.
"Ini. Mending datang kesini, biasanya kakak yang nganterin barang ke rumahmu." ucap Kak Ro.
"Iya, ini sekalian cari angin." jawab Rian.
Kak Ro hanya mengangguk, dia menyodorkan tas itu ke Rian, dia lalu menerimanya.
Rian membuka isi dari dalam kantong tersebut, sebuah ponsel keluaran terbaru. Ponsel itu memiliki warna merah apel dan ada sebuah lekukan tempat jari di belakang ponsel. Harga dari ponsel itu sekitar 24 jutaan,
__ADS_1
"Kebetulan sekali." ucap Rian saat melihat ponsel itu. Tak berlangsung lama dia kembali memasukan ponsel itu ke kantong tadi.
"Kalau begitu, makasih Kak." ucap Rian, dia lalu melangkah pergi.
"Iya." jawab Kak Ro, setelah itu dia kembali melayani pelanggan lain.
Mereka berdua lalu kembali berjalan.
"Apa permintaanmu?" Tanya Rian mendadak.
"Hah?" Risa menoleh ke pinggir.
"Ya, karena kamu sudah menemaniku belanja dan memberi saran tentang sayur, kau boleh minta apa saja." Rian.
"Tapi kau tidak mengatakan sebelumnya." kata Risa.
"Ya, aku baru terfikir sekarang." Rian menggaruk kepalanya dengan tersenyum.
"Emm..." Risa berfikir sejenak. "Entahlah, aku tak tahu sedang mau apa." Risa tak menemukan apa yang sedang dia inginkan.
"Kalau begitu." Rian lalu memberikan kantong belanjaan yang berisi ponsel. "Ini untukmu." Rian menyodorkan kantong itu.
"Maksudmu, kau ingin memberikan itu padaku?" Tanya Risa. Dia tahu kalau kantong yang disodorkan ke arahnya adalah berisi ponsel.
"Ya." Rian mengangguk.
"Bukankah itu isinya ponsel?"
"Ya. Aku ingin memberikannya kepadamu." ucap Rian.
"Kau yakin, harganya bahkan tak sepadan dengan hal yang aku lakukan sekarang." Risa tak yakin dengan Rian.
"Emm, ya memang, tapi aku juga tak terlalu membutuhkan ponsel baru, aku baru mengganti ponsel baruku beberapa bulan lalu." ucap Rian. "dan juga kau tak punya hp, kan?" Tambah dia.
Tangan kanan Risa mengulurkan untuk menerima kantong itu, namun tangan sebelah menahannya, dia takkan menerima itu begitu saja kan.
"Kau yakin, itukan ponsel seharga 24 jut-" belum selesai, Rian langsung menyelanya dengan memegangkan tangan Risa ke kantong itu.
"Dah, ayo." Sela Rian.
"Te-terimakasih." ucap Risa.
"Tak perlu, anggap saja itu memang sudah milikmu." ucap Rian.
Saat mereka sedang asyik-asyiknya berjalan dengan tenang. Tiba-tiba terdengar teriakkan dari orang-orang yang lari, terjadi gaduh disana, semua itu disebabkan oleh monster Gate Dzarl yang tiba-tiba muncul dilantai satu.
Risa dan Rian yang ada dilantai dua melihat ke bawah, sedang terjadi keributan Gate Dzarl yang mengamuk.
Gate Dzarl itu memilki bentuk monster tikus berwarna abu, gigi tajam bagai hiu.
"Ayo, kita juga lari." ucap Rian panik, dia menarik tangan Risa. Namun, tarikannya itu terlepas, Risa menepisnya.
"Kenapa?" Tanya Rian masih terlihat panik.
"Aku tak akan lari, juga ada yang ingin kukatakan padamu..." Ucap Risa. "Sebenarnya aku bukanlah manusia, tapi..." Risa mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Not : oh iya, sebenarnya Risa membawa tas kecil di dalam Hoodie nya itu. Maaf tadi nggak diceritain.
Sebuah topeng katak berwarna putih dan ada coretan merahnya dia keluarkan. Itu adalah topeng yang sering Risa pakai saat dia menjadi pembunuh, kini dia akan menghabisi Gate Dzarl itu.
Rian hanya bisa melihat Risa kebingungan, apa gunanya topeng itu.
"Aku ada Dzarl." lanjut Risa sesudah memakai topeng itu, dia juga melepas Hoodie nya itu dan menyisakan baju kemeja putih. Dia juga mengeluarkan jubah kecil berwarna hitam dengan garis emas dari tas tersebut, lalu ia memakainya.
"Hah!?" Sontak itu membuat Rian kaget.
Dari tangan Risa keluar cairan merah, itu adalah darahnya yang mengumpul di depan tangannya dan darah itu berubah menjadi padat dan berbentuk jarum, tidak itu lebih terlihat tusuk konde menurutku.
Risa lalu melangkah ancang-ancang dan setelah itu dia melompat dari lantai dua kebawah, menghadapi Gate Dzarl tersebut.
Rian menyusulnya berlari hingga pembatas, dia melihat Risa sedang kuda-kuda bersiap untuk bertarung dengan Gate Dzarl itu.
Risa memulai berlari ke arah Gate Dzarl tersebut dengan sebuah jarum yang mengarah ke Dzarl.
-
-
-
-
-
∆\=\=\=∆
Mohon maaf jika ceritanya terlalu rumit, sulit dimengerti atau juga nggak jelas.
Mohon maaf juga jika ada banyak kekurangan.
Jika ada penulisan yang typo mohon maklum.
Jan lupa like jempolnya, share bagikan, tinggalkan komentar anda dan kalau bisa vote serta jadikan favorit.
Follow juga.
Ya.
__ADS_1
Terimakasih.