
Rian menahan tangan Sarah yang akan menuangkan air kopi ke kepala Sindy.
"Kak Rian?" Sarah terlihat kaget dan malu saat melihat Rian.
Rian langsung merebut gelas kopi itu, dengan mengejutkan Rian langsung meminum kopi tersebut. Sontak itu membuat perhatian bagi semua orang.
"A-apa yang Aa lakukan?" Sarah tercengang dengan apa yang Rian lakukan.
"Ahhhh, bukankah kita diajarkan untuk tidak mukbazir makanan" ucap Rian setelah dia meminum kopi itu sampai habis.
Rian lalu berbalik ke belakang arah Sindy. Dia lalu mengulurkan tangan ke Sindy.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Rian khawatir ke Sindy.
"Hmmm"dia mengangguk lalu meraih tangan Rian.
"Ini sudah sangat keterlaluan" Ucap Rian berbalik arah ke mereka berlima. "Siapa yang memulai ini ke dia, kau kah Sarah?" Rian lalu menengok ke Sarah.
Tampak Sarah terkejut saat Rian menengok kearahnya, dia terlihat ketakutan sejak kedatangan Rian tadi.
"Bu-bukan aku yang me-memuulainya" ucap Sarah gelagapan.
"Aku membenci orang yang mau saja dibully, tapi aku lebih membenci orang yang suka membully, menurutku mereka hanyalah orang lemah yang menindas orang yang lebih lemah dari mereka agar disebut kuat" ucap Rian didepan mereka berlima. "Menurutku itu adalah tindakan pengecut" tambah dia dengan suara yang lantang ke arah mereka.
"Ayo" Rian menarik tangan Sindy membawanya keluar.
Suasana disana langsung senyap semenjak Rian yang datang dan memarahi mereka berlima.
"Belikan aku plester"pinta Rian ke belakang.
"Baik biar aku yang membelinya" ucap Uji sebelum dia juga pergi dari sana membeli plester.
Rian membawa Sindy ke kamar kecil sekolah. Dia menyuruh Sindy untuk membersihkan diri.
"Masuklah, bersihkan dirimu"Rian melepaskan cengkeramannya dari Sindy lalu menyuruh dia untuk membersihkan diri.
"Umm"Sindy hanya mengangguk dan masuk ke kamar kecil.
Setelah beberapa lama Aldi menunggu, Sindy pun akhirnya keluar, dia masih menundukkan kepalanya di hadapan Rian.
"Tunggu" Rian melangkah mendekati Sindy. Melihat itu Sindy menjadi gugup, di mundur perlahan hingga dia menabrak tembok.
"A-ada apa 'A?" Sindy gugup saat Rian melangkah mendekatinya.
Rian lalu mendekatkan wajahnya, Sindy dari sana langsung benar-benar gugup, wajahnya memerah, jantungnya berdegup dengan kencang. Untuk menutup kegugupan itu, dia menutup matanya.
"Sudah" terdengar dari suara Rian. Dia mundur sedikit dari hadapan Sindy.
Ternyata Rian sebenarnya hanya memasangkan plester di pipi Sindy yang ada luka.
"A-apa?" Sindy masih terlihat gugup, jantungnya masih terus berdegup kencang.
"Ayo" Rian lalu melangkah duluan pergi.
"Terimakasih telah menolongku" ucap terimakasih Sindy. "Bagaimana aku membalasnya?" Tambah dia menanya.
Rian lalu berbalik dan melangkah menghampiri Sindy, dia lalu memegang tangan Sindy dan tersenyum kearahnya.
"Kita nanti pulang bareng, anggap itu sebagai balasan terimakasih mu. Sekarang kita balik dulu ke kelas" ucap Rian menarik tangan Sindy.
Deg... Disana jantung Sindy menjadi benar-benar berdegup kencang sekali, dia bahkan bisa mendengar detak jantungnya dengan jelas, mungkin Rian juga mendengarnya.
"Baik..." Jawab Sindy dengan pipi yang memerah.
Mereka lalu berjalan kembali ke kelas Sindy. Saat mereka berdua sampai, Rian menyuruh Sarah dan empat lainnya untuk meminta maaf ke Sindy.
"Maaf, Sin" minta maaf Sarah. Dia terlihat tidak niat untuk meminta maaf.
"Minta maafnya yang bener donk!" Ucap Rian melihat Sarah.
"Cihh"gumam Sarah."Aku minta maaf, Sindy" Sarah lalu meminta maaf, kini dia terlihat lebih serius, dia menundukkan badannya, walaupun entah itu benar dia atau hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan ini.
"Nah gitu, hei kalian juga harusnya minta maaf" Rian lalu menyuruh mereka berempat untuk meminta maaf juga.
"Baik-baik, Kami juga minta maaf, Sindy" mereka berempat ikut menundukkan badannya seperti Sarah.
"Nah gitu" Ucap Rian puas. "Jangan ulangi ini lagi, jika kalian ulangi lagi aku akan lapor ke guru, terutama kau Sarah aku akan melaporkanmu ke Ray dan ayah ibumu!" Ancam Rian kepada mereka.
"Iya-iya saya mengerti" ucap dengan halus dan sopan Sarah.
__ADS_1
Rian lalu berbalik kebelakang, dia kan kembali ke kelasnya. Saat dia berbalik, dia langsung terkaget dengan apa yang semua orang yang menontonnya.
Semua orang termasuk Herman dan Uji mereka semua menundukkan badan ke Rian. Entah apa yang mereka lakukan, apakah mereka ini takjub dengan Rian atau juga sekaligus takut dengannya.
"Apa yang kalian lakukan, hei" Rian menunjuk ke mereka berdua.
"Aku sangatlah takjub dengan anda tuan" jawab Herman, suaranya seperti seorang anak buah yang memuja tuanya.
"Sudahlah, ayo balik ke kelasnya masing-masing!" Padahal hanya terdengar sedikit membentak, namun atas ucapannya itu semua murid yang ada di sana langsung berlarian keluar bubar dari sana, mereka semua balik ke kelasnya masing-masing.
"Heh?" Rian kebingungan dengan mereka semua.
"Ingat itu, Sarah" ucap Rian ke Sarah.
"Cihh" terlihat Sarah ngigir ke Rian.
"Apa!?" Rian tau apa yang dilakukan oleh Sarah.
"Tidak ada apa-apa" Sarah lalu kembali ke posisinya.
"Kalau begitu" Rian lalu mengangkat tangannya dan pergi dari sana, ditemani kedua temannya itu.
Terlihat dari belakang Sarah kesal dengan Rian, dia tak terima kalau akan dipermalukan didepan banyak murid.
Dia lalu kembali ke bangkunya karena jam pelajaran sudah dimulai, dan guru sudah ada berjalan di lorong kelas.
***********
(Klleeeekkkkk...) Terdengar pintu dibuka.
Seorang gadis masuk ke sebuah gor lapangan futsal. Seorang berjubah terlihat sudah kesal melihat Risa ini.
"Kenapa kau lama sekali menjawab telpon selulerku?!" Tanya tuan Raja dengan nada lantang.
"Maaf tuan tadi aku sedang sekolah jadi tak melihat ponsel" jawab Risa.
"Oh, gitu" tuan Raja itu mengangguk, dia lalu beranjak dari kursi lalu berjalan dan keluar di bawah pintu.
Tuan Raja itu melangkah menghampiri Risa, wajahnya santai namun itu membuat Risa curiga dia akan melakukan sesuatu.
"Berikan ponselmu" ucap Tuan Raja dengan tangan diangkat meminta.
"Cepat berikan..." Ucap Tuan Raja dengan suara halus.
"Maaf aku tidak bisa melakukannya"
"Risa... Cepat berikan ponselmu" ucap Tuan Raja yang suaranya masih lembut. "SUDAHLAH CEPAT BERIKAN PONSELMU ITU!!!" Ucap Tuan Raja yang sudah berubah menjadi naik pitam.
Risa lalu memberikan ponselnya itu dan Tuan Raja menerimanya. Tuan Raja terlihat kembali tenang saat Risa memberikan ponsel.
Tanpa basa-basi tuan raja Langsung membanting ponsel milik Risa tersebut lalu menginjakan-injaknya dengan keras. Lalu dia mengambil ponsel tersebut.
"Aku memberikan ponsel untukmu bukan untuk mengabaikan telpon selulerku masuk, kau mengerti" ucap dia, setelah itu dia langsung mematahkan ponsel tersebut menjadi dua.
Risa terkaget saat itu, dia tak menyangka ponselnya itu akan di rusak hingga separah itu.
"Kau lihat ini, kau sudah tak memerlukan inikan" ucap tuan raja dengan menunjukan ponsel yang sudah terbelah menjadi dua.
Risa hanya bisa tertunduk mendengarkan ocehan selanjutnya dari tuan raja. Dia tahu itu pasti akan berkepanjangan.
Benar saja, Tuan Raja mengomel-omel Risa Berjam-jam hingga Risa sudah capek dengan hal itu. Setelah beberapa jam, akhirnya dia berhenti mengoceh.
"Sudah, ada klien baru untukmu, layani dia" suruh Tuan Raja.
"Baik, tuan" Risa menundukkan kepalanya dan setelah itu dia pergi.
∆\=\=\=∆
Not :
Oh iya, aku belum cerita kalau Risa ini selain bekerja sebagai guru privat, dia juga adalah seorang pembunuh bayaran dan itu adalah pekerjaan pokoknya.
Setelah dia diambil oleh yayasan Ghanifah, yayasan yang dipimpin oleh si tuan raja ini, dia dipaksa untuk melakukan pembunuhan berbayar. Tentu saja dia tak mau melakukannya, tapi dia dipaksa bahkan diancam untuk mengambil pekerjaan itu oleh Tuan Raja.
#
Risa lalu pergi untuk mendatangi kliennya itu. Menurut Chat, mereka akan bertemu di terminal SatuBike, salah satu terminal di Agharta City. Di dalam mobil luxury putih yang terparkir disana, plat nomor kendaraannya T 006 SMZ.
Risa akhirnya sampai di terminal SatuBike. Dia lalu mencari mobil luxury putih berplat nomor T 006 SMZ, yang disebutkan.
__ADS_1
Setelah berjalan beberapa ratus langkah, akhirnya dia menemukan mobil tersebut. Dia langsung menghampiri mobil itu dan mengetuk jendela.
"Ayo masuk"ucap orang dalam mobil tersebut setelah membuka kaca jendela, Dia membukakan pintu lalu Risa masuk ke mobil tersebut.
Saat Risa masuk, dia melihat kliennya itu. Seorang pria gendut, berkumis, memakai baju kaos partai berwarna putih, celana jeans pendek selutut.
"Agus Gunawan?" Tanya nama dari Risa.
"Ya. Kau Tian Ghanifah?" Tanya balik ke Risa.
"Ya, saya" jawab Risa.
Jadi, nama dari si tuan raja ini adalah Tian Ghanifah, kita panggil saja menjadi Pak Ghani.
Terlihat pak Agus meragukan Risa, dia melihat seorang anak remaja akan berurusan dengan membunuh, pasti itu tidaklah mungkin.
"Apakah kau benar?" Tanya Pak Agus meragukan Risa.
"Apakah anda meragukan saya?" Ucap Risa.
Risa lalu menjentikkan jari, sebuah Aqua gelas yang berada di jendela depan langsung tertusuk-tusuk oleh air yang ada di dalamnya, air tersebut berubah beku dengan bentuk duri-duri tajam dan menusuk-nusuk gelas plastik yang membungkusnya.
Dari sana, Pak Agus meyakinkan diri bahwa Risa adalah orang sewaannya.
"Ku kira kau manusia ternyata bukan" ucap Pak Agus.
"Hmm, begitulah" angguk Risa.
"Baiklah langsung saja, aku menyewa kamu untuk membunuh seseorang saat festival peresmian..." Pria itu lalu menjelaskan misi yang akan dijalankan Risa.
Dia disuruh untuk membunuh seseorang dalam festival peresmian patung Cindaku, sebuah patung ikon dari kota Agharta. Dia adalah seorang saingan dari Pak Agus ini.
Pak Agus punya firasat bahwa dia akan merusak proyek garapan dari dia, kemungkinan dia akan datang di festival tersebut dan Risa harus membunuhnya disana. Begitulah misi dari Pak Agus.
"Apakah anda yakin ingin melakukan hal ini?" Tanya Risa untuk meyakinkan Pak Agus.
"Ya. Aku yakin" jawab Pak Agus.
"Nyawa manusia hanya mempunyai satu nyawa saja, jadi apakah anda yakin akan hal ini?" Tanya lagi Risa.
"Ya"
"Anda tau apa konsekuensi jika yang anda lakukan terbongkar, dan apakah anda siap untuk mendapatkannya konsekuensi itu?"
"Ya"
"Baiklah saya akan akan tanya sekali lagi, apakah anda yakin dengan yang anda lakukan?" Tanya Risa.
"Ya. Sudah jangan banyak tanya lagi!" Ucap Pak Agus yang sudah mulai kesal.
"Baiklah, sebenarnya itu adalah pertanyaan untuk meyakinkan klien" ucap Risa.
"Ya sudah sana" Pak Agus lalu membukakan kunci pintu karena sebelumnya dia mengunci mobil tersebut agar tak ada yang tahu. Ya, walaupun mobil itu kedap suara.
Risa lalu membuka pintu dan keluar, sebelum dia akan pergi, dia berbicara singkat.
"Pembunuhan akan dilakukan saat festival seminggu lagi, pastikan anda harus tetap yakin akan hal ini. Inggat!" Ucap Risa.
"Ya" jawab Pak Agus yang sudah mulai malas menjawabnya.
"Kalau begitu saya permisi" Risa lalu menutup pintu mobil dan setelah itu dia pergi.
Oh iya, kalian tahu Pak Agus itu adalah pria yang Rafdi temui waktu tadi saat dia kabur dari sekolah dan pergi ke alun-alun, nah Pria gendut yang Rafdi temui itu adalah Pak Agus.
-
-
-
-
-
∆\=\=\=∆
Btw, gimana bagus nggak heroin disini adalah pembunuh bayaran sekaligus guru privat dari Rian. Tulis di kolom komentar ya.
Kalau ini sinetron pasti judulnya kayak gini. "Guru privat ku adalah seorang pembunuh bayaran dan aku adalah seorang Raja Iblis."
__ADS_1
See you.