Dzarl : After 800 Year'S

Dzarl : After 800 Year'S
Chapter 23 : Batu akik.


__ADS_3

Setelah berselang beberapa hari, benar adanya kalau Aldi sering mampir kerumah Pak Supri atau ke lebih tepatnya ke tempat Rikka.


Hari ini dia membawa kantong kresek ditangannya, mungkin isinya sesuatu yang akan diberikan lagi kepada Rikka.


Saat Aldi mampir ke rumah Rikka dia tak membawa tangan kosong, dia selalu membawa sesuatu yang nantinya akan diberikan kepada Rikka, entah itu oleh-oleh jajanan atau makanan.


"Assalamualaikum." salam dari Aldi yang ada didepan pintu.


"Waalaikumsalam." jawab Rikka dari dalam. Pintu lalu dibuka disana Rikka sudah memakai baju seragam sekolah.


Karena hari ini Rikka sekolah Aldi inisiatif akan mengantarkannya ke sekolah Rikka itu.


"Ini." Aldi memberikan kresek ditangannya. "Ayok." tambah Aldi mengajak untuk diantarkan ke sekolah.


Rikka menerima kresek itu lalu menaruhnya ke belakang, setelah itu dia memakai sepatu dan dia naik ke motor yang disana sudah ada Aldi menunggu.


Aldi lalu mengantarkan Rikka kesekolah, dia tahu dimana Rikka sekolah karena dia sudah mengantarkannya dihari sebelumnya.


Setelah dia mengantarkannya kesekolah dia langsung kembali ke rumah Rikka. Tentu saja dia tak melupakan misinya itu, menyelidiki motiv Pak Supri melakukan pembunuhan itu dan mengumpulkan bukti-bukti yang ada.


Bagaimana Aldi bisa masuk, sebenarnya beberapa hari yang lalu Aldi sempat meminjam kunci pintu rumah itu dan menduplikasi kunci tersebut tanpa sepengetahuan Rikka si pemilik rumah.


Saat dia sampai, dia pergi ke kamar milik Pak Supri, karena tempat itulah yang kemungkinan besar bukti motiv dari Pak Supri berada.


Dia terus mencari di mana-mana, dari mencari di lemari baju hingga balik kasur, semua dia cari.


Hingga dia menemukan sebuah amplop kuning yang sudah kusut di tempat sampah dekat pintu kamar. Tanpa lama-lama dia langsung mengambil kertas amplop tersebut.


Saat dia mencoba merapihkan bentuk amplop itu, dia melihat logo kancing bertuliskan "Ghanifah", yayasan tempat Risa bekerja sebagai pembunuh bayaran.


Aldi tahu kalau "Ghanifah" itu adalah yayasan yang bergerak di aktifis agama. Terdengar tak aneh, mungkin Pak Supri mengikuti pengajian mereka, tapi entah kenapa dia merasa ada sangkut pautnya yayasan ini dengan motiv Pak Supri.


Dia lalu melipat amplop tersebut dan memasukannya ke kantong celananya, berharap mungkin ini berguna.


"Wihh, lu yakin bisa beresin ini semua." ucap seseorang yang sedang berjalan dibelakangnya. Seorang pria berkaos abu dan celana hitam panjang, dia adalah Heru.


Karena kaget dia langsung berbalik kebelakang, dia lalu melihat Heru sedang duduk di kasur melihat-lihat sekitaran seolah dia tertarik dengan hal dikamar itu.


"Heru?" Ucap Aldi kesal sekaligus heran kenapa dia ada disini.


"Terima kasih sudah mengingat namaku." ucap Heru dengan tersenyum, dia lalu berdiri dan menghampiri Aldi.


"Aku juga ingat namamu, loh. Aldi" ucap Heru dengan terlihat antusias mengatakan itu. Dia lalu tersenyum dan menepuk pundak Aldi.


Aldi masih bingung kenapa dia ada disini, dan juga dia kesal kerena selalu diganggu oleh Heru.


"Ahhh, lihat ada barang bukti lagi!" Ucap Heru melangkah ke meja dipinggir kasur.


Heru lalu mengambil benda kecil yang ada dimeja itu, sebuah cincin batu akik berwarna putih dengan campuran hitam.


"Ini dia." ucap Heru dengan memperlihatkan cincin itu kepada Aldi.


"Memangnya ada apa dengan cincin itu?" Ucap Aldi menanyakan kenapa Heru tahu itu adalah barang bukti.


"Jilat ini!" Heru menyodorkan.


"Hah?"


"Ayolah lakukan saja." ucap Heru.


"Untuk apa?"


"Lakukan saja nanti kau paham." ucap Heru meyakinkan.


Karena Heru terlihat serius Aldi mengikuti perintah dia, Aldi menjilat batu itu. Setelah menjilatinya tak ada apapun yang berubah.


"Lu bohong ya. Lu datang kesini cuma ingin ganggu gua, kan!" Karena merasa dia dipermainkan Aldi sudah benar-benar kesal.

__ADS_1


"Gua kira bener tapi lu cuma bercanda doank!" Ucap Aldi mulai melonjak. "Mau lu apasih!?" Tambah dia dengan menarik kerah Heru.


"Ssst, tenangkan dirimu." ucap Heru dengan mencoba menenangkan Aldi.


"Hah? Lu kira gua bisa tenang dengan adanya lo!!?"


"Kau marah sebab pengaruh obat tersebut, jadi tenangkan dirimu." ucap Heru dengan tenang.


"Hah!!" Aldi sudah mulai kesal, dia lalu memperkuat tarikan kerah hingga itu mencekik Heru. Disana Heru terlihat sesak nafas karena cekikan tersebut.


"Rasain Lo!" Aldi terlihat puas.


"Hahaha."Heru tertawa. Ternyata dia hanya pura-pura tercekik agar Aldi terlihat puas.


Dengan sekejap Heru melesat lepas dari cekikan tersebut dan tiba-tiba sudah ada di belakang Aldi.


Disana Heru langsung memegang kepala Aldi dan mengusap usapnya mencoba menyerap energi yang dimiliki Aldi. Tak beberapa lama setelah itu, Aldi langsung pingsan.


[Brukk..] Aldi jatuh.


Beberapa menit kemudian Aldi siuman...


Saat dia bangun, dia melihat sudah ada didepan rumahnya, tepatnya di teras depan.


"Akhirnya kau bangun juga" ucap Heru yang berjalan menghampirinya dari dalam rumah.


"Ini, anggap saja rumah sendiri" Heru memberikan gelas berisikan teh hangat.


"Bukankah ini adalah rumahku" ucap Aldi mengoreksi perkataan Heru. Dia lalu mengambil gelas tersebut dan meminumnya.


"Srup... Ahh..." Aldi menyeruput teh tersebut.


"Kau sudah baikan?" Tanya Heru.


"Hei tentang batu itu, apakah memang benar amarah aku karena pengaruh batu tersebut?" Tanya Aldi dengan menoleh ke Heru.


"Obat?"


"Ya. Itu adalah obat yang dapat merangsang tubuh kita menjadi panas."


"Maksudnya?"


"Fuhhh..." dia mengeluarkan nafasnya sebelum memperjelas perkataannya itu.


"Begini, Kau pernah mengonsumsi narkoba?" Tanya Heru.


"Tentu saja tidak." jawab Aldi.


"Jadi gini, batu itu adalah obat yang dapat membuat amarah kita tak terkendali, hal itu disebabkan oleh..." Kata Heru terhenti sejenak.


"Kenapa?" Tanya Aldi kenapa dialognya berhenti.


"Tidak, jika aku diperjelas secara IPA kau pasti tak akan mengerti." ucap Heru. "Jadi begini, ada obat yang dapat merubah emosi manusia, dan batu itu adalah obat yang dapat merubah emosi orang menjadi meluap dan marah." ucap penjelasan dari Heru.


"Umm begitu." angguk Aldi.


"Paham?" Tanya Heru.


"Ya. Aku paham" jawab Aldi. "Jadi, apa sangkut pautnya dengan Pak Supri ini?" Tambah Aldi dengan menanya.


Heru lalu mengambil gelas berisikan teh hangat juga, dia meminum teh tersebut dengan nikmat.


"Jadi gini, ada kemungkinan Pak Supri menggunakan ini saat dia menghabisi korban. Jadi ini adalah barang bukti." Ucap Heru dengan mengeluarkan cincin tersebut dari sakunya.


"Hmm, benar juga ya, memungkinkan itu adalah barang bukti" Aldi mengangguk.


Heru lalu memberikan cincin itu ke Aldi. "Ini jaga baik-baik." ucap dia.

__ADS_1


Aldi menerima benda itu, sekejap dia berfikir kalau ternyata Heru itu adalah orang baik.


"Ternyata kau orang yang baik, Heru." ucap Aldi.


"Hmm orang baik?" Ucap dia dengan menghempaskan nafasnya. "Aku sudah membunuh banyak nyawa manusia, apakah menurutmu aku ini orang baik?" Ucap Heru tersenyum sesudah dia beranjak dari duduknya.


"Hah?" Aldi tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Heru. Dia tentu saja tak percaya hal itu.


"Kalau begitu, aku pergi dulu." ucap dia melangkah pergi.


"Terimakasih." Ucap Aldi.


"Kau tak perlu berterima kasih, karena justru aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu tentang ini." Heru lalu mengeluarkan kertas amplop kuning yang saat tadi Aldi melipatnya dan memasukannya ke saku celana.


"Tunggu itu, hei berhenti!" Rian lalu langsung mengejar Heru


Tentu saja Heru tak akan berhenti, dia terus berjalan pergi dari sana. Sementara itu saat Aldi berlari untuk mengejar Heru, namun langkahnya berhenti setelah kehilangan keberadaan dia.


Dia sudah tak melihat Heru, seperti Heru itu sudah pergi jauh dari tempat tersebut.


"Sial." ucap Aldi mengumpat kesal.


***********


"Ini tuan Ghani." Heru memberikan lipatan amplop tersebut ke tuan Ghani ini.


"Untung saja kau langsung mengamankannya." ucap Tuan Ghani. "Bakar itu di luar!" Perintah Tuan Ghani ke dua Asistennya.


Dua asistennya maju dan mencoba mengambil amplop tersebut.


"Eist, kita bareng bakarnya." ucap Heru. Dia lalu melangkah keluar pergi dari GOR tersebut, diikuti dengan dua asisten itu.


Saat mereka sudah sampai, Heru berbalik ke dua wanita tersebut.


"Jadi, apa ini? Seberapa penting benda ini sampai harus dihancurkan?" Tanya dua kali Heru ke dua wanita tersebut.


"Kau tak perlu tahu, sini serahkan!" ucap salah satu asisten dengan mencoba meraih amplop dari genggaman Heru.


(Tekk) Heru menjentikkan jari, kedua asisten itu langsung terdiam dan berdiri tegak di posisinya.


"Jadi apa yang kalian ketahui tentang ini?" Tanya Heru dengan wajah serius.


"Itu adalah...."


-


-


-


-


-


∆\=\=\=∆


Mohon maaf jika ceritanya terlalu rumit, sulit dimengerti atau juga nggak jelas.


Mohon maaf juga jika ada banyak kekurangan.


Jika ada penulisan yang typo mohon maklum.


Jan lupa like jempolnya, share bagikan, tinggalkan komentar anda dan kalau bisa vote serta jadikan favorit.


Follow juga.


Ya.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2