
"Umm..." Risa memancungkan bibirnya, dia terus memikirkan perkataan Rian kemarin bahwa dia ingin mengajak dia jalan-jalan.
"Hei! Ada apa Risa?" tanya seorang siswi menarik kursi didepan bangku Risa duduk dan langsung duduk, dia lalu mendekatkan dirinya ke Risa.
"Umm, apa maksud dari orang yang mengajak kita jalan bersama?" Tanya Risa yang masih merenung kedepan.
"Ada seorang yang mengajakmu jalan?!!" Gadis itu terkaget. "Siapa orangnya, dia laki-laki, kah?" Tanya dengan antusias Dia.
"Rian." tak sengaja Risa menyebutkan nama Rian.
"Rian? Ummm..." temannya menganggukkan kepala, dia tersenyum ke arah Risa.
"Tidak, maksudku..." Risa mencoba membenarkan katanya, namun saat dia melihat temannya itu.
Temannya sudah kesemsem mendengar kata Risa tadi, dia melihat Risa dengan senyuman ke arahnya.
"Ciee..."
"Tidak, bukan itu." Risa mencoba mencari kata untuk menjawabnya.
"Kau menerimanya?" Tanya temannya.
Risa hanya menganggukkan kepalanya, pertanda mengiyakan. "Aku menjawab, "baiklah aku akan meluangkan waktu". lalu aku pergi." ucapannya.
"Hmmm..." Temannya itu tambah kesemsem mendengar itu, padahal Risa yang mendapatkan ajakan tersebut, tapi entah kenapa temannya menjadi senang mendengarnya.
"Aku jadi sirik, nih." ucap temannya. "Kapan kalian akan jalan barengnya?" Tambah dia menanya.
"Sekarang, sepulang sekolah." jawab Risa.
"Hah, apa!?" Dia langsung terkaget.
Risa menganggukkan kepala, pipinya terlihat merona saat itu, dia terus menggigit bibir bawahnya, menggoyang-goyangkan badannya, pokoknya dia sedang terlihat salting.
***********
(Treengg....) Bunyi bel istirahat.
Herman dan Uji langsung menghampiri Rian, mengajaknya ke kantin.
"Yan, ayok." ajak Herman.
Rian lalu beranjak dari kursinya, Herman dan Uji duluan berjalan, Rian menyusul mereka dari belakang.
Mereka lalu berjalan, walaupun tak ada yang menarik disini, tapi para siswi yang sedang ada di lorong kelas, langsung mengarah pandangan ke Rian aneh, seperti ada sesuatu.
"Hai Rian." sapa salah satu siswi disana dengan sok akrab.
"Yo, hai." kembali Rian menyapanya walaupun dia tak mengenal siapa perempuan itu.
Karena dia ada di dengan kelas VIIID, dia menoleh ke kelas tersebut. Saat dia melihat kelas tersebut alangkah terkejutnya dia.
Dia melihat Sindy sedang dirundung oleh keempat siswi yang kemarin membully nya, terkecuali Sarah, mungkin dia takut dilaporkan.
Rian langsung masuk kelas tersebut, dan berlari ke arah Sindy dan keempat gadis yang sedang merundung, dia langsung menempatkan diri di tengah-tengah mereka.
"Apa yang kalian lakukan?!" Ucap Rian kesal.
Sontak keempat siswi tersebut terhenti dan melihat Rian yang melangkah ke tengah-tengah.
"Tsk...Kukira kalian sudah kapok?" Terlihat dia kesal dengan mereka. "Kau tak apa-apa, Sindy?" dia berbalik lalu mengulurkan tangannya ke Sindy.
Namun, uluran tangannya ditepis oleh Sindy, dia langsung pergi dengan terus menangis.
"Kenapa juga kakak peduli ke dia." ucap salah satu gadis dengan sok centil.
Rian langsung menoleh ke mereka, tatapan dia terlihat marah. "Memangnya kenapa! Ciss, pembullyan.... sungguh konyol."
Deg.
__ADS_1
Sebuah aura kebencian yang menakutkan langsung terasa disana, membuat semua orang yang ada dikelas langsung gemetar ketakutan merasakan aura Rian yang terpancarkan.
Rian tak diam disana, dia langsung pergi keluar mengejar Sindy.
Kedua temannya ikut mengejar Rian, namun mereka langsung disuruh diam.
"Kalian jangan mengikutiku." suruh Rian.
Deg.
"Baik." dengan spontan mereka menjawab dan langkahnya terhenti.
Kembali ke Rian, dia terus berlari mengejar Sindy. Sekejap dia berfikir kalau dia ada di taman belakang kantin.
Dia lalu pergi kesana. Benar adanya kalau Sindy ada disana, dia sedang duduk di bangku taman disana.
Rian memperpendek langkahnya, dia berjalan santai ke Sindy.
"Ternyata kau disini, huffff..." ucap Rian ngos-ngosan, capek berlari.
"Kau... Tidak.... Apa-apah..." Tanya Rian yang langsung duduk di pinggir Sindy, suaranya masih ngos-ngosan.
Sindy menggelengkan kepala pertanda dia baik-baik saja. Dia terus menunduk kebawah.
"Kenapa kakak mau bersamaku? Aku kan culun, tidak berguna, tak bisa apa-apa, menyusahkan dan..."
"Dan apa?" Kata Rian terdengar membentak yang langsung memotong kata Sindy.
"Aku jelek." ucap Sindy.
"Terus jika kamu seperti itu, kamu akan diam saja?" Tanya Rian.
Sindy lalu menoleh ke Rian, menunggu arti maksud dari katanya itu.
"Kau memang culun, masa nggak berani sama mereka. Kau tidak berguna, benar kau mau aja di gunain sama orang lain. Kamu nggak bisa apa-apa, masa gitu aja kamu nggak bisa ngelawan apa-apa. Intinya kenapa kamu nggak bisa melawan mereka sih?!" Ucap Rian kesal walaupun maksudnya khawatir.
Sindy terkejut dengan ungkapan Rian yang begitu terus terang, dia lalu menangis mendengar itu.
"Ti-tidak, bukan itu maksudku. Cup...cup...cup..." Rian mencoba menenangkan Sindy.Tapi tetap saja Sindy menangis.
"Kakak, terimakasih." ucap Sindy.
"Hah?" Rian terkejut dengan kata terima kasih dari Sindy.
Sindy lalu mendongakkan kepalanya. "Selama ini, hiks, banyak yang merasa kasian padaku, hiks, karena sering dirundung, tapi, hiks, hanya kakak lah yang, hiks, memarahiku karena aku dirundung, hiks, Selama ini belum pernah ada yang memarahiku karena aku dirundung, hiks, hiks, hiks."
Rian lalu terdiam, dia mengubah pandangannya lurus ke depan untuk membiarkan Sindy menangis hingga dia puas dengan itu.
#
Setelah beberapa menit akhirnya Sindy puas menangis, dia kembali terdiam walaupun masih ada suara pekikan.
"Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kamu dirundung?" Tanya Rian secara langsung.
"Hah?" Sindy menoleh kebingungan ke Rian.
"Maksudku, aku sudah berada disekolah ini selama tiga tahun, tapi aku tidak tahu sama sekali tentang kau yang dirundung disekolah ini." ucap Rian.
"Sekitar satu tahun setengah." jawab Sindy.
"Hah? Serius selama itu?" Rian tak percaya. Namun, dia kembali terdiam lalu menatap langit.
"Aku tak pernah dirundung, tapi aku sering dianggap sombong, diriku dipandang anak yang tinggi hati oleh orang-orang." ucap dia dengan tetap melihat ke langit.
"Tapi, aku membuktikan mereka bahwa aku bukan orang yang sombong dengan berbuat serendah mungkin, berusaha membuat orang nyaman kepadaku." ucap Rian, sebenarnya dia ingin bicara panjang lebar namun dia tak bisa mengatakan apa-apa lagi.
"Dan aku ingin kau melawan mereka semua yang merundung mu, membuktikan kalau kau bukanlah orang yang layak dibully, kau tunjukan bahwa kau tak takut dengan mereka." ucap Rian yang merendahkan kepala ke Sindy.
"Tapi aku tak sekuat Kak Rian, aku itu penakut."
__ADS_1
"Takut belum tentu kau itu lemah, kau juga tak perlu beradu fisik dengan mereka, cukup keluarkan kepercayaan dirimu saja bahwa kau tak takut." ucap Rian. Dia lalu kembali kembali melihat langit.
Sindy hanya mengangguk kecil, dia mendongakkan kepalanya ke wajah tampan Rian itu.
Mata coklat bersinar memantulkan cahaya, lekuk mata yang lancip misterius, dan juga wajah yang tampan membuat Sindy melihatnya terpesona.
"Janji kau, akan melawan mereka?" Rian lalu memberikan kelingkingnya dan merendahkan kepala. Tak sengaja mata Rian bertemu dengan mata jernih Sindy.
"Kakak berbeda denganku, kak Rian selalu berfikir jernih, berbeda denganku yang selalu berfikir negatif." ucap Sindy.
"Tidak juga, aku kadang berfikir negatif kepada seseorang." sangkal Rian.
"Kakak sangatlah tampan." ucap Sindy.
"Hmm, terimakasih. Banyak orang yang mengatakan hal itu, jadi aku ini memang tampan." ucap Rian.
Sindy terkekeh kecil. " Narsis." gumam Sindy.
"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Rian tak mendengar gumaman Sindy.
"Tidak lupakan." Sindy lalu kembali ke ekspresi semula.
"Kau juga sangatlah manis." ucap Rian memuji. Entah itu pujian untuk membalas atau Memeng Rian ingin memujinya. Tapi, Sindy yang mendengar itu membuat wajah Sindy memerah, di lalu memalingkan muka kepinggir karena malu.
"Kau mengingatkanku kepada seseorang yang berharga." ucap Rian.
"Seseorang yang berharga? Pacar kakak?" Tanya Sindy.
"Umm." Rian menggelengkan pertanda bukan. "Dia adalah selir ku." Ucap Rian spontan secara tak sadar dia mengatakan itu.
"Selir?" Sindy kebingungan.
Rian baru tersadar, dia terkaget mengapa dia mengatakan hal tadi. Selir apa maksudnya, mengapa dia memiliki pikiran itu.
"Hah! Maksudku.... Eeeee." dia mencoba mencari alasan untuk mengganti ke typo an perkataan dia.
Sindy terkekeh kecil karena Rian yang salah tingkah. Dia menengok kanan-kiri mencari ide membenarkan katanya.
"Ternyata kakak sudah punya Harem." ucap Sindy sambil terkekeh kecil.
"Bukan itu, aku juga tak tahu mengapa aku berbicara seperti itu." Rian. "Ada apa dengan mulutku ini, ya..." gumam Rian.
(Treengg...) Bunyi bel masuk kelas.
"Kalau begitu, ayok." Rian beranjak dari kursi taman dan mengulurkan tangannya ke Sindy. Suasana Rian seketika berubah entah kenapa, mungkin untuk menutupi malunya.
Sindy lalu menerima uluran tangan dari Rian, dia berdiri dan mengangguk ke Rian.
Tak berlangsung lama, mereka pergi kembali ke kelas dengan berlari.
Saat sudah sampai didepan kelas Sindy, Rian lalu pergi untuk kembali ke kelasnya. Saat dia sudah cukup jauh, Rian berbalik.
"Fighting." ucap Rian mencoba menyemangati Sindy.
Sindy mengangguk ke Rian, dia terlihat senang melihat itu.
∆\=\=\=∆
Mohon maaf jika ceritanya terlalu rumit, sulit dimengerti atau juga nggak jelas.
Mohon maaf juga jika ada banyak kekurangan.
Jika ada penulisan yang typo mohon maklum.
Jan lupa like jempolnya, share bagikan, tinggalkan komentar anda dan kalau bisa vote serta jadikan favorit.
Follow juga.
Ya.
__ADS_1
Terimakasih banyak.