Dzarl : After 800 Year'S

Dzarl : After 800 Year'S
Chapter 34 : Tertangkap


__ADS_3

"Ini pak, silahkan dinikmati." Ucap seorang wanita sembari menyerahkan secangkir kopi.


Seorang wanita bergaya pelayan itu baru saja datang dan langsung memberikan kopi kepada seorang Pria berjas yang sedang berdiri di depan jendela memandangi kota di malam hari.


"Terimakasih." Terima Pria itu. Pria berkemeja putih dipadukan dengan jas abu dan memakai celana panjang berwarna abu juga. Dia adalah Pak Haya.


Pak Haya lalu meminum kopi tersebut, namun saat dia baru saja menyeruput sedikit kopi tersebut dia langsung mengangkat cangkirnya dan memuntahkan air kopi yang masuk di mulutnya.


"Cyahh. Panas... Kopinya terlalu panas." Ucap Pak Haya.


"Maaf, Pak." Pelayan itu langsung berbalik menghampiri Pak Haya.


"Air kopi bersuhu 70,1°C, itu terlalu panas." Ucap Pak Haya.


"Saya minta maaf Pak." Pelayan itu langsung mengambil cangkir yang ada di tangan Pak Haya.


' hanya dengan lidah saja dia bisa mengukur suhu, wahh ini mah keterlaluan hebatnya. ' batin pelayan itu.


"68.0 °C itu lah suhu yang sempurna untuk kopi." Ucap Pak Haya.


' heh, Apa bedanya? ' batin pelayan. "Kalau begitu aku akan mengambilkan kopi baru untuk anda." Ucap pelayan. Wanita pelayan itu lalu pergi melangkah keluar.


Tak beberapa lama setelah wanita itu keluar, Pak Haya menarik nafasnya dan mendongakkan kepala ke depan.


"Akhirnya kau datang juga..." Pak Haya berbalik. "Heru." Lanjutnya.


"Yo." Balas Heru sembari tersenyum kearahnya. "Jadi apa yang kau ingin bicarakan?" Tanya Heru yang langsung duduk manis menantikan jawaban dari Pak Haya.


"Baiklah, langsung saja." Pak Haya lalu berbalik kembali ke jendela.


"Tiga bulan lagi kita akan menuju bulan Mei atau bulan dimana menurut ramalan itu adalah kebangkitannya." Ucap Pak Haya.


Heru hanya mengangguk menunggu lanjutannya.


"Apa yang kau ketahui dengan rencananya?" Tanya Pak Haya.


Heru hanya memasang wajah tersenyum kearahnya. "Maksudmu si tuan raja itu." Ucap Heru. "Kau akan bayar berapa untuk ini?" Lanjutnya dengan pertanyaan.


"Cihh, baiklah apapun yang kau inginkan." Balas Pak Haya.


"Baiklah setuju." Ucap Heru. "Jadi, dari yang aku ketahui ya. Hmm..." Heru berfikir sejenak.


"Dia merencanakan menghidupi kembali para Dzarl dan Gate Dzarl yang mati atau pun koma." Ucap Heru.


"Lalu." Pak Haya.


"Informasi mahal, aku tak akan memberikan informasi secara mudah." Ucap Heru sebelum dia berdiri dan melangkah ke Pak Haya.


"Cihh." Kesal Pak Haya.


"Soal bayarannya hanya satu saja." Ucap Heru dihadapan Pak Haya. "Jangan apa-apakan Aldi, dia mainanku." Ucap Heru menepuk pundak Pak Haya.


"Aku tak peduli tentang dia, seharusnya kau meminta itu ke Pak Fajar bukan diriku." Jawab Pak Haya.


"Mengantisipasi, takutnya kau ikut ikutan ini." Ucap Heru.


"Terserah." Jawab Pak Haya.


"Kalau begitu, jya." Setelah mengatakan itu Heru melangkah pergi dari ruangan itu.


#


Saat sudah sampai dibawah, Heru langsung pergi ke parkiran motor yang berada di samping kiri gedung dia berada.


Sesudah sampai dia langsung mengambil helm yang ada di atas motor CBR 150R miliknya lalu ia menaiki motor tersebut sembari memakaikan helm untuknya. Setelah itu dia langsung tancap gas pergi dari sana.


#


Saat ditengah perjalanan, dari jauh Heru melihat segerombolan orang berseragam hitam lengkap dengan rompi anti peluru bertuliskan PaPDI.

__ADS_1


"Hah... Merepotkan saja." Ucap Heru masih menancap gas walau tak sekencang tadi.


Saat sudah dekat dengan segerombolan orang berseragam, salah satu orang berseragam disana mengibas-ibaskan tangannya sebagai isyarat untuk Heru agar menepi.


Heru hanya menurutinya, dia menepikan motornya tersebut dan salah seorang datang menghampiri dia.


"Tolong buka helmnya, Mas." Pinta orang itu.


Heru menurutinya, dia melepas helmnya tersebut dengan santai.


Saat helm dibuka, terlihat orang-orang berseragam disana termasuk orang yang ada di hadapan Heru langsung terkaget.


Melihat itu semua orang langsung menodongkan senjata ke Heru. Heru hanya bisa pasrah disana, dia mengangkat tangan sebagai isyarat menyerah.


(Ceklek) bunyi borgol yang dikunci di tangan Heru.


Heru lalu melihat kedua tangannya diborgol oleh seorang pria yang ada dibelakangnya.


"What is this?" Heru bingung.


"Tanyakan pada rumput bergoyang." Balas pria itu.


"Jam 21.44, seorang tersangka bernama Heru tertangkap." Ucap pria itu setelah dia melihat jam tangan miliknya. Dia adalah Rendi.


"Kau ditangkap atas tuduhan pengedar obat HTQ secara ilegal." Tambah Rendi. Setelah dia mengatakan itu, dia langsung menarik borgol Heru.


Lalu Rendi menyuruh Heru untuk masuk ke dalam mobil, dan dia akan dibawa.


"Bawa motor miliknya, simpan di tempat aman sebelum kita gunakan itu menjadi barang bukti." Ucap Rendi sebelum dia masuk ke mobil.


"Baik!" Jawab serentak anggota lain.


Mobil lalu melaju pergi dari tempat itu. Rendi menoleh ke belakang ke Heru yang duduk.


Walau dia sedang ditangkap, tetapi Heru tak terlihat sedikitpun tegang atau pun takut maupun gelisah.


"Kau tak takut?" Tanya Rendi.


"Cihh... Melaju lebih kencang!" Ucap Rendi ke pengemudi mobil.


"Baik." Jawab pengemudi itu.


Mobil lalu melaju lebih kencang dijalan, dengan menyalakan sirine saja para mobil langsung menepi memberi jalan ke mobil yang Rendi tumpangi itu.


#


Beberapa saat kemudian mobil pun sampai ke lokasi tujuan, gedung tinggi berlantaikan 10, di bagian atas depan gedung itu terpanjang logo PaPDI. Sudah tak diragukan lagi ini adalah kantor pusat.


Setelah mobil sampai di parkiran mobil, Rendi turun dan pergi ke pintu mobil kedua, membuka pintu lalu menyuruh Heru untuk keluar.


"Ayo." Ucap Rendi menarik borgol Heru.


Disaat yang sama, beberapa orang berseragam hitam lengkap dengan rompi anti peluru datang dan langsung mengepung mereka bertiga (termasuk supir.)


"...,8,9,10. Hmm sebegitu nyakah kalian waspada kepada ku?" Ucap Heru.


"Sudahlah." Rendi menarik borgol lagi.


Mereka lalu masuk kedalam dengan dikawal sepuluh orang berseragam dibelakangnya.


Saat sudah masuk, disana mereka langsung disuguhkan dengan lobi yang sudah banyak orang berlalu-lalang disana.


Namun kejutannya Heru tak berlalu lama, dia kembali berjalan disana.


Saat mereka sedang berjalan disana, tak sengaja Heru melihat seseorang yang pernah ia temui. Dengan begitu Heru langsung menatapnya.


Seorang Pria berjas hitam, perawakannya pendek, dan dia sekitar berusia pengakhiran 40tahun-an. Dia sedang mengobrol dengan seorang Pria disebelahnya yang terlihat blasteran Indonesia-Belanda, atau barat.


Karena merasa sedang di pandangi, Pria itu langsung menoleh ke arah Heru. Saat dia menoleh dan melihat seorang yang memandanginya dari tadi.

__ADS_1


Pria itu langsung terkejut saat melihat Heru yang memandanginya itu. Karena kaget, dia langsung menyuruh lawan bicaranya untuk berjalan lebih cepat, agar bisa menghindar dari Heru tentunya.


Heru hanya tersenyum melihat tingkah laku Pria itu yang terlihat panik saat bertemu dengannya.


Pria itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang ke arah Heru yang sedang berjalan.


"Ada apa?" Ucap lawan bicaranya. (Dia berbicara dalam bahasa Belanda)


"Tidak." Balas Pria itu dengan bahasa Belanda.


Karena penasaran Pria blasteran itu menoleh juga kebelakang dan melihat segerombolan dengan Heru.


Kerena tak merasakan ada hal yang aneh dengan mereka, Pria blasteran itu hanya mengedikan bahu lalu kembali membahas apa yang tadi mereka bahas sebelumnya.


***


Beberapa Minggu yang lalu.


"Ini yang anda minta, silahkan." Ucap Heru menyerahkan sebuah koper kecil berwarna abu.


Pria didepannya lalu menerima koper tersebut, lalu setelah itu dia menggeser kunci dan membuka koper tersebut.


Saat koper itu dibuka, terlihat isi di dalamnya. Sebuah botol minum berwarna biru. HTQ itulah lebih tepatnya untuk botol tersebut.


"Kau yakin ini akan membuatku menjadi kuat?" Tanya Pria itu meragukan.


"Tentu saja." Jawab Heru.


"Jangankan kuat, anda bahkan pasti akan menjadi dewa jika memakai ini." Tambah Heru. "Apa yang anda inginkan pasti akan terwujud dengan ini." Tambah lagi.


Setelah mendengar itu, Pria itu langsung mengambil botol tersebut dan membuka tutupnya lalu meminum isi air di dalamnya.


Setelah meminum itu, dia langsung terjatuh kebawah dengan nafas yang ngos-ngosan.


Tak beberapa lama, asap muncul dari tubuhnya dan juga penglihatannya mulai kabur.


"Aaakkkk." Teriak Pria itu.


Heru hanya tersenyum melihat pria itu berteriak kesakitan.


"Selamat bersenang-senang. Pak Hadi." Ucap Heru.


Pak Hadi lalu berubah menjadi Gate Dzarl.


Pak Hadi adalah orang yang sama dengan Pria yang bertemu di lobi kantor pusat, yang sedang berbincang dengan Pria blasteran.


Inilah alasan kenapa Pak Hadi panik saat bertemu dengan Heru tadi.


-


-


-


-


-


∆\=\=\=∆


Mohon maaf jika ceritanya terlalu rumit, sulit dimengerti atau juga nggak jelas.


Mohon maaf juga jika ada banyak kekurangan.


Jika ada penulisan yang typo mohon maklum.


Jan lupa like jempolnya, share bagikan, tinggalkan komentar anda dan kalau bisa vote serta jadikan favorit.


Follow juga.

__ADS_1


Ya.


Terimakasih.


__ADS_2