
Seorang Pria berjas putih ala profesor sedang berjalan di lorong panjang yang berisi hanyalah lampu LED sebagai penerang jalan.
Dia tak sendirian ada tiga orang berada didekatnya, satu pria kekar dan berotot dan botak, satu pria kurus, dan satu wanita berkacamata yang terlihat berkarisma.
Pria berjas itu adalah Pak Fajar, orang yang menolong Aldi 13 tahun yang lalu, juga yang memberikan jam tangan.
Setiap orang yang berpapasan dengannya langsung menundukkan kepalanya sebagai hormat kepada mereka bertiga.
Sekitar lima menit mereka berjalan disana, akhirnya mereka pun sampai disebuah pintu besi yang dijaga oleh dua orang berseragam lengkap dengan senjata api yang menggantung dileher.
Dua penjaga itu lalu membukakan pintu besi tersebut. Setelah pintu dibuka mereka bertiga lalu masuk kedalam.
Saat mereka sudah masuk, mereka langsung disuguhkan dengan seorang Pria sedang duduk sila diatas kasur, dia berada di dalam jeruji besi dengan kaki kirinya terborgol.
"Yo. Heru, Assalamualaikum." Sapa Pria berjas putih.
"Jangan sok kenal lah. Pajar." Balas Heru.
"Penggunaannya pakai "F" bukan "P"." Ucap Pak Fajar.
"Terserah. Untuk apa kau datang kemari?" Tanya Heru.
"Baiklah langsung saja. Tujuanku datang kemari adalah untuk menawarkan kerjasama." Ucap Pak Fajar.
"Hah?" Heru bingung. Memangnya dia siapa, datang-datang langsung ngajak kerjasama.
"Aku memiliki penawaran menarik, kau akan bebas jika kau berkerjasama denga-"
"Aku menolak." Sela Heru.
"Yap, pilihan yang bagu....ss? Tunggu aku belum selesai kalimatnya, kenapa kau langsung menolak?" Tanya Pak Fajar.
Heru lalu merebahkan diri ke belakang sembari tersenyum.
"Ada dua alasan aku menolak, pertama aku menyukai tempat ini, lalu yang kedua ..." Heru menggantungkan kalimatnya.
Dia bangun lalu langsung berlari melesat ke arah Pak Fajar dan memegang jeruji. "Aku tak menyukai dirimu-Aaaaa." Lanjut Heru namun langsung tersela oleh listrik yang menyambar dari jeruji besi tersebut.
Dia langsung terpental kebelakang hingga terbanting ke kasur.
"Hahahaha." Heru lalu tertawa sembari mengibas-ibaskan tangannya yang terkena setrum.
"Full-kan volume listriknya!" Perintah Pak Fajar.
"Sedari tadi sudah Pak." Jawab seseorang lewat TOA yang terpasang di sudut ruangan.
"Cihh..."
Tak beberapa lama setelah itu, ponsel milik Pria di belakangnya berdering dan dia langsung mengambil ponselnya itu dan menjawab.
"....Baik, kerja bagus." Ucap Pria itu. Setelah itu dia menutup seluler.
Pria itu lalu melangkah ke Pak Fajar dan mendekatkan kepalanya ke telinga dan berbisik.
Pak Fajar yang mendengar bisikan tersebut dia langsung tersenyum.
"Kerja bagus." Jawab Pak Fajar.
Pak Fajar lalu menoleh ke Heru yang sedang duduk sila diatas kasur memerhatikan Pak Fajar, mungkin dia penasaran dengan apa yang pria itu katakan kepada Pak Fajar.
"Aku ada keperluan." Ucap Pak Fajar.
"Terus, apa pedulinya aku." Jawab Heru.
"Jika kau berubah pikiran kau bisa hubungiku, aku akan selalu menerima." Ucap Pak Fajar.
"Hal itu kujamin tak akan pernah terjadi." Ucap Heru.
__ADS_1
Pak Fajar tak memperdulikan itu, dia langsung pergi berbalik dan pergi keluar.
Melihat itu, Heru hanya bisa tersenyum karena melihat Pak Fajar berharap kalau Heru juga akan jadi mainannya.
***********
("... Aku tertarik padamu.")
Kata itu terus muncul di benak Risa, dia terus mengingat perkataan dari Rian itu yang mengatakan kalau dia tertarik padanya.
Risa kini sedang berada di taman mini, lebih tepatnya dia sedang duduk dikursi.
Entah kenapa dia adalah disana, tapi dari tampangnya dia seperti sedang mengamati air mancur yang ada di tengah taman atau lebih tepatnya lagi berada di depannya beberapa meter.
Tapi, entah kenapa setiap beberapa detik mata Risa terus melirik ke suatu titik, ke arah Pria berkaos merah yang sedang memegangi beberapa balon di tangan kirinya.
Pria itu terus tersenyum saat ada orang lewat didepannya terutama pada anak-anak, dia selalu memberi balon yang ia genggam di tangan kirinya itu.
Setelah sekitar satu jam lamanya Risa melirik beberapa kali ke arah Pria tersebut, Pria itu melangkah pergi dari sana.
Begitu juga dengan Risa dia bangun dan pergi mengikuti Pria itu dari belakang. Agar tak mencurigakan dia terus berjalan dengan berputar-putar dari taman agar terlihat itu hanyalah sebuah kebetulan.
Risa terus mengikuti Pria tersebut hingga mereka keluar dari kawasan taman dan menuju ke tempat lain.
Hingga mereka memasuki gang sempit, Pria itu memberhentikan langkahnya. Dia mengorek saku celananya dan mengeluarkan sebuah handphone Android.
Bertepatan dengan itu tiba-tiba ponsel milik Risa langsung bergetar. Risa langsung mengambil ponsel di dalam tas kecil yang ia bawa dan dia langsung melihat siapa yang meneleponnya.
Disana tertulis nama"tuan Raja" di layar ponsel. Melihat itu Risa langsung terkaget, bagaimana bisa si tuan Raja menelponnya, bukankah setau dia kalau ponsel miliknya itu sudah rusak.
(Not : jadi ponsel yang Risa bawa ini adalah pemberian dari Rian waktu itu.)
Karena mendengar ada suara deringan ponsel, Pria berkaos merah langsung menoleh ke belakang.
"Siapa itu?" Ucap Pria yang melangkah ke belakangan penasaran.
Mendengar itu Risa langsung panik, dia bingung harus berbuat apa.
(Sringgg...) Bunyi tebasan.
(Bukk...) Kepala Pria itu langsung jatuh dan membentur tanah.
Setelah Risa menebas kepala dari Pria berkaos itu, dia langsung menarik kembali ponsel di sakunya dan menjawab dari panggilan itu.
"Halo. Ada ap-"
"Cihh... Kenapa kau menjawab teleponku sangat lama, hah!" Sela Pak Ghani dengan membentak.
"Maaf tuan, tadi aku sedang menjalankan misi." Jawab Risa.
"Memangnya siapa yang mengizinkanmu menjawab!" Ucap Pak Ghani.
"Cihh... Yasudah!" Tambah Pak Ghani.
"Tentang misi, bagaimana dengan tugasmu untuk menghabisi Witarana." Tanya Pak Ghani.
"Yang benar Wirianata Pak." Jawab Risa.
"Siapa yang menyuruh membenarkan kataku." Balas Pak Ghani. "Sudahlah, bagaimana? Sudah sampai mana kau." Tambah Pak Ghani.
Risa lalu terdiam mendengar pertanyaan dari Pak Ghani ini.
"Bagaimana!?" Tanya Pak Ghani dengan bentakan.
"S-sudah cukup jauh, hanya perlu waktu sedikit lagi saja." Jawab Risa.
"Hmm baiklah cepat lakukan sebelum bulan Mei mendatang." Ucap Pak Ghani.
__ADS_1
"Baik tuan." Jawab Risa.
Setelah itu, telepon seluler ditutup.
Risa lalu menekan tombol power dipinggir ponsel untuk mematikan daya, setelah mati dia memasukan ponselnya itu ke tasnya dan kembali dengan tangan membawa buku berwarna hitam dan bolpoin.
Setelah dia memegang buku itu dengan benar, dia lalu membuka buku hitam itu. Dia dalamnya terdapat jajaran foto dan salah satunya adalah foto pria berkaos merah.
Risa lalu mencoret foto pria berkaos merah ini. Setelah dia melakukannya dia membalik beberapa lembar.
Disana juga masih terdapat foto-foto orang, salah satu dari foto terlihat tak asing orangnya, seorang laki-laki usia 15 tahun, dia adalah Rian.
Setelah dia melihat foto tersebut dia langsung menutup buku, lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.
Lalu dia langsung pergi dari tempat itu meninggalkan pria yang baru saja dia habisi tadi.
***********
Di sisi lain. Rian sedang duduk di kursi depan memerhatikan seorang ibu-ibu sedang memilih barang elektronik dengan ditemani satu orang wanita sedang memperkenalkan produk barang elektronik yang mereka tuju.
Dia tak sedang ada di rumah melainkan dia sedang ada di toko elektronik, dan sepertinya dia sedang menunggu seseorang.
Benar adanya, beberapa menit setelah dia menunggu disana datang seorang Pria berkaos hijau dari belakang melangkah kearahnya.
Pria itu membawa jam tangan hitam ditangannya, jam itu adalah jam yang diberikan oleh Pak Haya ke Rian. Disini Rian sedang memeriksa jam pemberian itu setelah dia melihat kalau benda tersebut bukanlah benda biasa pada umumnya.
Rian lalu bangun dari duduknya dan mencoba mendekati Pria itu.
"Jadi gimana Pak?" Tanya Rian.
"Emm... Tentang rusak sih, ini baik-baik aja malah masih bagus. Tapi..." Ucap Pria itu menggantung.
"Tapi gimana Pak?" Tanya Rian ingin tahu kata tapi tadi.
"Saat saya periksa fitur yang ada, beberapa ikon nggak bisa dibuka di lock gitu." Jawab Pria itu. "Dan juga malah keluar suara "akses ditolak" gitu." Tambah Pria.
"Bagaimana dengan Flash change?" Tanya Rian.
"Flash change?" Pria itu bingung.
"Ahh... Nggak jadi Pak." Ucap Rian langsung menutup pertanyaannya. "Kalau gitu saya pulang dulu ya, Pak!" Tambah Rian setelah mengambil jam tangan miliknya itu.
"Ya, ya... Hati-hati dijalan." Jawab Pria itu.
Rian lalu melangkah pergi dari sana.
-
-
-
-
-
∆\=\=\=∆
Mohon maaf jika ceritanya terlalu rumit, sulit dimengerti atau juga nggak jelas.
Mohon maaf juga jika ada banyak kekurangan.
Jika ada penulisan yang typo mohon maklum.
Jan lupa like jempolnya, share bagikan, tinggalkan komentar anda dan kalau bisa vote serta jadikan favorit.
Follow juga.
__ADS_1
Ya.
Terimakasih.