Dzarl : After 800 Year'S

Dzarl : After 800 Year'S
Chapter 42 : Buat jebakan.


__ADS_3

"Ini hasil Forensik kami." Ucap seseorang pria berjubah putih ala profesor.


Dia menyerahkan sebuah map plastik ke Pak Faisal yang ada di depannya. Pak Fajar pula menerimanya dengan santai.


"Oke, terimakasih." Jawab Pak Fajar dengan menerima map itu.


"Kalau begitu." Pria itu lalu membungkukkan badan, setelah itu dia pergi.


Setelah dia pergi, Pak Fajar langsung membuka map tersebut lalu membacanya.


Seolah dia tak percaya, dia terus membaca semua rentetan tulisan yang tercetak dikertas.


Dan setelah dia selesai membaca semua tulisan, dia hanya bisa tersenyum tak percaya.


"Tak kuduga anak itu dapat melakukan hingga seakurat dokter forensik pro." Ucap Pak Fajar kagum.


(Tingg...) Suara bel pintu.


"Masuk." Sahut Pak Fajar.


"Pak, mobil dan peralatan lainnya sudah kami siapkan." Ucap orang itu setelah membuka pintu.


"Baguslah. Mana Bob dan Lenn?" Tanya Pak Fajar.


"Mereka sudah ada didepan." Jawab Pria itu.


Setelah itu Pak Fajar pun langsung melangkah pergi, dan disusul oleh pria tadi, setelah dia mengunci ruangan Pak Fajar itu berada ia langsung ikut dari belakang.


***********


"Jadi ada apa anda memanggil saya kesini." Tanya Rian.


Di pinggirnya ada Bu Eri yang baru saja sampai kesana, tempat bendungan terbesar di Asia, yaitu Jatiluhur Purwakarta.


Keadaan sedang siang hari cerah, tapi karena mereka berada di tempat yang berlawanan dengan jalan raya, jadi disana tak ada siapapun.


Disana Bu Eri menghela nafasnya sebentar sebelum memulai alasan dia memanggil Rian ke sana.


"Hey Rian. Kenapa kau begitu baik kepada kami, bukankah kau tahu kalau kami ini Dzarl?" Tanya Bu Eri.


"Hah? Soal itu-"


"Bukankah, aku mencoba menghabisimu sebelumnya." Sela Dia.


"Itu..."


"Ini memang tidak sopan tapi, Jujur saja aku curiga atas kebaikan dirimu." Ucap Bu Eri.


"Heh?"


"Oleh karena itu, karena aku sudah berkata jujur, maka..."


(Sringgg) tangan kanan Bu Eri berubah menjadi Pusaka, dan dia langsung menempelkannya ke leher Rian.


Melihat keadaannya itu, Rian langsung kaget sekaligus takut. Tentu saja mana mungkin tidak jika leher dia sudah ditempelkan Pusaka, hanya dengan sekejap pasti dia akan mati jika disabet oleh alat pertahanan ini.


"Jawab dengan jujur!" Pinta Bu Eri.


Rian masih terdiam, dia tak tahu harus jawab apa. Dia bahkan tak dapat berfikir karena kepanikannya itu.


"Jawablah!" Bentak Bu Eri.


Rian mencoba tenang, dia terus mengatur nafasnya agar tetap tengah dan tak ada kesalahpahaman di saat dia berkata.


"Aku bingung harus menjawab apa. Lagi pula tak ada alasan yang dapat membuktikan kalau aku tidak memiliki maksud lain kenapa aku menolong anda."


Bu Eri mulai melebih dekatkan Pusaka nya itu kedalam leher Rian.


"Ini memang terdengar bohong... Tapi, aku menolong anda itu tak memiliki alasan apapun." Ucap Rian. "Jika anda ingin menghabisimu disini silahkan saja." Tambah Dia.


Setelah mendengar itu, Bu Eri mengangkat tangannya keatas seperti akan menebas kepala Rian.


Rian hanya bisa pasrah, dia hanya bisa menutup mata jika hal ini benar-benar akan terjadi padanya.


Tapi sudah beberapa detik dia menutup mata, tapi tebasan itu belum juga datang kepadanya. Kerena penasaran Rian memberanikan diri untuk membuka matanya.


Dia melihat Bu Eri sudah tak mengangkat tangannya, melain tangan kanannya itu berada sejajar dibawah.


Melihat itu Rian lega kalau nyawanya tak terancam, dia langsung jatuh kebawah dengan nafas terengah-engah.


"Kenapa...?" Tanya Rian mendongakkan kepalanya ke atas dengan nafas masih tak stabil.

__ADS_1


"Saat kau menolongku, kau terlihat kalau itu tulus. Hanya itu." Jawab Bu Eri.


Mereka lalu terdiam, Bu Eri berbalik ke arah bendungan Jatiluhur untuk melihat pemandangan. Rian juga lalu bangun dan itu memandangi bendungan itu.


"Empat hari lalu, aku mendengar dari berita kalau suamiku sudah dihabisi anggota PaPDI. Beberapa hari sebelum itu suamiku mengirim pesan kalau kami harus segera pergi dari sana." Cetus Bu Eri.


Mendengar itu, Rian tercengang dengan apa yang Bu Eri ucapkan itu. Dia tak tahu kalau akan seserius ini yang dibicarakannya.


"Awalnya kami tak tahu maksudnya, tapi setelah menonton berita itu aku paham. Suamiku khawatir kalau mereka juga akan mengincar kami, oleh karena itu dia menyuruh aku untuk segera pergi dari sana."


"Kenapa?" Tanya Bu Eri yang melihat Rian tercengang melihatnya.


"Tidak, hanya saja aku tak menyangka anda akan menceritakan cerita anda." Jawab Rian.


"Hmm, sebenarnya aku juga mengatakan ini karena hanya kau yang kurasa dapat dipercaya." Ucap Bu Eri.


"Dipercaya?"


"Ya. Penyebab suamiku tertangkap adalah ada seseorang yang melaporkan. Kemungkinan pelakunya itu orang dekat suamiku." Jawab Bu Eri.


"Hmm."


"Jadi..." Bu Eri menggantungkan kalimatnya.


"Jadi apa?" Rian bingung.


"Tolong lindungi Salsa." Pinta Bu Eri membungkuk ke arah Rian.


"M-ma-maksud anda?" Tanya Rian terbata-bata karena tiba-tiba Bu Eri membungkuk kepadanya, dia juga kaget kenapa Bu Eri sampai harus melakukan itu.


"Aku akan kembali ke rumah, kemungkinan dia juga kesana mengincar kami. Aku akan kesana bertarung dengannya." Ucap Bu Eri.


"Kumohon, karena hanya kau satu-satunya orang yang dapat ku percaya, tolong jaga putriku demi diriku." Tambah dia dengan kembali membungkukkan badan.


"Sebaiknya anda tak perlu melakukannya-" Ucap Rian memberhentikan tindakan Bu Eri.


"Tidak bisa. Jika aku membiarkannya, mungkin saja Dzarl yang lain dapat menjadi korban selanjutnya." Sela Bu Eri dengan tegas.


Mendengar itu Rian terdiam, dia menundukkan kepalanya karena bingung.


"Jika aku mencoba menghentikan tindakan anda juga, anda akan tetap melakukannya." Ucap Rian.


"Jadi, apakah kau mau menjaga Salsa?" Tanya Bu Eri.


"Hmm." Rian mengangguk. "Tapi, bukan berarti selamanya." Ucap Dia.


"Hah?"


"Sudah kubilang aku tak bisa menghentikan tindakan anda, tapi yang bisa kulakukan hanya menyemangati anda." Ucap Rian.


"Aku tak akan memberi tahu kepada putrimu, jadi tetaplah hidup agar dia tak kehilangan keluarganya lagi." Ucap Rian.


"Emm, pasti akan ku lakukan..." Jawab Bu Eri.


Setelah mengatakan itu, Bu Eri mengangkat badannya lalu mendekat ke hadapan Rian. Setelah dia sudah ada dihadapan Rian, dia langsung memeluk Rian dengan erat.


Sontak Rian langsung terkaget, dia hanya bisa diam kaku ditempat, bahakan matanya saja tak bisa dia gerakan.


"Kau adalah orang yang baik, Rian." Ucap Bu Eri.


Walau bingung Rian lalu melipat kedua tangannya di belakang punggung Bu Eri dan menepuk-nepuknya.


"Karena anda sudah mengatakan itu, jadi yang bisa kulakukan hanya "semoga berhasil, aku menunggu anda di rumah". Karena, Aku percaya kepada anda." Ucap Rian.


***********


Setelah sekitar setengah jam Aldi berkendara, akhirnya diapun sampai di tempat tujuannya. Di sebuah rumah bercatkan warna biru. Rumah itu juga berada terpisah dari rumah-rumah lainnya, mungkin jaraknya sekitar 25-30 meter dari rumah lain.


Itu adalah rumah milik Pak Dariki dan keluarganya.


Setelah memarkirkan motor didepan rumah itu, Aldi turun dari kendaraannya dan melepas helm yang dikenakan.


Setelah itu dia berjalan ke pintu rumah dan mengetuk-ngetuk pintu tersebut.


(Tokk...tokk...tokk...)


"Assalamualaikum, permisi."


Namun, tak ada tanggapan dari salamnya itu. Karena penasaran dia lalu memeriksa dalam dari jendela-jendela, baik di depan maupun pinggir dan belakang.


Disana dia tak melihat siapapun, bahkan keadaan rumah sangatlah rapih bagai mereka selalu membersihkan rumah setiap saat.

__ADS_1


Dia lalu mengorek saku celananya dan mengambil buku catatan kecil berwarna hitam. Dia lalu membukanya.


"Tapi benar, alamatnya tertuju kesini." Ucap Aldi sembari lanjut jalan.


Aldi terus berjalan hingga kembali ke depan, hingga dia tak sengaja memegang gagang pintu dia terkaget.


"Heh? Tidak dikunci." Ucap Aldi terkejut melihat saat dia memutarkan gagang pintu bisa dibuka.


Karena dia menemukan kesempatan, walau tidak Sopang dia langsung masuk ke dalam.


Saat dia masuk kedalam, dia melirik kanan-kiri melihat sekitaran. Disana tak terlalu banyak hal yang menarik, ini terlihat seperti rumah pada umumnya.


Dia lalu melangkah menelusuri tempat itu, memasuki ruangan-ruangan yang ada, ke dapur yang berada di bagian belakang rumah dan dipinggirnya terdengar kamar mandi.


Setelah menelusuri tempat itu, Aldi kembali ke ruang depan. Dia lalu mengambil ponselnya dan memulai memfoto-foto setiap sudut ruang.


Hingga dia sampai di ruangan paling belakang sebelum dapur, sebenarnya dia melewati kamar itu, tapi kini dia akan masuk kesana. Saat dia masuk kesana, Aldi merasakan hal yang aneh disana.


Di ruangan itu tercium bau tak sedap yang sudah memenuhi ruangan tersebut. Tak beberapa lama Aldi langsung menyadari dengan bau itu apa.


Itu adalah bau gas yang sudah menyebar di kamar itu, dan semua bau itu seperti sudah mengendap disana. Kerena penasaran berasal dari mana kebocoran gas itu berada, Aldi langsung melangkah ke depan.


(Tek...) Bunyi sebuah percikan.


Baru saja beberapa langkah dia berjalan, sebuah api muncul dari bawah dan langsung meledak seketika.


(Duarr...) Bunyi ledakan yang langsung menyambar Aldi.


***********


Beberapa hari lalu.


Bu Eri sedang berkemas-kemas dengan terburu-buru, melihat itu Salsa menghampirinya dan menanyakan apa yang sedang ibunya lakukan.


"Apa yang sedang Ibu lakukan?" Tanya Salsa.


Melihat itu Bu Eri langsung menghampiri Salsa dan memegang pundaknya dengan wajah paniknya itu.


"Kita harus pergi dari sini. Cepat kemasi barang-barang yang ingin kamu bawa, ibu sudah mengemaskan beberapa baju milikmu." Ucap Bu Eri.


Putrinya masihlah bingung, memangnya ada apa padahal hanya pergi dari sana tapi wajah ibunya itu terlihat tidak tenang kepanikan.


"Memangnya kenapa-"


"Ayo, sudah tak ada waktu lagi." Ucap Bu Eri.


Mendengar itu, Salsa hanya bisa mengiyakan saja dan pergi ke kamarnya untuk mengemas beberapa barang yang ingin dia bawa.


Tak perlu butuh waktu lama mereka selesai berkemas nya, setelah semua sia mereka langsung pergi ke depan memakai sepatu dan pergi.


Saat mereka akan pergi Bu Eri memberhentikan langkahnya, dia menoleh ke Salsa yang sedari tadi tak mengerti apa yang sedang ibunya panik ini, dia lebih terlihat tenang dari pada Bu Eri.


"Sebentar, Ibu melupakan sesuatu." Ucap dia.


Bu Eri lalu berbalik arah dan langsung berlari kembali menuju rumah.


"Tunggu disana, jangan kemana-mana." Ucap Bu Eri.


Setelah dia sampai di rumah, ia langsung membuka pintu dan masuk ke dalam. Disana, dia langsung pergi ke dapur dan kembali dengan membawa tabung gas.


Dia lalu masuk kedalam satu ruangan yang paling dekat dengan dapur. Setelah masuk kedalam, ia langsung menekan bagian mulut tabung dengan biting, lalu mengganjalnya dengan itu.


Dia lalu keluar lagi dan kembali membawa sebuah alat yang terlihat seperti tuas namun bentuknya bundar. Dia lalu menyimpannya di bawah lantai dan ditutupi oleh kain agar tak terlihat.


Benda bundar itu adalah tuas yang dapat menyambarkan api dari pinggir alat itu. Alat itu sebenarnya adalah kompor praktis untuk dibawa. H.Y Corp yang memproduksi alat ini.


Setelah dia selesai menyiapkan jebakan, Dia lalu menutup setiap bolongan-bolongan yang ada dikamar itu.


Setelah selesai dia langsung menutup rapat dan pergi dari sana, kembali menyusul Salsa putrinya.


-


-


-


-


-


-

__ADS_1


__ADS_2