Dzarl : After 800 Year'S

Dzarl : After 800 Year'S
Chapter 40 : Bertemu.


__ADS_3

(Dreett... Dreett...) Suara deringan ponsel.


Rian lalu meraih ponsel itu di meja pinggir kasur. Saat sudah meraih ponsel dia langsung menekan ikon hijau tanpa melihat siapa yang meneleponnya.


"Assalamualaikum, ya." Ucap salam dari Rian.


["Waalaikumsallam. Yan, kamu udah bangun?"] Ucap seseorang dari dalam telepon.


"Udah, Yah. Ini lagi duduk-duduk di kamar." Jawab Rian.


Jadi, yang didalam telpon itu adalah Ayah Rian.


["Ohh, gimana kabar kamu?"]


"Alhamdulillah, baik yah." Jawab Rian.


["Ohh, syukurlah."]


"Jadi, ada apa ayah nelpon?" Tanya Rian langsung.


["Tidak, hanya saja ayah ingin tahu keadaanmu."]


"Aku baik-baik saja, Yah. Nggak usah khawatir." Ucap Rian.


["Mmm."]


Setelah itu pembicaraan mereka habis, tak ada yang mengatakan sesuatu sebagai topik pembicaraan mereka.


"Jadi..."


["Sudah berapa tahun ya, kita seperti ini."]


"Maksud Ayah?"


["Semenjak ibu tiada kita sepertinya mulai seperti ini."]


"Hmm, mungkin."


["Kalau begitu, ayah tutup yah."]


"Iya."


["Dadah, semangat walau ini hari Minggu juga."] Ucap Ayahnya menyemangati Rian.


(Tut...Tut...) Telepon ditutup.


Rian lalu menaruh ponselnya ke atas meja lagi dan setelah itu dia lalu pergi keluar kamar.


"Hari ini mau makan apa ya?" Ucap Rian di dapur.


Dia memeriksa bahan-bahan yang ada di sana. Namun, disana hanya terdapat bumbu-bumbu rempah saja.

__ADS_1


"Yaudahlah, diluar aja makannya."


#


Singkat cerita, Rian sudah membeli nasi dan kini ia sedang dalam perjalanan kembali pulang.


"Tolongg...."


Saat Rian sedang berada di tengah jalan, seseorang berteriak meminta tolong.


Karena khawatir akan ada sesuatu, Dia langsung bergegas berlari ke arah suara tersebut, disebuah gang sempit yang sepi.


Saat dia sudah sampai di sana ia malah tak melihat siapapun, disana hanya ada tumpukan sampah di dalam tong-tonh yang tersusun.


Karena merasa tak ada suatu hal yang serius disana, Rian berbalik badan untuk kembali.


Saat dia berbalik badan, dia terkaget dengan seorang wanita sedang berdiri didepannya tak jauh dari tempat dia berdiri.


Seorang wanita usia sekitar pertengahan 30 tahun-an. Dia mengenakan jaket para berwarna coklat dan syal berwarna krem.


Wanita itu menundukkan kepalanya, dan ditangannya terdapat pisau dapur yang sudah berlumuran darah.


"Emm, permisi." Ucap Rian mencoba melewati wanita itu, walau dia sebenarnya takut.


Wanita itu tak menanggapi Rian, dia malah mendongakkan kepalanya dengan mata yang mengecil gemetar terlihat takut. Bahkan tubuh wanita itu bergetar sedari tadi.


"Hyaaakkk..." Secara mengejutkan Wanita itu berlari kearah Rian dengan pisau yang sudah dia angkat.


Tapi, karena itu adalah gerakan spontanitas membuat Rian langsung terjatuh karena tak dapat menahan keseimbangan badannya.


Namun, Rian langsung bangun dan merangkak mundur menjauh dari wanita itu.


"Siapa kau?" Tanya Rian yang dari suaranya saja sudah ketakutan.


"Diamlah, dan mati saja." Ucap wanita itu.


Wanita itu lalu menjatuhkan pisaunya, disana Rian sedikit lega akan hal itu tetapi kelegaan itu tak bertahan lama karena tangan dari wanita itu berubah menjadi lancip seperti tangan belalang sembah.


"D-d-d-Dzarl..." Ucap Rian terbata-bata.


Wanita itu langsung berlari ke arah Rian dan akan menebasnya dengan tangan miliknya itu.


Rian sudah sangat takut, dia ingin lari tapi dia tak bisa melakukannya, bahkan kakinya itu tak bisa dia gerakan.


Bahkan hanya beberapa detik lagi, Rian akan menghampiri ajalnya itu.


(Ya kalau mati, cerita ini tamat, atuh.)


[Flash change, On]


Tiba-tiba keluar suara dari jam tangan Rian, dan bertepatan dengan itu secara sekejap pakaian yang Rian kenakan saat di mall langsung sudah dikenakan olehnya.

__ADS_1


Dan juga muncul Katana di tangannya yang langsung diangkat untuk menahan tebasan ke arah dia itu.


Karena mendapat kesempatan untuk menyingkir, Rian langsung berguling kepinggir.


"Hah...hah... Untung saja, jam menyelamatkan diriku."


"Cihh." Wanita itu, dia mencoba melepaskan tancapanya dari tanah.


Setelah dia berhasil melepaskan tancapanya, dia langsung kembali menyerang Rian.


Sontak Rian langsung menghindari dari serangan. Tak sampai disana, wanita itu terus mengibaskan tangannya kearah Rian. Dan Rian hanya menghindarinya tanpa mengibaskan Katana-nya itu.


"Kenapa... Kau taku-, ahakk... Ahakk..." Ucapan dia tersela oleh batuk.


Bukan batuk biasa melainkan batuk yang mengeluarkan cipratan darah dari mulutnya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Rian khawatir.


"Kenapa kau-, uhukk...uhukk..." Dia kembali batuk darah.


Karena khawatir Rian perlahan menghampiri wanita tersebut.


"Anda seharusnya jangan memaksakan diri-" Ucap Rian.


"Diamlah!" Bentak Wanita itu.


"Aku ini akan membunuhmu, jadi jangan pedulikan diriku." Ucap wanita tersebut yang mencoba bangun.


"Aku, uhukk...uhukk... Akan-" belum selesai kalimatnya seseorang menyela dia.


"Ibu, jangan melakukan itu." Ucap seseorang yang baru saja datang.


Seorang gadis kecil usia 11 tahun, dilihat dari wajahnya dia sangatlah mirip dengan wanita itu. Sudah dipastikan dia adalah putrinya.


[Finishing attack, On]


Secara mengejutkan tangan Rian terangkat keatas dan langsung meluncur membuat sebuah tebasan.


Tebasan itu langsung mengenai tangan wanita tersebut yang membuat tangan dia menjadi terpotong.


"Anda baik-baik saja?"


"Diam, diam di tempat!" Ucap wanita itu sembari mundur perlahan dari Rian.


'Cihh, kenapa aku gagal begini. Padahal aku sudah menemukannya, si aura mengerikan.' batin wanita itu.


Langkah mundurnya itu tak bertahan lama karena dia sudah menabrak tembok, dia sudah sampai ujung gang tersebut.


'Hah, apakah aku akan dihabisi disini. Tanganku juga belum kembali tumbuh sempurna lagi.' ucap dia dalam hati.


"Kau sedang terluka, ayo kita bergegas ke rumah sakit obati anda." Ucap Rian menjulurkan tangannya.

__ADS_1


"Hah?" Wanita itu bingung, bukannya dia akan dihabisi malah dia akan ditolong olehnya.


__ADS_2