
Mereka lalu sampai di rumah Pak Supri. Disana Aldi langsung membuka pintu tersebut dengan kunci duplikat miliknya itu.
Setelah mereka masuk, Aldi langsung pergi ke kamar Pak Supri. Mencari bukti transaksi. Heru pergi ke ruang tamu, mengobrak-abrik buku-buku disana.
Saat mereka sedang sibuk mencari, seseorang datang dan berdiri didepan pintu kamar pak Supri.
Saat Aldi menoleh ke arah pintu, seorang gadis dengan membawa koran sudah ada disana.
Dia baru ingat kalau Rikka sudah pulang saat ini, jadi Rikka ada dirumah tepatnya di pintu kamar.
"A' Aldi!!" Panggil Rikka. "Ayahku telah tiada, berita mengatakan kalau dia sudah dihabisi oleh seorang anggota PaPDI bernama, Aldi Ardiansyah. Itu nama kakak'kan!?" Tanya Rikka.
Rikka lalu mengeluarkan air mata, dia sedih karena ayahnya telah meninggal dan juga kecewa karena sudah di khianati.
"Kakak bukanlah temannya ayahku, kan? Tapi kakak adalah PaPDi yang ingin menghabisiku, kan!" Air mata terus mengalir di mata Rikka.
Aldi mencoba ingin menenangkannya, namun ini bukanlah situasi yang menguntungkan baginya.
"Kenapa kakak tega melakukan ini? Kenapa!" Rikka terjatuh menangis. "Padahal aku percaya pada kakak kalau kakak orang baiiiiikk...." Dia merengek nangis.
"Bu-bukan itu maksud kakak." Aldi mencoba menenangkan Rikka.
"Bohong!!" Bentak Rikka. Matanya memperlihatkan kemarahan. Aldi sontak terkaget, dia takut kalau Rikka juga akan berubah menjadi Dzarl.
"Yahh. Dah mulai." ucap Heru kecewa yang hanya bisa melihat dari ruang tamu.
Punggung Rikka mengeluarkan jarum-jarum, tangan Rikka berubah menjadi tajam seperti belalang sembah.
Rikka langsung menyerang Aldi, disana Aldi terlihat menerima serangan dari Rikka itu. Sebuah tusukan masuk ke perut Aldi.
Aldi mengeluarkan darah dari mulutnya, dia mencoba menahan rasa sakit dari tusukan itu, tentu saja itu tak dapat dia tahan.
Dia langsung berteriak merintih kesakitan. " Aaaaaaaaaakk!!!"
Rikka lalu mencabut tusukannya itu. Aldi yang sudah berdaya dia langsung jatuh dengan darah luka perut yang terus mengalir.
Heru langsung menghampiri Aldi saat mendengar teriakkan. Saat dia sudah ada di sana, dia melihat Aldi yang jatuh tak berdaya dengan darah yang mengalir.
Dia langsung mencoba melindungi Aldi dari Rikka. Dia mengeluarkan kuda-kuda ke Rikka, lalu berbalik ke Aldi yang sedang menahan sakit.
"Aldi!!" Panggil Heru.
Aldi hanya tersenyum melihat tadi itu. Dia tahu kalau akan terjadi seperti ini.
"Hei, Aldi bangun!!" Heru panik, dia sudah takut kalau Aldi akan meninggal.
Heru lalu berdiri, mencoba akan menyerang Rikka. Dia sudah mengeluarkan senjatanya, mengeluarkan kuda-kuda.
Namun Aldi terbangun, walau kesadarannya sudah mulai memudar, dia tetap harus kuat.
"Minggir!" Dia menyingkirkan Heru. "Serang Aku lagi, Rikka." tambah dia menyuruh Rikka untuk menyerangnya lagi.
"Jika itu membuatmu senang, lakukanlah." ucap Aldi dengan nada pengap.
"Kau bodoh!?" Heru langsung mencekik Aldi.
__ADS_1
"Minggir!!" Aldi menyingkirkan Heru, dia mendorongnya hingga jatuh. "Ayo lakukanlah Rikka."
Dengan sigap, Rikka langsung menusukan tangannya ke perut Aldi. Disana Aldi tersenyum ke arah Rikka, seolah senang diserang Rikka.
Heru langsung mendorong Rikka, dia langsung merangkul Aldi. Lalu dia terus berteriak memanggil nama Aldi.
"Berisik!!" Bentak Aldi. "Bisakah kau diam, hah!"
"Apa yang kau lakukan Aldi."
"Aku, aku ingin melakukan ini, karena ini memang yang harus ku dapatkan karena telah membunuh orang tak bersalah."
"Apa maksudmu?"
"Aku memang layak mendapatkan ini, karenaku sudah menghabisi orang yang tak bersalah. Ini memang balasan untukku yang cocok." ucap Aldi yang mulutnya sudah penuh darah.
(Plak) sebuah tamparan mendarat di muka Aldi.
"Naif, kau sungguh naip!!" Teriak Heru. "Pak Supri meninggal itu membuat anaknya sedih.
Begitu juga denganmu, jika kau mati itu akan membuat orang-orang sedih kerena kehilangan dirimu. Bodoh!! "
"Memangnya siapa yang akan menangisiku, hmmm??"
"Aku!" Ucap dengan lantang Heru.
"Hmmmph?" Aldi tertawa mendengar itu.
"Kenapa kau tertawa?" Tanya dengan nada serius.
Aldi lalu menutup matanya, merasakan semua tusukan yang sedari tadi diluncurkan Rikka sejak dia bangun.
Dia merasa kalau dia layak atau harus mendapatkan serangan bertubi-tubi ini. Ini adalah salahnya sendiri, kenapa harus membunuh orang tak bersalah.
Hingga sudah bermenit-menit Aldi ditusuk, dia masih tetap berdiri dengan tegap.
Heru hanya bisa pasrah karena ini keinginan Aldi. Dia hanya bisa melihat Aldi terus ditusuk-tusuk.
Sedangkan Rikka dia sudah mulai capek, nafasnya sudah pengap, dia lelah terus menusuk-nusuk Aldi. Dia terduduk lemas capek.
Disana mereka saling terdiam, tak ada yang mereka katakan.
"Apa kau puas Rikka?"tanya Aldi dengan nada pengap.
"Hah?" Rikka menoleh ke Aldi keheranan.
"Maafkan aku." pernyataan minta maaf dari Aldi. "Selama ini aku sangatlah egois, yang aku pikirkan hanyalah egoku ini." imbuh dia.
"Aku tak berfikir bahwa Dzarl pun memiliki keluarga mereka masing-masing." ucap Aldi dengan merenung.
"Yang kupikirkan hanyalah, bahwa Dzarl itu jahat. Mereka adalah monster, parasit di dunia ini. makhluk hina yang harus dimusnahkan.
Aku benar-benar minta maaf.
Jika kau ingin membunuhku sebagai gantinya, menurutku itu layak aku dapatkan.
__ADS_1
Tapi izinkan aku minta maaf sekali lagi!"
Rikka hanya menganggukkan kepala pertanda setuju mengiyakan.
Dengan segenap hati yang tulus, Aldi minta maaf.
"Maafkan aku..." Pernyataan maaf singkat namun terdengar menyentuh terdengar dari mulut Aldi.
Setelah itu Rikka bangun dan langsung bersiap untuk membunuh Aldi, tangannya sudah mengarah ke leher Aldi.
Disana Aldi hanya bisa pasrah, dia menutup matanya dengan air mengalir keluar dari mata. Menerima kenyataan bahwa akan menyusul teman-teman.
Sesaat dia melihat teman-temannya sudah mengulurkan tangan, mengajak dia untuk ke alam mereka.
Dia benar-benar sudah pasrah, dengan nasibnya itu, ia terus menunggu serangan itu untuk mengenainya.
Namun, sudah beberapa detik berlalu tapi serangan itu tak kunjung datang juga. Aldi lalu memberanikan diri membuka matanya.
Dia melihat Rikka yang terdiam ditempat, dia hanya menghadap kebawah.
Rupanya Rikka juga sama, dia tak ingin kehilangan Aldi, cukup ayah dan ibunya saja yang terlanjur meninggal.
Rikka lalu menghampiri Aldi dan langsung memeluk dia dengan erat.
"Aku juga tak ingin kehilangan kakak." ucap Rikka.
Mereka lalu berpelukan disana. Diikuti Heru yang bangun, dia juga bergabung di pelukan.
Pada akhirnya tak ada yang harus menumpahkan darah. Rikka tak ingin lagi kehilangan orang yang menurutnya berharga.
Oleh karena itu dia tidak akan menghilangkan Aldi yang menurutnya sudah berharga baginya.
-
-
-
-
-
∆\=\=\=∆
Mohon maaf jika ceritanya terlalu rumit, sulit dimengerti atau juga nggak jelas.
Mohon maaf juga jika ada banyak kekurangan.
Jika ada penulisan yang typo mohon maklum.
Jan lupa like jempolnya, share bagikan, tinggalkan komentar anda dan kalau bisa vote serta jadikan favorit.
Follow juga.
Ya.
__ADS_1
Terimakasih.