
Masih dihari yang sama, Risa sedang berjalan di trotoar. Akan pulang sesudah melakukan misinya itu.
"Haa, Risa!" Panggil seseorang.
Risa lalu menoleh ke kanan dan kiri, tak ada siapapun, dia lalu menoleh ke belakang, disana juga Taka ada siapapun.
"Disini." Ucap Rian.
Risa lalu mendongakkan kepalanya ke seberang jalan, disana sudah Rian sedang berdiri di lampu merah.
"R-Rian." Risa terkaget.
Tak beberapa lama lampu berubah menjadi merah, Rian langsung menyebrang dan menghampiri Risa.
"Yo. Hai Risa." Sapa Rian.
"H-hai juga." Jawab Risa pelan saat Rian sudah di sampingnya.
Saat Rian sudah disampingnya Risa langsung memalingkan wajahnya kepinggir. Rian tak menghiraukannya dia tetap berjalan sejajar dengan Risa.
Saat Rian tak sengaja melihat tangan Risa, dia melihat darah mengalir di tangannya. Disana Rian langsung terkejut melihatnya.
"Tanganmu... Berdarah." Ucap Rian menunjuk ke tangan Risa.
Risa yang mendengar itu langsung menyembunyikan tangannya.
"Tidak, aku baik-baik saja." Ucap Risa.
Namun Rian tak memperdulikannya, dia langsung menarik tangan Risa.
"Bisa bahaya jika dibiarkan." Ucap Rian. "Kau diam disini, atau tidak ikut aku ke warung itu." Tambah dia dengan menunjuk warung diseberang jalan.
#Singkat cerita.
Rian sudah membeli plester, dia langsung keluar dari warung menghampiri Risa.
Saat sudah sampai Rian langsung menarik tangan Risa dan memakaikannya plester.
Disana Risa hanya bisa terdiam melihat Rian memakaikannya plester.
Setelah selesai Rian duduk disampingnya.
Risa lalu membuka tasnya, dia mengedok sesuatu dari dalamnya.
"Apa itu?" Ucap Rian menunjuk ke sebuah botol kecil untuk obat.
Risa membuka botol tersebut, dan menjatuhkan beberapa butir pil berwarna merah, dia lalu memasukkannya ke mulutnya.
Rian hanya bisa melongo ke arah Risa, dia ingin tahu apa yang Risa telan itu.
"Ini obat penambah darah, karena luka tanganku tak akan sembuh jadi aku hanya bisa memperbaikinya darahnya." Jawab Risa setelah menelan semua obatnya.
"Apa itu akan baik-baik saja untuk tubuhmu?" Tanya Rian.
"Kenapa kau begitu penasaran?" Balik menanya Risa.
"Lupakanlah." Ucap Rian berubah pandangannya ke depan.
"A-apakah karena kau tertarik padaku?" Tanya Risa pelan, sebenarnya dia malu mengatakannya.
"Mm, mungkin." Jawab Rian.
Mendengar itu pipi Risa merona, dia masih malu untuk menatap wajah Rian sejak tadi.
"Karena aku selalu menggunakan darahku sebagai senjata, jadi aku harus memperbaiki darah yang terbuang."
__ADS_1
"Mmm." Rian mengangguk.
"Apa itu menarik?"
"Mm, tentu saja." Jawab Rian.
"Mmm... Apa aku boleh tahu tentangmu lainnya." Tambah Rian bertanya.
Risa hanya mengangguk pertanda bahwa mengiyakan.
"Wahh, baguslah." Ucap Rian antusias.
Risa terkejut saat Rian mendekatkan diri ke arahnya, wajahnya sangatlah dekat dengannya.
"Eee, bisa jauh sedikit?" Tanya Risa.
Rian lalu sedikit menjauhkan wajahnya dari Risa.
"J-jadi apa yang ingin kau ketahui tentangku?" Tanya Risa, wajahnya masih berpaling.
"Mmm, sebenarnya banyak tapi aku sangat ingin tahu tentang ini." Ucap Rian.
"Kau kan Dzarl bukan manusia, tapi kenapa kau bisa memakan makanan kami?" Tanya Rian. "Bukankah Dzarl itu tak bisa memakan makanan manusia." Tambahnya.
"Sebenarnya pernyataan itu tak sepenuhnya salah dan tak sepenuhnya benar juga. Sebab banyak makanan manusia yang tak bisa aku konsumsi secara berlebih, contohnya makanan yang mengandung kadar pengawet, MSG (monosodium glutamate.), Pemanis buatan, sodium nitrat, gula, garam."
"Hah, tapi bukankah itu adalah penyedap rasa, terus bagaimana mana kau menikmati makanan?" Tanya Rian. "Apakah kau memakan makanan hambar?" Tambah Dia.
"Eumm." Risa menggelengkan kepala pertanda tidak.
"Kan aku mengatakannya "jika berlebih", jadi jika masih dibatas wajar aku akan tetap bisa mengonsumsinya." Jawab Risa.
"Dengan cara?" Tanya Rian.
"Mengonsumsi itu sebanyak-banyak seperempat sendok sehari." Jawab Risa.
'tunggu bukankah itu sama saja memakan makanan hambar?' batin Rian setelah menyadarinya.
"Jadi apa lagi hal yang ingin kau ketahui tentangku?" Tanya Risa.
"Mmm, bagaimana dengan sebulan yang lalu, bukankah makanan yang kau makan dirumah sakit hati itu mengandung penyedap rasa, gula, dan garam?" Tanya Rian.
"Kalau itu..." Risa lalu menjawab dengan panjang lebar.
Pembicaraan mulai memanjang, Rian tak henti-hentinya bertanya.
Mereka terus mengobrol, bukan tentang Risa saja, pembicaraan mereka semakin meluas ke arah lain.
Hingga tak tersadar Risa mulai nyaman dengan pembicaraan itu. Dia mulai mengeluarkan isi hatinya.
#
Singkat cerita akhirnya mereka pergi dari sana untuk pulang.
Mereka berjalan di trotoar jalan, walau tak ada pembicaraan tapi mereka terlihat tak terlalu canggung seperti sebelumnya.
Mungkin karena mereka sudah mengobrol dengan puasnya.
"Rian..." Panggil Risa.
"Mm!" Sahut Rian menoleh ke arah Risa.
"Terimakasih."
"Hah, Kenapa kau mengatakan hal itu?" Ucap Rian.
__ADS_1
"Semenjak kau mengatakan kalau kau itu tertarik padaku, aku mulai menerima diriku ini." Ucap Risa.
"Benarkah, syukurlah kalau begitu." Jawab Rian.
"Aku tak bisa mengatakan apa-apa tentang ini, tapi aku hanya ingin mengatakan kalau..." Rian menggantungkan kalimatnya.
Dia berlari pelan ke depan, setelah beberapa meter jaraknya dari Risa dia berbalik kebelakang.
"Memang sudah seharusnya kalau kau menerima dirimu yang istimewa." Sambung Rian.
Langkah Risa terhenti setelah mendengar itu, wajahnya berubah menjadi sedih.
"Rian..." Panggil Risa.
"Hmm?" Rian menoleh ke belakang.
"Setelah aku menjadi guru privat mu, mungkin kita tak akan bertemu lagi." Ucap Risa.
"Kau akan pergi jauh setelah menjadi guru privat ku." Ucap Rian. "Hmm, tak apa-apa walau kita berjauhan pun bukan berarti kita tak akan bertemu lagi, kan." Tambahnya.
"Hah?" Risa mendongakkan kepalanya ke atas melihat Rian berdiri didepannya tak jauh jaraknya dari dia.
"Seperti yang aku katakan sebulan lalu, walaupun kita berjauhan jaraknya, jika kita ditakdirkan untuk bertemu lagi, ya itu pasti akan terjadi." Ucap Rian.
Dia lalu berbalik badan, dan berjalan kembali maju ke depan.
'Maaf... Maafkan aku Rian, aku tak bisa mengatakannya. Setelah aku menjadi guru privat mu aku harus segera menghabisi... dirimu.' batin Risa.
"Hoi ayo jangan diam disana saja." Panggil Rian.
Risa lalu berjalan menuju ke Rian.
'Sekali lagi... Maafkan aku.'
-
-
-
-
-
∆\=\=\=∆
Hai, aku eN.
Karena cerita akan segera tamat, oleh karena itu mungkin di chapter berikutnya akan berisi flashback para karakter.
Sebenarnya cuma ngasih tau aja sih(nggak terlalu penting juga.)
Oh iya, di chapter 0 aku belum ngasih foto logo PaPDI.
Mohon maaf jika ceritanya terlalu rumit, sulit dimengerti atau juga nggak jelas.
Mohon maaf juga jika ada banyak kekurangan.
Jika ada penulisan yang typo mohon maklum.
Jan lupa like jempolnya, share bagikan, tinggalkan komentar anda dan kalau bisa vote serta jadikan favorit.
Follow juga.
Ya.
__ADS_1
Terimakasih.