Dzarl : After 800 Year'S

Dzarl : After 800 Year'S
Chapter 38 : Lantas kenapa ayah melakukan itu


__ADS_3

(Duarrr) suara gencatan senjata api.


Lokasi di sebuah pelabuhan saat malam hari. Disana terdapat seorang pria berompi oranye sedang berlari dari kejaran orang-orang berseragam hitam lengkap dengan rompi anti peluru.


Mereka semua adalah anggota PaPDI, pasti ini ada sangkut pautnya dengan Dzarl.


Pria itu terus berlari lurus sembari sesekali menengok kebelakang melihat orang berseragam sedang mengejarnya.


Saat sekitar dua menit dia berlari, akhirnya dia menemukan celah yang cukup untuk dia bersembunyi.


Dia langsung saja pergi ke tempat tumpukan peti berukuran cukup muat untuknya, hingga saat dia sudah sampai dia langsung masuk ke dalamnya.


Berselang beberapa detik, orang berseragam atau anggota PaPDI sampai disana. Karena mereka tak tahu kalau pria itu bersembunyi disana, mereka langsung saja melewati tempat itu.


Mendengar langkah kaki mereka sudah tak terdengar lagi, Pria itu merasa sudah aman.


Dia keluar dari peti, melihat keadaan disana sudah tak ada siapapun.


Karena merasa aman dia langsung saja melangkah pergi dari sana dengan perlahan dan hati-hati.


Namun, saat dia sedang mengendap-endap agar tak diketahui keberadaannya, seseorang menepuk bahunya.


Dia langsung terkejut saat itu, setelah itu dia menoleh perlahan ke belakang.


Saat dia menoleh ke belakang, disana sudah ada pria berseragam hitam, rompi, topi, dan juga masker.


Dia langsung menempelkan pistol tepat di dahi Pria tersebut. Karena terkejut dia tak bisa melakukan apapun, hanya diam ditempat.


"K-k-kau." Pria itu gemetar ketakutan.


"Danu Kurniawan." Ucap dia sebelum menekan pelatuk pistol.


(Dorr) suara peluru yang keluar.


"Aku sudah menangkap Dzarl-nya, lokasi di..." Ucap Danu lewat walkie talki menunjukkan lokasi dia.


Kemudian, anggota lain datang dan melihat Danu sedang jongkok di pinggir Pria itu.


Tak berselang lama, jasad Pria itu langsung dimasukkan ke mobil dan dibawa.


Begitu juga dengan Danu dan anggota lain, mereka langsung masuk ke mobil dan pergi dari tempat itu.


#


"Wahh, jasad utuh. Siapa yang menangkapnya?" Tanya Pak Fajar.


Mayad Pria itu sudah dibawa ke lab penelitian milik Pak Fajar. Dia sudah diletakan diatas sebuah meja besi berukuran dua meteran.


"Danu Kurniawan dari distrik 5, yang diketuai oleh Sandi Nugraha." Jawab seorang laki-laki dari belakangnya.


"Hah, siapa kau?" Tanya Pak Fajar menoleh ke belakang, melihat laki-laki itu melangkah menghampirinya.


Seorang laki-laki berusia sekitar 20 tahun, dia memakai jas putih ala dokter, memakai celana merah marun, dan juga ditangannya ada papan yang ia genggam.


Saat sudah ada dihadapan Pak Fajar, laki-laki itu membungkuk sebagai hormat.


"Saya Faisal Basri, dari BFN (Badan Forensik Nasional)." Jawab dia setelah membungkuk.


Pak Fajar hanya tersenyum melihat seorang pemuda itu ada dokter forensik.


"Tak ku sangka ada orang semuda ini menjadi dokter forensik, berapa usiamu? 20,21,atau 22." Tanya Pak Fajar dengan menebak-nebak.


"19, dan tahun ini menginjak 20. Bagaimana dengan anda, tak seperti di dalam informasi yang aku dapatkan, usia profesor juga sepertinya tak jauh dari saya." Tanya balik Faisal.


Mendengar itu Pak Fajar tersenyum, penampilan bisa saja menipu. Walau dia terlihat seperti seorang Pria usia 25 tahun-an, sebenarnya Pak Fajar ini sudah tua.


Dia terlihat muda karena mengekperimen dirinya sendiri, supaya terlihat muda.


"Kau tak akan percaya jika aku mengatakan usia ku." Ucap Pak Fajar.


"Itu adalah privasi, jadi saya tidak berhak tahu jika tak diperbolehkan." Jawab Faisal.

__ADS_1


"Oke berhenti ngobrolnya, ada tujuan apa kau kemari?" Tanya Pak Fajar.


"Saya akan mengautopsi Pria ini." Jawab Faisal.


"Hah, memangnya kau punya hak untuk melakukan itu." Ucap Pak Fajar bingung.


Faisal lalu mengambil sesuatu dari dalam jasnya, lalu dia langsung menunjukkannya ke Pak Fajar.


Pak Fajar langsung mengambil benda itu, sebuah ponsel milik Faisal.


Saat dia melihat layar, disana tertulis surat pernyataan pertukaran pegawai, dia akan bekerja di bagian autopsi. Anehnya ternyata dia adalah bawahan Pak Fajar.


"Hah?" Bingung Pak Fajar, terus membaca ulang surat itu.


Dia tak tahu bahwa akan punya bawahan, bahkan dia tak tahu akan hal ini.


"Sudah, cukup basa-basinya. Kita mulai saja bekerjanya." Ucap Faisal setelah mengambil ponselnya itu dari Pak Fajar.


Faisal langsung berjalan menghampiri Pria itu untuk mengautopsinya.


Disana Pak Fajar hanya melihatnya melakukan pekerjaan yang seharusnya.


#


Setelah satu jam kemudian, Faisal langsung bangun dan menghampiri Pak Fajar.


"Ini hasil autopsi ku." Ucap Faisal.


"Heh, sudah secepat itu?" Pak Fajar terkejut.


Pak Fajar lalu menerima lembaran kertas yang diberikan Faisal.


Dia lalu membaca lembaran-lembaran kertas tersebut. Dia terlihat mengangguk-angguk saat membacanya.


"Jadi?" Tanya Faisal.


"Mmm, aku terkesan dengan semua hasil autopsi mu yang sekejap." Ucap Pak Fajar. "Semua hasilnya hampir lengkap juga, tapi aku meragukan keakuratan data ini." Tambah dia meragukan Faisal.


"Kau bahkan meragukannya." Ucap Pak Fajar.


Faisal tak mempedulikannya, dia kembali ke tempat Pria itu terbaring. Disana dia terlihat mengambil sesuatu.


"Ini." Faisal memberikan sebuah benda kuning yang sudah di bungkus oleh plastik.


"Apa ini? Cincin." Ucap Pak Fajar dengan mengamati cincin yang dibungkus itu.


"Ya, aku menemukannya di saku celananya." Ucap Faisal. "Siapa tau itu penting." Tambah dia.


"Tak ku sangka kau sampai memeriksa saku celananya." Ucap Pak Fajar yang masih mengamati cincin tersebut.


(Tokk...tokk...tokk...) Ketukan pintu.


"Masuk." Sahut Pak Fajar.


Pintu lalu dibuka, disana seorang Pria berjaket hijau dan juga berhelm masuk kesana, ditangannya dia membawa kotak berwarna putih.


"Pesanannya sudah sampai." Ucap Pak Fajar senang.


Dia lalu membuka kota dan memberikan pesanan Pak Fajar itu. Setelah itu dia kembali keluar pergi.


Pak Fajar langsung membuka pesanannya itu, sebuah kotak berisikan tarian donat.


"Mau." Tawar Pak Fajar ke Faisal.


"Terimakasih." Tolak halus Faisal.


Pak Fajar lalu memakan donatnya itu dalam posisi duduk dimeja. Sedangkan Faisal duduk di kursi pinggir Pak Fajar.


"Emm, Prof..."


"Mm." Sahut Pak Fajar.

__ADS_1


"Menurut Profesor apakah Dzarl bisa jatuh cinta kepada manusia?" Tanya Faisal.


Mendengar itu Pak Fajar langsung menatapnya intens.


"Mengapa kau menanyakan hal itu?" Ucap Pak Fajar


"Ahh, maaf aku mengatakan hal yang aneh." Ucap Faisal, mencoba memberhentikan topik sebelum terjadi.


Pak Fajar lalu tertawa lepas, entah kenapa dia seperti itu.


Melihat itu, Faisal kebingungan dengan Pak Fajar yang tertawa.


"Kau lihat ini." Ucap Pak Fajar.


"Hmm." Faisal mengangguk pertanda iya.


"Cintailah dia." Ucap Pak Fajar.


"Hah?"


"Nah, seperti itulah. Mereka Dzarl hanya menganggap kita sebagai makanan saja." Ucap Pak Fajar.


"Oh, begitu Prof. Terimakasih." Jawab Faisal hambar.


Faisal lalu berdiri dan setelah itu dia melangkah ke pintu.


"Kau akan pulang?" Tanya Pak Fajar.


Faisal hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.


"Oh, lagi pula disini tak ada pekerjaan lagi. Terimakasih atas kerjanya." Ucap Pak Fajar.


Faisal lalu membuka pintu setelah itu Keluar dari sana.


#


Faisal sudah sampai di kamar kecil, dia sedang di wastafel mencuci mukanya.


"Seandainya, seandainya, seandainya pernyataan Profesor itu benar, aku, aku..." Faisal lalu mengangkat kepalanya dan langsung melihat cermin.


"Tak akan menderita seperti ini." Lanjut Faisal.


Faisal menggerutu sembari melihat dirinya dari cermin.


"Jika pernyataan itu benar, lantas kenapa ayah harus menikahi makanan." Ucap Dia.


-


-


-


-


-


∆\=\=\=∆


Mohon maaf jika ceritanya terlalu rumit, sulit dimengerti atau juga nggak jelas.


Mohon maaf juga jika ada banyak kekurangan.


Jika ada penulisan yang typo mohon maklum.


Jan lupa like jempolnya, share bagikan, tinggalkan komentar anda dan kalau bisa vote serta jadikan favorit.


Follow juga.


Ya.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2