
Sebuah mobil Box dan beberapa ambulans dengan logo PaPDI dibagian pintu belakang sedang melaju ke suatu tempat yang dilaporkan ada Dzarl yang meresahkan warga disana.
Suara sirine yang menggelegar membuat mobil-mobil yang ada di tengah jalan mereka langsung menyisi.
Tak jauh dari sana, Seorang pria dengan baju kemeja putih bergaris-garis hitam dan sebuah tas abu kusam, terdapat juga topi koboi coklat yang menggantung di lehernya.
Usianya sekitar 30 tahun-an, dia sedang duduk menunggu di dekat gerbang sekolah tua yang besar dan luas, namun sudah tak terpakai lagi sebagai sarana untuk pendidikan.
Saat ia yang mendengar dan melihat ada mobil Box dan ambulans itu langsung berdiri dan melambai-lambaikan tangannya sebagai isyarat untuk memberhentikan mobil tersebut.
Tiga mobil itupun langsung melambatkan lajunya dan berhenti di depan gerbang sekolah itu.
Dari belakang mobil Box keluar anggota pasukan yang berjumlah 5 orang dengan seragam serba hitam.
Helm pelindung dan juga wajah mereka ditutupi oleh masker, mereka semua juga membawa tembakan P90.
Dari bagian supir, keluar satu orang dengan seragam yang sama namun ia memakai kacamata hitam, dia adalah komandan dari pasukan tersebut.
Sandi Nugraha tertulis di name tag rompi anti peluru. Kita panggil saja Pak Sandi
Pak Sandi yang turun langsung menghampiri lelaki berkemeja garis-garis itu. Pria dengan kemeja bergaris itu adalah seorang pelapor.
"Apakah benar nama anda Pak Asep Sunandar. "
" Iya, benar itu saya. " Jawab Pak Asep.
" Tolong ceritakan kejadiannya seperti apa. " Pinta Pak Sandi Sesudah mengeluarkan buku catatan kecil
" begini ceritanya saya kan sedang jalan menuju tempat kerja, ehh... dari dalam sekolah keluar suara minta tolong, saya kan jadi kaget dengar nya terus saya pengen tau ada apa.
Jadi saya masuk ke dalam mencari sumber suara, terus sampe saya ikutin aja suara nya.
Nah, saya nemu pusat suaranya yaitu ada di ruangan paling belakang.
Terus saya coba denger dari pintu. Duss, saya kaget beneran ada suara orang yang minta tolong.
Langsung aja deh saya kabur dan telepon 0498( nomor telepon PaPDI).
Udah beberapa menit kalian datang, begitu."
Cerita Pak Asep dengan nada bahasa yang berantakan.
Walaupun begitu Pak Sandi tetap mengerti apa yang diceritakan oleh lelaki berkemeja putih bergaris-garis hitam itu.
"Oh begitu, terimakasih atas kerjasamanya Pak." Jawab Pak Sandi sambil menulis di buku kecil.
Saat Pak Asep akan meniggalkan Pak Sandi, ia teringat dengan sekitaran TKP itu.
"Oh iya di belakang sana banyak botol minum."
"Apakah itu HTQ?"
"Iya itu"
' akhir-akhir ini selalu ada botol HTQ di tempat kejadian ' Ucap pak Sandi dalam hati.
#
[HTQ adalah air minum kemasan hasil produksi perusahaan T.X yang berkerja sama dengan Every Water (perusahaan air yang terkenal di Agharta.) Dan juga H.Y Corp.
HTQ dihentikan pengedarannya karena tragedi yang mengakibatkan manusia yang meminum itu menjadi Gate Dzarl. Cerita ada di Chapter 1.2
Namun, ada beberapa orang mengedarkannya secara ilegal. Harga HTQ cukup mahal antara.100.000 - 1000.000 -an.]
"Periksa bagian belakang sekolah!" Perintah Pak Sandi dari Walkie Talkie.
__ADS_1
"Siap!!" Jawab semua anggota
Mereka pun langsung pergi ke belakang sekolah untuk memeriksa disana.
Saat sampai disana mereka langsung berpencar untuk memeriksa sekitar. Benar adanya terdapat banyak botol minum HTQ disana.
" Menurut laporan Dzarl yang akan kita hadapi adalah jenis gate laba-laba." Ucap Rendi, ketua anggota mereka.
"Iya, tapi bayarannya cuma satu juta rupiah." Jawab Nia salah satu anggota.
Mereka semua memeriksa satu persatu ruangan disana namun tak juga menemukan Dzarl atau korban yang berteriak saat Pak Asep ada disana.
Saat Coal, salah satu anggota. Membuka ruangan kecil dan gelap terlihat seperti gudang, ia menemukan mayat manusia yang terlilit oleh benang laba-laba. Kemungkinan itu adalah korban yang dikatakan tadi.
"Pak, kami sudah menemukan salah satu korbannya." Ucap Coal lewat Walkie Talkie.
"Baik tim medis yang akan kesana." Jawab Pak Sandi.
"Aku telah menemukan salah satu korban!! " Teriak Coal kepada yang lainnya. Para anggota lainnya pun langsung menghampiri Coal.
" Hanya satu? " Ucap Rendi dengan melangkah masuk kedalam ruangan dengan perlahan untuk berjaga-jaga.
Ruangan itu gelap ditutupi oleh ramat Dzarl laba-laba.
Saat Rendi Akan sampai di dekat korban yang ditutupi oleh benang laba-laba itu, langkah Rendi terhenti karena korban tiba-tiba bergerak.
Yang lainnya pun ikut menyusul Rendi dari belakang, langkah mereka juga terhenti dengan tangan Rendi yang diangkat.
" Tunggu. " Ucap Rendi sambil memperhatikan dengan serius sesuatu yang dibungkus dengan jaring laba-laba.
Para anggota yang melihat Rendi dengan tatapan serius langsung menoleh ke arah sekitar dengan diterangi oleh senter diatas helm yang mereka pakai.
" Ada apa?" Tanya Aldi.
"Kepompong!"
"Itu bukan salah satu korban, itu adalah larva Dzarl laba-laba."
"!!" Mereka terkaget.
Mereka semua pun langsung menodongkan senjata ke arah kepompong itu.
Lama kelamaan kepompong itu bergerak dengan kejang-kejang berusaha keluar dari lilitan jaring, jaring yang sebagai penutup itu sobek karena larva itu yang mencoba keluar.
Keluar larva laba-laba dengan kulit berwarna magenta. Setelah larva Dzarl laba-laba itu keluar, dia terdiam kaku. Tapi...
(Srekk srekk)
Dari punggung larva laba-laba itu keluar sepasang sayap yang mirip dengan sayap kelelawar.
" Apa itu, Laba-laba tapi bersayap? " Ucap Aldi kebingungan.
"Izinkan kami untuk bertarung dengan Dzarl." Ucap Rendi lewat Walkie Talkie. "Siap untuk bertarung?" Tambahnya sebelum ia melirik ke belakang, ke arah timnya.
" Siap! " Jawab semua dengan menganggukkan kepala.
Larva laba-laba itu mulai bergerak dengan perlahan, pertanda siap bertarung satu lawan lima.
Para tim medis yang berjumlah 4 orang baru saja sampai dibelakang sekolah. Mereka langsung dikagetkan dengan kelima orang anggota yang sedang menghadapi Dzarl laba-laba bersayap.
"Untuk Tim medis menjauhlah sedikit dari sana, untuk menghindari hal yang tidak-tidak." Keluar suara Pak Sandi lewat Walkie Talkie milik petugas medis.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya salah satu tim medis.
" Kamu nggak denger, ayo menjauh dari sini! " Jawab tim medis lainnya.
__ADS_1
Para anggota PaPDI sibuk dengan menghadapi Demon laba-laba.
Mereka bertarung menghadapi Dzarl laba-laba itu di lapangan depan ruangan gelap kecil atau tempat menemukannya larva Dzarl laba-laba bersayap itu.
Disisi lain anggota medis yang tak bisa bertarung membantu mereka hanya bisa menonton, dan sesekali memberi semangat kepada mereka.
***********
Di tempat lain, tepatnya di kebun sawit yang lebat dipenuhi dengan rumput-rumput liar dan tanaman yang merambat ke seluruh pohon sawit di kebun.
Hanya tersisa muncung pucuk baru yang berada di bagian atas pohon sawit tersebut. Kebun itu benar-benar seperti tak terurus selama bertahun-tahun.
Terdapat seorang lelaki yang sedang membersihkan rumput-rumput liar dengan sebuah arit, topi koboi coklat yang ia pakai untuk menghindari sinar matahari, walaupun disana pepohonan menutupi kebun itu.
Kemeja bergaris hitam dan celana abu kusam dikenakan oleh lelaki itu. Tak salah lagi itu adalah Pak Asep.
Dia sedang membabat rerumputan liar yang ada disana. Tak ada siapapun disana, hanya ada lengkingan serangga-serangga dan siulan dedaunan yang bertabrakan dengan dedaunan lainnya.
" Harus selesai hari ini nih, atau tidak setengahnya dulu." Ucap dia sambil mengelap dahinya.
" Kau bisa selesai sekarang juga." Ucap seseorang yang tiba-tiba berdiri tepat di belakang Pak Asep.
Seorang pria berperawakan kurus memakai kemeja putih dengan dipadukan jas hitam, lelaki itu juga membawa sebuah koper hitam.
" Maaf, siapa ya?" Ucap Pak Asep yang menoleh kebelakang ke lelaki itu berada.
Lelaki itu tak memperdulikan pertanyaan dari Pak Asep, Ia menaruh koper itu ke bawah dan membukanya.
Saat koper itu dibuka, terdapat sebuah botol minum HTQ di dalam koper itu. Lalu, lelaki itu mengambilnya.
" Ada apa ya?" Tanya pak Asep sembari melihat sebuah botol minum HTQ.
" Saya punya solusi agar anda bisa menyelesaikan tugas ini." Ucap lelaki itu.
Lelaki itu pun memberikan sebuah botol minum HTQ ke Pak Asep yang masih kebingungan.
" Silahkan."
"?"
Hingga saat ini Pak Asep masih kebingungan, namun ia tetap menerima botol itu.
" Saya yakin anda haus, itu silahkan diminum, tenang saja ini gratis." Ucap laki-laki itu.
Pak Asep pun lalu meminumnya, dengan rasa curiga. Saat dia meminumnya, Pak Asep tersedak dan memuntahkan beberapa muncratan air dari mulutnya. Dia juga menjatuhkan botol itu.
" Hekk, hekk, maaf mas saya terburu-buru minumnya."
"Tidak apa-apa, anda juga tidak perlu berterima kasih kepada saya."
"Hah?" Pak Asep mendongakkan kepalanya ke arah laki-laki itu.
Tiba-tiba keluar asap dari tubuh Pak Asep.
" Ada apa ini." Penglihatan Pak Asep juga tiba-tiba kabur dan kepalanya pusing, seperti ada seseorang yang memutarkan bumi dengan cepat.
"Aaaaaaaaaakk!!" Teriaknya dengan mata yang merah kesakitan.
Lelaki berjas itu hanya tersenyum dan dia melihat sebuah jam yang menunjukan pukul 14.40.
" Nama Asep Sunandar, kelahiran 24 Juli 1986, memiliki satu anak berusia sepuluh tahun, memiliki keterampilan dalam bidang merawat tanaman.
Dan anda memiliki kecocokan DNA dengan eksperimen sebesar 80%. " Ucap dia dengan tersenyum puas.
" Siapa kau... "
__ADS_1
" hmm? Selamat bersenang-senang. " Ucapnya dengan tersenyum.