Dzarl : After 800 Year'S

Dzarl : After 800 Year'S
Chapter 16 : Jalan bareng


__ADS_3

"Maaf menunggu lama" Ucap Rian yang berlari menghampiri Sindy yang sedang berdiri di gerbang.


"Tidak apa-apa" jawab Sindy tak merisaukan.


"Kalau begitu Ayok" Rian memberikan tangannya. Sindy hanya melihat tangan Rian tersebut karena tak paham maksud dari itu.


"Begini..." Rian lalu mengambil tangan Sindy lalu menggenggamnya. Lalu setelah itu mereka mulai berjalan.


"Heh?..." Pipi Sindy langsung memerah karena tangan yang digenggam oleh Rian.


"Ciee... Rian" ucap gadis yang melewatinya.


"Ah iya" Rian membalas dengan melambaikan tangannya ke gadis itu.


"Heuh...tidak rame" gadis itu kecewa lalu pergi.


"Siapa dia..?" Bisik salah satu siswi ke siswi lainnya.


"Berani-beraninya dia dekat dengan Rian" bisik siswi yang dibisiki tadi.


"Bukankah dia adalah Sindy dari kelas VIIId, berani sekali dia dekat dengan Rian" ucap lawan mainnya. Mereka lalu terus membicarakan Sindy, membicarakan hal-hal jelek tentangnya.


Mendengar itu Sindy sedikit malu akan dirinya sendiri, dia terus dibicarakan sepanjang jalan oleh siswi-siswi yang iri pada Sindy.


Dia merasa tak pantas untuk berjalan bersama Rian, dia hanyalah siswi biasa yang sering dibully di sekolahan, sedangkan Rian adalah anak terkenal disekolah, dia tampan, keren, baik hati, bertanggung jawab, dan juga dia adalah anak dari pendiri sekaligus Presdir perusahaan Knight of Fantasi.


"Hmm, apa?" Tanya Sindy yang tangannya langsung dipegang erat-erat.


"Kita akan berlari, siap?"tanya Rian sebelum dia berlari bersama Sindy. Tanpa mendapatkan jawaban, Rian langsung tancap gas berlari dengan menarik Sindy dari belakang.


Rian tahu kalau mereka sedang dibicarakan tadi oleh banyak siswa siswi disana.


Setelah beberapa saat mereka sudah jauh dari sekolah mereka akhirnya kembali berjalan santai, Rian melepaskan tangannya yang menggenggam Sindy.


Mereka berjalan di trotoar jalan yang dibatasi dengan Pralon berisikan beton.


Saat mereka berjalan santai Sindy menanyakan sesuatu. "A Rian..."


"Hmmm" tanggap Rian.


"Aku ingin menanyakan sesuatu boleh?" Tanya Sindy.


"Tidak" jawab Rian langsung, dia bercanda, dia terlihat tersenyum saat mengatakan itu."tentu saja boleh"


"Kenapa kakak ingin jalan bareng aku?"Tanya Sindy, wajahnya dari tadi memerah sejak jalan bareng Rian.


"Mmm gimana, ya. Aku hanya mau aja melakukan ini" jawab Rian.


"Umm" Sindy mengangguk.


"Dan juga aku sering melihatmu sendirian, kamu nggak punya temen?" Tanya Rian.


"?"

__ADS_1


"Heh? Tak bolehkah aku bertanya, kan kamu udh nanya sekarang aku yang bagian nanya,lah"


"Ya" jawab dari pertanyaan Rian.


"Ohh, kalau begitu aku menjadi temanmu yang pertama donk?" Ucap Rian menoleh ke Sindy.


"Heh? Ya mungkin"


"Lah Kok ya mungkin!?"


"I-iya maksudku" ucap Sindy membenarkan katanya tadi.


Rian lalu menggenggam tangan Sindy dan menoleh ke arahnya lalu berkata.


"Aku akan menjadi orang yang penting bagimu, dan kita tidak akan berpisah" ucap Rian dengan senyum manisnya.


Deg.


Mendengar itu membuat muka Sindy memerah, jantungnya berdegup kencang, perasaannya tidak karuan, dan juga tubuhnya langsung gemetaran, pokoknya dia jadi salting.


"Maksudku, aku akan menjadi teman terbaikmu sehingga kita tak bisa berpisah, atau seperti itulah" ucap Rian yang belum sadar akan keadaan Sindy.


"A-aku tau itu" ucap Sindy.


"Tunggu..." Rian menempelkan tangannya ke dahi Sindy.


"Apa yang kau lakukan" Sindy langsung mundur, dia semakin menjadi-jadi saat apa yang dilakukan oleh Rian tadi.


"Apa kau demam?" Tanya khawatir Rian.


"Oh ya sudah" Rian kembali berjalan. Lalu di susul oleh Sindy dari belakang.


#


Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya mereka sudah hampir sampai di rumah Sindy. Rumahnya berada di gang sempit, ya mungkin hanya cukup untuk satu motor.


"Sudah sampai sini saja rumahku sudah dekat. terimakasih" ucap Sindy dengan menunjuk gang.


"Hmm Baiklah, Disana ya" Rian lalu berbalik, sebelum dia kembali berjalan dia menengok kearah Sindy. "Dadah, sampai jumpa besok" dia melambaikan tangannya.


Sontak itu membuatnya kembali memerah dan jantung berdegup kencang. Dia sampai bertanya dalam hatinya.'sampai kapan aku harus merasakan ini terus, hah?'.


Disisi Rian.


Rian terus berjalan hingga dia menemukan titik biasa dia lewati untuk pulang. Dia keluar dari jalan setapak dan muncul di trotoar biasa dia lewati untuk pulang, trotoar jalan yang pembatasnya terbuat dari Pralon berisikan beton.


Tak jauh dari sana ada masjid besar berwarna hijau, masjid yang biasa menjadi pemberhentian orang-orang dari jauh.


Saat dia sudah ada di dekat gerbang masjid, dia langsung berlari hingga tak memperdulikan sekitarnya. Saat dia berbelok untuk masuk ke masjid.


(Brukk...) Suara tubrukan Rian dengan seseorang.


Dia tak sengaja menabrak seorang Pria yang sedang berjalan berada dibalik gerbang.

__ADS_1


"Maaf Pak"Rian minta maaf.


"Hati-hati nak..."suara Pria itu sangat lembut. Dia terlihat seperti orang alim dengan baju Koko berwarna putih yang dia kenakan dan kopiah hitam yang berada di kepalanya.


Pria itu tak sendirian, dia ditemani seorang anak laki-laki usia sekitar sepuluh tahun. Anak itu adalah putranya dan dia Ayahnya.


Setelah mengatakan itu, Rian langsung lanjut pergi masuk ke masjid kali ini dia berjalan bukan berlari.


Pria itu juga akan melanjutkan berjalan ke masjid. Namun, saat dia berjalan beberapa langkah, dia terhenti dengan penampakan Rian yang sudah ada di tangga duduk di salah satu anak tangga sana.


Pria itu terkejut dengan sebuah pancaran aura yang keluar dari tubuh Rian. Dia melihat sebuah bayangan hitam menakutkan dan juga terlihat mengerikan.


Sebuah bayangan hitam yang menampilkan siluet iblis menakutkan, seperti mengisyaratkan sebuah kekejaman, jahat, serakah, dan juga membuat siapapun melihatnya akan menjadi takut.


Disana bulu kuduk Pria itu mengacung ketakutan dengan sebuah aura yang terpancar dari tubuh Rian.


"Padahal hanyalah sebuah bayangan tapi entah kenapa aku takut akan hal itu" gumam Pria itu.


"Assalamualaikum, Pak Asep" seseorang mengucapkan salam padanya dan juga menghampirinya.


"Waalaikumsalam" Pria itu menjawab dan berbalik kebelakang.


Dia melihat seorang pria memakai baju Koko coklat yang menghampirinya, dan berhenti didepan Pria itu. Mereka lalu bersalaman.


"Gimana proyeknya Pak Asep?" Tanya Pria berbaju Koko coklat.


"Alhamdulillah, baik lancar" Jawab Pak Asep.


"Hebat bisa menyelesaikan pekerjaan cuma butuh dua hari" ucap pria berbaju coklat.


"Ahhh, aku juga nggak percaya" Jawab Pak Asep. "Ada orang berbaju rapih menghampiriku dan memberikan sebuah air kemasan, setelah itu rasanya aku menjadi kuat bisa melakukan apa saja" penjelasan dari Pak Asep.


"Ummm" Pria itu menganggukkan kepalanya sebagai balasan mengiyakan.


Pria baju coklat itu menoleh ke arah anak dari Pak Asep. Dia lalu tersenyum kearah anak tersebut.


"Ehhh, udah besar anak papa"ucap pria berbaju coklat, maksud dari kata Papa merujuk ke Pak Asep.


"Kalau begitu, mari Pak" ucap Pria berbaju coklat.


"Iya" jawab Pak Asep.


-


-


-


-


-


∆\=\=\=∆

__ADS_1


Kalian masih ingat dengan Pak Asep yang ada di chapter 2, yang berubah menjadi Dzarl itu. Itu adalah orang yang sama dengan Pak Asep yang ada di sini,


Maksud dari Pria baju coklat berkata Proyek adalah pekerjaan dia yang harus membersihkan kebun sawit yang dipenuhi rumput-rumput liar waktu di chapter sebelumnya dan dia dapat menyelesaikannya dengan waktu singkat.


__ADS_2