
"Permisi...!" Ucap halus seorang Pria menaruh kopi di atas meja.
Seorang Pria bertopi hitam menutupi hingga mata dan juga masker putih menutupi hampir setengah dari wajahnya, jadi sudah dipastikan dia tak dikenali wajahnya. Namun karena dia mengantarkan kopi mungkin saja dia hanya kurir.
Bukan meja biasa melainkan dia menaruhnya di sebuah meja yang didepannya ada layar yang memperlihatkan hasil pemantauan cctv di gedung tersebut.
Di meja itu terdapat tiga orang sedang memantau serius setiap layar, namun saat pria yang menaruh kopi itu mereka langsung melirik ke arahnya.
"Kami tak memesan kopi." Jawab satu orang disana.
"Tidak apa-apa ini. Kalian sudah berkerja keras kan!" Ucap pria itu.
"Yaudah nggak apa-apa, biar kita melek juga." Ucap salah satu dari mereka.
Mereka bertiga lalu megambil secangkir kopi masing-masing.
Setelah pria itu selesai mengantarkan kopi, dia langsung pergi melangkah keluar dari sana.
Tak beberapa lama setelah dia keluar dari ruangan itu.
(Brukk...) Suaranya seorang jatuh kelantai.
Ketiga orang itu langsung tertidur dan jatuh kebawah. Kenapa, tentu saja itu pasti ada hubungannya dengan kopi yang baru saja mereka minum.
Melihat itu, atau bahkan dia tak melihatnya dia langsung tersenyum tertutup masker.
#
Pria bertopi hitam itu sampai di depan pintu besi dengan didepannya terdapat dua penjaga berseragam.
Tanpa berlama-lama dia langsung menumbuk kedua penjaga itu dengan mudah.
(Bukk... Bukk...) Suara tumbukan yang mengenai wajah kedua penjaga.
Dalam sekejap mereka langsung kalah tanpa perlawanan. Tanpa berlama Pria itu langsung melangkahi mereka dan membuka pintu besi.
(Klekk...) Suara pintu dibuka.
"Ada apa." Ucap Heru bangun dari tidurannya.
Saat dia melihat orang yang datang ke tempatnya, dia hanya bisa terdiam memerhatikannya.
"Siapa kau?" Tanya Heru masih terlihat santai.
Pria itu langsung membuka topinya lalu selanjutnya masker yang ia kenakan.
Saat Heru melihat wajah Pria itu, dia hanya bisa tersenyum saat mengetahui kalau dia adalah Aldi.
"Untuk apa kau jauh-jauh kesini?" Tanya Heru sambil tersenyum.
Aldi tak memperdulikannya dia malah melorak-lirik ke ruangan itu seperti mencari sesuatu.
"Saklarnya ada di situ." Ucap Heru menunjuk ke sudut pinggir kanan pintu, disana terdapat kotak kecil.
Aldi lalu menghampiri kotak kecil itu lalu menarik tuasnya. Bersamaan dengan itu secara tiba-tiba alarm darurat berbunyi.
"Apa sudah aman?" Tanya Aldi menanyakan kondisi sel yang apakah masih atau sudah tak di aliran listrik.
Heru lalu memegang sel. Kondisinya aman pertanda itu sudah tak teraliri listrik.
"Baiklah." Ucap Aldi.
Dia lalu melangkah ke depan pintu sel yang masih terkunci oleh gembok. Bukan gembok biasa melainkan harus buat pola yang sesuai untuk membuka kuncinya.
"Aldi!" Panggil Heru.
"Ya?" Aldi mendongakkan kepalanya ke arah Heru.
"Simpan tanganmu di atas layar pola!" Ucap Heru.
Aldi lalu melakukannya, dia menaruh tangan kirinya di atas layar gembok.
"Katakan "Open"!" Ucap Heru.
Tanpa berpikir panjang Aldi langsung melakukannya. "Open"!"
[Lock Open, On.]
Setelah Aldi mengatakan itu, Secara mengejutkan gembok yang terkunci jadi terbuka.
Melihat itu Aldi terlihat kaget sekaligus kagum dengan dugaannya kalau itu berasal dari jam tangan yang ia kenakan.
Pintu sel lalu dibuka, Heru pun keluar dari sana. Sekarang selanjutnya mereka harus memikirkan cara kabur dari sana.
"Ya ampun. Tak ku sangka aku akan diselamatkan oleh alat buatan si Pajar itu." Gumam Heru.
"Ayo!" Ucap Aldi yang sudah berada di balik pintu keluar.
"Ya." Heru lalu melangkah mengikuti Aldi.
Mereka lalu pergi dari sana. Sesuai dugaan jika melarikan diri itu tak mudah.
Saat mereka sudah sampai di lantai kedua, tiga orang sudah berada disana.
Mereka langsung panik karena ketiga orang itu ada di hadapan mereka.
"Ada yang bisa kau lakukan?" Tanya Aldi dengan mundur perlahan.
"Jadi bergantung padaku ya." Ucap Heru.
(Tekk...) Heru menjentikkan jari.
"Lupakanlah ini dan tidurlah kalian." Ucap Heru.
Setelah dia mengatakan itu ketiga orang tersebut langsung jatuh tertidur.
"Wahh, hebat sekali." Seolah tak percaya apa yang dia lihat. "Tunggu kenapa aku tak terpengaruh." Tambah Dia sembari bingung.
"Tak perlu kau pikirkan, dan berikan tangan kiri mu!" Ucap Heru.
Aldi lalu memberikan tangannya, walaupun dia bingung tapi dia tetap melakukannya.
Setelah Aldi memberikan tangannya, Heru langsung mengotak-atik jam milik Aldi tersebut.
__ADS_1
[Flash change, On.]
Secara mengejutkan baju Aldi berubah. Kini dia memakai jubah sepanjang lutut bermotif batik merak hijau dan juga dedaunan dengan di setiap ujung memiliki emas sebagai percantik tampilan.
Jas ini sama dengan jas yang Aldi kenakan pada saat dia menghadapi Pak Supri beberapa hari yang lalu.
Tak cuma itu, pedang yang ada pada hari itu juga muncul di hadapan Aldi.
#Gambaran pedang.(source google.)
"Ini." Heru menyerahkan sesuatu.
Sebuah topeng berwajah motif burung, itu yang Heru berikan.
"Agar identitas mu tak ketahuan." Tambah Heru.
#Gambaran topeng.
"Ahh, Terimakasih." Aldi lalu menerimanya dan langsung memakainya.
"Baiklah, Ayo." Ucap Aldi.
"Tunggu, ada yang harus kita selesaikan." Ucap Heru.
"Hah?" Aldi menoleh ke belakang ke arah Heru.
#
Singkat cerita mereka sudah ada di ruang pengintaian, disana Heru langsung mengotak-atik keyboard dan juga mouse.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Aldi.
"Apa lagi, tentu saja menghapus jejak." Jawab Heru.
Sudah sekitar semenit tapi mereka tak kunjung bisa menghapus rekaman video cctv.
Karena sudah putus asa kalau dia tak bisa melakukannya, Heru lalu menoleh ke Aldi.
"Aku benci melakukan ini tapi mau gimana lagi. Aldi simpan tanganmu di atas layar!" Ucap Heru.
Aldi hanya mengangguk, setelah itu dia langsung menyimpan tangannya di atas layar.
"Bayangkan apa yang aku katakan!" Perintah Heru.
"B-Baik?" Aldi rada bingung.
"Pikirkanlah kalau hal ini tak pernah terjadi, kau tak pernah datang kesini, kau tak masuk kamera, dan juga kau tak pernah datang ke penjara ku." Ucap Heru.
Aldi masih menutup mata, membayangkan apa yang dikatakan oleh Heru barusan.
"Sekarang, katakan edit!" Perintah Heru.
"Baik, Edit!"
Secara tiba-tiba rekaman video cctv berubah menjadi kosong, hanya berisi Heru yang terduduk di kasur dan tak ada siapapun lagi.
"Oke ini selesai, selanjutnya kita harus keluar dari tempat ini." Ucap Heru.
"Iya-ya, kemungkinan diluar sudah ada banyak orang, dan juga pasti sekarang keamanan sedang diperketat." Jawab Aldi.
Mereka lalu salin terdiam untuk memikirkan cara untuk keluar dari sana.
Tentu saja bukan lagi susah tapi ini akan mustahil untuk kabur tanpa terlihat oleh pihak penjaga, mereka saja sedang ada di ruang bawah tanah. ya letak penjara dan juga ruang pengintaian ada di dalam tanah.
Heru terus mengusap-usap dagunya, memikirkan cara untuk keluar dari sana.
"Tak ada pilihan lain, kita harus hadapi mereka." Ucap Heru.
"Ya, memang tak ada cara lain lagi." Jawab Aldi.
Mereka lalu pergi dari sana untuk keluar dari tempat yang hanya diterangi oleh lampu LED.
Saat mereka bertemu dengan satu orang berseragam hitam. Aldi langsung bersiap-siap mengangkat pedangnya.
Namun tak dia saja, Heru pun iku menunjukkan senjatanya. Sebuah arit perak cerah.
#Gambaran arit.(source google: arit Jawa baja putih.)
"Heh?" Aldi tercengang melihat dua sabit digenggaman Heru.
"Kenapa?" Tanya Heru dengan santai.
"Bu-bukankah itu terlalu berbahaya?" Ucap Aldi.
"Bagaimana dengan pedang?" Tanya balik Heru.
Aldi lalu melihat pedangnya, memang dia tau kalau pasti dia tak akan mengibaskannya ke arah orang itu.
Tapi, bagaimana jika dia kelepasan menebas? Itu pasti akan berbahaya. Dia juga meragukan Heru akan menahan diri untuk tidak menghabisi orang berseragam itu.
"Kita pakai tangan kosong saja!" Cetus Aldi.
"Hah?" Heru menoleh ke Aldi, bingung.
"Bukankah mereka juga membawa pistol, kenapa kita harus tangan kosong?" Tambah Heru menanya.
"Kita cukup membuatnya pingsan saja, kau bisa melakukannya, kan?" Ucap Aldi.
"Melakukannya... Kan?" Gumam Heru memikirkan kata itu. Seolah ada yang aneh dengan kat tersebut.
"Heru!" Panggil Aldi.
"Ahh iya." Sahut Heru.
(Tekk) suara jentikkan jari.
(Bruk...) Orang itu langsung jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Jika hanya ini mudah saja." Ucap Heru.
Aldi langsung duluan mendahului Heru, disusul juga dengannya.
' entah kenapa rasanya itu aku mengingat sesuatu, tapi apa Ya?' batin Heru.
"Disebelah sini." Aldi langsung berbelok ke kiri di perempatan jalan lorong. Beberapa langkah dari itu mereka berhenti di depan pintu lift.
"Kau yakin?" Tanya Heru.
"Hmm, lagi pula jika ada orang didalamnya pun kau bisa hipnotis mereka, kan?" Ucap Aldi.
"Ya, tentu saja. kekuatanku masih banyak." Jawab Heru.
#
Tak beberapa lama akhirnya pintu lift terbuka, didalamnya tak ada siapa-siapa. Karena itu mereka bisa tenang untuk sesaat.
Mereka langsung masuk kedalam, menekan tombol lantai 2.
Pintu pun tertutup, lift langsung melaju ke atas ke tujuan mereka yaitu lantai dua.
#
Akhirnya mereka sampai ditujuan dia lantai dua, namun ini bukanlah keberuntungan mereka.
Saat pintu dibuka, mereka langsung disuguhkan dengan banyak orang yang sudah siap menodongkan senjata api mereka.
"Angkat tangan dan jangan bergerak!" Perintah satu orang sedang berdiri di barisan kedua.
Mereka langsung mengangkat kedua tangannya ke atas dengan keadaan masih terkaget.
"Maju dengan perlahan." Ucap Dia.
Heru dan Aldi lalu maju dengan perlahan ke depan. Walau begitu para orang berseragam ini masih menodongkan senjata ke mereka.
Setelah beberapa langkah mereka maju, Heru menoleh ke belakang para anggota berseragam.
"Itu apaan?" Ucap Heru sembari menunjuk ke belakang para anggota.
Mereka termasuk Aldi langsung menengok kebelakang, melihat apa yang ada di tempat Heru menunjuk.
"Ayo." Ucap Heru menarik tangan Aldi ke belakang, kembali ke dalam lift.
Setelah itu Heru langsung menutup pintu lift nya. Menyadari itu, satu anggota langsung menunjuk ke kedua orang itu.
Mereka langsung berlari ke arah mereka, namun apalah daya jika pintu lift sudah tertutup.
#
Singkat cerita, akhirnya Aldi dan Heru sampai di gedung paling atas atau atapnya gedung.
"Kurasa disini aman." Ucap Heru melangkah ke pagar penghalang.
"Kurasa tapi bagaimana aku keluar dari gedung ini?" Ucap Aldi.
Namun Heru mengabaikan perkataan Aldi, dia malah sibuk melihat rentetan rumah dari sana.
Aldi lalu menghampiri Heru, dia juga ikut melihat rumah-rumah dari sana.
"Terimakasih." Ucap Heru dengan masih memandang ke depan.
"Hah?" Aldi menoleh ke arah Heru. "Kau tak perlu berterimakasih kepadaku, lagi pula semua upaya untuk kabur dari sini ditangani oleh kau-"
"Bukan soal itu." Sela Heru.
"Heh, Lalu soal apa?" Tanya Aldi.
"Kau masih mengingatku." Jawab Heru.
"Hah? Maksudnya gimana." Aldi malah semakin bingung.
Heru hanya tersenyum, dia lalu mendongakkan kepalanya ke atas.
"Memang sulit dipercaya, tapi aku mudah dilupakan oleh orang lain. Tak akan ada yang mengenaliku walau mereka sudah bertemu denganku sebelumnya."
"Maksudnya?" Aldi masih tak mengerti.
"Ya, intinya aku tak bisa diingat oleh orang lain, terkecuali kau." Ucap Heru.
Aldi malah semakin bingung, apa maksudnya dia tak bisa diingat oleh orang lain.
"Ya, kalau begitu cari tahulah tentang apa yang aku katakan ini." Ucap Heru.
Setelah itu Heru lalu melangkah pergi dari sana, membuka pintu dan masuk kedalam.
(Not : jadi mereka naik lift sampai lantai atas, pergi ke atap pakai tangga.)
' aku baru ingat kata mu itu. "Kau bisa melakukannya, kan?" Semoga aku tak melupakannya.' batin Heru.
"Mita." tambah Dia.
-
-
-
∆\=\=\=∆
Mohon maaf jika ceritanya terlalu rumit, sulit dimengerti atau juga nggak jelas.
Mohon maaf juga jika ada banyak kekurangan.
Jika ada penulisan yang typo mohon maklum.
Jan lupa like jempolnya, share bagikan, tinggalkan komentar anda dan kalau bisa vote serta jadikan favorit.
Follow juga.
Ya.
Terimakasih.
__ADS_1