
*** Kemarin ada yang meninggalkan jejak di cerita othor "Always You". Karya othor yang itu masih berantakan di Noveltoon, jika ada yang ingin membaca bisa ke apk sebelah In***el. Disana sudah jauh lebih bagus, dan masih gratis. Cari saja Always You, atau nama pena Nittagiu ***
*****
Flora mematung di depan pintu ruangan yang masih tertutup rapat. Jemarinya menggenggam erat handel pintu bersama dengan hati yang kembali remuk.
Kalimat yang baru saja keluar dari mulut calon Ayah mertuanya, membuat smua dunianya seakan runtuh dalam sesaat.
Ah baru saja dia dan laki-laki yang dia contai menghabiskan waktu di dalam kamar, berpelukan bahkan ciuman sudah mereka lakukan untuk kemvali mengawali hubungan yang jauh lebih baik.
Namun kini kenyataan yang baru saja di dengar kembali menghempaskan segalanya. Dengan langkah pelan juga hati yang kembali perih, Flora membalik tubuhnya meninggalkan ruangan tempat dimana Kevin dan calon Ayah mertuanya berada.
Flira tersenyum miris, sejak awal memang semuanya tidak lagi sama, cinta menggebu dulu hanyalah cinta monyet mereka yang tidak lagi berguna sekarang.
Relung hati terdalamnya kembali berdenyut sakit, saat melihat calon ibu mertuanya berdiri di pintu depan sambil menatap kosong halaman rumah yang baru saja di tinggalkan oleh Diandra beberapa menit yang lalu.
Flora berdiam sejenak di anak tangga terakhir, menatap nanar ke arah wanita paruh baya yang menjadi panutanya sejak lama.
Ingatanya kembali menjelajah ketika calon ibu mertuanya itu terus saja menyemangatinya saat masih berjuang bersama Kevin untuk meraih S1 kedokteran di Jakarta.
Sesekali Kevin mengajaknya pulang ke Bali untuk menemui keluarganya. Sepasang suami istri yang berprofesi sebagai Dokter itu selalu antusias menyambut kedatangannya.
Tess...
Air mata menetes di pipinya tanpa izin. Flora melanjutkan langkahnya menuju kamar tamu yang hampir dua bulan ini dia tempati.
Jika itu hanya soal Diandra, mungkin Flora masih bisa tega untung menendang wanita itu dari kehidupan mereka namun kini ada anak yang sedang mengalir darah Kevin di tubuh wanita itu, dan Flora merasa tidak tega dengan makhluk mungil yang sama sekali tidak berdosa jika harus lahir dan hidup tanpa sosok ayah.
Flora menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Menutup mata perlahan bersamaan cairan bening yang kembali menetes membasahi pipinya. Dadanya sesak, fikirannya buntu. Kini semuanya kandas, harapannya hanyalah tinggal harapan.
Malam semakin larut, Flora berusaha sekuat tenaga untuk terlelap agar segera mengistirahatkan tubuh dan hatinya yang terasa lelah.
Ceklek...
Pintu kamarnya terbuka, namun dia masih menutup matanya dan membiarkan siapapun yang sedang masuk ke dalam kamarnya ini kembali menutup pintu kamarnya dengan perlahan.
__ADS_1
"Kevin" Lirih Flora di dalam hati saat mencium wangi maskulin dari tubuh yang kini duduk di sisi ranjang tempat ia berbaring.
Kevin mencium seluruh bagian wajah Flora tanpa henti, tidak ada bagian wajah yang dia lewatakan.
"Aku harus apa Flo ?" Ucap Kevin pelan sembari mengusap puncak kepala Flora dengan lembut.
Flora diam saja sambil bersusah payah menahan agar air matanya tidak keluar dari tempatnya. Setelah beberapa menit terdiam di dalam kamarnya, Kevin keluar dari dalam kamar Flora dan menutup kembali pintu kamar itu.
***
"Sudah bertemu Ayah ?" Tanya Anggun saat melihat putranya berada di undukan tangga untuk naik kembali menuju kamar tidurnya.
"Sudah Bu, ini mau kembali ke kamar." Jawabnya.
"Memangnya kamu dari mana ?" Tanya Anggun.
"Menemui Flora, tapi dia sudah tidur." Jawab Kevin.
Anggun menatap bingung, bagaimana bisa. Gadis itu meminta izin padanya tadi untuk menyusul putranya ke ruang kerja sang suami dan kini sudah terlelap di dalam kamar.
"Ada apa bu ?" Tanya Kevin.
"Baiklah." Jawab Kevin lalu kembali melanjutkan langkahnya menaiki satu per satu anak tangga menuju kamar tidurnya.
Anggun masih berdiri sambil menatap punggung putranya, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar Flora.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka perlahan, isakan begitu terdengar jelas di dalam kamar Flora, gadis itu terkejut saat melihat calon ibu mertuanya sudah berada di dalam kamar tidurnya.
"Hei ada apa ?" Tanya Anggun panik saat mendapati calon menantunya sedang terisak di dalam kamar tamu rumahnya. Dia melangkah menuju ranjang tempat Flora duduk, lalu membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
"Aku merindukan mami dan papi bu." Jawab Flora. Yah kini dia benar-benar merindukan dua orang yang sudah dua bulan ini belum bertemu dengannya.
"Kan bisa ke Jakarta kapan saja buat bertemu papi dan mami kamu." Bujuk Anggun sambil mengusap lembut punggung Flora.
__ADS_1
"Kata Kevin kamu sudah tidur, kenapa bangun lagi ?" Tanya Anggun. Kini dia sudah ikut duduk di sisi ranjang di sampin calon menantunya.
"Mimpiin mami." Jawab Flora singkat.
"Mau pulang besok pagi ?" Tanya Anggun.
Flora mengangguk, sungguh dia ingin segera pergi dari sini.
"Baiklah, Ibu akan mengantar kamu ke Bandara besok pagi." Ucap Anggun pelan.
"Tapi Kevin pasti ngga akan kasih izin."
"Biar nanti ibu yang bujuk, kamu tenang saja. Sekarang istirahatlah." Ujar Anggun sambil membantu Flora berbaring di ranjang lalu memakaikan selimut pada tubuh Flora.
"Ibu tinggal, sekarang istirahat jangan menangis lagi." Ucap Anggun lagi sambil melangkah keluar dari kamar Flora.
Pintu kamarnya kembali tertutup, matanya menatap langit-langit kamar. Entahlah semua keputusan yang ada di otaknya terasa begitu menyesakkan, namun jalannya memang harus seperti ini.
****
Di dalam kamarnya Kevin duduk terdiam di sisi ranjang. kalimat sang Ayah tadi kembali terngiang di telinganya, dan semua ini adalah kesalahannya hingga ke dua orang tuanya harus menanggung rasa bersalah kedepannya karena begitu tega membiarkan darah daging mereka sendiri pergi.
"Sialan Diandra." Maki Kevin kesal pada sekertarisnya itu. Dia begitu yakin jika janin itu bukanlah anaknya, karena tidak lagi menyentuh sekertarisnya beberapa bulan ini. (alu kapan benihnya itu bersarang di tubuh wanita itu.
Dia sangat yakin, malam itu dia mabuk dan meniduri wanita bayaran dan bukan sekertarisnya itu.
Brakkk...
"Brengsek." Kevin membuang ponsel hingga hancur berserakan di atas lantai kamarnya. saat beberapa kali dia menghubungi wanita itu namun nomor ponselnya sudah tidak lagi di gunakan.
Dia ingin meminta penjelasan langsung dari Diandra, namun wanita itu tidak lagi bisa di hubungi.
Kevin duduk di sisi ranjang, meremas rambutnya frustasi. Bagaimana bisa Diandra sampai melakukan hal itu hanya agar bisa hidup bersamanya yang sudah jelas-jelas tidak memiliki perasaan apapun pada wanita itu.
Masih dengan perasaan yang penuh kekesalan Kevin merebahkan tububnya di ranjang. Dia bingung apakah harus mengatakan ini pada Flora atau tidak.
__ADS_1
Tidak, bukankah ini hanyalah rahasia kecil antara ayah dan dirinya. Jadi tidak perlu mengorbankan hubungan mereka yang baru saja membaik.
Kevin berusaha agar matanya segera terlelap dengan perasaan bingung bercampur kesal. Dia membenci wanita yang baru beberapa jam lalu meninggalkan kediaman mereka karena harus melakukan hal hingga sejauh ini.