Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
First Night part 1


__ADS_3

** Kalau banyak yang meninggalkan jejak akan aku up hari ini part duanya 😁 Ku mohon tinggalkan like dan komentar, aku tahu mungkin cerita ini belum layak dapat hadiah atau vote dari teman-teman semuanya. Aku hanya meminta like dan komentar buat suntikan semngat. 😊😊 **


*****


Kediaman Sanjaya masih ramai. Empat keluarga besar yang tersisa dirinya yang paling di tuakan kini berkumpul di ruang keluarga usai menikmati makan malam mereka.


"Ternyata benar kata orang, yang paling banyak dosa akan lama matinya." Ucap Sanjaya sambil terkekeh untuk menutupi kesedihan di wajah tuanya.


Kilas balik pernikahan Putra nya di Prancis hampir 20 tahun silam kembali melintas, berkumpul seperti ini saat makan malam usai begitu terasa menyenangkan. Meskipun ada rasa rindu yang menelusup di relung hatinya. Kali ini berbeda, meskipun kebahagiaan hari ini masih sama seperti pernikhan Gerry dan Keyla dulu namun tetap saja terasa kurang tanpa orang-orang penting itu.


Tidak ada lagi sang istri yang selalu setia mendampinginya bahkan saat dia melakukan kesalahan fatal, tidak ada lagi besannya yang begitu bijaksana saat dia melukai putri kesayangan mereka.


"Kami bersyukur Om masih disini, masih sempat menyaksikan pernikahan Putra Putri kami." Ucap Bram.


Ruang keluarga mewah itu begitu hening, Anggun yang sejak tadi duduk di samping suaminya beranjak dan pindah ke samping sang Papa yang dulu sempat di bencinya, lalu menyandarkan kepalanya di bahu yang tidak lagi se kekar dulu.


Sanjaya mengusap kepala putri sulungnya.


"Om harap kejadian dulu tidak akan terjadi lagi, Maafkan Papa Key." Ucap Sanjaya sambil menatap menantunya dengan tatapan hangat.


Keyla tersenyum sambil mengangguk, yah dia telah melupakan segalanya. Bagaimana bisa dia mengingat satu hal menyakitkan itu, sementara Gerry selalu memberikan hal menyenangkan di sepanjang usia mereka bersama. Cinta pertama dan terakhir yang tidak pernah lekang oleh waktu, begitulah yang dia rasakan. Laki-laki yang selalu memastikan kebahagiaannya ini, menebus segala rasa sakitnya yang sempat di torehkan oleh Papa mertuanya dulu.


Gerry merangkul Keyla, lalu mengecup puncak kepala istrinya lembut. Meskipun banyak yang kurang, termasuk putranya yang tidak bisa ikut pulang namun tetap saja hari ini begitu sempurnah. Melihat keponakannya mengucapkan janji suci pernikahan kembali mengingatkan bagaiaman perjuangannya dulu untuk mendapat restu dari keluarga Handoko agar bisa menikahi Keyla.


" Opa harap pernikahan kalian selalu di berkati oleh Tuhan. Jangan berjanji untuk tidak saling menyakiti, karena dasarnya setiap manusia adalah tempatnya salah. Namun berjanjilah apapun yang akan terjadi kemudian, tetaplah untuk saling menggenggam seperti hari ini. Melangkah bersama, melewati setiap cobaan itu bersama-sama." Ucap Sanjaya. "Opa senang, Flora yang menjadi cucu perempuan Opa." Sambungnya sambil menatap hangat ke arah gadis cantik yang duduk diam di samping cucunya..


Flora mengangguk sambil tersenyum ke arah laki-laki tua di ujung sana.


menjadi bagian dari keluarga ini adalah impiannya sejak dulu. Se kesal apapun dia hari ini, tetap saja rasa syukur terus dia utarakan di dalam hatinya, karena laki-laki yang kini menggenggam erat tangannya akan selalu menjadi bagian penting dalam hidupnya.

__ADS_1


Sejak dulu, sekarang dan semoga sampai nanti, akan tetap seperti hari ini. Tatapan hangat penuh cinta Kevin hari ini, dia berharap akan menikmati itu sampai di ujung usianya nanti.


*****


Flora bersandar di pintu kamar pengantin mereka yang terbuka lebar. Menatap tajam ke arah laki-laki yang membuatnya kesal dan membuncah di waktu yang bersamaan. Tangannya terlipat di atas dada yang terbalut gaun branded dengan harga selangit.


Gaun berwarna silver dengan belahan yang mengekspor paha mulusnya terlihat begitu pas di tubuh rampingnya. Hels berwarna senada dengan tumit berapa inci yang membalut kaki indahnya semakin menamabah sempurnah penampilannya malam ini.


Kumpul-kumpul keluarga telah usai, Papi dan Mami nya memilih untuk kembali ke rumah mereka. Begitupun keluraga kecil Bagas yang juga sudah kembali ke rumah dengan putra dan putrinya.


Kini mereka sudah berada di dalam kamar pengantin yang terasa seperti ruang eksekusi bagi Kevin. Dekorasi yang begitu romantis, juga taburan kelopak mawar merah di atas ranjang yang terbungkus badcover putih gading sama sekali tiak bisa mempengaruhi aura membunuh dari gadis yang kini berdiri di pintu kamar yang terbuka lebar.


"Boleh ngga marahnya di tunda dulu." Mohon Kevin. Tolong siapapun beritahu Flora, malam ini malam pengantin mereka, sangat tidka lucu jika berakhir dengan tubuhnya yang babak belur.


Flora memicing dan semakin menatap tajam membuat Kevin merinding dan segera menutup mulutnya rapat.


"Maksud kamu bilang ke Papi mau membatalkan pernikahan kita itu apa ?" Tanya Flora. Gadis itu masih berdiri angkuh di tempatnya.


Bugh...


Hels yang berada di kaki kiri Flora sudah melayang mengantam dinding kamar, untung saja Kevin sudah begitu siap hingga bisa mengelak benda berwarna silver dengan tali-tali kecil itu agar tidak menghantam kepalnya.


"Kita ini pengantin baru loh, masa iya sikap kamu sama seperti istri yang sudah menikah sepuluh tahun dan sedang marah karena uang belanja kurang." Ucap Kevin memohon.


Bughhh...


Hels yang masih tersisa di kaki kanannya kembali melayang tepat mengenai tubuh Kevin, membuat laki-laki itu meringis.


"Flora.." Lirih Kevin memohon agar istrinya ini berhenti mengamuk.

__ADS_1


Namun Flora semkain kesal lalu melangkah menuju Kevin yang sudah menghindar memutari ranjang mewah dengan kelopak bunga itu.


Produk-produk kecantikan yang ada di atas meja rias sudah mulai melayang ke arah Kevin, beberapa botol tepat mengenai tubuh Kevin yang terus mengaduh kesakitan. Pigura kecil berisi foto mereka berdua juga akan melayang namun terhenti saat laki-laki tua yang baru saja memberikan nasihat-nasihat pernikahan tadi kini berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka lebar.


"Kalau mau memukulnya, di tutup dulu pintunya Flo biar dia tidak bisa kabur." Ucap Sanjaya sambil menunjuk cucunya menggunakan tongkat kesayangannya.


Flora tersenyum lalu melangkah menuju pintu kamar yang terbuka. Mengucapkan terimakasih pada laki-laki tua yang tersenyum mengejek ke arah Kevin lalu menutup pintu itu dan kembali melempar kunci pintu yang baru saja ia gunakan ke arah Kevin.


Kevin menatap nanar ke arah kunci yang tidak mengenainya dan kini sudah tergeletak di lantai. Kamar pengantin yang sudah seperti kapal pecah membuat Kevin meringis.


"Sudah Flo, tubuhku sudah skait ini." Kesalnya. "Sialan belum juga melakukan malam pertama tubuhku sudah skait semua." Gumamnya.


"Malam pertama, jangan mimpi !" Ucap Flora lalu beralalu dari sana kemudian masuk ke dalam kamar mandi. "Oh iya bereskan semuanya." Sambungnya lalu hilang di balik pintu kamar mandi yang tertutup.


Kevin mulai memunguti satu persatu barang-barang yang di lempar istrinya tadi sambil mengumpat kesal. Sungguh sialnya hari ini, seluruh tubuh sudah terasa sakit, tak dapat jatah malam pertama pula.


"Ambilkan bathrobe di ruang ganti." Perintah Flora sambil mengeluarkan kepalanya dari pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.


Kevin yang sudah duduk di sisi ranjang sambil mengusap layar ponselnya menoleh ke asal suara. Senyum sinis terbirit di bibirnya, membuat Flora menatap tajam ke arahnya.


Kevin beranjak dari ranjang menuju pintu kamar mandi yang kembali tertutup dengan kasar.


"Sialan Kevin aku ke dinginan, cepat ambilkan handuk." Maki Flora kesal saat mendengar suara ketukan di pintu kamar mandi.


Kevin tidak memeperdulikan teriakan kesal istrinya dari balik kamar mandi yang tertutp rapat itu, dia terus saja mengetuk pintu itu sesuka hatinya.


"Cepat keluar dari sana, aku amu mandi juga." Ucap Kevin santai sambil menggdor pintu kamar mandi yang tertutup dari dalam. Senyum penuh kemenangan terlihat di wajah tampannya, bukankah inilah saatnya untuk membalaskan sakit di tubuhnya.


Flora merutuki dirinya sendiri yang begitu sembrono, dan dia tahu laki-laki itu tidak akan melakukan apa yang dia pinta. Tatapannya tertuju pada gaun yang teronggok di lantai kamar mandi, lalu dengan ragu-ragu kembali memungut gaun yang sudah sesikit basah itu kemudian mengenakkannya.

__ADS_1


"Sialan." Makinya lalu membuka pintu kamar mandi itu dengan kasar.


__ADS_2