
Flora mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian kamar yang di dominasi putih itu. Kamar yang akan kembali menjadi tempat ternyaman nya. Tidak, sejak dulu memang hanya kamar inilah yang selalu menjadi tempat ternyaman nya. Hanya saja, dia selalu memaksakan diri agar bisa merasa nyaman di tempat lain karena hati yang terlalu mencintai seseorang.
Kakinya masih memaku di ambang pintu kamar, sembari menarik nafasnya dalam. Kini dia kembali pulang ke rumah yang ia tempati hampir di sepanjang usianya.
Apakah sesingkat ini pernikahannya ?
Cerita yang ia dan Kevin ukir sejak kecil hingga dewasa, apakah benr-benar berakhir ? Entahlah, sampai hari ini belum juga ada kejelasan, laki-laki yang masih bersemayam di relung hati terdalamnya itu, masih tidak menerima perpisahan
Flora kembali menarik nafasnya yang yang terasa semakin berat. Biarlah, dia hanya ingin menjalani semuanya. Memilih untuk memulai awal yang baru dalam hidupnya.
Meskipun pada akhirnya dia tetap akan kembali pada laki-laki itu, namun untuk saat ini ia masih ingin menata hati yang sudah berantakan satu Minggu ini.
"Sayang ibu boleh ikut masuk ?"
Flora tersadar sesaat dia menoleh pada wanita paruh baya yang sedang berdiri dibelakangnya.
dirinya tidak sendirian di depan kamarnya ini. Ibu mertuanya juga ikut menaiki tangga menuju kamar tidurnya. Dan jangan lupakan pula satu orang laki-laki yang masih memenuhi hatinya, kini sedang menatapnya dari anak tangga terakhir di ujung sana.
"Iya Bu." Jawabnya lalu melepaskan tangannya dari handel pintu, lalu membuka pintu kamarnya lebar agar wanita yang selalu menjadi motifasi nya bisa masuk ke dalam kamarnya.
Sejenak ia menoleh, menatap laki- laki yang menatapnya lekat. Setelah sekian menit pandangan mereka beradu, Flora kembali memalingkan wajahnya dari Kevin yang sedang berdiri tidak jauh dari kamar tidur, lalu ikut masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan laki-laki yang sedang menatapnya penuh rasa bersalah, dan menutup pintu kamarnya dengan perlahan.
"Kamarnya cantik." Ucap Anggun memulai percakapan.
Sejak kejadian tragis yang merenggut janin satu Minggu yang lalu, Flora tidak banyak berbicara. Wanita yang baru saja kehilangan calon bayi yang sangat ia impikan itu, hanya akan berbicara jika seseorang memulai percakapan.
"Ibu dan Ayah datang untuk meminta maaf Nak." Ucap Anggun lagi saat melihat menantunya hanya terdiam.
Selama Flora di rawat, Roby dan Anggun tidak berani mengunjungi. Namun kabar kepulangan Flora, membuat nya tidak lagi bisa menahan diri untuk datang dan meminta maaf atas apa yang terjadi pada menantunya ini.
"Semua sudah terjadi Bu, Flora tidak marah lagi. Meskipun rasa sakit itu masih belum juga pergi, namun semuanya sudah lebih baik sekarang." Jawab Flora.
__ADS_1
Sejenak dia menarik nafasnya yang masih terasa sakit. Kehilangan sesuatu yang begitu kita inginkan benar-benar menyakitkan.
"Seandainya Kak Gia memberitahu tentang Diandra, aku akan lebih memilih melepaskan Kevin untuk mereka, asalkan bayiku baik-baik saja." Sambung nya.
"Semua ini salah Ibu dan Ayah, seharusnya kami meminta Kevin untuk bertanggung jawab sejak dulu, dan tidak memaksakan kehendak kami untuk melanjutkan pernikahan kalian dan membawamu dalam masalah." Ucap Anggun.
Flora berdenyut sakit, tangannya terkepal menahan perih di hatinya. Bayangan tentang perpisahan kembali melintas, dan itu membuatnya tidak nyaman.
Oh ayolah Flora, kamu sendiri yang ingin berpisah tapi kini kamu juga yang merasa sakit.
Flora kembali menghela nafasnya.
"Flora mau istirahat Bu." Ucap Flora. Sungguh dia tidak lagi ingin melanjutkan pembicaraan yang akan semakin menyakiti hatinya.
Untuk sementara waktu, dia ingin menikmati hari-hari yang tenang tanpa ada yang mengusik.
Anggun terdiam, seketika dia menyadari jika kalimat yang dia utarakan beberapa menit yang lalu, memang sedikit membuat Flora tidak nyaman.
"Flora mengerti Bu, namun semua sudah terjadi. Waktu tidak akan pernah bisa kembali lagi. Flora ingin memulai semuanya dari awal lagi, memulai hari-hari yang tenang tanpa ada yang berniat mengusik lagi." Ucap Flora.
Setelah perbincangan yang terasa dingin itu, Anggun kembali mencairkan suasana. Bertanya tentang rencana Flora kedepannya, dan mengatakan akan mendukung apapun yang menjadi keinginan menantunya ini.
Suasana kembali jauh lebih baik, Flora pun sudah bisa membalas tersenyum kala Anggun menceritakan hal-hal receh yang mengandung humor.
Untuk tragedi yang telah terjadi, Anggun memilih untuk tidak membahasnya lagi. Benar kata Flora semuanya sudah terjadi, dan waktu yang sudah terlewati tidak akan pernah kembali lagi.
Setelah sekian puluh menit bercengkrama di dalam kamar yang di dominasi warna putih itu, Anggun akhirnya meminta izin keluar dari kamar, dan meminta menantunya itu untuk segera beristirahat.
"Bu,.." Tahan Flora di tangan Anggun yang sedang membantunya berbaring di atas ranjang.
Anggun masih berdiri di samping tempat tidur, menanti apa yang akan di utarakan oleh menantunya ini.
__ADS_1
"Sampaikan maaf ku pada Opa karena memilih kembali ke rumah Papi dan Mami." Ucap Flora.
Anggun mengangguk mengerti. Anakan rambut yang terlihat di dahi Flora, di usapnya kembali.
"Semua akan baik-baik saja, jangan khawatirkan apapun. Istirahatlah, gunakan waktu sebanyak yang kamu mau untuk bisa benar-benar sembuh dan merasa lebih baik. Ibu, Ayah, Opa dan Kevin akan selalu menunggumu bersedia kembali." Ucap Anggun.
"Ibu akan selalu menyayangimu seperti dulu, walaupun kamu tidak lagi ingin menjadi menantu Ibu. Dan Kevin juga akan selalu mencintaimu sama seperti dulu, Ibu yakin itu." Sambungnya.
Flora mengangguk lalu tersenyum, lalu Anggun keluar dari dalam kamar milik menantunya.
Flora menatap pintu kamar yang kembali tertutup rapat. Yah semua akan baik-baik saja, tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan. Namun terkadang waktu yang di perlukan untuk kembali menata sesuatu yang berantakan itu, memang tidaklah sedikit.
Biarkan waktu akan mengubah semua luka menjadi masa lalu....
****
Anggun menepuk bahu Kevin. membisikkan kata-kata semangat untuk putranya itu.
Untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, memanglah sangat mudah. Namun terkadang yang terasa sulit itu, adalah menjaganya.
Dia menyadari, tragedi yang menimpa Flora atau Minggu yang lalu, bukan hanya kesalahan Kevin tapi juga kelalaiannya sebagai Ibu yang tidak bisa membuat putranya jadi laki-laki yang baik.
Sedangkan laki-laki mudah yang juga merasa sangat kehilangan itu, tidak lagi berkeinginan untuk bertanya apapun. Dia hanya diam, menanti kapan Flora akan kembali menyambutnya.
Di ruang keluarga, Sanjaya terus mengucapkan kata maaf pada Bram. Meskipun berulang kali Baram mengatakan tidak apa-apa, tapi laki-laki yang paling di tua kan dalam kelurga itu masih saja memohon maaf atas apa yang terjadi pada cucu mantunya.
Begitupun Roby, dia terus saja meminta maaf dan menyalahkan dirinya karena tragedi ini.
Kesalahan ini berasal dari keluarga nya, namun yang menerima imbasnya adalah Flora.
Bram yang kini menjadi kepala keluarga Handoko, lagi-lagi menanggapi semua masalah ini dengan bijaksana. Karena ia pun ikut andil memaksa putrinya untuk menikah, tanpa membereskan terlebih dahulu apa yang membuat Flora ragu waktu itu.
__ADS_1