Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Maafkan Aku


__ADS_3

Mentri mulai terbenam. Warna jingga yang indah mulai menghilang berganti petang.


Flora melajukan mobilnya menuju rumah. Tubuhnya lelah, dan kulitnya terasa sangat lengket karena seharian tidak sempat mandi dan mengganti pakaiannya.


Tentang Fania, biarlah dia akan memikirkannya lagi setelah sampai di rumah. Papi dan Mami nya juga pasti akan memberikan saran yang baik, dan membantunya terlepas dari masalah ini secepatnya.


Permainan dan perlengkapan anak sudah memenuhi bangku bagian belakang mobilnya. Gadis kecil yang sudah kembali terlelap di bangku penumpang yang ada di sampingnya, karena kelelahan setelah seharian bermain, di tatapnya sendu.


Jika saja gadis kecil yang begitu menggemaskan ini, bukanlah hasil perselingkuhan Kevin, dia pasti akan dengan senang hati merawatnya walau bukan lah darah dagingnya.


Fania adalah gadis kecil yang baik dan patuh, dan siapapun pasti akan gampang menyayanginya.


Baru sehari mereka menghabiskan waktu bersama, namun gadis kecil ini sudah mulai masuk ke dalam hatinya.


Ternyata menjadi seorang ibu memang se menyenangkan ini.


***


Dia sebuah rumah milik kelurga Handoko, Rosa masih terus mondar mandir di ruang tamu, sambil sesekali melihat pintu utama yang di biarkan terbuka lebar.


Flora tidak berada di Rumah Sakit seharian ini. Dan membuat nya semakin khawatir, ponsel putrinya itu tidak bisa di hubungi sampai malam ini.


"Tenanglah sayang, dia pasti baik-baik saja." Ucap Bram berusaha untuk menengkan sang istri.


"Aku takut terjadi apa-apa padanya Bram." Lirih Rosa.


Bram terdiam. Rasa khawatir yang ia rasakan sejak tadi semakin bertambah.


"Nak jam berapa kamu menelponnya tadi ?" Tanya Bram pada laki-lkai mudah yang juga duduk dengan gelisah di hadapannya.


"Pagi Pi, sekitar jam delapan." Jawab Kevin.


Rosa seger melangkah cepat setelah mendengar bunyi pintu gerbang yang terbuat dari besi itu, di buka oleh petugas kemanan.


"Mau kemana ?" Tanya Bram khawatir sambil beranjak menyusul sang istri yang sudah keluar dari rumah utama.


Rosa bernafas lega saat mobil berwarna silver milik putrinya sudah berhenti di depan rumah.


"Kamu dari mana saja ?" Rosa segera mendekati putrinya yang kembali memutari mobil lalu membuka pintu mobil yang satunya lagi.


Gadis kecil yang masih terlelap itu di peluknya dengan hati-hati.


"Ini anak siapa ?" Tanya Rosa semakin khawatir, karena putrinya yang masih menutup mulutnya rapat.


"Mi, kita bahas besok ya. Flo belum istirahat dari semalam." Jawab Flora "Oh iya Mi, tolong minta Bibi buat bawa semua barang-barang yang ada di dalam mobil, ke kamar Flora ya." Sambungnya, lalu membawa Fania masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Namun baru saja selangkah memasuki ruang tamu, kakinya terhenti di tempat dia berdiri, saat melihat laki-laki yang membuat dia semakin marah kini sedang duduk sambil menatapnya dengan sendu bercampur khawatir.


"Kevin segera pulang, karena nomor kamu tidak bisa di hubungi." Ucap Bram.


Flora masih bergeming, bimbang apa yang harus di katakan tentang gadis yang berada di dalam dekapannya ini.


"Kembalilah besok, aku lelah dan mau istirahat." Ucapnya lalu kembali melanjutkan langkahnya menaiki satu per satu anak tangga menuju kamar tidurnya.


Fania masih berada dalam dekapannya, tidak apa-apa kan dia ingin menjadi ibu walau hanya satu hari ini, lalu besok ia akan kembali melanjutkan hidupnya yang selalu berteman sepi.


Kevin membiarkan Flora berlalu, dia sangat mengenal Flora sejak kecil. Masih memberinya kesempatan untuk kembali menemui besok, sudah patut untuk dia syukuri.


"Maafkan dia." Ucap Bram lalu menepuk bahu menantunya.


Kevin mengangguk mengerti, apa berhak dia untuk marah pada apa yang Flora lakukan hari ini ? Sementara dialah yang menjadi penyebab dari semua kemarahan itu.


"Tidurlah di kamar tamu, nanti kita akan sarapan besok sambil membicarakan masalah hari ini." Usul Rosa.


****


"Ami..


Flora perlahan membuka matanya saat melihat gadis kecil yang semalam terlelap di sampingnya sudah duduk di atas ranjang.


Flora melihat jam kecil yang ada di atas nakas samping tempat tidur.


Sudah pukul enam pagi, saking lelahnya dia bahkan terlelap tanpa mengganti stelan operasi yang melekat di tubuhnya.


"Kita mandi." Ucap Flora akhirnya.


Senyum mengembang di bibir Fania saat pertama kali mendengar suara Flora yang merespon perkataannya.


Gadis kecil itu mengangguk antusias, lalu turun dari ranjang kemudian mengikuti Flora masuk ke dalam kamar mandi.


Flora tidak bisa lagi menahan tawanya, saat melihat Fania yang begitu asik bermain busa sabun yang berlimpah di dalam bathtub.


"Suka ?" Tanya Flora.


"Iya Ami, esok lagi ya."


Flora menggeleng.


"Besok Fania tidak akan disini lagi."


Mata mungil yang indah seperti terpasang softlens itu mengerjap beberapa kali.

__ADS_1


"Fania akan tinggal sama Papi." Ucap Flora lagi.


Namun gadis kecil itu segera menggeleng.


"Mau Ami." Ucapnya.


Flora memilih untuk tidak berbicara lagi, karena dia akan tetap menyerahkan Fania pada Kevin karena laki-laki itulah yang wajib bertanggung jawab sepenuhnya.


Bukan karena tidak lagi memiliki hati, namun melihat Fania sekarang selalu mengingatkan Flora tentang janin malangnya.


****


Flora membantu Fania menuruni satu per satu anak tangga, menuju ruang keluarga. Mami, Papi nya dan Kevin sudah duduk di sana menunggu dirinya.


Flora sudah berdiri di ruang keluarga dengan jas Shelly dan juga tas tangan berada di tangannya.


"Kita makan dulu." Ujar Bram sambil menatap sekilas gadis kecil yang menggenggam erat tangan putrinya.


Flora kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang makan, dan membiarkan tangan mungil Fania menggenggam erat jemarinya.


Rosa membantu gadis kecil itu makan, dan Flora memilih fokus dengan sarapannya, tanpa menghiraukan laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya itu terus saja menatap ke arahnya.


Bram menarik nafasnya yang terasa berat. Flora yang dulu selalu ceria, kini nampak dingin. Semua sudah berada sejak kejadian naas yang menimpa putrinya beberapa tahun lalu.


"Kenyang Ami." Ucap Fania memecah keheningan di dalam ruang makan.


Rosa yang sejak tadi sibuk menyuapi Fania, kini berhenti lalu menyodorkan segelas air putih ke arah gadis kecil yang tidak dia ketahui itu.


Flora sudah menyelesaikan sarapannya.


"Ini putrimu, Diandra meninggalkan anak kecil hasil dari perbuatan kalian di rumah sakit." Ucap Flora dingin.


Kevin menoleh, rasa bersalah semakin menghimpit dada. Tangannya terkepal di atas meja menahan amarah. Bukan hanya marah pada Diandra yang sudah lancang datang menambah luka Flora, tapi juga marah pad dirinya sendiri yang terus menerus melukai wanita yang sangat dia cintai.


"Maafkan aku, ini di luar kendaliku." Ujarnya.


Flora mengangguk, dia tidak lagi ingin hidup dalam kubangan dendam. Semua sudah terjadi dan dia ingin menikmati hidupnya dengan hati yang lapang.


"Aku pamit Mi, Pi." Izin Flora lalu meraih tas dan snelly yang dia letakkan di kursi yang ada di sebelahnya, tanpa menghiraukan Kevin yang masih menatapnya penuh permohonan.


Fania yang melihat Flora beranjak dari kursi, ikut berusaha turun dari kursinya.


"Fania sama Papi." Ucap Flora saat melihat gadis kecil itu melangkah mengikutinya.


"Mau sama Ami." Ucap gadis kecil itu, namun Flora sama sekali tidak mengindahkan lalu kembali melangkah, meninggalkan ruang makan juga gadis kecil itu dengan dada yang entah mengapa terasa begitu sesak.

__ADS_1


__ADS_2