
** Happy reading **
***
Anggun menatap sendu pada Diandra. Sebagai seorang ibu, meskipun dia kecewa dengan kenyataan ini, namun dia tidak bisa mengabaikan sekertaris putranya yang sedang hamil ini.
Diandra semakin mendunduk dalam, apalagi kini Ayah dari laki-laki yang dia inginkan sudah duduk di hadapannya dengan tatapan mengintimidasi.
"Bukankah sudah ku peringatkan berulang kali agar kau menyudahi hubungan ranjang kalian berdua." Ucap Roby tajam. "Sepertinya kamu memang begitu tergila-gila dengan putraku." Sambungnya.
"Sayang...
"Ini." Roby menyodorkan cek kosong yang sudah di bubuhi tanda tangannya ke arah Diandra tanpa menghiraukan suara sang istri yang memanggilnya.
Masalah ini akan semakin rumit jika sampai keluar dari lingkungan ini, dan putranya yang bodoh itu justru meminta gadis ini melakukan tes DNA yang sudah jelas hasilnya seperti apa.
"Sayang..." Suara Anggun kembali terdengar. Sebagai sesama wanita, dia tidak tega jika putra dan suaminya memperlakukan Diandra seperti ini. Kakinya melangkah menuju sofa dan duduk di samping suaminya.
"Tulislah berapapun jumlah yang kamu inginkan di atas cek itu, tapi setelah ini jangan pernah muncul lagi di hadapan putraku." Ujar Roby tegas. Biarlah dia akan menjadi Ayah yang tidak punya hati untuk menyelamatkan calon cucunya yang masih berada di dalam kandungan Diandra.
Diandra mengangkat kepalanya, memberanikan dirinya menatap laki-laki paruh baya yang kini sedang menatap tajam ke arahnya.
"Baikalah, terimakasih." Ucap Diandra singkat lalu meraih secarik kertas yang ada di atas meja meja dan memasukkan cek kosong itu kedalam tasnya.
"Kevin memintaku untuk melalukan tes DNA karena dia tidak yakin jika janin yang ada di kandunganku ini adalah darah dagingnya, namun sepertinya itu tidak perlu di lakukan." Ucap Diandra tenang. namun dadanya bergemuruh. "Terimakasih untuk cek kosong ini, kalau begitu saya permisi." Sambungnya lalu beranjak dari sofa tempat dia duduk menuju pintu dan keluar dari rumah mewah itu.
Air mata kini mulai menetes membasahi pipinya, bukan hanya Kevin yang tidak menginginkannya, namun dua orang paruh baya yang masih duduk di sofa sambil melihat kepergiannya juga tidak menginginkan cucu mereka yang lahir dari rahim gadis seperti dirinya.
__ADS_1
Sebelum datang dia meyakinkan hatinya, meskipun Kevin tidak menginginka dia dan anak mereka, setidaknya dua orang tua itu, bisa menerimanya dengan tangan terbuka, namun siapalah dia ? hanya gadis miskin dengan ibu yang sakit-sakitan dan berharap menjadi menantu dari dua orang dokter yang terus saja menatap langkah kakinya meninggalkan kediaman mewah ini.
Dia tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Flora yang sudah memiliki gelar dokter di usia mudah juga terlahir dari keluarga terpandang.
Dia berfikir dia akan berhasil masuk ke keluarga ini dengan menjebak Kevin malam itu, dan mengandung darah daging laki-laki itu. Namun semua hanya tinggal angannya. Kini dia sudah melangkah keluar dari halaman rumah kewah bersama perasaan hampa penuh penyesalan dan air mata yang kian membanjiri wajah pucatnya.
Harusnya dia tidak perlu melibatkan makhluk mungil dalam kandungannya ini hanya karena obsesinya pada laki-laki itu.
Memulai kehidupan baru dengan uang berapapun yang dia inginkan tidaklah sebanding dengan hatinya sekarang. Dia mencintai laki-laki itu, namun kini dia kenyadari jika dia tidak bisa memaksakan cinta itu terbalas meskipun kini ada darah daging laki-laki itu yang berusaha tumbuh di dalam rahimnya.
"Selamat tinggal Kevin, aku berjanji ini yang terakhir kalinya aku datang." Lirih Diandra sambil mengusap perut yang masih terlihat rata. "Maafkan ibu telah menghadirkanmu dalam kehidupan yang akan penuh air mata." Sambungnya.
Menunggu taxi online yang di pesannya, Diandra kembalu menatap lekat rumah mewah yang ada di hadapannya. Meskipun dia tidak akan bisa tinggal dan menjadi bagian dari keluarga yang hampir enam tahun dia layani, namun kini dia membawa darah bagian dari keluarga ini.
Entah berapa puluh menit waktu yang dia habiskan di depan gerbang, hingga taxi online yang di pesannya kini sudah berhenti di hadapannya lalu membawanya pergi dari rumah yang tidak akan pernah dia datangi lagi seumur hidupnya.
****
Bulir bening mulai keluar dari sudut matanya, tatapannya masih melihat pintu keluar yang berapa menit lalu di lewati oleh Diandra. Mungkin inilah ikatan batin, dia begitu berat melepaskan kepergian mantan selertaris putranya itu.
"Ibu ada apa ?" Tanya Flora. Gadis itu melepaskan genggaman erat di jemarinya lalu melangkah menuju calon ibu mertuanya.
Anggun menatap sendu pada gadis yang kini sedang berdiri di hadapannya. Dilema yang kini melandanya semakin bertambah, saat ingatanya kembali pada kalimat yang di lontarkan oleh Diandra sebelum gadis itu keluar dari rumahnya.
Anggun menggeleng sambil tersenyum ke arah calon menantunya.
"Dian kemana bu ?" Tanya Flora lagi.
__ADS_1
"Dia sudah pergi nak, kamu jangan khawatirkan apapun lagi." Jawab Anggun tersemyum. Tangannya merapikan helaian rambut yang ada di wajah Flora.
Dia menyayangi keponakan adik iparnya ini sejak lama, namun hati dan fikirannya juga masih terus di hantui oleh gadia yang baru beberapa menit lalu keluar dari rumahnnya.
"Teriamaksih bu, tapi Dian tidak apa-apa kan ?" Tanya Flora.
"Dia baik-baik saja, Ayah sudah memeriksanya tadi dan bayinya sehat." Jawab Anggun bohong.
"Syukurlah." Jawab Flora.
"Ayah dimana bu ?" Tanya Kevin. Dia yakin ada sesuatu yang terjadi di ruangan ini selama dia berada di dalam kamar Flora tadi.
"Di ruang kerjanya." Jawab Anggun.
"Flo, sebentar aku mau ke ruang kerja Ayah dulu." Ucap Kevin dan di angguki oleh Flora.
***
Di ruang kerjanya Roby masih menatap keluar jendela yang ada di dalam ruang kerjanya, melihat gadis yang sedang mengandung calon cucunya belum pergi dan masih menatap kediaman mereka dengan tatapan yang begitu menyedihkan.
Ingin dia menahan gadis itu, namun dia tidak ingin mengecewakan dua keluarga besar. Sudah cukup konflik yang dulu terjadi karena adik iparnya, dan dia tidak ingin mengulanginya lagi meski harus merelakan calon cucunya jauh.
Biarlah mereka egois dan menanggung rasa bersalah kedepannya, yang terpenting saat ini tidak akan ada lagi masalah besar yang muncul di antara dua keluarga ini.
"Aku masuk Ayah." Izin Kevin dari balik pintu ruang kerja yang masih tertutup.
"Masuklah." Jawab Roby masih berdiri di tempatnya sambil menatap ke arah luar jendela ruangan. Gadis yang sedang dia amati masih berada di sana, entah apa yang sedang di tunggu gadis itu, hingga sudah berapa menit berlalu masih saja berada di sana.
__ADS_1
Kevin masuk kedalam ruangan lalu melangkah ke arah Ayahnya yang masih berdiri di depan jendela besar itu. Tatapannya mengikuti arah pandangan sang Ayah, gadis yang ingin dia temui bersama Flora tadi sudah masuk ke dalam taxi lalu pergi dari sana.
"Janin yang ada di dalam kandungannya adalah darah dagingmu Kevin." Ucap Roby.