
"Ka Leon.." Teriak Clara lalu segera menghambur memeluk tubuh tinggi Leon saat gadia itu membukakan pintu rumah mereka.
Leon terkekeh lalu membalas pelukan adiknya dengan hangat. Tangannya mengusap lembut punggung Clara dan beberapa kali mencium puncak kepala adiknya.
"Perawan tua ngapain ikut kesini ?" Tanya Clara sembari memiringkan tubuhnya melihat gadis yang berdiri di belakang sang kakak. Tangannya masih melingkar di tubuh Leon dengan eratnya.
Takk...
Kepalan jemari Flora mendarat di kepala adik sepupunya, membuat gadis itu meringis sakit.
"Sebentar lagi kakak kamu akan menikah kok." Ucap Rachel sambil berjalan ke arah anak dan keponakannya yang amsoh berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar.
"Benaran ma ?" Tanya Clara penasaran.
Rachel mengangguk
"Kemarin mama dan papa menghadiri pertunangannya dengan Bang Kevin" Jawab Rachel. "Lepasin tangan kamu, kakak kamu jadi ngga nyaman tuh." Perintah Rachel pada putrinya yang terus saja menempel pada tubuh putranya.
"Benar kakak ngga nyaman ?" Tanya Clara sambil mendongak menatap wajah Leon.
Laki-laki yang selalu saja salah tingkah dengan sikap adiknya itu hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ah maafin Clara, habisnya tubuh Ka Leon nyaman banget kalau di peluk." Ucap Clara lalu melepaskan tubuh kakanya sambil tertawa lucu. "Nanti cariin satu yang mirip Ka Leon di Rumah Sakit ya, buat di peluk." Sambungnya sambil mengedipkan matanya ke arah Leon sambil tersenyum jail.
"Boleh masuk ga nih ? aku sudah capek berdiri." Ujar Flora sambil memutar bola matanya malas melihat drama lebay adik sepupunya ini.
Rachel tertawa lalu meminta keponakannya masuk dan segera menuju ruang kerja suaminya.
"Paman Bagas sudah menunggumu di ruang kerjanya." Ucap Rachel lalu berjalan menuju ruang kerja sang suami di ikuti Flora, Leon dan juga putrinya Clara.
Di dalam ruangan Bagas baru saja selesai menerima panggilan dari Bram. Membahas beberapa maslah yang kini sedang melanda keluarga mereka. Flora yang ingin membatalkan pernikahan dengan Kevin juga tidak lagi ingin kembali ke Bali di ceritakan Bram pada sepupu istrinya itu. Bram meminta bantuannya untuk bisa sedikit merubah pendirian putrinya.
"Sayang kami masuk." Ucap Rachel dari balik pintu ruangan yang tidak tertutup rapat.
"Masuklah." Jawab Bagas.
__ADS_1
"Ini gadis bisnis ngapain ikut masuk." Ucap Bagas saat melihat putrinya yang masih bergelayut manja di lengan Leon.
"Cih, kalau ingin aku pun bisa jadi dokter." Ketus Clara membuat Bagas tersenyum.
Laki-laki yang tidak lagi mudah itu mengulurkan tangannya ke arah sang istri. Rachel meraih tangan suaminya lalu ikut duduk di samping laki-laki yang dia cintai itu.
Tiga anak mudah yang terus menatap pada sepasang suami istri paruh baya itu tersenyum lalu ikut duduk di sofa yang ada di ruang kerja. Cinta yang tidak habis termakan usia, siapa sih yang tidak menginginkan hal itu.
"Jangan baper." Bisik Clara di telinga Flora. " Mereka memang suka pamer kemesraan kaya gitu, lupa bahwa umur yang menjelang senja." Sambung Clara membuat Flora terbahak. Adik sepupu cantiknya ini memang sangat pandai membuat lelucon.
"Iyakan Ka ?" Tanya Clara ke arah Leon.
"Apaan ?" Tanya Leon balik.
"Itu pacar kamu cantik, aku lihat dia ke berkunjung ke Rumah Sakit tadi." Ujar Clara.
"Siapa ?" Tanya Bagas antusias.
"Itu loh pa, gadis cantik yang wajahnya terpampang hampir di setiap papan iklan yang ada di tengah kota. Briana Karina." Ujar Clara dengan mulut embernya.
"Kamu lagi kencan sama artis ?" Tanya Flora penasaran.
Leon menggeleng.
"Kami hanya teman sejak dulu waktu masih di Bali." Jawab Leon. "Sayangnya dia kehilangan memori masalalunya." Sambungnya.
"Jadi dia tidak mengingatmu ?" Kali ini Rachel yang bertanya penasaran.
"Sedikit Ma." Jawab Leon pelan. "Leon sedang membantunya perlahan." Sambungnya.
"Hati-hati jika menjalin hubungan dengan publik figur." Ucap Bagas memperingati putranya.
"Kami hanya teman." Jawab leon yakin. Sejak dulu gadis yang dia cintai itu selalu menolaknya, namun entah mengapa dia masih saja ingin selalu memastikan gadis itu baik-baik saja.
"Tidak masalah, hanya saja jika memilih menjalin hubungan dengan artis atau sejenisnya, maka bersiaplah privasi yang akan selalu terusik oleh media." Ucap Rachel.
__ADS_1
Leon mengangguk mengerti. Dia sangat tahu, Briana mengunjungi Rumah Sakit jika itu sudah sangat mendesak. dia harus bersembunyi dari kejaran paparzi.
Setahun lalu sebelum keberangkatannya ke Singapura, mereka akan memilih berkonsultasi di dalam apartemen gadis itu. Namun sekarang akan sulit mencari waktu luang karena sekarang tugas dan tanggung jawabnya di Rumah sakit semakin banyak. Leon tidak lagi punya waktu banyak untuk bisa di habiskan dengan gadis itu, hingga hari ini Briana yang memutuskan untuk datang ke Rumah Sakit.
"Siapapun itu, apapun pekerjaanya bukanlah masalah. Saling menjaga adalah hal yang utama dalam setiap hubungan." Ucap Bagas. "Papa ingin bicara berdua dengan Flora." Sambungnya meminta izin.
Rachel mengerti lalu segera membawa kedua anaknya keluar dari ruang kerja suaminya. Memberikan privasi untuk suami dan keponakannya itu untuk berbicara.
"Jadi apa menjadi dokter menyenangkan ?" Tanya Bagas memulai percakapan saat ointu ruangan kembali tertutup rapat.
Flora mengangguk sambil tersenyum ke arah Bagas.
Dokter adalah kehidupannya, sejak kecil dia sudah sangat terobsesi dengan dunia medis yang sudah menjadi keturunan keluarga besarnya.
"Rumah Sakit di Bali membutuhkan tenaga lebih nak, kenpa ingin pindah ?" Tanya Bagas.
"Flora ingin fokus untuk menangani pasien Paman, di Bali terlalu banyak masalah yang menghimpit." Jawab Flora.
"Selama kita masih hidup, selama itu pula masalah akan terus datang." Ujar Bagas. "Masalah bukan untuk di hindari, tapi harus di hadapi." Sambungnya.
Flora terdiam, Pamannya ini memang benar. Namun benang kusut yang mengganggunya terasa begitu sulit di uraikan.
Ingin beranjak namun ada sesuatu yang seakan mengikatnya. Begitu pula saat mulai mencoba bertahan, kesakitan akan selalu datang menggerogoti hatinya.
"Bertemu lalu selesaikan. Kevin anak yang baik, semua ini memang berawal dari kesalahan Papi kamu." Jelas Bagas. "Dia meminta anak mudah yang masih labil untuk mengikuti jejaknya, berharap suatu saat nanti ada yang menggantikkanya di perusahaan. Dan Kevin membuktikan itu. Dia membuktikan bahwa dia layak dan pantas di samping kamu." sambungnya panjang lebar.
"Tapi dia menghadirkan wanita dalam hubungan kami, dan bahkan sampai menghamilinya Paman. Bagaimana aku bisa tetap melanjutkan pernikahan ini sementara di luar sana ada yang jauh lebih membutuhkan tanggung jawabnya." Bantah Flora.
"Kamu juga menghadirkan laki-laki lain Flora, jangan lupakan itu. Kamu pun ikut andil dalam masalah yang kini melanda hubungan kalian, jadi kamu berkewajiban membantunya untuk keluar dari masalah ini. Soal bayi yang entah di mana sekarang, Paman fikir Kevin benar, gadis itu sengaja menciptakan masalah dalam dirinya sendiri dan yang terpentingkan Ayah Robby sudah memberikan kompensasi yang pantas." Ujar Bagas.
Beberapa saat Flora terdiam, mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut pamannya, dan memang benar adanya. Tidak hanya dia yang tersakiti dalam hubungan ini, Kevin pun sama sakitnya.
"Flora akan memikirkannya Paman, namun sebelum itu tolong bantu semua pengalihan data Flora ke Rumah Sakit pusat."
Bagas mengangguk menegerti. Dia akan membicarakan ini dengan Anggun nanti. Biarlah Flora di Jakarta, yang terpenting satu masalah mulai bisa mendapat jalan keluarnya.
__ADS_1