Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Kunjungan


__ADS_3

**Happy Reading yaa 😊**


Flora menatap lekat beberapa buah undangan mewah yang berjejer di atas mejanya. Sebuah paket yang di kirimkan oleh calon ibu mertuanya hari ini berisi contoh design undangan, dan wanita yang menjadi pabutannya sejak dulu itu memintanya untuk memilih salah satu yang akan mereka gunakan nanti.


Entahlah, bukan tidak lagi ingin namun rasanya semangat semasa kuliah dulu kala membayangkan pernikahannya dengan Kevin meluap entah kemana. Dia hanya akan menurut saja apa yang akan di siapkan oleh calon ibu mertuanya untuk pemberkatan pernikahan mereka yang akan di gelar di pulau dewata Bali.


Sejak menyetujui untuk melanjutkan pernikahan, dan meminta Kevin untuk memberinya kebebasan di Jakarta, laki-laki itu jarang menemuinya. Beberapa kali Kevin yang memang sudah kembali melakukan aktivitas padatnya di Bali, datang berkunjung ke Jakarta namun laki-laki yang sebulan lagi akan menjadi suaminya itu hanya sering menghabiskan waktu bersama sang Papi.


Sudah dua bulan berlalu, tidak ada perubahan dalam hubungan mereka bahkan terkesan semakin terbentang jarak dan Flora tidak lagi perduli apapun. Dia hanya ingin menjalani setiap detik waktu yang ada.


Tidak ada dering ponsel atau notifikasi pesan dari nomor laki-laki itu untuknya.


Tidak ada ucapan perhatian saat makan siang, atau selamat mimpi indah kalah malam menjelang seperti pasangan calon pengantin pada umumnya.


Mereka punya kesibukan masing-masing. Profesinya sebagai dokter bedah yang bertugas di Unit Gawat Darurat di Rumah Sakit yang tidak pernah sepi pengunjung, menyita waktu dan tenaganya.


Kevin pun yang mulai menghandel dua perusahaan sekaligus, tidak lagi punya kesempatan untuk mengganggu kehidupannya. Sang Papi yang mulai menyerahkan Perusahaan keluarga pada Kevin, sementara laki-laki itu pun masih memegang tanggung jawabnya di SN Company cabang Bali.


Flora tidak lagi perduli, tujuan sang Papi sejak dulu meminta Kevin membelok ke dunia bisnis karena hal itu. Dan dengan seenak jidatnya Kevin memilih menyetujuinya tanpa membicarkan hal itu dengannya.


Mereka sudah saling mengenal hampir sepanjang usia mereka, namun kini bagaikan orang asing yang sedang terlibat perjodohan paksa dari kedua orang tua mereka.


Mami dan Ibu mereka begitu bersemangat menyiapkan semuanya, namun tidak dengan mereka berdua yang harusnya menyambut hari bahagia itu dengan suka cita.


Tujuan mereka sejak awal adalah menikah dan hidup bahagia bersama, namun seakan tujuan itu sudah menjadi daftar hitam dalam catatan keinginan keduanya.


Flora tersenyum miris sembari mengangkat salah satu contoh design undangan mewah di tangannya. Menatap kertas yang begitu mewah dan elegan itu dengan begitu lekat. Entah pernikahan seperti apa yang akan dia jalani setelah ini, dia meragu namun seakan tidak memiliki pilihan lain selain melakukannya.


Bukan kehidupan seperti ini yang dia inginkan, namun sepertinya takdirnya memang sudah terikat dengan laki-laki itu.


"Dokter, ada pasien kecelakaan sedang dalam perjalanan ke sini ." Suara perawat yang menjadi asistennya dua bulan ini menyadarkan Flora dari lamunan.


Gegas Flora mengambil stetoskop lalu menyimpannya di dalam saku snelly yang masih melekat di tubuhnya lalu melangkah keluar dari dalam ruangan.

__ADS_1


Dengan langkah cepat juga di ikuti oleh dokter Gia, dokter senior yang juga bertanggung jawab di UGD. Keduanya bergegas menuju pintu depan UGD menunggu ambulance yang sedang mengantar dua pasien yang sedang dalam perjalanan menuju Rumah sakit ini.


Seorang petugas menarik bangkar pasien dari dalam ambulance, seorang ibu dan seorang pemuda kini di dorong masuk kedalam Unit Gawat Darurat di ikuti seorang gadis yang terus menangis.


Flora segera menangani pasien laki-laki yang kakinya sudah di lilit dengan kain oleh petugas medis yang ada di ambulance, sedang dokter Gia mulai menangani wanita paruh baya.


Flora bernafas lega setelah menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya. Laki-laki yang dia tangani tidak terlalu parah, tidak ada bagian vital yang rusak hanya tulang kaki yang terkilir namun tidak terlalu parah dan akan sembuh dengan cepat.


Flora meminta perawat untuk membawa pasien yang baru saja dia tangani ke dalam ruang perawatan.


"Bagaimana keadaan ibu saya dok ?" Suara pemuda yang baru saja dia tangani membuat langkah kaki Flora yang hendak keluar dari dalam ruangan terhenti.


"Ibu anda masih dalam penanganan, pasti akan segera di kabari setelah selesai. Istirahlah." Jawab Flora lalu keluar bersama dengan bed pasien yang di dorong oleh perawat menuju ruang perawatan.


"Mas Andra." Ucap gadis belia yang sejak tadi menunggu di depan ruangan tempat sang kaka dan ibu nya di rawat.


"Bagaimana keadaan ibu Ra ?" Tanya Andra saat adiknya ikut melangkah mengikuti bed tempat dia berbaring menuju perawatan.


Andra sudah berada di dalam ruangan perawatan, suster yang membantu Flora selesai merapikan dan menggantung botol infus pada tempatnta.


"Maafin Mas ya Ra, ngga bisa jagain ibu." Andra melirih.


"Insha Allah semua baik-baik saja, Mas harus istirahat dulu." Ucap Fara.


Flora mengamati interaksi ke dua kaka beradik di hadapannya sambil kembali memeriksa beberapa bagian Vital untuk memastikan semuanya sudah kembali normal.


"Terimakasih Dokter." Ucap Farah membungkuk hormat saat Flora meminta izin untuk keluar dari ruangan.


"Sudah tugas saya, semoga kakanya cepat sembuh ya." Ucap Flora lalu keluar dari ruangan meninggalkan kedua kaka beradik itu disana.


Dengan langkah cepat Flora kembali berjalan menuju UGD tempat wanita paruh baya itu berada. Dia ingin menanyakan kondisi wanita itu pada rekan yang menangani tadi.


Nafas lega kembali dia hemubuskan setelah mendengar penjelasan.

__ADS_1


"Meskipun belum sadar namun ibu itu bisa melewati masa kritisnya." Ucap rekan sesama dokternya. "Heran kamu tuh, kalau baperan harusnya jadi artis bukan dokter." Sambung Dokter wanita yang lebih senior darinya itu. Flora yang cepat terbawa perasaan saat ada pasien yang masuk ke Rumah Sakit ini membuatnya heran.


Senyum Flora terlihat manis di wajah mungilnyan rambut yang biasanya tergerai indah di punggungnya akan selalu terikat rapi saat dia berada di rumah sakit.


"Gimana rasanya jadi calon menantu Dokter Anggun ?" Tanya Gia.


"Biasa aja tuh." Jawab Flora cuek. Sejujurnya dia sangat bangga bisa menjadi bagian dari hidup dokter andalan di Rumah Sakit ini, namun Kevin mematahkan segalanya.


"Aku dengar kalian pacaran sejak Balita ya ?" Tanya Gia lagi dengan wajah penasarannya.


"Ka Gia jangan kepo, nanti ngga dapat jodoh." Ujar Flora sambil terkekeh mengejek lalu meninggalkan seniornya yang sudah menatapnya tajam menuju ruangannya.


****


Apa mereka pacaran sejak Balita ? itu berlebihan. Mana ada anak yang baru menginjak usia empat tahun sudah bisa berpacaran.


Tapi memang benar adanya, Kevin yang selalu mengikutinya saat mereka masih balita. Laki-laki itu seakan tidak pernah bosan untuk menginterupsi setiap kata yang memang belum sempurnah saat dia ucapkan.


Bohong jika dia tidak merindukan masa indah itu, namun semuanya hanya tinggal kenangan seperti yang terjadi pada orang lain.


Dulu dia berfikir jika kenangan masa kecil mereka itu sangat berharga dan hanya dia yang memilikinya, namun kini dia menyadari jika semua orang memang memiliki kenangan yang indah maupun buruk dalam kehidupan.


Untuk itu dia tidak lagi merasa terbebani atau berandai-andai untuk kembali ke masa itu. Karena memang waktu tidak akan pernah bisa kembali. Kemarin adalah kemarin, hari ini adalah hari ini begitu pula besok biarlah akan menjadi besok. Dia tidak lagi ingin menyakut pautkan soal apapun dan hanya ingin menjalaninya saja.


*****


"Ada apa ?" Tanya Flora mengerinyit heran menatap asistennya yang terus mondar mandir bagaikan setrikaan di depan pintu ruangannya.


"Maaf Dok." Ucap Lia pelan.


Flora tidak menghiraukan asistennya lalu membuka pintu ruangannya dengan cepat.


Laki-laki yang terus saja memenuhi or6aknya kini sedang duduk di sofa di dalam ruangannya, meskipun enggan Flora tetap melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangannya namun memilih melangkah menuju kursi kebesarannya tanpa menghiraukan tatapan Kevin yang erus mengikuti langkah kakinya.

__ADS_1


__ADS_2