
Flora menggeram kesal di dalam mobil sport miliknya, saat klakson mobil yang berada di belakan mobilnya kembali terdengar nyaring dan hampir merusak gendang telingannya.
Bisa tidak orang-orang ini sedikit bersabar, semua orang ingin segera sampai ke tempat tujuan masing-masing namun apalah daya jalanan Jakarta memang sudah seperti ini sejak dulu. Jika tidak punya kesabaran ekstra, maka lebih baik segera angkat kaki dari kota metropolitan ini.
Siang begitu terik, namun para pedagang kaki lima yang sedang menjajakan jualan mereka seakan tidak merasa panasnya mentari yang menyentuh kulit mereka. Lampu merah yang menghentikan kenderaan, di jalanan padat tidak akan mereka sia-siakan.
Satu per satu anak kecil hingga dewasa mulai mendekati mobil-mobil yang berhenti di jalanan untuk menjajakan jualan mereka.
"Permisi" Ketukan di kaca jendela mobilnya membuat Flora tersadar dari lamunan. Dengan perlahan kaca mobil mewah itu terbuka, seorang anak kecil yang mungkin baru berusia delapan tahun menawarkan jualannya pada Flora.
"Minumnya Mbak." Suara bocah laki-laki itu kembali terdengar.
"Flora mengambil dua lembar uang seratua ribuan dari dalam tas branded nya, lalu menyerahkan uang tersebut pada anak kecil yang masih berdiri di samping mobilnya.
"Per botol hanya lima ribu rupiah mbak." Tolak anak itu saat Flora menyodorkan dua lembar uang berwarna merah untuk di tukar dengan sebotol air mineral.
Flora tersenyum, dia memasukkan uang dua ratus ribu itu ke dalam sakun kemeja yang terlihat sudah sangat lusuh, lalu meraih satu botol air mineral yang anak laki-laki itu sodorkan ke arahnya.
"Terimakasih, semoga Allah selalu menjaga mbak." Ucap anak itu dengan binar di matanya.
Flora mengangguk lalu kembali menutup kaca jendela mobilnya. Lampu yang ada di atas tiang sana mulai berganti warna, itu berarti dia harus bersiap untuk menjalankan mobilnya agar tidak di teriaki oleh pengendara yang lain.
Flora menatap sebotol air kemasan dengan merk terkenal itu lalu menghembuskan nafasnya. Bagaimana bisa dia mengeluh hari ini dengan kelebihan yang Tuhan beri untuknya hingga kini, sedangkan anak yang seharusnya masih menikmati masa bermain harus rela ber panas-panasan agar bisa menyambung hidupnya.
Tidak seharusnya dia berlarut dalam luka, laki-laki itu sudah menentukan pilihan. Bukankah dia sudah mencegah nya ? namun jika Kevin tetap memilih pergi, maka dia berkewajiban untuk merelakan laki-laki itu.
Semua orang punya masalah masing-masing, dan setiap masalah akan selalu punya jalan keluarnya juga.
Mungkin suatu hari nanti akan ada yang mengulurkan tangan lalu menariknya keluar dari masalah ini. Sama seperti yang dia lakukan tadi, Seperti halnya uang yang dia berikan pada anak kecil tadi, yang juga ikut membantu meringankan masalah keuangan yang sedang anak itu hadapi.
Mobil sport mewah miliknya berhenti di depan rumah mewah yang sudah lama tidak pernah dia kunjungi. Sejak kecil dia akan betah menghabiskan waktu disini untuk bermain bersama Kevin, atau sekedar menghabiskan waktunya untuk menjaili Gama.
Seorang petugas keamanan sudah membuka pintu gerbang besi itu dan mempersilahkan mobilnya masuk ke dalam pelataran rumah utama keluarga Sanjaya.
Senyum miris kembali terlihat di bibirnya, dia tidak berhasil menjadi bagian dari keluarga ini. Wajahnya kembali sendu, bagaimana bisa Kevin tetap memilih pergi, padahal dia sudah menahan laki-laki itu.
"Iya sayang.." Jawab seorang wanita dari ujung ponselnya.
__ADS_1
"Aunti, hm Flo sudah di depan rumah." Ucapnya.
"Masuk dong sayang."
Flora mengakhiri panggilan di ponselnya, lalu menarik nafasnya berat kemudian keluar dari dalam mobilnya. Wanita yang masih saja terlihat cantik sudah terlihat di ambang pintu rumah sambil melambaikan tangan ke arahnya.
Flora melangkah dengan perasaan berkecamuk, berusaha keras untuk tidak lagi memperdulikan apa yang menimpanya pagi ini, namun tetap saja, dadanya terasa sesak.
"Sini sayang.." Ucap Keyla lalu meraih tangan keponakan cantiknya.
"Happy Birthday nak." Ucap Rosa saat melihat putri dan adik iparnya masuk ke dalam rumah utama.
Flora terdiam, tatapannya tertuju pada calon Ibu mertuanya yang sedang memegang kue tart dengan lilin yang menyala di atasnya.
Dadanya bergemuruh, air matanya luruh tanpa bisa dia cegah. Mengalir begitu saja di pipi mulusnya.
Keyla mengusap air mata yang jatuh di pipi gadis kecilnya, lalu meraih tubuh yang sudah hampir menyamai tubuhnya itu ke dalam dekapan.
"Bahagia selalu Flo." Ucap Keyla.
Flora menggeleng sambil terisak di bahu Keyla.
Keyla melepaskan dekapannya di tubuh Flora dan membiarkan gadis kecilnya untuk meminta sesuatu di hari ini.
Gadis cantik dengan rambut panjang terurai segera menautkan jemarinya lalu menutup matanya. Permohonan yang hanya bisa di dengar oleh Tuhan itu dia utarakan di dalam hati terdalamnya.
Setelah beberapa saat ruangan itu begitu hening, kembali di riuhkan oleh tepuk tangan keluarga yang ada di sana, setelah Flora selesai memadamkan cahaya lilin yang ada di atas kue tart.
Flora mengendarkan pandangannya, semua orang penting dalam hidupnya berkumpul di dalam ruangan ini, namun laki-laki itu sama sekali tidak terlihat di sana.
Sebuah senyum miris kembali terlihat di bibirnya, hingga cairan bening mulai kembali meluncur di pipinya.
Bram segera melangkah lalu membawa tubuh putrinya ke dalam dekapan.
"Hari bahagia kok malah nangis." Ucap Bram di sertai kekehan di mulutnya. Dia tahu apa yang membuat air mata putrinya kembali menetes ini. Jika saja calon menantunya itu tidak memohon-mohin, sungguh dia tidak mau mengerjai putri semata wayangnya ini.
Semua keluarga sudah duduk di ruang keluarga yang sudah di dekorasi dengan sangat indah, bahkan bebrapa untai pita dan bunga sudah menghias di beberapa sudut rumah ini.
__ADS_1
"Apa semua ini di siapkan untuk ulang tahun Flo?" Tanya Flora pada Aunty kesayangannya.
Keyla mengangguk mengiyakan.
Flora kembali mengedarkan pandangannya di setiap sudut ruangan, "ini sangat indah." Gumamnya.
"Kamu suka ?" Tanya Anggun.
"Iya bu, Flora menyukainya. Terimakasih untuk hari ini." Jawab Flora.
Keyla mengajak Flora ke dalam kamar yang sudah dia siapkan.
Setelah kepergian Keyla dan Flora, Anggun dan Rosa juga ikut beranjak dari ruang keluarga untuk mempersiapkan diri mereka masing-masing untuk menyambut hari bahagia dari anak mereka.
Setiap anak tangga di tapaki Flora satu per satu, pandangannya masih menatap pada bunga-bunga yang menghias di sepanjang tangga. Juga kain berwarna putih gading yang menjuntai menghiasi pegangan tangga yang dia lewati.
"Aunty..
Flora tercekat melihat gaun pengantin yang terpasang di manekin di dalam kamar yang selalu Kevin gunakan dulu.
Tatapannya menapaki setiap sudut kamar yang sudah berapa tahun tidak pernah dia masuki ini. Matanya ber kaca-kaca saat menatap wajahnya terpajang menghiasi dinding kamar ini. Juga pigura kecil yang ada di atas nakas kembali membuat dadanya sesak.
Air mata yang memang sejak tadi terus mengalir, kembali membasahi pipinya.
"Berhentilah menangis, nanti mata kamu bengkak dan cantiknya hilang." Ujar Keyla. "Mandi sana, ngga mungkin kan saat pemberkatan nanti tubuhmu masih tercium bau obat seperti ini." Sambungnya dengan senyum lucu.
Flora terdiam, pemberkatan ? dirinya ?
Ya Tuhan dia tidak sedang bermimpi kan ?
Tapi bagaiaman bisa ? sejak tadi laki-laki itu tidak terlihat batang hidungnya.
"Dia ada di bawah, dan sedang bersiap untuk menyambut dan membawamu ke altar" Ucap Keyla. Sebuah senyum terlihat di bibirnya. " Ayo sana, Aunty juga butuh merias diri." Dorong Keyla pada tubuh Flora agar segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Aunty...
"Kevin sangat mencintaimu, bantu dia untuk memperbaiki semua yang rusak beberapa tahun ini." Sela Keyla. "Ayo cepat, kita tidak banyak waktu untuk bersiap." Sambungnya lagi.
__ADS_1
Masih dengan perasaan gamang, Flora pun mengikuti perintah Keyla dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Biarlah dia akan mendengar penjelasan dari Kevin nanti.