Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Jebakan


__ADS_3

** Maaf yah jika tulisan ini belum sesuai ekspektasi dari teman-teman semua, jujur aku masih amatiran banget soal tulis menulis dan mungkin teman-teman sering mendapati bahasa Indonesia yang kurang baik. Si othor amatiran ini berasal dari Sulawesi Utara, dan bahasa sehari-hari tidak menggunakan bahasa Indonesia baku. Jadi sedikit sulit dalam menjabarkan kalimat. Harap maklum yaa, dan selamat membaca semuanya. Maaf hari ini telat upnya, pekerjaan di kantor lagi banyak-banyaknya. 😊😊**


***


"Aku akan mematahkan tanganmu." Ucap Kevin sambil berlari keluar dari mobilnya menyusul Flora. Gadis yang memiliki kehalian dalam membuat orang kesal itu sudah berlari menuju pintu rumah setelah membanting pintu mobil Kevin dengan keras.


"Aaaa, ampun Vin. Oke, oke aku nyerah. Maafkan aku." Mohon Flora saat Kevin sudah berhasil menangkap tangannya.


"Gak akan, aku benar-benar kesal hari ini." Ucap Kevin lalu menjepit leher gadis itu menggunakan lengannya.


Flora melangkah di hadapan Kevin sambil terkekeh geli saat lengan laki-laki itu menyentuh leher jenjangnya.


"Kevin geli, lepaskan aku." Ucap Flora masih dengan tawanya yang begitu lepas.


"Ga akan." Jawab Kevin lalu mendorong pintu rumah milik orang tuanya menggunakan kaki panjangnya.


***


Tawa riang Flora seketika terhenti, tubuhnya mematung di tempatnya saat pintu rumah terbuka lebar.


Gadis yang siang tadi di pukulinya kini sedang duduk di dalam ruangan bersama calon Ayah dan ibu mertuanya.


Kevin melepaskan tangannya dari leher Flora, lalu ikut melihat ke arah tatapan Flora. Dia menautkan keningnya menahan kesal saat melihat gadis yang di pecatnya tadi kini sedang duduk tepat di hadapan kedua orang tuanya masih dengan stelan kantor yang di lihatnya tadi siang.


Anggun melihat ke arah putra dan calon menantu kesayangannya dengan tatapan penuh kesedihan.


"Flo ikut Ibu ke dalam kamar ya nak." Ucap Anggun sambil beranjak dari samping suaminya kenuju Flora dan Kevin berada. "Selesaikan masalahmu." Sambung Anggun saat sudah di hadapan putra dan calon menantunya. Tatapan penuh kekecewaan kini terlihat jelas di matanya saat melihat putra semata wayangnya.

__ADS_1


"Ada apa bu ?" Tanya Flora sambil mengikuti langkah kaki Anggun menuju kamar tidurnya.


Anggun masuk kedalam kamar tamu yang hampir dua bulan ini di tempati oleh calon menantunya ini lalu kembali menutup pintu kamar itu dengan perlahan.


"Maafkan Kevin jika sudah menyakitimu nak." Ucap Anggun penuh sesal lalu melangkah menuju ranjang.


"Apa yang terjadi bu ?" Tanya Flora lagi sambil mengikuti calon ibu mertuanya itu, lalu ikut duduk di tepi ranjang.


"Sekertaris Kevin sedang mengandung sekarang, Dian sudah terlambat datang bulan dua minggu." Jawab Anggun membuat Flora menegang.


"Aku akan membunuh gadis itu sekarang juga." Ucap Flora kesal lalu beranjak dari sisi ranjang menuju pintu kamar, namun Anggun juga ikut berdiri lalu segera meraih lengan calon menantunya.


"Bu, aku sudah memberitahu gadis itu tentang pernikahan aku dan Kevin sejak dua bulan yang lalu, namun sepertinya gadis itu memang sengaja ingin berada di sisi Kevin dan merusak rencana pernikahan kami." Ujar Flora pelan.


"Maafkan Ibu, bukan karena tidak menyayangimu namun mengertilah. Kamu juga wanita juga seorang dokter, gadis itu sedang mengandung." Ucap Anggun membuat Flora terdiam menatap calon mertuanya. Air mata yang sejak tadi berusaha ditahannya, kini mulai menetes dari mata indahnya.


Tubuh mungil Flora sudah bersandar di bahu calon mertuanya dengan isakan yang begitu jelas terdengar.


"Bu, aku harus bagaimana ? Aku sangat mencintai Kevin bu." Ucap Flora bersamaan dengan isak tangis yang semakin membuat Anggun merasa bersalah. Dia telah gagal mendidik putranya untuk menjadi laki-laki yang baik. Dan kini dia di hadapakan dengan pilihan yang begitu sulit, sungguh dia ingin mengabaikan sekertaris putranya itu, namun tidak dengan janin yang baru saja di pastikannya sore ini memang benar-benar sedang tumbuh di dalam rahim gadis itu


Suara Anggun seakan tertahan di tenggorokannya saat tangisan menyayat hati terus meluncur dari mulut calon menantunya. Tidak ada yang bisa dia ucapakan, hanya usapan lembut di rambut panjang Flora yang bisa dia lakukan saat ini. Membiarkan gadis itu puas menangisi sakit hatinya.


***


Di dalam ruang tamu Kevin menatap nyalang pada gadis yang masih terus menunduk di hadapannya.


Dokter Roby sudah beranjak dari ruang tamu setelah meninggalkan bekas tamparan juga darah di sudut bibir putra semata wayangnya yang kini membuatnya kecewa.

__ADS_1


"Kamu sedang menjebakku dengan bayi yang belum bisa di pastikan apakah benar darah dagingku itu ?" Ucap Kevin tajam. Sebrengsek apapun dia, sungguh dia ingin wanita yang baik untuk menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.


Wanita di hadapannya ini begitu terobsesi dengan uang, Kevin sudah menjamin semua biaya pengobatan ibu sekertarisnya ini, namun informasi tentang Diandra yang sering di booking beberapa kliennya masih saja sampai ke telinganya.


"Aku bahkan tidak pernah lupa memakai pengaman saat menidurimu karena takut penyakit yang mungkin kamu dapati dari laki-laki lain ikut menjangkitiku." Ucap Kevin lagi masih dengan suara juga tatapan tajamnya.


Diandra masih diam membisu, semua hinaan yang meluncur dari mulut atasannya ini benar adanya. Dia memang se murahan itu.


Kevin tidak lagi bersuara, hanya nafas memburu penuh kekesalan yang begitu jelas terdengar di dalam ruangan.


"Tapi ini anak kamu Kevin." Jawab Diandra pelan setelah sekian menit ruangan itu begitu hening.


"Apa buktinya ?" Tanya Kevin.


"Buktinya karena kamu pernah meniduriku." Jawab Dian masih menatap tangannya yang saling bertaut di atas rok hitamya.


"Itu berati ada kemungkinan jika janin itu juga anak dari laki-laki lain yang juga pernah menidurimu." Ucap Kevin dingin. "Baiklah, jika kamu bisa membuktikan jika janin yang ada di dalam kandungan kamu itu benar-benar anak aku, maka aku akan bersedia bertanggung jawab." Putusnya final.


"Bagaimana cara membuktikan bayi yang masih berada di dalam kandungan ?" Tanya Diandra sambil menata gugup ke arah Kevin.


"Ibuku seorang dokter, kamu bisa menanyakan padanya soal itu." Ucap Kevin lalu berdiri dari sofa tempat dia duduk. Tujuannya adalah kamar dimana Flora berada dan menjelaskan semuanya.


Dia sangat yakin jika Dian sedang menjebaknya, dan dia harus menjelaskan soal ini pada Flora. Hubungan mereka baru saja membaik, dia baru saja memutuskan untuk melanjutkan kisah mereka yang sempat terdiam dan kini masalah baru kembali muncul.


"Kevin berikan saja aku uang, dan aku akan segera pergi menjauh dari hidup kalian." Ujar Diandra seketika menahan langkah kaki Kevin.


Kevin menyeringai, dia sudah menebak soal ini. Bagaiman bisa itu darah dagingnya, Gina selalu membantunya untuk memastikan setiap wanita yang dia tiduri tidak akan datang merengek meminta pertanggung jawabannya.

__ADS_1


"Seharusnya kamu memastikan dulu sebelum berencana menjebakku. Sudah empat bulan ini aku tidak lagi menidurimu, jika kamu benar-benar mengandung anakku, seharusnya perutmu sudah besar sekarang." Ucap Kevin dengan nada yang menghina. "Kamu datang pada orang yang salah Dian, selama ini aku memakai tubuhmu dengan bayaran setimpal. Uang yang aku habiskan untuk pengobatan ibumu, di luar dari yang aku berikan untuk dirimu sendiri, dan bagaiman bisa kamu masih menjadi wanita tidak tahu diri seperti ini." Sambungnya lalu bergegas melangkah menuju kamar dimana Flora berada.


__ADS_2