
"Morning wife." Kecup Kevin di mata yang mulai terbuka perlahan.
"Morning." Balas Flora lalu memeluk tubuh Kevin yang sedang berbaring di sampingnya. "Kamu sudah mandi ya." Tanyannya sambil menghirup wangi tubuh suaminya.
"Hm, aku bahkan sudah selesai sarapan bersama Ibu dan yang lainnya." Jawab Kevin.
Mata Flora yang masih ingin tertutup seketika terbelalak setelah mendengar kalimat yang meluncur dari mulut Kevin. Oh kutuklah dia, ini hari pertamanya menjadi menantu di keluarga ini, dan dia sudah memberikan kesan yang buruk di hari pertamanya.
"Mau kemana ?" Tanya Kevin saat Flora melepaskan pelukan di tubuhnya dan mulai beranjak dari atas ranjang bersama selimut tebal yang menutupi tubuh polos dengan banyak jejak kepemilikannya di sana.
"Mau mandi, lalu minta maaf ke Ibu." Ucapnya. Dengan susah payah dia turun dari ranjang karena perih di pangkal pahanya masih begitu terasa.
"Kevinnn...." Teriak Flora saat suaminya itu tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan membawanya ke dalam kamar mandi.
Selimut yang melilit tubuhnya sudah teronggok begitu saja di atas lantai kamar mereka.
"Kamu menyiapkan ini ?" Tanya Flora saat tubuhnya sudah terendam di dalam bathtub yang sudah di penuhi busa.
Kevin mengangguk lalu berjongkok di samping bathtub yang sudah dia siapkan untuk Flora selesai mandi tadi, lalu mengusap lembut pipi istrinya.
"Terimakasih, keluarlah kamu akan basah nanti." Ucap Flora.
Kevin mengangguk, namun beberapa menit berlalu dia masih tetap berada di sana sambil menatap lekat wajah cantik istrinya.
"Keluarlah." Ucap Flora lagi.
"Baiklah, jangan berlama-lama kamu belum sarapan." Ujar Kevin lalu keluar dari dalam kamar mandi setelah mengecup bibir mungil istrinya.
"Dasar, bikin berdebar saja." Gumam Flora saat tubuh Kevin sudah menghilang di balik pintu kamar mandi yang kembali tertutup rapat.
Senyum bahagia kembali terbirit di bibirnya, kata semoga mulai dia utarakan di dalam hatinya sambil menatap pintu kamar mandi yang baru saja di lewati Kevin. Tidak ada yang bisa mengukur seberapa dalam rasa yang dia miliki untuk laki-laki yang baru saja menghilang di sana, untuk itu kata semoga akan selalu dia gumamkan di dalam hati agar Tuhan akan mendengarkan apa yang dia semogakan di lubuk hati terdalamnya.
Tidak banyak yang dia inginkan, cukup terus seperti ini hingga menua nanti. Memiliki rasa sebanyak ini, dan akan terbalas dengan semestinya seperti hari ini sudah jauh lebih cukup menurutnya.
******
Dres selutut berwarna dongker sudah melekat indah di tubuh rampingnya. Rambut panjang yang masih sedikit lembab di biarkan terurai indah di punggungnya.
__ADS_1
"Selamat pagi gadis yang sudah menjadi seorang wanita." Goda Keyla saat Flora masuk ke dalam dapur. Terlihat jelas langkah Flora yang sedang menahan sesuatu di sana, dan karena memang hal ini sudah pernah dia lalui maka tidak sulit untuk menebak jika keponakannya ini tidak lagi berlabel gadis pagi ini.
Wajah Flora merona mendengar godaan Aunty kesayangannya, terlebih lagi ibu mertuanya juga berada di sana.
"Maaf Bu, Flora terlambat bangun." Sesalnya.
"Jangan terlalu di fikirkan, Ibu juga sama seperti kamu kok dulu. Untung saja kami berada di Apartemen di Prancis, makan pun Aunty kamu ini yang menyiapkan." Ujar Anggun sambil terkekeh pelan. Kisah manisnya bersama Robby di plat Apartemen di Paris kembali melintas.
"Jadi Kak Anggun bohong ya waktu itu, aku fikir kaka emang benaran sakit loh." Ucap Keyla.
"Iya emang sakit, sakit banget malah. Iya kan Flo ? masih sakit kan ?" Tanya Anggun.
"Iya kenapa kok bisa perih gitu ya Bu ?" Tanya Flora dengan mata polosnya.
Anggun dan Keyla seketika terbahak mendengar pertanyaan yang di utarakan oleh menantu baru di keluarga Sanjaya ini.
"Kenapa ?" Tanya Flora dengan wajah memerah malu, dia menyadari jika pertanyaannya begitu bodoh di hadapan dua wanita yang sudah berpengalaman ini.
"Emang sampe jam berapa semalam Flo ?" Tanya Keyla.
"Cih, Aunty benar-benar deh." Dengus Keyla lalu beranjak dari meja makan menuju kulkas untuk melihat apa masih ada yang bisa dia gunakan untuk mengganjal perutnya pagi ini.
"Ayah dan Om Gerry kemana ?" Tanya Flora setelah menyelesaikan sarapannya.
"Ada di taman belakang sama Opa dan Kevin juga." Jawab Anggun. "Flo mau ke mall ngga ?" Tanyanya.
"Kayaknya tidak bisa hari ini deh Bu, masih sakit dan maunya istirahat aja." Jawab Flora.
"Kita jalan-jalan aja Flo, jangan mengurung diri di dalam kamar." Ajak Keyla. "Masih jadi pengantin baru seperti ini, pantang untuk berada di dalam kamar." Sambungnya.
"Kenapa ?" Tanya Flora.
"Boro-boro istirahat, paling di babat lagi." Jawab Anggun dan di angguki oleh Keyla lalu dua wanita yang sudah berumur namun masih terlihat cantik itu kembali tertawa keras.
"Jangan di goda terus menantunya Bu, nanti Kevin ngga bakal dapat jatah lagi."
Flora mendengus kesal, saat melihat tatapan jail di pintu dapur.
__ADS_1
Keyla dan Anggun kembali tertawa.
"Fikirkan ajakan Ibu, jangan sampai monsternya akan kembali menerkammu pagi ini." Ucap Anggun lalu mengajak Keyla pergi dari sana.
"Mau kemana ?" Tanya Kevin sambil merentangakn tangannya saat melihat Flora juga ikut keluar dari dapur.
"Apa sih, minggir aku mau istirahat." Kesal Flora karena tangan suaminya sudah merengkuh tubuhnya erat.
"Tahu tempat dong, nanti mbok di dapur baper. Suaminya jauh, ga ada yang bisa tanggung jawab." Jewel Anggun di telinga putranya.
Flora tertawa penuh kemenangan lalu dengan cepat melangkah meninggalkan suaminya yang sedang merintih kesakitan di pintu pembatas dapur.
*******
Flora duduk di atas ranjang, memeriksa benda pipih yang tidak dia sentuh sejak semalam karena suaminya yang sudah seperti orang gila hingga menjelang dini hari.
Ting
"Selamat untuk pernikahannya, maaf Ka Gia ngga bisa hadir. Ada pasien darurat yang butuh penanganan."
Mata Flora terbelalak kaget saat membaca pesan berikutnya tentang pasien darurat yang membutuhkan penanganan segera.
"Iya Flo." Suara Gia terdengar lesu di ujung ponselnya.
"Kok bisa ?" Tanya Flora tidak percaya
Gia menjelaskan dengan detail, Flora merasa bersalah karena tidak memeriksa lebih detail tentang pasien yang dia tangani beberapa hari yang lalu.
"Laki-laki itu terlihat baik-baik saja, kok bisa ya kak" Tanya Flora.
"Pembekuan darah memang seperti itu. Dan ibunya juga kan memang sangat parah." Jawab Gia. "Jangan terlalau terbebani, semua memang sudah jalannya. Nikmati masa libur kamu dengan menghabiskan energi di atas ranjang, lalu kembalilah bekerja." Sambungnya lalu segera mengakhiri panggilan sebelum mendapat umpatan dari pengantin baru.
Flora termenung. Wajah laki-laki yang dia tangani bebrapa hari yang lalu kembali melintas.
Ting...
Sebuah notifikasi pesan di ponselnya kembali menyadarkan Flora dari lamunan.
__ADS_1
"Selamat untuk pernikahannya, maaf tidak bisa memberanikan diri untuk menyapamu. Sungguh Hati ku masih belum bisa menerima jika kamu sudah menjadi milik orang lain sekarang."
Flora memeriksa nomor tanpa nama yang mengirimkan pesan padanya itu, namun tidak mendapatkan apapun di sana. Foto atau apapun mengenai informasi pengguna tidak dia dapati dan akhirnya memilih untuk mengahpus pesan itu dan mengabaikannya.