Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Melepaskan


__ADS_3

Sama seperti hari-hari biasanya, Flora menikmati sarapan pagi terakhirnya dengan calon keluarga barunya di ruangan makan yang hampir dua bulan ini menjadi rutinitasnya di pagi hari. Belum ada suara yang terdengar di ruang makan, hanya bunyi gesekan pisau dan piring yang mengisi keheningan di sana.


Sesekali Flora menatap ke arah laki-laki yang selalu tersenyum hangat ke arahnya. Senyum yang sempat menghilang kini sudah kembali, namun akan kembali dia tinggalkan untuk orang lain.


Semalaman dia meyakinkan hatinya, jika cinta yang belasan tahun dia rasakan hanyalah cinta menggebu di masa pubertas, namun kini dia menyadari itu salah. Karena kini dadanya terasa begitu sesak, karena cinta untuk laki-laki yang berada di sampingnya ini, masih bertahta dengan angkuh di palung hatinya.


"Kevin, Flora akan menjenguk tante Rosa dan Om Bram hari ini." Ucap Anggun. Keluarga itu sudah menyelesaikan sarapan mereka namun maaih berada di ruang makan.


Kevin menatap gadis yang terdiam di sampingnya.


"Kenapa tiba-tiba Flo ?" Tanya Kevin. Kini kecemasan akan di tinggalkan mulai melandanya.


Roby tidka berkata apa-apa, lelaki paruh baya itu hanya terdiam menatap calon menantunya.


"Ngga tiba-tiba kok Vin, kemarinkan Mami memang meminta aku pulang hanya saja penerbangannya yang delay kan." Jawab Flora sambil tersenyum dengan dada yang berkecamuk.


"Apa perlu aku mengantar kamu sampai Jakarta ?" Tanya Kevin.


"Ga usah Vin, kerjaan kamu banyak disini." Ucap Flora lalu kembali mengalihkan tatapannya pada piring yang masoh tersisa sepotong roti di atasnya.


"Kapan kamu kembali ?" Tanya Kevin lagi. Sungguh dia tidak akan sanggup jika Flora akan kembali meninggalkannya seperti beberapa tahun lalu.


"Flo.." Panggil Kevin risau karena Flora hanya terdiam di sampingnya.


"Aku pasti akan kembali Vin, aku punya banyak pekerjaan di Rumah Sakit." Ucap Flora. "Aku hanya merindukan Mami dan Papi." Sambungnya.


"Baiklah, aku akan mengantarmu ke Bandara." Ujar Kevin lalu berdiri dari kursi makan yang dia duduki.


"Ga usah Vin, kamu langsung ke kantor aja, biar ibu yang akan mengantarkan aku nanti." Bujuk Flora. Dia takut semakin berat melangkah jika laki-laki yang ada di sampingnya ini ikut mengantar ke Bandara.


"Aku antar atau tidak sama sekali." Tegas Kevin.


Flora hanya menarik nafasnya dalan, dia tidak lagi ingin berdebat panjang lebar dengan laki-laki yang sudah berubah ini. Kevin tidak lagi sama, laki-laki yang dulu selalu mengalah padanya tidak lagi ada saat ini.


****


Di dalam mobil yang melaju di jalanan Bali begiti hening. Flora hanya diam dan menatap lurus jalanan di depannya. Ingin rasanya dia menangis untuk mengurangi sesak di dadanya, namun sepertinya air mata yang selama ini menemaninya mulai mengering.

__ADS_1


Apakah cinta yang masih mengisi rongga dadanya juga ikut mengering nanti ? semoga saja, Cinta yang membuat dadanya sesak ini cepat mengering seiring berjalannya waktu.


"Flo." Panggil Kevin.


Flora menoleh


"Kita sudah sampai." Ucap Kevin.


Flora terkejut, sejak tadi dia hanya menatap kosong pada jalanan hingga tidak menyadari jika mobil yang membawanya kini sudah terparkir rapi di area parkiran Bandara.


"Aku hanya menginginkan kamu Flo." Ucap Kevin pelan. entahlah, dia mulai meragu jika gadis di sampingnya ini sedang baik-baik saja dan akan kembali padanya lagi.


Flora mengurungkan niatnya yang baru saja akan membuka pintu mobil. Wajahnya tertunduk dan menutup matanya, menahan gejolak hati yang kini kembali mengganggunya.


"Harusnya jika benar-benar hanya menginginkan aku, kamu tidak akan menyentuh wanita lain Vin." Ucap Flora sambil kembali duduk di dalam mobil dan menatap wajah laki-laki yang kini menatap sendu ke arahnya. "Mungkin aku bisa memaklumi dan menganggapnya sebagai masa lalu, namun bagaimana jika kehidupan kita di masa depan nanti akan ada yang datang mengganggu, akibat yang sudah kamu lakukan di masa lalu ? Aku tidak akan sanggup menjalani kehidupan seperti itu." Sambungnya masih menatap lekat ke arah Kevin.


"Kamu hanya perlu bersamaku Flo, jikapun nanti akan ada masalah yang datang biar aku yang mengatasinya." Ucap kevin.


Flora mengangguk, bukan dia ingin mengikuti kemauan laki-laki yang amaoh dia cintai ini, namun hanya dengan cara seperti ini dia bisa pergi dengan cepat dari kota ini.


Flora menutup matanya sesaat, menikmati tangan hangat yang kini menyentuh pipinya dengan sayang.


"Maafkan aku." Lirihnya dalam hati.


"Aku harus segera pergi Vin." Ucap Flora cepat saat wajah Kevin mulai mendekat ake arahnya.


"Baiklah." Jawab Kevin lemas lalu kembali menjauhkan wajahnya dan turun dari dalam mobil.


***


Kevin melambaikan tangannya saat Flora mulai menjauh dari tempatnya berdiri. Flora tersenyum, lalu membalik tububnya bersama dengan tetesan air mata yang meluncur membasahi pipinya.


Begitu berat rasanya jika harus kembali melakukan hal yang sia-sia. Berusaha melupakan Kevin adalah hal yang sia-sia, namun memang seperti ini jalan yang harus kembali dia lalui.


Flora menonaktifkan ponselnya, lalu mengeluarkan simcard dari ponsel tersebut kemudian membuang benda kecil itu sebelum kakinya masuk ke dalam pesawat.


Semua dia akan tinggalkan disini, mungkin hal yang mudah bagi Kevin untuk datang ke Jakarta nanti. Namun dia sudah menyiapkan banyak rencana agar tidak lagi bertemu dengan laki-laki itu.

__ADS_1


***


Pesawat yang dia tumpangi mulai mengudara, kelas bisnis begitu terasa nyaman. Awan putoh tebal di luar pesawat negitu indah di pandang mata.


Flora mulai memejamkan matanya perlahan, menghalau buliran bening yang terus saja ingin keluar dari tempatnya. Entah sampai kapan dia harus manahan rasa sesak yang kian menghimpit rongga dadanya.


Lupakan, kata itu terus saja dia ucapkan dengan pelan di bibir mungilnya, namun terasa begitu menyakitkan saat dia memaksakan hatinya untuk ikut merealisasikan kata itu.


"Sakit mbak." Teriak sala satu penumpang yang berada di kelas bisnis yang sama dengannya ikut menydarkan dia dari lamunan.


Flora segera mengalihkan pandangannya pada seorang gadis yang kini memgang kepalanya.


"Sabar Rin, ini masih di pesawat." Bujuk laki-laki gemulai yang ada di samping gadis itu.


" Tapi ini sakit banget Grey." Keluh gadis itu sudah sesegukan sambil meremas rambut sebahunya. "Harusnya aku mengizinkan ka Leon ikut." Sambungnya.


Asistennya itu hanya menatap nanar pada artis mudah yang sudah tiga tahun ini dia layani.


"Makanya aku bilang ga usah terima job di Bali, kamu sih keras kepala." Omel asisten itu lagi.


"Aku kesakitan dan kamu hanya memarahiku." Ketus Karin.


Flora beranjak dari kursinya lalu melangkah menuju gadis yang masih terlihat jauh lebih mudah darinya itu.


"Permisi saya seorang dokter, mungkin ada yang bisa saya bantu." Ucap Flora saat sudah berdiri di samping asisten Karin.


"Ini hal biasa dokter, hanya perlu meminum obat rasa sakit di kepalanya akan hilang." Ucap manusai yang terjebak di antara du gender itu pada Flora.


"Tolong minta pramugari untuk membawakan air hangat ke sini." Ucap Flora pada laki-laki aneh lalu mendekat ke arah gadis yang masih terus meremas rambutnya.


"Obat saya ada di dalam tas dokter." Ucap Karin.


Flora mulai memeriksa isi tas gadis yang masih sesegukan menahan sakit, dia mengerinyit heran ini hanyalah pereda nyeri biasa.


"Apa sudah jauh lebih baik ?" Tanya Flora sambil kembali menyerahkan gelas bekas Karin pada Pramugari di sampingnya. Asisten Karin sudah bertukar tempat duduk dengan Flora.


Karin mengangguk, lalu mengucapkan terimaksih pada dokter cantik yang kini sudah duduk di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2