
"Kita sudah sanpai Nona" Ujar sopir sekaligus pengawal Sanjaya dengan sopan.
Flora yang sejak tadi melamun, kini tersadar saat mendengar suara dari sopir yang mengemudikan mobil milik Opa Sanjaya. Entah berapa lama dia melamun hingga tidak menyadari mobil yang membawanya kini sudah berhenti di halaman rumah mewah Opa mertuanya.
Flora bergegas turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah yang langsung di sambut oleh laki-laki tua.
"Sore Opa." Sapa Flora saat melihat Opa Snajaya sedang duduk dengan majalah bisnis di tangannya.
"Sore nak." Sanjaya mengalihkan tatapannya dari lembaran-lembaran kertas di tangannya, lalu menatap wajah cucu menantunya dengan senyum hangat di wajah tuanya. "Mandi lalu turun kita makan malam bersama." Ucap Sanjaya.
Flora mengangguk lalu pamit permisi menuju kamar tidurnya. Mandi air hangat mungkin bisa membantu merelaksasi otot-otot di tubuhnya yang terasa menegang karena banyaknya pasien darurat yang dia tangani hari ini.
Bathtub dengan busa melimpah itu kini telihat penuh saat Flora masuk dan membaringkan tubuhnya di dalam benda yang berwarna putih bersih itu.
Meskipun akan sedikit merepotkan, mungkin dia tetap harus membicarakan kejadian hari ini pada keluarganya. Opa Snajaya terkenal dengan langkah agresif yang selalu laki-laki tua itu ambil saat ada yang mengganggu keluarganya, dan mungkin ini sesuatu keberuntungan bagi Flora agar terhindari dari hal-hal yang tidak di inginkan.
Biarlah, dia harus menunggu Kevin kembali dan membicarakan semua ini pada suaminya terlebih dahulu. Entah bagaimana selanjutnya, biarlah dia akan memikirkannya bersama Kevin nanti.
***
Makan malam yang terasa begitu hening. Hanya dentuman sendok dan garpu yang menyentuh piring terdengar di dalam ruangan mewah ini.
Flora menyudahi makan malamnya saat melihat laki-laki tua di hadapannya sudah menyelesaikan makan malam. Beberapa saat mereka berdua bercerita tentang aktivitasnya hari ini di rumah sakit. Hingga beberapa saat kemudian laki-laki yang sudah menjadi bagian dari orang-orang berharga dalam hidupnya berpamitan untuk beristirahat.
Sejenak Flora menimbang-nimbang untuk memberitahu Opa Sanjaya permasalahan yang sedang mengganggunya, namun kembali dia urungkan. Malam ini mungkin masih belum waktu yang tepat, lagi pula dia harus membicarakan dengan Kevin terlebih dahulu.
__ADS_1
***
Dengan langkah malas sambil menggerutu kesal, Flora memaksa dirinya menuju ruang ganti untuk mengganti pakaian yang dia kenakan dengan piyama.
Nomor Kevin masih belum bisa di hubungi, entah apa yang membuat laki-laki itu hingga tidak bisa memngaktifkan ponselnya.
"Ish bikin kesal aja." Ucap Flora kesal.
Tubuh mungil yang sudah berbalut dengan piyama sepaha berwarna putih kini sudah tengkurap di atas ranjang. Ranjang besar dan mewah itu terasa begitu lenggang saat laki-laki yang biasanya akan terus memeluk tubuhnya erat, kini sedang berada jauh darinya.
Flora kembali memeriksa layar ponselnya, namun lagi-lagi yang dia harapkan tidak kunjung terlihat di layar benda pipih dengan harga selangit itu. Chat beruntun yang dia kirimkan belum ada satu pun yang sampai membuatnya kesal sekaligus rindu.
"Vin aku rindu." Lirihnya saat suara operator kembali terdengar saat dia mencoba menghubungi nomor suaminya.
Karenaa nomor Kevin masih berada di luar jangkauan, Flora kembali mencoba menghubungi nomor yang mengirimnya pesan singkat siang tadi, namun hasilnya masih sama. Nomor yang dia hubungi sedang di alihkan, mungkin pemilik nomor itu sengaja mengalihkan panggilannya.
Ketakutan mulai menyeruak, karena selama ini dia selalu memperlakukan orang lain sesuka hatinya. Sikapnya yang tidak bisa menahan diri pada sesuatu hal yang mencoba menyakitinya, kini mulai membuatnya khawatir karena sms misterius yang hari ini kembali mengganggunya.
"Diandara ?" Satu nama yang sempat dia sakiti kini kembali melintas. Namun segera di tepis oleh nya, karena bebrapa bulan ini tidak pernah lagi ada kabar tentang mantan sekertaris suaminya itu.
Deg...
"Mungkinkah ? ga, ngga mungkin. Kevin sudah janji tidak akan menyakiti aku lagi." Ucapnya menepis fikiran buruk yang kini mulai meracuni otaknya.
Flora menconba memejamkan matanya dan berhubung tubuhnya juga lelah, membuat mata indah itu tidak membutuhkan waktu lama untuk segera pergi ke alam mimpi.
__ADS_1
****
Bahkan di jam seperti ini mobil-mobil masih saja berkeliaran di jalanan Jakarta. Kevin menyandarkan pundaknya di kursi penumpang, hari ini begitu melelahkan. Karena ingin segera kembali ke Jakarta, dia bahkan tidak sempat mengistirahatakan tubuhnya. Dunia bisnis memang se merepotkan ini.
Seharusnya dia tidak usah memaksakan diri untuk mejelajahi dunia yang bukanlah basic nya. Dunia medis dan bisnis adalah dua dunia yang berbeda.
Benda pipih yang sejak tadi mati kini kembali menyala dalam genggamannya. Kevin tersenyum melihat pesan beruntun masuk yang ke dalam ponselnya.
"Pasti dia sangat kesal sekarang." Gumamnya masih dengan senyum yang belum hilang dari wajah tampannya saat membaca satu per satu pesan dari istrinya.
Kevin membuka satu per satu pesan dari istrinya, satu pesan sedikit mengganggunya, mengirim makan siang ? siapa ?
"Siapa yang menjemput Flora hari ini ?" Tanya Kevin pada sopir yang kini sedang mengendarai mobil milik keluarga.
"Saya tuan"
Kevin diam, tidak lagi melanjutkan pertanyaannya.
Fikirannya kacau dia memrintahkan orang suruhannya untuk menyelidiki nomor yang mengirim pesan singkat di ponselnya, namun informasi yang dia terina tidak terlalu memuaskan hati.
Rasa takut jika seseorang berniat mengacaukan rumah tangganya mulai menhinggapi hatinya. Sungguh dia takut jika Flora akan kembali meninggalkan dirinya seperti dulu.
Tidak tetasa mobil yang membawanya dari Bandara kini sudah terparkir di depan rumah mewah yang menjadi tujuannya untuk pulang malam ini. Rumah dimana wanita yang sudah dia rindukan seharian ini berada.
Kevin mendorong pintu kamarnya dan Flora dengan perlahan, agar tidak mengganggu tidur lelap sang istri. Sebuah senyum tipis kembali terlihat di wajah lelahnya saat mendapati tubuh mungil itu sudah terlelap di atas ranjangnya. Ingin segera naik dan ikut merebahkan tubuh di atas ranjang itu, namun gerah di tubuhnya membutuhkan air hangat segera.
__ADS_1
Dengan langkah hati-hati, Kevin berjalan menuju kamar mandi untuk membersihakan diri. Hingga selang bebrapa saat tubuh letihnya kini sudah terbalut dengan piyama lalu merangkak naik ke atas ranjang dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Flora.
Tubuh mungil yang sudah menjadi candunya itu, di peluknya dengan sangat erat. Wangi yang menguar dari tubuh Flora di hirupnya dalam-dalam. Hingga akhirnya bau yang begitu menengakan itu ikut membatunya untuk segera terlelap bersama mimpi panjangnya.